
"Mba Lastri? Tidur aja kalau udah ngantuk, kunci aja gerbangnya, kayaknya Mas Musa pulang ke rumah Mba Mariam," ucap Medina.
Mba Lastri baru saja mengantar susu untuk Medina menjelang tidur.
"I-iya Mba Medina." Mba Lastri bisa melihat kekecewaan tergambar jelas di wajah menantu majikannya itu.
"Mba Medina tidur aja dulu, biar Mba Lastri temenin."
"Nggak usah, Mba." Medina menggerak-gerakan badannya dengan tidak nyaman.
"Kenapa Mba? Ada yang sakit?" tanya Mba Lastri.
"Cuma pegel aja, seharian di kasur tubuh Medina kurang gerak jadi pegel."
"Sabar ya, Mba. Hamil memang seperti itu, beda orang beda rasanya. Tapi kalau udah kandungan lemah harus bener-bener hati-hati."
"Makasih Mba Lastri," ucap Medina sambil tersenyum.
Tok tok tok .... "Assalamualaikum." Terdengar suara ketukan dan salam dari pintu depan.
"Mas Musa pulang Mba Dina," seru Mba Lastri seraya berlari ke depan dan membukakan pintu.
"Waalaikumsalam," jawab Mba Lastri.
"Makasih, Mba. Medina udah tidur?" tanya Musa.
"Belum Mas, baru minum susu tadi."
"Ya udah, istirahat aja Mba Lastri udah malam, saya mau mandi dulu."
Musa membiarkan air dingin membasahi kepalanya, berusaha mendinginkan otaknya yang panas, berusaha menyejukkan hatinya yang kalut. Dia diam di bawah aliran shower, di dalam kepalanya berkelebatan wajah sedih Mariam. Ungkapan kesakitan hati dan tangisannya masih terdengar jelas di telinga.
Hatinya hancur, menyadari usahanya untuk melindungi Mariam justru telah menyakiti hidupnya. Tatapan kekecewaan dan keputusasaan Mariam benar-benar meluluh-lantakkan hatinya. Bahkan rasa sakitnya, berkali lipat lebih sakit saat Mariam memutuskan untuk menyudahi kisah mereka dulu.
"Apa yang harus kulakukan?" gumam Musa sendirian.
"Mariam!"
Hampir tiga puluh menit Musa mencoba menggunakan air yang dingin untuk menetralkan pikirannya. Dia tidak ingin membuat Medina curiga dan menambah beban hati isteri pertamanya.
"Mas? Mandinya lama banget," ucap Medina saat Musa kembali ke kamar.
"Perut Mas lagi nggak enak tadi, kamu kenapa belum tidur, Dek?" tanya Musa sambil mencoba menghindari tatapan Medina.
"Medina kebanyakan tidur," jawab Medina.
"Mas? Mas Musa baik-baik aja?" tanya Medina curiga.
"Nggak papa Dek, Mas cuma kecapekan."
"Oh, jadi Mas beneran baru pulang? Medina pikir Mas ke rumah Mba Mariam."
"Mas baru pulang, Dek."
"Mas nggak menemui Mba Mariam? Hem ... keliatannya perasaan Mba Mariam sedang nggak baik, lebih baik Mas bicara dengannya."
"Sudah, Dek. Berhenti mengurusi hidup Mariam!" ucap Musa dengan nada sedikit meninggi, sesaat setelahnya dia sadar bahwa ucapannya salah.
"Maaf, Mas," ucap Medina menyadari perubahan emosi suaminya.
"Heeem, maksud mas, kamu cukup fokus pada kondisimu, jaga buah hati kita dengan baik, jangan memikirkan hal-hal lain biar bayi kita nggak terganggu." Musa merendahkan nada bicaranya, menyadari Medina cukup terkejut dengan ucapannya tadi.
"Maaf Mas, kalau Medina terlalu banyak ikut campur."
__ADS_1
"Biarkan Mariam, Dek. Dia nggak papa, dia cuma sibuk sama jahitannya."
"Tapi bener, Mas baik-baik aja sama Mba Mariam?"
"Bener, semuanya baik-baik aja, Dek!"
Musa memeluk isterinya, berharap pembahasan tentang Mariam berhenti. Sementara Medina tidak serta merta percaya pada apa yang suaminya ucapkan, namun dia berpura-pura tidak tahu.
