
Hari itu Musa pulang lebih cepat dari biasanya, pada pukul setengah 5 sore dia telah memarkirkan mobilnya di depan ruko milik Mariam. Toko terlihat ramai, Musa masuk untuk pertama kalinya ke tempat usaha Mariam dan tidak lama kemudian seseorang menghampirinya.
"Silahkan, Pak, mau nyari apa?" ucap wanita muda itu ramah.
"Maaf saya mau ketemu Mariam, ada?" tanya Musa.
"Oh, Bu Mariam ada di atas di ruang produksi, udah bikin janji, Pak?"
"Belum, bilang aja ditunggu suaminya."
"Oh ... maaf Pak, saya nggak tahu kalau Bapak itu suami Bu Mariam, ayo silahkan saya antar ke ruangannya, biar saya sampaikan pesannya pada Bu Mariam di atas."
"Iya."
"Sekali lagi saya minta maaf, Pak."
"Udah nggak papa."
Musa berjalan mengikuti langkah wanita muda itu, dia diantar ke sebuah sudut bangunan. Wanita itu membukakan pintu dan mempersilahkan Musa masuk.
"Silahkan tunggu di dalam, Pak!" ucapnya seraya pergi mencari Mariam.
Musa pun masuk ke ruangan dimana Mariam memperjuangkan segalanya. Dia mengamati sekitar, memeriksa setiap inchi ruangan yang terkesan manis. Potret besar Mariam dan Oktavia tergantung di sebuah sisi dinding, dan sebuah pigura kecil di atas meja Mariam memperlihatkan momen bahagia Mariam, Okta, dan Biantara.
Musa meraih dan memandangnya, tanpa sadar jarinya mengusap tawa bahagia Mariam di dalamnya. Terbesit rasa sedih dalam hati Musa saat menatapnya, tawa hangat yang hilang dan dia tidak mampu mengembalikannya.
Dia segera mengembalikan benda itu pada tempatnya, kemudian Musa berjalan dan duduk di atas sofa untuk menunggu Mariam. Mungkin saja Mariam akan marah bila dia tahu Musa memeriksa barang-barangnya.
Mariam datang tergopoh-gopoh, dia segera datang begitu salah satu karyawannya memberi tahu perihal kedatangan suaminya.
"Mizan?"
"Assalamualaikum, Mariam." Mariam masuk dan sigap menutup tirai ruangan yang berdinding kaca itu.
"Wa-waalaikumsalam ... ada apa?" tanya Mariam gugup.
"Aku hanya ingin mampir, apa aku mengganggu?"
Mariam berusaha menguasai dirinya, dia terkejut dengan kedatangan Mizan yang tiba-tiba.
"Enggak, mau teh atau kopi?"
"Teh aja," jawab Mizan. Mariam dengan sigap meraih cangkir dan membuat secangkir teh untuk Mizan dan secangkir kopi untuk dirinya.
"Sejak kapan kamu minum kopi, Mar?" tanya Mizan melihat Mariam menyajikan kopi hitam untuk dirinya sendiri.
"Sejak ... ehm, entahlah. Aku hanya butuh energi lebih untuk semua ini."
Mariam duduk bersebrangan dengan Mizan, kantung mata terlihat menggantung di bawah matanya. Mariam mulai menyesapi kopinya, mengusir penat dan sedikit memberi suntikan semangat.
"Aku senang hidupmu baik-baik aja, tapi ... aku rasa udah cukup waktu yang kuberikan selama beberapa bulan ini untukmu berpikir."
"Aku bahkan belum memikirkan apa-apa, maaf aku hanya fokus pada usahaku."
__ADS_1
"Iya, bisa kulihat. Perkembanganmu benar-benar luar biasa. Tapi ... masalah kita juga nggak bisa digantung terlalu lama, aku sebagai laki-laki merasa bersalah karena membiarkanmu tergantung."
Mizan bergerak mendekati Mariam, kini dia duduk di sebelahnya.
"Aku baik-baik aja, Zan. Kesibukan telah membuatku lupa kalau aku hanyalah seorang madu sampai kemarin Medina datang ... dan mengingatkan semua," ucap Mariam sambil menyesap kopinya, dia hanya sesekali mencuri pandang ke arah Mizan.
"Apa Medina bertanya macam-macam lagi?"
"Ya begitulah, aku hanya harus terbiasa, bukan? Kamu tenang aja, aku nggak ngomong apapun untuk menjaga perasaannya."
Mizan merasa buntu pada Mariam, entah harus darimana dia harus mulai bicara.
"Bisa kita bicara tentang kita?" tanya Mizan memecah keheningan.
"Silahkan, Zan."
"Bagaimana keputusanmu?" tanya Mizan.
"Mungkin pertanyaan itu lebih cocok untukmu." Mariam mengembalikan pertanyaan Mizan.
"Zan, kita bukan remaja lagi ... rumah tangga bukan hanya soal cinta atau mencintai. Aku terus berusaha menanyai hatiku tapi tetap saja aku nggak bisa berbagi suami apapun alasannya. Maaf ... aku bukan wanita sehebat Medina." Mariam bicara tanpa menoleh sedikit pun pada Mizan, sementara Mizan terus menatap Mariam, mengamati segala gerak geriknya, membaca setiap gestur tubuhnya.
"Aku sudah cukup puas melihat kebahagiaanmu bersama Medina, aku pikir nggak ada lagi alasan bagiku terus memaksakan diri ... untuk berada diantara kalian."
