
Pagi hari Mba Lastri telah sigap menyiapkan sarapan untuk majikannya, baginya mengurus rumah kecil terasa lebih ringan dan cepat daripada mengurus rumah besar milik Bu Aini selama ini.
"Mas Musa, sarapannya udah mba siapkan," ucap Mba Lastri sambil menunjukan beberapa potong roti, susu, dan secangkir teh yang sudah rapih di atas nampan.
"Makasih ya, Mba." Musa pun membawanya ke kamar.
"Oh iya Mba, saya bener-bener minta tolong, titip Medina ya Mba."
"Siap Mas, Mas Musa tenang aja, Mba Medina biar jadi tanggungjawab mba Lastri."
"Kalau ada apa-apa cepet kabari saya."
Musa masuk dengan sebuah nampan berisi sarapan di tangannya. Dia menghampiri Medina yang masih tertidur pulas.
"Dek, bangun ... kita sarapan dulu." Medina mengerjapkan matanya di sambut senyum hangat Musa di hadapannya.
"Mas, maaf Medina ketiduran sehabis sholat subuh." Medina terkejut melihat suaminya sudah rapih dan dia belum menyiapkan sarapan.
"Sudah, Dek. Udah disiapin semua sapa mba Lastri. Kamu istirahat dulu jangan kemana-mana tetap di tempat tidurmu sementara. Ayo mas suapi sarapannya ...." Musa menyodorkan roti lapis pada Medina.
Medina menatapnya ragu, beberapa detik kemudian Medina menutupkan tangannya pada hidung dan mulutnya.
"Medina nggak mau, Mas."
"Kenapa, Dek?"
"Medina mual ngeliatnya, Mas Musa aja yang makan."
"Kalau begitu minum susunya." Musa kembali menaruh roti lapis dan menggantinya dengan segelas susu hangat.
"Medina mual, Mas!" tolak Medina seraya meminta Musa menjauhkan makanan itu dari hadapannya.
"Huueeeeek!"
"Bagaimana ini, Dek? Kenapa belum membaik mual-mualnya?" tanya Musa cemas, dia memijit tengkuk Medina dengan lembut.
"Dokter bilang mual biasanya hilang setelah melewati trimester pertama, Mas."
"Tapi itu lama sekali, Dek. Bagaimana kamu bisa makan? Gizi anak kita bagaimana? Mas nggak tega ngeliat kamu kaya gini."
"Nggak papa, Mas." Medina tersenyum dengan perhatian dari suaminya, "Ini adalah mual yang membuat Medina bahagia, mual yang membuat Medina merasa sempurna, Medina akan melaluinya dengan penuh rasa syukur."
"Subhanalloh, anak kita beruntung mempunyai ibu dengan hati semulia dirimu, Dek."
"Bukan Mas, Medina yang beruntung karena mendapat amanah sebesar ini."
"Iya, Mas tahu. Bagaimana kamu berdoa sepanjang malam dengan penuh airmata dan harapan yang tidak pernah putus pada-Nya. Terimakasih Dek!" Musa mengecup kening Medina.
"Mas, Medina boleh tanya?"
"Apa, Dek?"
"Hem ... apa antara Mas Musa dan Mba Mariam masih ada perjanjian?"
"Perjanjian?"
"Apa Mba Mariam sudah membuka hatinya? Perjanjian yang itu apa masih berlaku diantara kalian?" tanya Medina.
"Dek, pikirkan dirimu sendiri, pikirkan anak kita."
__ADS_1
"Tapi Mas, kamu pun berhak atas diri Mba Mariam, dia akan berdosa besar kalau menolak melayani kebutuhan batin Mas Musa terus menerus. Sampai kapan Mas akan mengalah akan semua sikap arogan Mba Mariam?"
"Dek, Mariam begitu karena--"
"Iya Medina tahu, Mas Musa sangat berhati-hati memperlakukan Mba Mariam. Tapi ini sudah terlalu lama, Medina nggak tahan setiap melihat perlakuan Mba Mariam pada Mas Musa seolah tidak menghormati Mas Musa sama sekali."
Musa tersenyum mendengar ucapan yang keluar dari bibir isterinya.