'Benarkah, seterobsesi itukah kamu pada Mariam, Dek?' batin Musa.
"Istirahat Mas, kamu pasti capek."
Sementara itu di tempat lain Mariam masih menangisi hidupnya. Kota ini, adalah kota dimana dia merajut kehidupan dari titik nol bersama Biantara. Tapi, kehadiran Musa dan Medina membuat kota ini sama menyesakannya sekarang.
Dirinya tidak mungkin pergi, dari tempat dimana mimpi Biantara tergantung. Di kota ini pula jasad Biantara menyatu dengan tanahnya.
"Kenapa mereka harus datang di kehidupanku? Kenapa di saat-saat terburuk dalam hidupku harus ada mereka? Kenapa aku tidak bertemu mereka nanti saja saat aku sudah lebih baik?" sesal Mariam.
🍀🍀🍀
Waktu terus berganti, kehamilan Medina mulai membaik. Dan Musa memutuskan untuk menjauhi Mariam dan menunggu suasana hati Mariam membaik. Musa hanya sesekali datang untuk bermain bersama Oktavia, atau kadang mengajaknya jalan-jalan. Tapi setelahnya dia akan pulang dan tidak menginap.
Berkali-kali Medina menanyakan perihal suaminya yang mulai tidak adil membagi hari, namun Musa menjadikan kehamilan Medina sebagai alasan, atau kesibukan Mariam sebagai tameng. Medina bahagia karena di masa yang penting dalam hidupnya, suaminya banyak menghabiskan waktu bersamanya.
Mengaji di samping Medina, membacakannya surat Yusuf, AnNisa, atau kadang surat Mariam agar Medina dilancarkan persalinannya. Musa juga sering bicara pada perut Medina yang mulai menyembul seolah-olah sedang bicara pada anak yang sudah besar, menciumi perut Medina dan melafadzkan doa untuk anak mereka.
Medina merasa bahagia dengan perlakuan romantis Musa setiap harinya. Walaupun dalam hatinya merasakan kejanggalan, suaminya mulai tidak adil pada madunya, dan bisa menebak ada yang tidak beres dengan pernikahan kedua suaminya.
Sementara Mariam mulai mengembangkan usahanya dengan membeli ruko dan juga mobil. Mariam mulai menambah pegawai, menambah mesin, dan menjadikan Teh Desi dan Heru sebagai tangan kanan dan kirinya. Lantai satu ruko dia gunakan sebagai toko, lalu lantai 2 dan 3 dia gunakan sebagai ruang produksi.
Dengan modal nekat Mariam mengerahkan semua uang peninggalan Biantara untuk usahanya. Berharap dia dan Oktavia tetap bisa berlindung dibawah naungan Biantara walaupun kehadirannya tidak lagi kasat mata.
"Jangan pernah merasa kurang, aku akan tetap mencintaimu."
Suasana rukonya mulai kembali sibuk dengan rutinitas pegawai-pegawainya setelah istirahat siang, ruangan Mariam berada di bawah di sudut tokonya. Sudut dimana dia bisa menjadi diri sendiri ditengah-tengah tuntutan keadaan yang membuatnya harus terlihat kuat dan tegar. Disana Mariam sering menangis, mengeluh, atau sekedar mengaku lelah.
Tok tok tok!
"Mba Mariam, udah bangun?" Teh Desi masuk membawa beberapa map di tangannya, sejak usahanya bertambah besar Mariam meminta orang terdekatnya untuk memanggil namanya bukan lagi Mama Okta.
"Aku ketiduran, kenapa nggak dibangunin, Teh?"
"Mba Mariam keliatan capek banget, aku mau mbangunin nggak tega. Mba Mariam baik-baik aja? Mba Mariam pucet banget."
"Nggak papa Teh, cuma kurang istirahat. Okta udah pulang Teh?"
"Udah, tenang Mba Okta juga udah lengket sama keponakan saya."
"Makasih ya Teh, udah bantu nyariin orang buat jagain Okta."
"Sama-sama Mba, teteh juga makasih udah ngasih kerjaan buat keponakan saya. Mba Mariam pulang aja istirahat, Mba pucet banget mukanya," ucap Teh Desi khawatir.
"Enggak papa Teh, aku mau minum kopi aja siapa tahu lebih segeran," jawab Mariam.
