
Riuh acara penuh bahagia dengan alunan musik membuat setiap perbincangan harus sedikit memakai tenaga. Mariam semeja dengan Risma, Sofia, dan Mala. Mereka sama-sama memuji Teguh yang bersanding serasi dengan isterinya yang cantik di pelaminan.
Mereka teman akrab sedari kecil, mereka sibuk menceritakan kekonyolan masing-masing masa itu, dalam hati Mariam bersyukur karena mereka tidak membahas masa kini.
Tiba-tiba rombongan lain datang, Ridwan muncul bersama Firman dan ... Mizan. Dalam hati Mariam berharap rombongan itu tidak bergabung bersama mereka.
"Mas Ridwan!" seru Risma melambaikan tangan, dan membuat rombongan itu otomatis bergerak mendekati Mariam. Mariam mendengus kecewa.
"Hey ... Assalamualaikum kawan-kawanku," ucap Ridwan seraya mendekat.
Mereka semua bertegur sapa saling meledek dan sejenak melupakan usia.
"Kita juga punya pengantin baru, pasangan lama disini," ucap Ridwan membuka.
"Selamat untuk kalian, aku tahu banget perjuangan dan lika likunya, aku nggak nyangka kalian akhirnya bersama."
"Dari dulu aku yakin kalian berjodoh, walaupun harus rumit begini."
"Aku terharu sama kisah kalian."
"Cinta sejati, pasti menyatu."
"Semoga sakinah, mawadah, marohmah ya."
Mereka bergantian mengucap selamat pada Mizan dan Mariam yang kikuk.
"Terimakasih semua," ucap Mizan, sambil sesekali melirik Mariam yang terlihat tidak nyaman.
"Terimakasih," ucap Mariam.
"Aku inget pas kalian sama-sama bucin, daripada pelajaran kalian lebih banyak nulis surat cinta," tambah yang lain, dan disusul gelak tawa.
"Benar-benar cinta sejati, sampai ditunggu jandanya," timpal Ridwan lagi.
"Sudah-sudah, kenapa jadi mbahas kami? Bahas Teguh aja itu lho di depan," ucap Mizan berusaha mengubah topik pembicaraan.
Di bawah meja Mizan menyentuh dan menggenggam tangan Mariam, mengisyaratkan Mariam agar tenang dan lebih santai. Dengan pelan tapi pasti Mariam berusaha melepas pegangan tangan itu sambil mengulas senyum di bibirnya.
"Nggak papa," bisiknya pelan.
"Tapi tentang kalian lebih menarik, cerita kalian kaya film aja," ucap Risma.
"Bagaimana isteri pertama kamu, Zan? Kenapa nggak diajak sekalian?" tanya Firman.
"Isteriku lagi nggak enak badan, dia lagi hamil muda," jawab Mizan.
"Wah, selamat ya, kamu akan jadi ayah!" ucap Ridwan.
"Semoga Mariam juga segera hamil anak kamu," timpal Sofia.
"Aamiin ...," ucap mereka kompak, Mariam tersenyum kecut mendengarnya.
"Ayo Zan, mampir ke rumahku kita ngobrol-ngobrol lebih banyak," ajak Firman.
"Nggak bisa, besok kami harus kembali, ini juga udah Alhamdulillah, pas bisa mudik pas bisa ngumpul," ucap mizan.
"Yaah Mariam kamu juga harus pulang besok? Hem iya deh Pak dosen sibuk," ucap Risma sambil memeluk Mariam.
"Jangan gitu Ris, Mizan kan isterinya dua, jadi harus semangat nyari uangnya," ucap Ridwan.
"Mizan nggak usah kerja aja perkebunannya luas, toko buahnya ada dimana-mana," Firman menimpali.
"Ya nggak boleh gitu, itu usaha kan bukan punyaku, punya orangtuaku," ucap Mizan.