"Jangan karena cinta Mas Musa yang besar pada Mba Mariam, Mas membiarkannya bersikap arogan dan tidak menghormati Mas Musa seperti itu, Medina paham semua peristiwa pahit yang udah dialami Mba Mariam, tapi bukankah sudah saatnya bangun dan menghadapi kenyataan? Medina lebih suka Mba Mariam yang dulu."
"Apa yang mengganjal di pikiranmu, Dek? Sampai kamu membahas Mariam seperti ini?"
"Enggak ada Mas, hanya saja sudah saatnya Mas juga mendidik Mba Mariam dan Mba Mariam menghormati Mas layaknya seorang suami, Medina sedih kalau Mas Musa diperlakukan seperti pengemis cinta begitu."
"Dek, yang penting sekarang adalah kondisi kesehatan dan kehamilanmu, nggak usah memikirkan yang lain."
"Tapi Mas--"
"Sudah Dek, jangan pikirkan Mariam, Mas masih mampu menanganinya. Mas berangkat dulu. Assalamualaikum."
🍀🍀🍀
"Mba Medina, mau makan apa biar mba Lastri cariin," ucap Mba Lastri.
"Medina mau jeruk peras Mba, ada yang jualan kok di gang depan. Mba Lastri bisa naik motor, kan?"
"Bisa Mba, tapi jeruk dari Ibu kan masih, Mba Lastri bikinin aja ya?" tawar Mba Lastri.
"Enggak Mba, Medina pengen yang beli."
"Oh, siap Mba, ada lagi? Mba Medina belum makan apa-apa lho."
"Ba- Eh Mba nggak boleh, karedok kan sayurannya mentah, pantangan bagi ibu hamil makan yang setengah mateng atau mentah."
"Iya kah, Mba? Ya udah gado-gado aja, Medina pengen yang bumbu kacang."
"Mba Lastri beliin dulu yah."
"Ini uangnya, Mba!" Medina menyodorkan selembar uang berwarna merah.
"Nggak usah Mba, tadi Mas Musa udah ngasih uang belanja."
"Benarkah?"
"Mba pergi dulu."
Tidak lama kemudian Mba Lastri pulang dengan pesanan Medina di tangannya.
"Ini Mba, gado-gado sama es jeruknya."
"Makasih Mba, maaf ya jadi di suruh-suruh."
"Gunanya mba disini emang untuk bantuin Mba Medina, jangan sungkan Mba."
Medina melahap makanan yang ada di depannya tanpa drama, Mba Lastri setia menemani menantu dari majikannya ini.
"Alhamdulillah, enak Mba."
"Mba bisa lho bikin kaya gitu," ucap Mba Lastri.
__ADS_1
"Medina lagi pengen yang beli Mba, besok bikin urap sama pecel aja. Medina lagi pengen yang sayur-sayur."
"Siap, laksanakan."
"Mba Lastri boleh Medina tanya-tanya soal Mba Mariam?"
"Boleh Mba, tapi mba Lastri takut salah ngomong."
"Nggak papa Mba, lagian pertanyaan Medina itu nggak aneh-aneh kok. Medina cuma pengen Mba Mariam bisa cinta lagi sama Mas Musa."
"Hah? Ke-kenapa Mba? Mba Medina nggak ... nggak cemburu emang?"
"Cemburu wajar Mba, tapi dari awal Medina udah ikhlas berbagi sama Mba Mariam."
"Subhannalloh ... berarti bener cerita Bu Aini, menantunya memiliki hati yang mulia, nggak semua wanita bisa kaya Mba Medina begini."
"Jangan berlebihan Mba Lastri, Medina juga baru belajar. Yang jelas nggak akan ada Medina dan Musa tanpa Mba Mariam, dan nggak akan ada Mariam dan Mizan tanpa Medina. Kita bertiga saling berkaitan, saling membutuhkan satu sama lain, saling melengkapi satu sama lain."
"Subhannalloh ... tapi Mba, kalau mba Lastri sih nggak akan mau berbagi suami seperti itu. Walaupun mba tahu bagaimana dekatnya Mba Mariam sama Mas Musa dulu."
