
Kegugupan terjadi di pagi hari, setelah semalaman Medina tidak bisa tidur karena kedatangan mertuanya yang mendadak. Kini dia memaksa terjun ke dapur membantu Mba Lastri menyiapkan sarapan.
Bu Aini sampai meminta Musa untuk cuti karena dia ingin bicara serius dengan anaknya.
"Dek, tolong kabari Mariam kalau Ibu pengen ketemu," pinta Musa.
"Iya Mas, Medina telpon Mba Mariam sekarang." Medina dengan cekatan menghubungi Mariam dengan ponselnya, sementara Musa kembali menemui ibunya di depan.
" Medina udah menghubungi Mariam, Buk," ucap Musa seraya duduk di samping ibunya.
"Kenapa bukan kamu aja, Zan?"
"Kami bukan muhrim lagi, Bu," jawab Musa, nampak guratan kecewa dari wajah ibunya.
"Masalah sebenarnya apa sampai kalian bercerai?" tanya Bu Aini setelah berkali-kali menghela nafas dengan berat.
"Bu, ini murni masalah antara aku dan Mariam. Dan kalau dipaksa hanya akan menyakiti Mariam," tutur Musa.
"Aneh sekali, padahal kemarin-kemarin ibu bermimpi kalau ibu akan punya cucu juga dari Mariam, ibu yakin itu. Tapi kenapa malah kabar perpisahan kalian yang menghampiri ibu?" sesal Bu Aini.
"Bu--"
"Ibu tahu, Zan, kamu sudah dewasa, tapi ibu nggak nyangka kamu akan mengambil jalan yang dibenci Alloh, walaupun itu diperbolehkan. Ibu menghargai kalau memang itu keputusan kalian, tapi yang membuat ibu kecewa kalian menutupi semua ini dan memberitahu ketika semua sudah selesai begini," ungkap Bu Aini, Musa hanya terdiam mendengar curahan hati ibunya.
"Maafkan Mizan, Bu!"
"Kamu bisa sebelumnya merundingkan dengan ibu, bagaimanapun ibu yang meminta Mariam dari keluarganya untukmu waktu itu. Ibu malu Zan, sama orang tua Mariam. Kita masih satu kampung, bayangkan bagaimana canggungnya ibu, apalagi ibu sama sekali nggak tahu permasalahannya apa, ibu merasa kecolongan sama kalian, Zan!" Musa hanya terdiam mendengar ungkapan kecewa dari ibunya.
"Bagaimana ibu bisa menghadapi keluarga Mariam sekarang? Sementara dulu ibu berjanji akan menjaga dan bertanggung jawab pada Oktavia dan juga Mariam," ungkapnya lagi penuh kekecewaan.
Bersamaan dengan itu Medina datang dengan dua cangkir teh di tangannya.
"Maaf Bu, bukan Medina ikut campur tapi ... Mba Mariam sendiri yang meminta merahasiakan proses perpisahan mereka," timpal Medina.
"Mas Musa hanya mencoba menghargai permintaan Mba Mariam, Bu," pungkasnya.
"Apa kamu juga nggak berusaha menengahi mereka, Din? Bukannya dulu kamu yang bersikukuh menikahkan mereka?" tanya Bu Aini.
"Medina nggak tahu apa-apa, Mas Musa pun baru memberitahu Medina setelah menjatuhkan talak pada Mba Mariam," jawab Medina.
"Medina juga terkejut, Bu. Tapi, Mba Mariam selalu mewanti-wanti Medina untuk nggak mencampuri rumah tangga mereka."
"Hem, ya sudahlah. Kamu istirahat saja, ibu hanya butuh bicara dengan suamimu."
"Baik." Medina kembali masuk menyadari kehadirannya tidak diharapkan pada pembicaraan mereka.
"Oh iya, hampir Medina lupa. Tadi Mba Mariam bilang akan kemari sebelum ke konveksinya," ucap Medina sebelum melangkah pergi.
"Iya Dek."
"Bu ... Medina nggak ada hubungannya dengan perpisahan itu," ucap Musa setelah punggung Medina menghilang.
"Jujur sama ibu, Zan. Apa masalahnya?" Musa terdiam mendengar pertanyaan ibunya.
"Ibu hanya ingin tahu, toh ibu nggak bisa berbuat apa-apa lagi."
