Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Mencoba Bicara dengan Bahasa yang Lain


__ADS_3

Mizan memarkirkan mobilnya di halaman rumah Mariam. Namun tidak seperti biasanya rumah Mariam masihlah ramai pada jam 8 malam begini, biasanya Mariam akan menutup konveksinya sebelum maghrib. Mariam masih terlihat sibuk dengan beberapa pegawainya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Pak Musa?" jawab Heru yang sedang membereskan kain-kain perca.


"Tumben udah malem masih pada sibuk?" tanya Mizan.


"Iya Pak, Alhamdulillah orderan membeludag, orderan yang biasanya ditolak Mama Okta sekarang diterima semua," tutur Heru.


"Ayo ke dalem Mas, aku buatin minum," ajak Mariam, Mizan mulai terbiasa dengan panggilan Mas dari Mariam hanya ketika dia berada di depan orang lain.


"Semangat semua!" seru Mizan sebelum masuk melewati para pegawai yang masih sibuk.


"Mar? Aku senang kamu semangat lagi seperti ini, tapi apa ini nggak terlalu berlebihan? Jangan terlalu capek!" tutur Mizan.


"Aku lagi kejar omset, ada rejeki kenapa ditolak?" jawab Mariam sambil mengaduk secangkir teh.


"Kejar omset?"


"Ini memang usahaku, tapi lihatlah orang-orang yang bergantung dari usaha kecilku. Aku juga ingin membahagiakan mereka, mereka yang kesusahan mencari kerja di luar sana. Kalau usahaku berkembang kehidupan mereka juga akan meningkat," tutur Mariam sambil meletakan teh di meja.


Mizan menyadari Mariam adalah wanita mandiri, dia tidak bisa membuat Mariam nyaman hanya bersandar padanya seperti Medina. Sementara Biantara pun membiarkan Mariam mengembangkan apa yang menjadi mimpinya. Mizan menyeruput teh dihadapannya.


"Maaf Zan, aku lelah. Lebih baik kamu bermalam bersama Medina, dia juga sedang hamil lebih banyak membutuhkan perhatianmu. Lagi pula Oktavia juga sudah tidur."


"Kamu sengaja menghindar, Mar?"


"Benar, aku sedang tidak ingin bicara denganmu, atau pun dengan Medina dalam waktu dekat ini. Nikmatilah kebersamaan kalian, aku sibuk, pekerjaanku sedang banyak."


"Mar?"


"Hem?"


"Kita tetap harus bicara."


"Dari tadi kita juga sedang bicara, Zan. Lagi pula ... tadi Medina sudah bicara banyak."


"Medina?"


"Aku nggak menyangka kamu mengatakan semua tentang kita padanya, aku pikir urusan ranjang harusnya menjadi rahasia, tapi tampaknya tidak ada rahasia antara kamu dan Medina. Hhhh, aku merasa ditelanjangi oleh kalian secara tidak langsung."


"Maaf Mar, itu kesalahanku. Waktu itu--"


"Sudah, jangan dibahas aku cukup mengerti. Hanya saja butuh waktu untuk mengembalikan rasa maluku," potong Mariam tanpa membiarkan Mizan menyelesaikan penjelasannya.


Mizan mendengus kesal menyadari Medina telah mengatakan yang seharusnya tidak dia katakan pada Mariam sambil kembali menyecap teh di depannya. Dulu dia mengatakan hal itu pada Medina agar dia tenang Mariam tidak akan hamil dalam waktu dekat. Sekarang hal itu justru jadi bumerang bagi dirinya sendiri.


"Maaf Mar, aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu. Tapi tolong jawab Mar, aku hanya akan bertanya sekali, dan aku akan bersikap sesuai jawabanmu."


Mizan berpindah duduk ke samping Mariam, Mariam terus menghindar tapi Mizan berusaha mengunci Mariam dengan mencengkram tangannya.

__ADS_1


"Lepaskan, Zan!"


"Benarkah kamu tidak bisa mencintaiku karena tidak bisa berbagi?"


"Benarkah lebih baik bagimu menjalani rumah tangga ini tanpa perasaan?"


"Benarkah mencintaiku hanya membuatmu menderita?"