"Mba, walaupun Mba Mariam nggak muncul di kehidupan kami, Mas Musa akan tetap dikejar-kejar oleh rasa bersalahnya pada Mba Mariam setiap malam di dalam mimpinya. Percuma kalau Medina egois dan menginginkan Mas Musa untuk diri Medina sendiri sementara Mas Musa nggak bahagia, Medina juga gakan bahagia dengan rumah tangga seperti itu."
"Awalnya Medina pikir Mas Musa hanya perlu menyelesaikan kisahnya yang belum tuntas dengan Mba Mariam. Tapi Alloh berkehendak lain, takdir membuat Mba Mariam kehilangan suaminya. Mas Musa awalnya sudah ikhlas dengan kisahnya yang kandas karena melihat Mba Mariam bahagia, suaminya pun sangat baik. Tapi melihat Mba Mariam depresi saat itu, Mas Musa juga sedih, sangat sedih."
"Medina nggak bisa menutup mata Mba," pungkas Medina sambil tersenyum menatap Mba Lastri yang terpaku dengan kisahnya.
"Mba Mariam pernah mengatakan, dia sudah pernah mati saat menjadi seorang isteri. Aku tahu semua yang Medina alami tidak sebanding dengan cobaan hidup yang menimpanya. Medina menyayangi Mba Mariam bukan semata karena dirinya wanita yang dicintai Mas Musa, tapi juga karena dalam dirinya ada luka yang Medina pun nggak akan kuat kalau harus menanggungnya."
"Mba Lastri nggak tahu harus bilang apa, sedih ... pantas saja Bu Aini sangat menyayangi Mba Medina. Hati Mba Medina benar-benar mulia. Seharunya Mas Musa lebih menghargai Mba Medina dari awal dan tidak mengingat-ngingat masa lalunya dengan Mba Mariam."
"Mba Lastri, Mas Musa itu manusia biasa. Bahkan sekelas nabi saja, bisa terpeleset oleh perasaan. Itu karena mereka juga manusia biasa Mba, apalagi hanya seorang Mas Musa. Mau setinggi apapun ilmunya, mau sekuat apapun karakternya, kalau dihadapkan dengan urusan perasaan bisa saja dia lemah."
Mba Lastri diam tanpa mengerti apa yang Medina berusaha sampaikan.
"Mba Lastri pernah denger kisah Nabi Yunus ditelan ikan paus?"
"Pernah, Mba."
"Alloh menghukum Nabi Yunus karena bersikeras meninggalkan kaumnya padahal kaumnya sudah benar-benar bertobat. Di dalam perut ikan paus Nabi Yunus menyadari kesalahannya dan dia berdoa, sampai akhirnya Nabi Yunus keluar kembali dengan selamat."
"Atau Nabi Musa, yang merasa dirinyalah manusia terpandai. Sampai akhirnya Alloh mempertemukan Nabi Musa dengan Nabi Khidir, kepandaian yang Nabi Musa rasakan tidak ada apa-apanya."
"Apalagi Mas Musa suamiku yang tercinta, dia bukan nabi dan hanya manusia biasa. Aku pun hanya Medina manusia yang tidak sempurna banyak salah dan dosa, atas dasar apa aku merasa lebih baik dari Mba Mariam atau menghakimi perasaan Mas Musa?"
"Mba Medina, mba Lastri terharu dengan keyakinan yang ada pada Mba Medina. Mba Lastri merasa malu dengan anggapan mba pada Mas Musa, maafin mba Lastri ya Mba Medina, ilmu mba Lastri emang cetek."
"Sudah Mba Lastri, Medina juga masih belajar. Medina juga pernah kok marah, kecewa, benci, menyesal, tapi semua kembali pada diri Medina sendiri yang masih banyak kekurangan tapi kenapa mengharapkan Mas Musa yang sempurna? Mas Musa pun punya kekurangan di hatinya, Medina bahagia melengkapi hati Mas Musa meski harus dengan Mba Mariam."
Mba Lastri menyeka airmatanya, akhirnya dia bisa memahami menantu majikannya.
"Gara-gara mbahas ini, aku jadi pengin ketemu Mba Mariam."
"Kenapa Mba?"
"Ada yang harus Medina bicarakan."
.
.
__ADS_1
.