
"Kamu kenapa?" tanya Mas Musa seraya mendekatiku.
"Enggak tahu, tiba-tiba perut Medina mual."
"Ayo mas antar ke kamar lagi?" Mas Musa memapahku kembali ke kamar.
"Tunggu Mas, Medina mau ambil jeruk yang tadi," pintaku.
"Jeruk? Jangan-jangan maag kamu kambuh gara-gara makan jeruk yang asem, Dek?"
"Bukan Mas, justru jeruk yang membuat Medina nggak mual lagi."
Mendengar penuturanku Mas Musa menenteng keranjang jeruk sambil memapahku. Aroma sabun dan sahmpo dari Mas Musa menyeruak masuk ke dalam hidungku, aroma yang biasanya kusukai, kini justru memancing dorongan yang besar untuk mual.
"Heeuk ...!" kudorong tubuh Mas Musa menjauh, dia terkejut dengan apa yang kulakukan.
"Kenapa, Dek? Kamu kenapa?" Mas Musa kembali mencoba mendekat, kuacungkan tangan sebagai tanda agar Mas Musa berhenti.
"Medina ... jalan sendiri aja!"
Mas Musa hanya bisa menurutiku, dan menjagaku dari belakang. Terbersit tanya dalam benakku, Mas Musa mandi malam-malam begini? Bukankah tadi Mas Musa tidur bersamaku? Atau jangan-jangan?!
Kurebahkan tubuhku dikasur dengan tumpukan bantal yang tinggi agar rasa mual itu tidak kembali lagi. Kusemprotkan parfum dengan aroma buah yang tadi kupinjam dari Okta, entah kenapa aku tiba-tiba tertarik dengan parfum bocah itu dan dengan tidak tahu malu meminjamnya.
"Dek? Kamu sakit? Nanti kita ke dokter ya?" tanya Mas Musa cemas.
"Iya Mas, tadinya Medina mau sholat tapi tiba-tiba perut Medina nggak enak begini."
"Ya sudah, istirahat saja dulu, Dek. Baru niat saja udah tercatat sebagai amal baik dan dapat pahala."
Mas Musa berpamitan untuk mengambil wudhu, kuambil jeruk-jeruk tadi dan dengan lahapnya kumasukan setiap siungnya ke dalam mulut.
Paginya kabar aku sakit telah menyebar, Ibu, Bapak, dan Mba Mariam bergantian menanyai apa yang kurasakan. Mas Musa sudah memanasi mobilnya untuk membawaku ke klinik terdekat.
"Nduk, kamu sepertinya masuk angin, apa mau dipanggilin mbok pijet?" tanya Ibu mertuaku.
"Tapi badan Medina nggak panas Bu, biasanya kalau Medina masuk angin pasti panas. Kayaknya maag Medina kambuh, deh!"
"Apa biasa begitu, Din kalau kambuh?" tanya Mba Mariam.
"Iya, Mba."
"Itu jeruk kamu yang makan?" tanya Mba Mariam melihat isi nakasku.
"Iya Mba, baru metik kemarin di kebun. Semalem mau bawa seperlunya tapi Mas Musa yang bawa sekeranjang-keranjangnya."
"Jangan-jangan, kamu ... Apa kamu telat datang bulan?" tanya Mba Mariam dengan raut wajah yang berbeda.
"Hem ... aku lupa Mba."
"Beliin tes tes apa itu Mba, yang buat tes hamil, coba dites dulu," ucap ibu mertuaku.
"Tespek, Bu."
"Iya, tespek."
Mba Mariam segera pergi menuruti perkataan Ibu.
"Semoga ya Nduk, ini bukan sakit biasa," ucap ibu mertuaku dengan penuh harap, jujur aku takut, takut mengecewakan mereka kembali. Apakah aku hamil?
"Ayo Dek, mas bantu ke mobil!" ajak Mas Musa yang tiba-tiba muncul.
"Nanti dulu Zan, ibu lagi nyuruh Mba Mariam ke apotik dulu beli sesuatu, nanti aja ke dokternya biar bisa lebih tepat perginya ke dokter umum atau dokter khusus," ucap Ibu sambil mengerlingkan matanya padaku.
"Dokter khusus?" ulang Mas Musa.
"Ibu kebelakang dulu, kamu temenin isterimu, tunggu Mba Mariam dateng."
Mas Musa menatap kepergian ibunya dengan penuh tanda tanya. Aku hanya diam melihat gelagat bahagia pada ibu mertuaku, setidaknya sampai Mba Mariam datang aku harus menekan perasaanku untuk tidak terlalu bahagia. Aku takut kecewa lagi.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Mba Mariam datang tergopoh-gopoh dengan menenteng bungkusan plastik kecil berwarna putih.
"Din, ini cobain. Aku beliin 3 merek yang berbeda, semuanya bagus jadi bisa digunakan kapan saja nggak harus pas bangun tidur," ucap Mba Mariam sambil menyodorkan barang di tangannya.
