Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Aku Manusia


__ADS_3

Mariam mendorong tubuh Mizan sedikit menjauh, Mizan tidak lagi memaksa seperti tadi. Mariam berusaha menguasai dirinya sendiri, menata rasa, membenahi emosi, dan mencoba meraih kesadarannya kembali.


Mizan pun sama, sesaat dia dikuasai emosi. Namun ucapan-ucapannya memang tidak terbendung lagi. Walaupun Mariam tidak menjawabnya secara langsung, tapi dia telah lega mengungkapkan segalanya. Ucapan Medina tentang arogansi yang terus Mariam tunjukan telah berhasil diselesaikan.


"Beri aku kesempatan berpikir, jika dulu kalian memaksaku menikah karena menilai aku sedang tidak waras dan tidak pantas mengambil keputusan, maka sekarang beri aku waktu untuk berpikir dengan pikiranku yang waras," ucap Mariam memecah keheningan.


"Mar? Aku tidak pernah menganggapmu tidak waras." Mizan kembali kecewa karena ternyata Mariam masih berkeras hati.


"Sampai detik ini, aku tidak bisa melupakan bagaimana ibuku akhirnya menerima lamaran kalian, ibuku mengatakan 'Mariam sedang depresi, maka aku sebagai walinya berhak mengambil keputusan,' dan akhirnya ibuku menerima lamaran kalian yang datang berkali-kali, dengan jaminan masa depan pendidikan Oktavia."


"Mar--"


"Kamu sudah terlalu banyak bicara Zan, memaksaku mengakui perasaanku, dengan berbagai serangan logika dan hati. Sekarang biarkan aku bicara."


Mariam mengambil nafas panjang.


"Iya, aku jawab iya. Aku memang masih mencintaimu, apalagi dengan kehadiranmu yang intens, perhatianmu, kasih sayangmu pada Okta, ditambah serangan kenangan masa lalu kita."


"Aku nggak sanggup melawan semua, aku menyerah.


"Aku mencintaimu."


Mariam berujar dengan mata yang penuh keputus asaan. Mizan mendengarnya dengan mata berbinar, kejujuran Mariam yang selama ini dia tunggu. Walaupun kemarin dia sempat mengakuinya, entah kenapa Mariam kembali membeku.


"Tapi dengarkan, Zan! Rintihan hatiku."


"Pernikahan ini, yang kamu anggap sebagai pengorbanan dari Medina, justru adalah penjara bagiku."


"Melepaskanmu dulu memanglah sulit dan sudah menghancurkan sebagian hatiku, tapi hidup dalam pernikahan ini jauh lebih sulit bahkan pernikahan ini telah menghancurkan seluruh hidup dan harga diriku!"


"Berkali-kali, kamu dan Medina mengatakan ini adalah pengorbanan yang mulia, tapi sadarkah kamu?"


"Pernikahan ini menjadikanku seperti seorang pengemis yang harus diberi belas kasihan oleh Medina."


"Kalau kamu ingin pengakuan cinta, iya, aku mencintaimu. Sangat dan sangat mencintaimu sama seperti dulu, bagiku cinta ini tetap sama, Zan."


"Menyiksa dan menyesakkan!" ucap Mariam penuh tekanan.


Mariam terus menularkan keputusasaan dari setiap kata-katanya. Membuat Mizan menyadari, jurang diantara mereka sangatlah lebar dan dalam. Mariam tidak seperti dulu, yang akan luluh dengan penjelasan-penjelasannya.


"Mar, apa yang membuatmu keras kepala begini?" tanya Mizan, dia menyadari usahanya tadi belum mampu menembus hati Mariam seutuhnya.


"Zan ...." Mariam memberanikan diri menatap mata Mizan.


"Apa kamu pernah berpikir, bahwa tindakan Medina dulu gegabah?"


"Pernahkah kamu berpikir, kebijaksanaan Medina membawa penderitaan bagiku?"


"Pernahkah kamu berpikir, aku sama sekali tidak menginginkan apa yang sudah Medina korbankan?"


"Medina memang hebat, dia bisa membagi dirimu dengan luar biasa. Tapi aku tidak bisa, Zan!"


"Aku bukan wanita dengan paham seperti itu, aku sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk bisa sekedar membayangkan suamiku bercumbu dengan wanita lain."


"Apa cinta yang kutunjukan padamu kurang, Mar? Aku berusaha mati-matian adil mencintai kalian berdua dengan porsi yang sama!" ucap Mizan setelah mendengar pertanyaan-pertanyaan Mariam.