"Apa tebakanku benar sikap aroganmu hanya kedok untuk melindungi hatimu sendiri?" tanya Mizan dengan nada memaksa dan mengunci pandangan Mariam dengan setiap pertanyaannya.


"Jawab, Mariam! Katakan sejujurnya apa yang kamu rasakan!" tegas Mizan dengan nada tinggi.


Mariam yang terkejut dengan sisi lain Mizan berusaha menekan perasaannya. Hatinya tentu saja menginginkan lebih, tapi logikanya berusaha untuk terus menolaknya.


Pandangan mereka saling bertaut, tatapan Mizan semakin tajam mengintrogasi hati Mariam tanpa kata. Dada Mariam bergemuruh, cinta dan kecewa saling bertarung dalam hatinya. Rasa ingin tinggal dan hasrat untuk pergi saling tarik menarik menyaring keegoisan diri dan keegoisan kekasih yang kini menjadi suaminya.


"Kemarin ... kamu bilang masih mencintaiku, kan?" tanya Mizan lagi sambil menurunkan nada suaranya namun tetap menusuk.


Mariam menelan salivanya menyadari cengkraman tangan Mizan makin kuat, dan jarak keduanya semakin pendek, Mizan semakin merangsek mendekati Mariam, yang hatinya bagaikan misteri bagi Mizan.


"A-aku ... ak-ku ...."


"Aku tidak tahan lagi denganmu Mariam, jelas-jelas kamu mencintaiku. Tapi kamu berusaha mati-matian untuk terus menghindar, berpura-pura, dan menutupi perasaanmu yang sebenarnya dengan sikap yang acuh dan cuek."


"Zan--" Mariam berusaha mendorong tubuh Mizan yang sudah terlalu dekat dengan satu tangannya, namun Mizan tidak bergeming dan tetap menatap Mariam dengan tajam.


"Semakin kamu bersikap acuh semakin terlihat kalau kamu masih memiliki rasa yang sama!" ucap Mizan tanpa peduli penolakan Mariam.


"Cukup, Zan! Ingat Medina menunggumu dan dia sedang hamil."


"Kau juga isteriku! Sah secara agama dan hukum, aku berhak atas dirimu! Ini bukanlah dosa! Aku harus memberi keadilan pada kalian berdua!" ucap Mizan dengan lantang, kata-katanya berhasil memporak-porandakan hati Mariam.


"Zan, tapi--"


"Berhenti menggunakan Medina sebagai alasan untuk terus menghindar. Kamu tahu? Dialah yang memaksakan pernikahan ini terjadi. Cukup Mariam! Berdamailah dengan keadaan, kenyataannya kita memang begini, kita bertiga bukan berdua seperti yang lain!"


Nyali Mariam menciut melihat Mizan sedang dikuasai emosi.


"Kamu berhak bahagia Mariam! Meskipun hanya sebagai isteri kedua, tidak usah kamu pikirkan orang-orang yang bicara buruk tentang kamu, tentang kita. Yang tahu kita bahagia atau tidak hanya diri kita sendiri. Dan dengarlah ucapanku! Aku menyaksikan dengan kepalaku sendiri dan memastikan dengan hatiku sendiri bahwa Medina bahagia dengan pengorbanannya!" ucap Mizan tanpa melepaskan tatapan tajamnya pada mata Mariam.


Badan Mariam telah berada di ujung sofa, tidak ada tersisa lagi tempat untuknya menghindari Mizan. Dia semakin terdesak dan Mizan semakin memimpin dengan penjelasan-penjelasannya.


"Aku pun mencintai Medina, sama seperti aku mencintaimu. Jadi, berhenti membuatku jengah dengan penolakan dan keangkuhanmu. Mari jalani ini semua dengan jujur Mariam!" pungkas Mizan, ucapannya lebih mirip permohonan kali ini.


"Jawab Mariam! Jika kamu mengatakan 'tidak' maka aku akan mengalah dan mundur dari hatimu. Tapi, aku akan tetap menjadi suamimu, suami tanpa hati." Mizan menegaskan setiap kata-katanya, menggambarkan nada ancaman dan ultimatum pada Mariam.


