
Mencintai dua hati dalam satu waktu, apa mungkin bisa membaginya dalam porsi yang sama? Tanpa condong ke salah satu? Aku memang terlalu condong ke Mariam, karena dia datang jauh sebelum aku menikahi Medina. Kisah kami yang kandas justru membuat perasaanku tumbuh semakin dalam.
Tanganku terasa sedikit nyeri, namun aku puas. Boleh kan sekali saja aku khilaf? Aku tidak membencinya tapi bukankah wajar jika saudara sesekali bertengkar?
Medina termangu-mangu mendengar suara Mas Harun yang menembus ke dalam kamar kami, dia masih saja berusaha menunjukan pada ibu bahwa dirinya pantas untuk Mariam. Mungkin Medina terkejut dengan sosok Mas Harun, namun begitulah dirinya, selalu ingin ada di depanku, bahkan ikut menginginkan apa yang menjadi keinginanku.
"Biarkan saja, Dek, memang begitulah Mas Harun." Medina beralih memandangku.
"Mas, apa Mas Harun benar-benar menginginkan Mba Mariam? Maksudku mencintainya?" tanya Medina gusar.
" Dulu Mas Harun sempat mendekatinya Dek, tapi Mariam tidak merespon."
"Gadis yang menangis di acara persami maksudnya apa, Mas?"
"Dulu saat penerimaan siswa baru sekolah mengadakan perkemahan, biasa lah, Mas Harun hadir sebagai DK karena dia juga alumni, Mariam memang menangis karena ketakutan dikerjai oleh senior." Medina mengangguk-ngangguk mengerti.
"Jadi, sejak dulu kalian, kakak beradik, menyukai orang yang sama?"
"Mungkin, aku tidak tahu Mas Harun betul-betul suka atau hanya rusuh pada apa yang aku punya."
"Sekarang bagaimana kira-kira keputusan ibu, ya Mas?"
"Apapun keputusannya, aku akan tetap melamar Mariam, dengan atau tanpa ibu," jawabku, Medina tampak terkejut mendengarnya.
"Dek, terimakasih ya," ucapku sambil menatap lekat wajahnya, wajah yang pura-pura tegar, namun tetap komitmen pada pilihannya.
"Sama-sama, Mas."
"Kenapa kamu memilih jalan yang sulit, padahal kamu bisa saja menyuruh untuk melupakan Mariam?"
"Apa mungkin? Apa bisa, Mas? Melupakan Mariam rasanya hampir mustahil, bukan? Medina nggak mau melakukan hal yang sia-sia, harapan palsu sama saja dengan kebahagiaan palsu, lebih baik ... Medina menerima kenyataan."
"Mas telah melakukan banyak sekali kesalahan dan menyakitimu, Dek."
"Hati yang sedang jatuh cinta, akan selalu memaafkan, Mas."
__ADS_1
Tok ... tok ... tok.
"Mas Musa, Mba Medina, dipanggil Ibu," seru Pak Iwan dari balik pintu, sepertinya Mas Harun sudah selesai dan ibu sudah menentukan pilihan.
"Nggih, Pak!" jawabku, kutatap lagi Medina, dia kembali meyakinkanku.
Aku bergegas keluar bersama Medina, Mas Harun duduk berhadapan dengan ibu, dengan posisi yang terlihat tidak nyaman dan terlihat sedikit kesal.
"Ayo siap-siap, kita ke rumah Mba Mariam!" perintah ibu, padahal baru saja aku hendak duduk bersama Medina.
"Tapi, Bu ...!" selaku.
"Ayo, Mas-mu sudah ngalah, sebelum Mas-mu itu berubah pikiran."
Kami segera berganti baju dan bersiap mendatangi rumah Mariam. Mas Harun dan Pak Iwan juga turut serta.
Mariam. Wanita yang menjadi cinta pertamaku, cinta yang tumbuh saat aku masih labil dan belum berani mengambil resiko, tapi aku justru terbawa arus untuk mencintainya. Aku tidak pernah membayangkan akan kembali memilikinya, bahkan dalam mimpiku. Sekarang, aku mendatanginya untuk meminta dia menjadi istriku.
Alloh membuka jalan untuk menjadikanmu jodohku, ketika aku baru saja merasa ikhlas telah melepasmu. Jujur, aku tidak akan bisa melampaui Biantara, tapi aku akan berusaha.
"Waalaikumsalam ...." jawab Ibu Sri, raut wajahnya menunjukan keraguan ketika melihat kami datang, namun dia tetap menyambut kami dengan ramah.