"Bukan seperti itu, Zan! Mungkin Medina hebat, tapi aku tidak. Andai waktu bisa diulang, aku akan berusaha lebih keras menolak lamaran kalian, harusnya kalian bahagia saja, tidak usah memperdulikanku waktu itu. Apa susahnya kalian menutup mata pada apa yang terjadi padaku?" ujar Mariam dengan nada tinggi namun tidak mampu menyembunyikan kesedihannya.


"Mariam! Keterlaluan kamu!" seru Mizan dengan nada yang tidak kalah tinggi.

__ADS_1


Teh Desi yang hendak berpamitan tidak sengaja mendengarnya, dia mundur dan memilih pergi tanpa berpamitan. Semua pegawai telah pulang, Teh Desi menutup ruangan dengan pelan sebelum pergi.


"Kenyataannya memang seperti itu, Zan!" ucap Mariam mematahkan penolakan Mizan.


"Pengorbanan Medina yang mulia, bagiku adalah pengorbanan yang gegabah. Dia terlalu buta dalam mencintaimu, dia hanya berkorban agar kamu bahagia, tanpa pernah memikirkan perasaanku!"


"Hatiku sesak, Zan! Sakit!"


"Selalu menjadi objek yang harus Medina dapatkan untuk kebahagiaanmu, tanpa dia menyadari bahwa aku juga wanita ...."


"Aku juga manusia ...."


"Aku bukan benda mati, Zan! Tapi kecintaannya padamu membuatnya hanya mampu melihatku sebagai objek, cinta pertama suaminya yang harus dia kejar!"


"Aku manusia, Zan! Pernahkah Medina melihatku demikian?!"


"Dia mengatakan, aku harus melayanimu layaknya suami istri, kamu berhak atas diriku karena aku juga isterimu. Dengarkan, Zan! Aku hanya sesuatu yang telah Medina dapatkan untuk membahagiakanmu. Aku pun harus mengikuti aturan mainnya, mengikuti obsesinya yang buta pada dirimu."


"Lihat aku, Zan! Aku manusia!" Tangis Mariam meledak seiring dengan ungkapan perasaannya dari hati yang terdalam.


"Kenapa Medina hanya melihatku sebagai objek?"


Mariam terus menjeritkan isi hatinya, hal-hal yang membuat hatinya sesak dan tersiksa.


Mizan hanya bisa memandang Mariam yang menangis tergugu dihadapannya. Tangannya bergetar hendak mencoba menenangkannya, namun sebelum tangannya sampai pada pundak Mariam yang tertunduk, Mizan kembali menarik tangannya.


Mizan menyadari, Mariam benar-benar telah terluka. Luka yang tidak mampu dia lihat selama ini. Rasa bersalah merasuk dengan hebat ke dalam hatinya.


"Medina?" gumam Mizan.


Ingatannya kembali pada saat-saat Medina terus membahas Mariam saat bersamanya. Mariam begini, Mariam begitu. Semua dibahas oleh Medina. Benarkah, Medina sangat terobsesi pada kebahagiannya? Sampai-sampai dia lupa bahwa Mariam juga wanita, Mariam juga Manusia?


Senyum dan tangis Medina bergantian mendatangi ingatan Mizan, benar, hampir sebagian besar dari Medina selalu membahas tentang Mariam dan dirinya.


"Izinkan aku memelukmu sebagai seorang kawan lama," ucap Mizan.


"Maafkan aku, maafkan kebodohanku Mariam!"


Ucapan Mizan semakin membuat Mariam tergugu, tapi akhirnya dia berhenti meronta dan membiarkan Mizan memeluknya.


Pelukan yang nyaman, sekaligus menyakitkan, seperti pisau yang menancap semakin dalam? Mariam menyerah, dan membiarkan Mizan merasakan penderitaannya. Mariam mengeluarkan semua kesedihan yang dia pendam, lewat tangisan yang begitu menyayat hati Mizan.


Detik demi detik berlalu, tangisan Mariam hari ini tidak akan pernah Mizan lupakan seumur hidupnya.


Mariam mulai bisa menguasai dirinya kembali, dia bangkit dari pelukan Mizan. Sementara rasa bersalah telah berhasil membuat lidah Mizan menjadi kelu. Tidak ada lagi penjelasan-penjelasan yang bisa membuat Mariam tenang. Mariam justru membuka mata Mizan, pada sisi hati Mariam yang luput dari perhatiannya.