Mariam kembali menelan salivanya, berusaha mencerna ucapan panjang yang baru saja Mizan katakan. Mariam bertarung hebat dengan dirinya sendiri, sisi dirinya yang memang masih mencintai kekasihnya dan sisi lain dirinya yang bersikeras untuk pergi demi harga dirinya.


"Katakan Mariam! Benarkah kamu tidak mencintaiku?"


Buliran bening terjatuh dari sudut mata Mariam, bibirnya bergetar tanpa sanggup berkata-kata. Detik demi detik berlalu, pandangan keduanya masih saling bertautan. Mariam masih berusaha keras mengukur antara hati dan egonya.

__ADS_1


"Cukup satu kata, Mariam!" ucap Mizan terus menyudutkan Mariam.


"Benarkah ... kamu ... tidak ... mencintaiku?" tanya Mizan entah untuk keberapa kali, nafas mereka kian mendekat seiring jarak yang semakin habis diantara keduanya.


"Ak--"


Mizan memejamkan matanya dan mencium bibir Mariam yang mulai terisak. Mariam terkejut namun dirinya terkunci dalam sudut yang membuatnya kehabisan ruang untuk menolak, suara isakannya tercekat. Mizan terus menciumnya, gejolak dalam hatinya tidak dapat terbendung lagi. Sikap dingin Mariam justru membuatnya semakin yakin cintanya masihlah hidup di hati isteri keduanya.


Mariam pun memejamkan matanya, pasrah membiarkan ciuman Mizan tanpa membalas, hanya airmatanya yang mengalir semakin deras menyadari hatinya yang masih mencintai mantan kekasihnya. Pertahanannya runtuh, akal sehatnya kalah, secara tidak langsung dia mengakui kepura-puraannya selama ini.


Satu tangan Mizan bergerak menopang tengkuk Mariam dan menekan kearahnya, dan memeluk punggung Mariam menggunakan tangan yang sedari tadi dia gunakan untuk mencengkram tangan Mariam. Mizan terus menyecap bibir Mariam, mencoba bicara dengan bahasa yang lain untuk memaksa Mariam mengakui cintanya.


'Aku manusia biasa, haruskah aku menyerah? Apakah benar kalau aku harus meneguk manisnya statusku sebagai Madu?' batin Mariam.


Mizan menghentikan ciuman panjangnya, kening dan hidungnya masih saling menempel dengan Mariam. Dia membuka mata dan menyadari tangis Mariam dalam diam. Nafas keduanya masih saling memburu. Mizan yakin, Mariam masih mencintainya tapi Mariam terus membungkam dirinya sendiri.


'Mengakulah Mariam, seberapa kuat pertahananmu untuk membohongi dirimu sendiri?' batin Mizan.


Mizan melepaskan tengkuk Mariam dan beralih mencium puncak kepala mariam, sebelum akhirnya dia memeluk Mariam dengan kedua tangannya. Mariam melepaskan tangisnya yang tertahan dalam pelukan hangat Mizan.


"Aku tahu kamu masih mencintaiku, Mar. Maafkan aku yang harus menyatukan kita dengan takdir poligami, maafkan aku yang tidak bisa memberimu pernikahan impian seperti yang kita rangkai dulu. Tapi percayalah, Medina bukanlah partner hidup yang mengecewakan."


Mariam melunak dan mulai membalas pelukan Mizan. Meskipun dia ragu pada pilihannya, tapi dia tidak lagi ragu pada hati yang masih saling mencintai.


"Kalian harus saling menyayangi, karena kalian adalah wanita luar biasa dengan takdir yang istimewa. Aku tidak mungkin bisa mewujudkan pernikahan bahagia seorang diri, aku butuh kalian agar selalu bisa mengingatkanku ketika aku mulai condong dan tidak adil."


"Aku tidak mungkin melepaskan salah satu dari kalian, bukan karena aku egois atau serakah. Tapi karena aku mengucapkan ijab dan qobul di depan Alloh, hal itu bukanlah main-main. Aku harus melakukan apa yang sudah menjadi tanggung jawabku, apa yang sudah aku pilih dengan segala resiko dan konsekuensinya."


Mizan melepaskan pelukannya, dia menatap wajah Mariam yang sendu. Airmata Mariam dihapusnya dengan lembut.


"Tersenyumlah Mariam, aku tahu takdir kita berat. Tapi Alloh bersama kita."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2