"Mba, Medina takut kecewa," ungkapku jujur, melakukan tes kehamilan di rumah mertua memberikan tekanan yang berbeda ketika dulu-dulu kulakukan sendiri di rumah dengan hasil yang mengecewakan.
"Coba dulu Din, aku yakin kamu hamil."
"Bagaimana Mba yakin?"
"Kehamilan biasanya membuat emosi wanita nggak stabil, sensitif, dan cepat berubah-ubah. Kepergianmu dari rumah menyisakan banyak pertanyaan, ditambah sekarang kamu mual-mual, meminta parfum Okta, terus jeruk asam itu. Insha Alloh, Din!"
Perkataan Mba Mariam ada benarnya, aku tidak menyadari perubahan diriku sendiri, tapi Mba Mariam lebih berpengalaman dariku. Kuberanjak ke kamar kecil sambil menenteng tespek dalam kantong putih tadi.
Kulihat Ibu dan Mas Musa sedang berbincang-bincang di luar. Untunglah, akan semakin tertekan kalau mereka bahkan harus menungguiku di depan kamar kecil.
"Ayo, Din!" ucap Mba Mariam lagi, segera kututup pintu kamar mandi dan mulai menggunakan tes kehamilan sesuai petunjuk pada kemasannya.
Mataku mengerjap beberapa kali menangkap pemandangan garis dua pada alat itu. Benarkah, aku hamil?
"Mba," panggilku pada Mba Mariam yang sedang sibuk di dapur, "Hasilnya begini, apa artinya aku hamil?"
Mba Mariam melihat ketiga alat yang kusodorkan dan tersenyum, "Selamat ya, Din. Kamu hamil." Mba Mariam memelukku.
"Alhamdulillah, bener hamil aku mba," seruku bahagia.
"Ayo beritahu Mizan dan Ibu Aini, mereka pasti bahagia."
Setengah berlari aku mencari Mas Musa untuk segera memberitahu kabar bahagia ini.
"Mas Musa," panggilku ketika melihat suamiku sedang berbincang dengan ibu mertuaku.
"Kamu udah baikan?" tanya Mas Musa.
"Udah Din? Bagaimana hasilnya?" tanya Ibu, Mas Musa tampak heran mendengar pertanyaan Ibu.
"Alhamdulillah, Medina nggak sakit, Medina hamil Bu, Mas," ucapku bahagia.
"Hamil Dek? Alhamdulillah," seru Mas Musa.
🍀🍀🍀
'Deg ... deg ... deg.'
Sebuah alat ultrasonografi memperdengarkan suara detak jantung dari dalam perutku. Rasa haru menyeruak hingga airmata kebahagiaan mengalir begitu saja.
"Itu detak jantung anakku," seruku tak tertahan.
"Iya Dek, anak kita." Mas Musa pun terlihat meneteskan airmatanya mendengar keajaiban yang ada di perutku, Mas Musa memelukku, kami menangis haru bersama-sama.
"Sudah-sudah, malu ada Bu Dokter," ucap Ibu menyadarkan keharuan kami, namun airmata kebahagiaan juga terlihat di matanya.
"Jadi usia janin sudah 10 minggu, letak plasenta bagus, perkembangannya bagus, tangan dan kaki sudah terbentuk, panjangnya 45 mm, beratnya 4,5 gram, semuanya normal dan bagus," ucap Bu Dokter menjelaskan, kami semakin bahagia mendengarnya.
"Untuk trimester pertama masih rentan ya, harus di jaga dengan baik-baik, jangan banyak pikiran jangan setres, perbanyak istirahat, tetap usahakan makan makanan yang bergizi walaupun sedang mual-mualnya," lanjut Bu Dokter.
"Terimakasih Bu," ucapku.
🍀🍀🍀
Kehamilanku menjadi kabar gembira bagi semua orang. Ucapan selamat dan berbagai wejangan kuterima dari berbagai pihak, orantuaku yang kuberi tahu lewat sambungan telephon juga bahagia. Aku pun bahagia, karena berhasil memberikan kebahagiaan yang Mas Musa tunggu-tunggu.
"Dek, malam ini mas ada kondangan ke tempat temen, tadinya mas berpikir akan mengajak kamu, tapi berhubung kamu sedang hamil muda sebaiknya kamu di rumah saja, ya," ucap Mas Musa.
"Oh iya Mas, badan Medina juga nggak enak, Mas Musa perginya jangan lama-lama yah?" pintaku.
"Iya Dek! Yang penting kamu istirahat."
"Apa Mba Mariam ikut?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Hem iya, Mariam juga diundang, karena yang menikah itu teman kami, tanpa mas mengajaknya Mariam juga akan datang."
'Benar, lingkaran pertemanan mereka sama,' batinku.
"Iya, lebih baik Mas langsung saja berangkat sama Mba Mariam," usulku.