"Monggo silahkan masuk Bu Aini." Kami dipersilahkan duduk sementara dia memanggil Mariam, selitas terdengar suara Mariam yang mempertanyakan kedatangan kami dengan sedikit kesal.
Hatiku berdebar dan tanganku dingin, Medina berusaha tersenyum dan menggenggam tanganku. Tangannya pun sama dinginnya, menandakan kegugupan yang sama. Ibuku pun terlihat gelisah, namun dia tetap melakukan yang terbaik untukku, untuk kebahagiaanku, karena inilah pertama kali sesuatu berjalan sesuai keinginanku.
Bu Sri kembali muncul dari balik tirai penghubung ruang tamu dan ruang tengah dengan membawa nampan berisi minuman dan camilan.
"Monggo Bu, Mas-mas, Mbak ...." Bu Sri kembali kedalam dan kami menunggu cukup lama sebelum akhirnya Bu Sri keluar bersama Mariam.
Wajahnya terlihat lebih tegar, meskipun sendu dan aura kesedihan masih nampak jelas di sana. Mariam, kamu masih berduka, apa mungkin dia akan menerima lamaranku?
Bismillahrrohmanirrohim...!
"Apa kabar Bu ... Mba Mariam?" Ibuku kembali membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kami semua baik, Bu Aini. Hem ... ini ada apa ya?" tanya Bu Sri, sementara Mariam nampak dingin.
"Bismillahrrohmanirrohim, begini maksud kedatangan ibu sekeluarga ingin menanyakan kembali perihal pembicaraan kita tempo hari, ehm ... kami masih menunggu jawaban Mba Mariam," ucap ibuku tanpa basa-basi.
"Kami, datang dengan maksud dan niat baik, mengingat anak saya, Mizan, sudah lama memiliki perasaan pada Mba Mariam, dan menantu saya Medina sebagai istri pertama sudah merestui, jadi saya mewakili anak saya ingin melamar Mba Mariam." Hatiku berdebar, berbeda sekali saat melamar Medina dulu.
Mariam tetap diam dan dingin, hanya Bu Sri yang terlihat tidak enak hati. Sementara Mas Harun menatapku seolah menanti kegagalanku.
"Saya tidak tertarik berbagi, apa kamu rela meninggalkan istrimu?" tanya Mariam memecah kebisuannya sendiri, Bu Sri terlihat sedikit menepuk kaki Mariam.
"Hem ... maaf Bu, Mas, Mariam asal bicara."
"Saya siap berpisah kalau Mba Mariam mau." Tiba-tiba Medina mengatakan hal di luar kesepakatan kita, semua mata kini memandang ke arahnya, termasuk Mariam yang merasa tantangannya di sambut oleh Medina.
"Tidak boleh begitu, Mba." Bu Sri kembali mencoba memperbaiki situasi.
"Nggak apa-apa, Bu. Mba ... aku memang bukan siapa-siapa dibandingkan masa lalu kalian yang indah, kisah kalian yang dalam, dan menyentuh semua orang. Tapi, aku juga tidak mau hidup dalam kepalsuan, Mas Musa mencintaimu Mba, mungkin dia akan mencintaiku juga tapi butuh waktu yang sangat lama, aku tidak akan terlalu rugi kalau memang Mba menginginkan aku mundur!"
"Dek!" selaku, aku merasa dicurangi, ini di luar kesepakatan.
Ibu hanya menatap keberanian menantunya, tanpa berusaha mencegah.
"Maaf ... aku tidak punya alasan untuk menerima lamaran ini!" jawab Mariam, dia mulai mundur dari tantangan yang dia buat sendiri.
"Mba masih mencintai suamiku, kan?"
"Kehilangan memang membuat orang terlihat lebih berarti, Din. Hanya karena aku kehilangan Mizan, dia menjadi nampak berarti. Lihat sekarang, aku telah kehilangan suamiku, kehidupanku, masa depanku, kekuatanku. Aku jadi mengerti, arti kehilangan yang sebenarnya, Biantara adalah segalanya. Aku tidak bisa menerima lamaran ini!" tolak Mariam.
Mas Harun memandangku penuh kemenangan, Mariam telah menolakku.
Sebenarnya aku tahu, akan sulit mencairkan kebekuan Mariam saat dia sedang patah hati. Lebih mudah menyentuh hatinya saat pertama kali, karena saat kedua kalinya, hatinya sudah lebih banyak memakai pelindung. Kebekuan inilah pelindung Mariam.
Aku tahu hatinya yang lemah.
....
__ADS_1