Musa melirik ke dalam sebelum menjawab pertanyaan ibunya, memastikan Medina tidak ikut mendengarnya.
"Sebenarnya ... Mariam nggak mau di madu, Bu."
"Apa?!" seru Bu Aini.
"Benar, Mariam keberatan menjalani rumah tangga dengan poligami. Bagaimanapun keadilan yang coba aku berikan pada mereka berdua, Mariam merasa keberatan dan tersiksa."
"Terlebih setelah kehamilan Medina, dia semakin bulat dengan keputusannya untuk meminta talak." Bu Aini mendengarkan dengan seksama jawaban jujur dari putranya.
"Medina nggak tahu ini, Bu. Mariam yang melarangku memberitahukannya, Mariam sadar posisinyalah yang tidak tepat."
"Bahkan, Mariam berusaha keras untuk membuktikan bahwa dirinya layak menjadi orang tua tunggal bagi Okta, bahkan sekarang usahanya maju pesat. Nggak ada lagi alasan Mariam untuk tetap menerima statusnya sebagai isteri keduaku, Bu. Karena secara ekonomi dia sangat mampu."
__ADS_1
Bu Aini terdiam mencoba mencerna ucapan anaknya.
"Astaghfirullohaladzim ...."
"Jangan biarkan Medina tahu yang sebenarnya, Bu," pinta Musa.
"Iyah ... ibu mengerti."
"Maafkan aku, Bu." Bu Aini memeluk kepala putranya yang tertunduk, dia menyadari kalau Musa telah mengalami hal yang berat sebelum akhirnya mengambil keputusan ini.
"Kamu sudah hebat, nak! Tapi tetap saja ibu harus membereskan sisanya."
Medina merasa gusar sepanjang sarapan pagi itu. Musa berkali-kali menggenggam tangannya di bawah meja untuk menenangkannya. Makanan yang seharusnya masuk justru kembali dimuntahkan.
"Bu ... Mba Mariam udah di depan," ucap Mba Lastri pada Bu Aini.
"Kamu temenin isterimu istirahat dulu, Zan. Ibu mau bicara dengan Mba Mariam dulu."
"Tapi, Bu!" sergah Medina.
"Nggak papa Nduk, kamu fokus sama jabang bayi dalam kandunganmu. Kasian, jangan sampai kepikiran sama masalah ini."
"Iya, Dek. Ayo mas temani ke kamar."
Medina pasrah saat Musa memapahnya ke kamar, dalam hatinya bergejolak berbagai pertanyaan dan rasa ingin tahu pembicaraan mertua dan mantan mba madunya.
"Mas ... apa ibu benar-benar marah?" tanya Medina.
"Enggak, Dek. Wajar kalau ibu kecewa karena mas memberitahunya setelah semua selesai. Mas yang salah, tapi cuma sebatas itu."
"Ibu nggak mungkin meminta kalian kembali, kan Mas?"
"Insha Alloh enggak, Dek." Musa membaca kekhawatiran dari hati Medina.
"Ada beberapa masalah yang harus ibu selesaikan dan dijelaskan."
"Boleh, kenapa nggak boleh?"
"Jangan buat Medina merasa bodoh dengan ketidaktahuan pada hal-hal yang kalian bahas, Mas!"
"Jangan begitu, Dek. Lagipula ini terkait janji ibu dulu untuk Oktavia, bagaimanapun orang tua kami satu kampung. Semua masalah harus diselesaikan dengan jelas, takutnya menimbulkan kesalahpahaman ke depannya."
"Kalaupun Ibu menutupi satu dua hal dari kamu, itu hanya karena nggak ingin kamu terganggu. Ibu nggak mau kepikiran apalagi setres nanti kasian anak kita."
"Maafkan Medina Mas karena udah suudzon sama ibu dan Mas Musa."
"Iya Dek."
"Tapi Mas, Medina merasa nggak tenang. Jadi tolong untuk tetap memberitahu Medina apapun itu, Medina udah belajar untuk cukup tahu tanpa ikut campur lagi. Mas tahu kan, Medina berusaha keras untuk itu?" Musa mencoba memahami rengekan Medina.
"Baiklah, Dek!"
"Ya sudah, Mas temui Mba Mariam. Medina nggak papa kok sendirian, sebentar lagi juga ilang mualnya."