"Liat nanti Dek, Mariam belum mau terbuka sepenuhnya prihal pernikahan kita pada orang-orang disini."
"Tapi bukankah teman-teman kalian tahu Mas?" tanyaku terkejut, tentu saja aku masih ingat berbagai ucapan haru di grup alumni sekolah Mas Musa saat kabar Mas Musa menikahi Mba Mariam tersebar.
"Tahu, tapi masih tabu dibicarakan."
"Kenapa Mas?" tanyaku semakin ingin tahu.
"Sudahlah Dek, jangan dipikirkan lebih baik kamu fokus pada kondisimu, perbanyak sholawat, dzikir, dan baca al-quran biar anak kita jadi anak yang sholeh/sholehah, Dek," tolak Mas Musa halus.
"Tapi Mas, apa Mba Mariam malu dengan statusnya sebagai isteri kedua Mas Musa?" tebakku.
"Dek, biarkanlah Mariam dengan konflik yang ada pada dirinya, jangan terlalu memikirkan apalagi mencoba ikut campur lagi, nggak baik nanti untuk dedek dalam kandunganmu."
"Apa Mba Mariam serumit itu, Mas?" Lebih tepatnya aku tidak menyangka Mba Mariam tidak membagi kebahagiannya pada teman-teman yang jelas-jelas mengetahui kisah mereka.
"Nggak Dek, tapi kita nggak akan pernah tahu pergulatan batin seseorang, sampai akhirnya seseorang itu terlihat tersenyum dan baik-baik saja di depan kita." Mas Musa mendekat dan menggenggam tangannku.
"Mas sendiri nggak sepenuhnya paham dan terlalu banyak kecolongan ketika akhirnya kamu memutuskan untuk dimadu dengan Mariam. Mas nggak tahu pergulatan batinmu, kesedihan, dan kepedihan yang harus kamu alami sampai akhirnya kamu bisa tersenyum lagi seperti ini, Dek!" ucap Mas Musa dengan menatap mataku.
Perkataan Mas Musa terdengar seperti sedang membatasi dirinya sendiri. Aku mulai merasa Mas Musa akan tertutup padaku mengenai perkembangan hubungannya dengan Mba Mariam. Ada rasa sedih yang menjalar di hatiku.
Dulu, aku pura-pura tegar agar Mas Musa bisa dengan bebas mengutarakan perasaannya. Aku pura-pura tidak terluka agar Mas Musa percaya dan bisa jujur sepenuhnya padaku.
Apa sekarang aku terlihat lemah?
Kehidupan Mba Mariam dan Mas Musa adalah kebutuhan pokok bagiku, agar aku tenang karena tetap tahu perkembangan hati mereka telah sampai mana dan agar aku tetap tahu posisiku di hati Mas Musa. Lebih baik aku cemburu daripada sama sekali tidak tahu perihal mereka.
"Mas." Kubalas pegangan tangan Mas Musa.
"Kenapa Medina menangkap maksud lain dari ucapan Mas Musa?" tanyaku jujur.
"Apa Dek?"
"Ucapan seperti, berhenti mengganggu kehidupan pribadi Mariam. Apa selama ini aku terlihat sangat ikut campur?"
"Nggak begitu, Dek!"
"Mas ingin melindungimu, dulu Mas pernah salah dan terperdaya dengan ketegaranmu. Mas nggak mau melukai hatimu lagi, cukup pengorbananmu selama ini, Mas sudah sangat berterimakasih karena kamu berbesar hati membagi suamimu sendiri tanpa memikirkan kebahagiaanmu." Mas Musa bicara seolah dia sedang menyesali sesuatu.
"Mulai sekarang, pikirkan kebahagiaanmu Dek! Terlebih ada calon anak kita dalam rahimmu yang membutuhkan ibu dengan perasaan tenang dan bahagia agar bisa tumbuh dengan sehat," lanjut Mas Musa.
"Walaupun Mariam adalah madumu, tapi rumah tangga kalian tetaplah berbeda atap. Cukup saling menyayangi dan saling menghormati tanpa harus tahu lagi masalah-masalah dibalik pintu masing-masing atap. Mas ingin kamu bahagia, Dek," ucap Mas Musa sungguh-sungguh.
"Medina bahagia Mas, ketika orang lain menyebut Medina bodoh bahkan ibuku sendiri tapi Medina bersyukur, karena kebodohan Medina membuat Medina lebih mudah meraih ikhlas," ucapku meredam rasa bersalah Mas Musa.
"Kenapa tiba-tiba Mas Musa begini? Apa karena kehamilanku?" tanyaku lagi.
"Nggak Dek, mas sadar ketika kamu tiba-tiba menghilang, mas sadar ketegaranmu palsu, mas sadar kamu juga wanita biasa. Mas menyayangimu apa adanya, Dek. Bahkan kalau kamu tidak hamil sekalipun, mas tetap mencintaimu."
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.