__ADS_1
"Yah nanti juga jatuhnya ke kamu Zan, Mas Harun juga betah di luar negri, kasian lah sama orang tua kamu kesepian, mending kamu nggak usah merantau lagi temani Pak munir dan Bu Aini, siapa yang mau meneruskan Zan?" ucap Ridwan.
"Aku kalau diangkat anak buat nerusin usahanya pasti mau banget," ucap Firman berkelakar, mereka kembali tertawa.
Mariam terlihat gelisah dengan obrolan mereka terlihat berdiri, "Maaf teman-teman aku harus pulang, takut anakku nangis tadi pamitnya cuma sebentar soalnya."
"Lha kan suami kamu disini Mariam, masa mau udahan," cegah Ridwan.
"Mas Mizan masih mau ngobrol kan ya?" ucap Mariam pada Mizan, dia sengaja membubuhkan panggilan di depannya sebagai tanda hormat di depan teman-temannya.
"Iya, kamu duluan aja ya," ucap Mizan sambil menyodorkan tangan kepada Mariam, sambil melirik kanan kiri pada ekspresi teman-temannya Mariam menerima uluran tangan itu dan menciumnya dengan takdzim.
"Aku juga mau pamit duluan ya," ucap Mala mengikuti Mariam.
Mala berjalan keluar beriringan bersama Mariam, Mala menyadari ekspresi Mariam yang terlihat menghindar dari obrolan di dalam.
"Mar?" panggil Mala.
"Iya, La?"
"Kamu nggak nyaman, yah?" tanya Mala yang selama di dalam hanya diam.
"Iya La, aku sedang banyak pikiran."
"Hem, sudah jangan dipikirkan, mereka sebenernya seneng karena kalian akhirnya bareng lagi," ucap Mala mencoba menebak Mariam.
"Makasih La, kamu emang yang paling ngerti."
"Emangnya kenapa Mar? Apa kamu nggak bahagia sama pernikahan kalian? Apa status sebagai isteri kedua membebani kamu?" tanya Mala saat menyadari Mariam tidak sebahagia yang dia dan teman-temannya bayangkan.
"Ehm, iya. Medina isteri pertama Mizan sebenarnya baik, dia tulus meski kadang terlihat terlalu polos dan naif. Tapi, pernikahan ini di luar kuasaku La, aku sudah berusaha menolaknya."
"Kenapa Mar?" tanya Mala tidak mengerti, bagaimana mungkin Mariam menolak menikahi Mizan seseorang yang jelas-jelas sangat dia cintai.
Akhirnya Mariam dan Mala menepi sebentar untuk bicara, mereka duduk di sebuah pos ronda yang kebetulan mereka lewati.
"Waktu almarhum Mas Bian meninggal, aku depresi, orang tua dan mertuaku cemas memikirkan nasibku dan Oktavia. Disaat itulah Medina datang memintaku menikahi suaminya." Mala meletakan tangannya ke pundak Mariam, menyadari kesedihan yang telah dialami sahabatnya.
"Hal bodoh yang kuharap akan disesali oleh Medina suatu hari nanti, meletakanku pada posisi yang membuatku serba salah. Ibuku yang menerima lamaran itu karena merasa kondisiku masih labil dan depresi," pungkas Mariam.
"Mar, kamu masih mencintai Mizan, bukan?" tanya Mala berusaha memahami situasi.
"Cintaku pada Bian juga besar La, dia suamiku dan baru meninggal."
"Maafkan aku Mar, bahkan aku nggak sempet berbela sungkawa atas kepergian Mas Bian, malah langsung ikut-ikutan memberi selamat pada penikahanmu dengan Mizan," sesal Mala.
"Kembali ke tempat ini membuat semua kenangan tentang Mizan kembali muncul La, rasanya bahkan masih sama ketika aku jatuh cinta padanya pertama kali," sesal Mariam.
"Kenapa Mar? Bukannya itu bagus? Kalian suami isteri, apa yang kamu tangisi?"