"Nanti Dek, ibu pasti sedang bicara khusus pada Mariam."
Sementara itu di teras depan. Mariam datang menggenakan gamis besar dan jilbab yang besar. Tidak seperti biasanya yang hanya mengenakan setelan tunik panjang.
"Duduk Mba Mariam, ibu mau bicara," ucap Bu Aini ketika Mariam menyalami tangannya seperti biasa.
"Sebelumnya saya minta maaf, Bu. Atas semua kesalahan yang sudah saya lakukan. Jangan menyalahkan Mizan atau Medina atas perceraian ini, semua mutlak karena hati saya dan keinginan saya sendiri."
"Iya, ibu paham. Mizan juga sudah menjelaskan, kalau sebenarnya kamu keberatan menjalani poligami ini." Mariam terkejut mendengar ucapan Bu Aini.
"Kemari, duduklah di samping ibu!" Mariam pun menurut dan duduk dengan gugup dan gusar, mengingat ada hal besar yang sedang dia coba sembunyikan.
"Kamu mencintai putra ibu, bukan?" tanya Bu Aini.
"Apa?" seru Mariam salah tingkah.
__ADS_1
"Nggak perlu dijawab, ibu tahu perasaanmu Mba Mariam." Bu Aini semakin membuat Mariam salah tingkah.
"Pada usia dan keadaan kami, banyak hal yang lebih penting dari pada perasaan, Bu," jawab Mariam.
"Kamu yakin?"
"Iya, Bu. Apalagi yang Mizan inginkan dari saya, Medina pun telah mengandung anaknya, nggak ada lagi alasan saya untuk tetap bertahan."
"Jadi, begitu?"
"Ini murni keinginan saya, Bu. Setelah saya bangkit dan tidak lagi depresi, pendapat dan keinginan saya sudah cukup layak untuk diperhitungkan. Walaupun begitu saya tetap berterimakasih atas kehadiran ibu dan semua dukungan yang telah ibu berikan di masa terburuk saya saat itu."
"Iya, ibu paham. Yang lalu biarlah berlalu, maaf karena ibu sedikit memaksa kamu saat itu."
"Tapi, ibu nggak mau kamu menyesal Mba Mariam."
"Maksud ibu?"
"Tadi katanya banyak hal yang lebih penting dari pada perasaan," ucap Bu Aini.
"Be-benar, Bu."
"Tapi nyatanya, kamu tetap mengutamakan perasaan, dan mengorbankan banyak hal penting lainnya hanya untuk itu."
"Maksud ibu apa?"
"Kamu masih mencintai putra ibu, Mizan. Karena itulah kamu merasa tersiksa karena harus membaginya dengan Medina, bukan?"
"Akhirnya kamu memutuskan untuk meminta pisah, tapi ... apa kamu tahu Mba? Apa yang sudah kamu korbankan?"
"Maaf, Bu ... saya nggak ngerti, saya nggak merasa mengorbankan apapun, justru dengan kepergian saya Medina dan Mizan bisa bahagia tanpa saya sebagai isteri kedua."
"Kamu melupakan hal besar Mba Mariam, Oktavia, kamu mengorbankan Oktavia."
"Bagaimana bisa saya mengorbankan Oktavia? Saya bisa membesarkan dia sendirian, Bu. Saya berusaha keras untuk menjamin masa depannya dengan kedua tanganku sendiri."
"Mungkin, kamu berhasil mengambil peran sebagai ayah, sebagai tulang punggung, secara materi kamu sukses. Tapi, bagaimana peranmu sebagai seorang ibu? Bahkan Oktavia lebih banyak bersama pengasuhnya daripada denganmu."
"Saya tetap mengawasinya," sergah Mariam.
"Tapi Oktavia pasti kehilangan sosok ibunya."
Mariam diam tanpa bisa memberikan bantahan lagi. Memang benar sebagian besar waktunya tercurah pada usahanya. Ketika malam pulang badannya sudah terlalu lelah untuk sekedar bercanda dengan Oktavia.
"Kamu mengorbankan kebutuhan Oktavia akan sosok ibu, hanya demi perasaanmu yang tidak mau dipoligami."
"Andai kamu memikirkan Oktavia dan masa depannya, kamu akan mengorbankan perasaanmu, dan mencoba bertahan."
"Anak tidak hanya butuh materi untuk tumbuh, Mba Mariam."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1