Baginya Teh Desi sudah lebih dari sekedar teman kerja atau pegawai. Teh Desi juga banyak memberi semangat dan motivasi di saat Mariam terpuruk, Mariam sedikit membagi beban hidupnya pada Teh Desi bahkan Oktavia begitu lengket pada Teh Desi.
"Biar aku buatin, Mba!"
"Makasih ya Teh, Teteh banyak banget membantuku."
"Sama-sama Mba, teteh juga terbantu dengan majunya usaha Mba Mariam."
"Iya Teh, aku mempertaruhkan semuanya disini, aku harus total mengerjakan semuanya. Aku nggak mau gagal Teh," ucap Mariam penuh tekat.
__ADS_1
"Mba Mariam udah berusaha keras, teteh yakin usaha Mba Mariam akan bertahan bahkan berkembang pesat." Teh Desi memberikan secangkir kopi buatannya untuk Mariam.
"Bismillah Teh, bantu aku mewujudkan semuanya ya."
Toktoktok, "Mba Mariam, ada tamu," sela Novi, seorang pegawai yang bertugas menjaga toko.
"Siapa, Nov?" tanya Teh Desi.
"Ibu Medina," jawab Novi.
Mariam reflek memijit pelipisnya mendengar nama madunya disebut.
"Suruh masuk, Nov," ucap Mariam pada akhirnya.
Medina masuk ke ruangan Mariam, pipinya mulai terlihat bulat, namun perutnya belum terlihat buncit tertutupi oleh jilbabnya yang menjuntai panjang.
"Din? Sini duduk dulu," Mariam mempersilahkan Medina menuju sofa kecil di samping mejanya, sementara Teh Desi berpamitan untuk meneruskan pekerjaannya kembali.
"Makasih, Mba!"
"Sendirian?" tanya Mariam.
"Sama Mba Lastri, itu di depan lagi liat-liat bajunya Mba Mariam."
"Kamu udah bener-bener sehat?" tanya Mariam lagi.
"Alhamdulillah, udah Mba berkat doa Mba Mariam juga. Semuanya mulai enak lagi kan udah 5 bulan," ucap Medina sambil menunjukan perutnya.
"Syukurlah kalau begitu." Mariam memberikan minuman dingin untuk Medina.
"Medina lama nggak ketemu Mba Mariam, kirain Mas Musa bohong kalau Mba Mariam lagi sibuk, ternyata benar Mba Mariam hebat sekarang."
"Baru merintis, Din. Ini semua sebenarnya udah direncanakan sebelum Mas Bian meninggal. Aku cuma mewujudkan mimpi Mas Bian untuk punya usaha sendiri." Mariam mulai menyesap kopinya.
"Tadinya Medina kemari mau menanyakan kenapa Mas Musa nggak pernah menginap di rumah Mba Mariam, tapi ... sepertinya nggak perlu ditanya lagi, Mas Musa nggak mau mengganggu Mba Mariam yang sedang menggapai mimpi-mimpinya."
Hati Mariam berdesir ketika Medina menyebutkan nama itu lagi, selama ini Mariam melampiaskan perasaannya pada Mizan dengan bekerja tanpa kenal lelah. Setelah perdebatan mereka malam itu Mariam berusaha keras menghindar dari mizan.
"Sebenarnya Medina khawatir sama Mba Mariam, Medina pikir ada apa-apa sama Mba sama Mas Musa. Setiap Medina coba menanyakannya, Mas Musa selalu menghindar, dan mengalihkan pembicaraan."
"Kami nggak papa, kamu nggak usah repot-repot memikirkan kami, Din. Nggak baik untuk janin kamu." Mariam dengan mudah mengontrol perasaannya dengan bantuan kopi yang selalu berhasil memperbaiki moodnya.
"Tapi Medina cuma berusaha mengingatkan Mas Musa, bagaimanapun dia harus adil pada kita berdua, Mba."
"Adil ada aturannya, Din. Nggak selalu 6 dibagi 2 harus 3 sama 3. Kamu kan sedang hamil, udah selayaknya kamu dapet perhatian lebih. Dan aku sedang sibuk, Oktavia aja kurang perhatian dariku apalagi kalau harus memperhatikan suamimu." Ada nada sumbang di kata terakhir Mariam, Medina semakin yakin bukan hanya Musa yang mencoba menutupi tapi Mariam juga menutupi masalah diantara mereka.
'Apa yang kalian coba tutupi sebenarnya?' batin Medina bertanya-tanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.