Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Sadar Diri


__ADS_3

"Aku nggak akan membiarkan hati Mas Musa patah untuk kedua kali, Mbak!" tolakku tegas. Kutatap dalam-dalam mata Mba Mariam, aku kecewa.


"Jujur saja Din, kamulah yang banyak menanggung luka karena semua ini, tapi kamu pura-pura baik-baik saja?" terang Mba Mariam.


Aku terdiam, bahkan tanganku yang sedang memotong kentang ikut berhenti. Hatiku bergejolak, rasanya kecewa sekali.


"Din, ketika aku tidak bahagia bahkan kamu juga tersiksa, kamu bisa mempertimbangkan lebih banyak manfaat atau mudhorotnya dari poligami ini," tutur Mba Mariam lagi, aku mengambil nafas panjang untuk menenangkan hatiku.


"Sudahlah Mba, jangan memperdebatkan hal itu lagi. Aku nggak akan meminta hal seburuk itu pada Mas Musa, jalani saja semampumu Mba, aku juga mencoba menjalani semampuku. Jangan mempermainkan pernikahan Mba, tadi Mba yang bilang aku meremehkan pernikahan, tapi sekarang Mba yang dengan mudah meminta perpisahan, sudah Mba, maaf aku nggak mau dengar," ungkapku kalut, aku berusaha menyudahi pembicaraan yang menyesakkan ini dan kembali menggerakan tangan mengeksekusi kentang-kentang di hadapanku.


Sekarang Mba Mariam terdiam, tidak lagi mendebatku. Aku tidak tahu apa dia benar-benar menginginkan perpisahan atau hanya menguji keteguhan hatiku. Yang membuatku kecewa adalah, ketika aku sebagai istri pertama saja harus jatuh bangun meraih hati Mas Musa yang penuh misteri, sementara dia, Mba Mariam, cinta pertama suamiku, dengan mudahnya menghempaskan perasaan cinta Mas Musa berkali-kali.


'Betapa inginnya aku berada di posisimu, Mba,' batinku dengan perih.


🍀🍀🍀


Ibu masih kaku bersikap pada Mba Mariam dan Oktavia, tapi sepertinya kemarahannya sudah hilang, ketidak setujuannya dengan pernikahan kedua Mas Musa mulai memudar. Dan meskipun hanya sedikit dialog diantara kami tapi sudah ada sedikit kehangatan tersirat di dalamnya . Ternyata Mas Musa benar, lebih baik jujur dan apa adanya. Dengan bertemunya Ibu dan Mba Mariam telah memberikan restu yang baru pada keluarga kami semua.


Setelah makan siang bersama aku, Ibu, dan Melisa pamit untuk pulang. Sekarang justru sikapku yang dingin pada Mba Mariam, aku kecewa. Aku terus merenungi perkataan Mba Mariam. Tentu saja aku akan lebih bahagia seandainya perpisahan mereka benar-benar terjadi.


Aku tidak perlu membagi hari, hati, dan juga cinta. Tapi, bukankan aku mendapat cinta Mas Musa karena aku membagi dirinya dengan Mba Mariam? Mungkin jika aku tidak meminta poligami, Mas Musa masihlah bermimpi buruk dan mengigau menyebut nama Mariam. Dan mungkin aku hanya istri boneka tanpa rasa.


"Astaghfirullohaladzim ...!" gumamku sendiri sambil memejamkan mata.


"Aku merindukanmu, Mas ... aku menderita karena perasaan ini, aku ingin bertemu denganmu ... ingin memelukmu ... hanya kamu yang bisa menenangkan jiwaku, Mas Biaaaan ...."


Suara tangis Mba Mariam kembali melintas di ingatanku , dengan mudah aku kecewa padanya, mungkin saja hatinya benar-benar menolak. Seketika rasa kecewaku luluh dan perlahan berganti dengan rasa bersalah.


"Astaghfirullohaladzim ...!" gumamku lagi, hatiku sangat kalut sekarang.


"Mba," panggil Melisa dengan menyentuh bahuku.


Aku tersentak dan terkejut karena kedatangannya yang tidak kusadari, aku terlalu larut dalam pikiranku.


"Iya Mel, maaf Mba kaget," ucapku melihat tatapan anehnya padaku, dia ikut duduk di sampingku.