"Statusku La, aku isteri kedua." Bulir bening mulai menetes dari sudut mata Mariam disusul isakan kecil yang berusaha dia tahan.
Mala memeluk Mariam yang menangis sesenggukan di hadapannya. Bagi Mariam ini adalah pertama kalinya dia bebas mengungkapkan kesedihan yang telah dia pendam.
"Apa Medina jahat padamu, Mar?" tebak Mala.
"Medina baik La, hatiku yang nggak baik-baik saja."
"Andai aku bisa memilih, aku ingin hidup jauh dari mereka, perjalanan hidupku untuk melupakan Mizan sudah lebih dari separuh."
"Mar, pertemuan kamu dengan Mizan setelah sekian lama juga sangat mengejutkan, mungkin kalian memang jodoh, walaupun harus sebagai isteri kedua, kamu bisa apa Mar, kalau semua udah takdir?"
"Apa aku bisa La, setelah semua perasaan itu kembali? Setelah aku kembali mencintai Mizan? Medina mungkin berjiwa besar hingga mampu membagi orang yang dia cintai, apa aku bisa La? Sebelumnya aku masih santai karena hatiku masih bimbang, perasaanku pada Mizan masih hilang entah kemana, sekarang? Apa aku bisa La?"
__ADS_1
"Sabar Mar, aku yakin itu nggak gampang. Tapi, takdir kalian sudah begitu, kamu harus bisa."
"Akan lebih mudah kalau saja pernikahan ini nggak harus terjadi, La!" sesal Mariam, Mala memandang iba pada sahabatnya yang menderita.
"Bagiku akan lebih baik dengan mengagumi Mizan di tempatku yang seharusnya, bukan sebagai isteri kedua."
"Sadar Mar! Dia bahkan suami kamu sekarang! Istighfar Mar!"
"Sekarang aku udah bangkit La, aku udah baik-baik aja. Emosiku udah stabil, kalau hanya harus menghidupi Oktavia aku sanggup La--"
"Istighfar Mariam, apa kamu berpikiran pendek? Apa pernikahan itu hanya permainan? Mariam ... dengar, kamu harus sabar. Ini hanya masalah hati, selama suami kamu adil, menafkahi, nggak main kasar, nggak selingkuh, nggak malas-malasan bekerja, pernikahanmu nggak dalam masalah yang berat!"
"Astaghfirullohaladzim!"
🍀🍀🍀
Sementara itu di tempat lain, Mizan sedang bicara berdua dengan Ridwan, teman-teman yang lainnya sudah berpamitan pulang.
"Zan? Mariam baik-baik aja kan? Kenapa kalian kaku begitu?" tanya Ridwan.
"Baik Wan, hanya saja butuh waktu mencairkan Mariam seperti dulu."
"Hah? Wah aku jadi merasa bersalah udah kebanyakan omong tadi, kenapa kamu nggak cerita?"
"Rumit Wan, baru kemarin Mariam agak melunak hatinya, tapi sekarang sepertinya mengeras lagi."
"Mariam akur kan dengan isteri pertamamu?"
"Akur, bahkan Medina menganggap Mariam kakak perempuannya."
"Kamu adil pada mereka, Zan?" selidik Ridwan.
"Aku berusaha, Wan," jawab Mizan lesu.
"Satu wanita aja rumit Zan, apalagi dua."
"Begitulah, Medina selalu merasa aku hanya mencintai Mariam, sementara Mariam masih belum menerima statusnya sebagai isteri kedua," ucap Mizan pasrah.
"Rumit juga, Zan!"
"Iya."
"Apa kamu mencintai isteri pertamamu?"
"Tentu saja Wan, dia bahkan sedang hamil sekarang, kami menunggu lebih dari 2 tahun."
"Lalu Mariam? Kamu mencintainya atau hanya obsesi dari masa lalumu, Zan?"
"Aku mencintainya juga, Wan."
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.