"Insha Alloh, aku rela melepasmu untuk yang kedua kalinya, aku juga ikhlas dilepas olehmu untuk yang kedua kalinya," pungkas Mariam, tangannya mencengkram cangkir di tangannya dengan erat.
"Aku nggak menyangka, Mar." Mizan tersenyum kecut dan matanya berkaca-kaca.
"Aku bukan lagi Mariam yang depresi, yang pendapatnya nggak pantas untuk didengar. Aku sudah cukup sadar dan berdamai dengan keadaan, kamu pun lihat aku sudah bangkit dan layak untuk menjadi orang tua bagi Oktavia."
"Aku pun sedih, Zan dan aku turut menyesal karena kisah kita harus berakhir seperti ini." Mariam mulai meneteskan air mata dan terbawa suasana.
"Tapi aku nggak bisa, memaksa dan berpura-pura baik-baik saja. Kamu boleh menilaiku isteri yang buruk atau keras kepala, tapi logikaku tetap nggak bisa menerima pernikahan yang seperti ini. Aku ... masih jauh dari julukan isteri yang sholihah." Mariam terus bicara sementar Mizan terdiam fokus pada pertarungan di dalam hatinya.
"Aku hanya ingin jadi ibu yang baik, aku takut ketidak ikhlasanku pada pernikahan ini akan berdampak pada psikologis Oktavia pada nantinya." Mariam meletakan cangkir kopi dan berusaha kembali menguasai dirinya.
Mariam memberanikan diri menatap Mizan, ternyata Mizan tidak lagi menatap dirinya dan menunduk sambil memejamkan mata. Mariam segera melempar pandangannya ke arah lain agar hatinya tidak goyah. Tidak mudah baginya meminta perpisahan untuk yang kedua kali, perpisahan disaat hatinya masih menyimpan cinta.
"Maaf ... aku nggak bisa menjadi isteri yang baik, isteri yang mungkin kau harapkan," ucap Mariam pada Mizan yang masih terdiam.
Entah berapa lama mereka larut dalam kebisuan, hingga pada akhirnya Mizan bangkit dan mendekati Mariam. Mariam terkejut mendapati gerakan Mizan yang tiba-tiba. Mizan mencium puncak kepala Mariam, dan menangis di sana untuk waktu yang cukup lama.
Mariam membiarkan Mizan melakukannya, jangankan menghindar untuk sekedar menguasai hatinya saja keberaniannya telah habis.
Mizan akhirnya melepaskan kepala Mariam kemudian menghempaskan kedua lututnya di depan Mariam. Mizan mencium tangan Mariam dengan penuh kesedihan, ada sesuatu yang hancur di dalam dirinya. Kemudian dia menggenggam tangan Mariam, namun tatapan matanya terus menunduk. Usaha yang sia-sia untuk menyembunyikan air mata.
"Bismillahrrohmanirrohim ...."
"Hari ini ... aku Musa Hamizan, tanpa paksaan dari pihak manapun dan dengan sadar memberikan talak padamu."
"Mulai detik ini kamu ... Mariam Maulidda binti Maulana bukan lagi isteriku."
Mizan melepaskan pegangan tangan Mariam dan kembali duduk di sofa. Kedua tangannya ditangkupkan menutupi wajahnya, suara tangisnya tidak lagi bisa dia sembunyikan.
__ADS_1
Mariam terkejut, air matanya jatuh bercucuran tanpa tertahan mendengar ikrar Mizan. Tangannya gemetar, hatinya hancur, walaupun dia sendiri yang meminta perpisahan ini. Kesedihan dan kelegaan bercampur menjadi satu, dan menciptakan suasana hati yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Maafkan aku karena tidak bisa membuatmu bahagia," ucap Mizan di sela tangisnya.
"Aku mencintaimu, dan ingin kamu bahagia, maka dari itu aku memutuskan untuk melepasmu."
"Aku sadar, kamu bukanlah wanita yang bisa kugenggam ... bukan wanita yang bisa kumiliki."
"Maafkan aku yang telah memaksa sehingga membuatmu menderita."
"Aku yang terlalu lemah, sementara kamu wanita yang luar biasa."
"Maafkan aku, Mariam."
"Bahagialah, kejar semua mimpimu, aku dan Medina tidak akan lagi memberikan masalah padamu."
"Tapi ijinkan aku untuk tetap menganggap Oktavia sebagai putriku ... ibuku sangat menyayanginya."
Kini Mariamlah yang terdiam, mendengarkan semua ucapan Mizan yang terbata-bata.
"Aku ... tidak tahu harus bilang apa, Zan."
"Terimakasih ... atas semuanya, aku pun berharap kamu bahagia. Medina sangat mencintaimu, cinta yang lebih pantas untuk kamu perjuangkan."
"Kali ini kita berpisah dengan cara yang lebih dewasa, semuanya selesai tanpa tanda tanya, ikhlas, dan dengan cara yang baik."
"Aku harap, hati kita pun selesai."
Mizan berusaha tertawa, menghapus airmata di wajahnya dan memaksa diri melihat ke arah Mariam.
"Bisakah kita menjadi teman setelah ini?" Mizan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Mariam pun memaksakan diri untuk tertawa di sela tangisnya, "Dari awal kita memang berteman," ucap Mariam sambil menyambut jabat tangan Mizan.
Kaduanya sama-sama tertawa di sela tangis yang coba mereka sudahi.
"Aku harap kamu berhenti menghindari kampung halaman kita, kembalilah menjadi Mariam yang hangat dan ceria," ucap Mizan lagi.
"Iya, aku akan mencoba."
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.