"Pergilah, Zan! Aku harap kamu mengerti. Aku ... benar-benar butuh waktu sendiri," pinta Mariam.


"Mar? Aku minta maaf, aku ... benar-benar tidak pernah berpikir ke arah sana."


"Medina pun tidak pernah mengganggap kamu demikian. Aku yakin ini hanya kesalahanpahaman."


"Ijinkan aku menebus semua kesalahan ini, Mar! Berikan aku kesempatan," pinta Mizan dengan penuh penyesalan.


Mariam tertunduk lesu, benang diantara mereka sudah kusut. Tidak lagi soal cinta atau tidak cinta. Tapi jodoh yang selalu saja datang disaat yang tidak tepat.


"Apa kamu tahu? Cara memperbaiki semua ini?" tanya Mariam ragu, Mizan pun hanya diam mendengar pertanyaan Mariam.


Mariam kembali memandang Mizan dengan kecewa. Tebakannya benar, lelaki di depannya tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


"Aku yakin Medina tidak bermaksud menganggapmu seperti itu, Mar. Aku akan mengajaknya bicara dan menyampaikan apa yang salah dari perbuatannya."


"Cukup, Zan! Selesaikan saja apa yang terjadi diantara kita, dari awal ini hanya soal kita. Jangan libatkan Medina, aku lelah dengannya."


"Apa maksudmu, Mar?"


"Kamu pasti tahu, Zan!"


"Dengar, Mar! Selama masih bisa diperbaiki, aku tidak bisa melepaskanmu. Jika memang perpisahan yang kamu maksud ... aku tidak bisa melakukannya." Mariam terdiam dan memalingkan wajahnya dari Mizan.


"Apakah ... kamu punya solusi yang lain?" tanya Mariam lagi.


"Aku ... akan memikirkannya," jawab Mizan ragu.


"Hhhh ... lepaskan aku, Zan! Aku mohon! Kamu menyakitiku ...." Mariam kembali menatap Mizan untuk memohon padanya.


"Mungkin tindakan Medina dulu gegabah dan bodoh, tapi perpisahan yang kamu minta juga tidak kalah gegabah dan bodoh, Mar!" Mizan mencoba meraih tangan Mariam.


"Mar, ibuku pernah berjanji untuk melindungimu, menjamin masa depan Oktavia, dan aku juga berjanji pada diriku sendiri akan bertanggung jawab padamu dan Oktavia secara lahir dan batin. Aku bertanggung jawab pada psikologis anakmu, Mar!" ujar Mizan.


"Kamu menyakitiku, Zan! Pernikahan ini menyiksaku ... aku mohon!" rintih Mariam.


Mizan benar-benar dilema. Permintaan Mariam telah mencabik-cabik hatinya. Dia menyesal, segala hal yang terburu-buru pasti tidaklah baik. Tapi dia juga tidak mungkin mengatakannya pada Medina, Mizan tidak ingin kehamilannya terganggu.


"Aku akan lebih bahagia, bila aku bisa mengagumimu tetap dari tempatku yang seharusnya ... mengenangmu sebagai kisah manis yang tidak akan aku lupakan," ucap Mariam lagi.


"Cukup, Mar!" tolak Mizan marah.


"Kamu adalah bintang yang pernah bersinar terang dalam hidupku, memandangmu dari jauh membuatku bahagia dan bisa menikmati kerlipan cahayamu. Tapi, bila terlalu dekat, aku akan tersiksa, aku akan terbakar, mungkin aku akan hancur."


"Aku kecewa padamu, Mar! Seolah semua perasaan yang sudah kuberikan tidak ada artinya."


"Bukan hanya kamu yang mencintaiku, Mar! Aku pun merasakan hal yang sama. Aku mencintaimu mungkin lebih dari cintamu padaku! Bertahun-tahun aku menderita karena perasaan ini. Bahkan di tahun pertama pernikahanku, kujalani dengan sulit karena hatiku masih saja mencintaimu, meskipun aku berusaha membunuhnya berkali-kali!"


"Lalu, Medina?" tanya Mariam tegas.


"Aku tidak mungkin meninggalkannya, Mar!" ucap Mizan.


"Jika kamu mencintaiku ...."


"Lepaskan aku, Zan!"


"Aku akan temukan jalan lain, tapi bukan itu."


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2