"Mikirin apa sih, Mba? Melisa perhatiin sejak pulang dari rumah perempuan itu Mba jadi pendiem kaya mikirin sesuatu yang berat gitu, padahal Ibu udah luluh dan enggak marah-marah lagi. Ada apa?" tanya Melisa.


"Enggak mikirin apa-apa, Ibu udah istirahat?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Iya, Ibu tidur di kamar, Ibu kecapekan paling, tapi seenggaknya Ibu udah lega," jawab Melisa.


"Mba jadi merasa bersalah sama Ibu, karena terus-terusan ngerepotin, dan bikin khawatir," keluhku pada Melisa.


"Wajar lah Mba, namanya aja seorang Ibu. Sudah Mba jangan dijadiin beban, Insha Alloh Ibu udah bisa terima alasan Mba mengijinkan suami Mba menikah lagi," ucap Melisa menenangkanku.


"Alhamdulillah kalau gitu Mel," jawabku lega.


"Ehhm ... boleh Melisa komentar tentang perempuan yang jadi madunya Mba itu?"


"Boleh, apa?" tanyaku penasaran akan tanggapannya.

__ADS_1


"Sepertinya dia enggak mencintai suamimu, Mba. Kenapa Mba harus repot-repot berkorban sejauh ini?"


"Jauh dalam lubuh hati Mba Mariam masih ada cinta untuk Mas Musa Mel, hanya saja sekarang dia masih sangat kehilangan almarhum suaminya."


"Melisa enggak yakin, Mba," ucapnya ragu.


"Mel, hati wanita itu seperti samudra yang dalam, jauh di dalamnya banyak rahasia yang terpendam, kita nggak bisa menilai hanya dengan sekali melihat, atau menyimpulkan berdasarkan satu dua kalimat yang keluar dari mulutnya." Aku mencoba menjelaskan pada Melisa.


"Mba Mariam dan Mas Musa masih saling mencintai, walaupun Mba Mariam sudah menikah dan juga mencintai suaminya, tapi Mas Musa menempati ruang tersendiri jauh di dalam hatinya. Mba pura-pura nggak melihat perasaan mereka, tapi nyatanya semakin mba mencoba nggak peduli mba semakin merasa dihantui dan sangat menyiksa," jelasku panjang.


"Daripada mba terus tersiksa lebih baik mba menghadapi kenyataan dan berusaha menerima, bagaimanapun mereka telah saling mencintai jauh sebelum Mas Musa menjadi suamiku," pungkasku sambil menatap mata adik perempuanku itu.


"Melisa nggak paham, Mba, artinya Mba yang terlihat bahagia dengan pernikahan mereka bisa saja palsu, atau jauh dalam hati Mba justru tersiksa?" Pertanyaan Melisa membuatku risih.


"Ehm ... Insha Alloh mba ikhlas, Mas Musa justru mulai mencintai mba sejak pernikahan ini. Bagaimana nanti lika likunya, mba akan nikmati sebagai konsekuensi karena terlalu mencintai," jawabku pasrah, aku tidak mungkin memberikan kepalsuan pada Melisa.


"Kamu jangan takut dengan pernikahan Mel, mencintai itu indah," ucapku sambil memegang tangannya.


"Melisa belum mikir ke arah sana, Mba, tapi Mba dengar ya kapan pun Mba berubah pikiran, Melisa, Bapak dan Ibu pasti dengan senang hati menerima Mba Medina kembali," ujar Melisa.


"Iya, doakan ya biar Mba kuat dan bahagia." kami berpelukan dan aku mendapat kekuatan yang luar biasa.


Rasa cemburu pastilah selalu ada, hanya dengan membayangkan romansa mereka berdua saja hatiku sudah remuk redam. Kisah mereka indah, sementara aku tidak berarti apa-apa.


Mungkin aku yang tidak tahu diri, dengan terus menempel pada lelaki yang tidak mencintaiku. Mungkin seharusnya akulah yang sadar diri dan melepaskan Mas Musa. Aku seperti pengemis yang mengais remah-remah sisa cinta mereka.


"Mba, kenapa melamun lagi?" tanya Melisa menyadarkanku.


"Ehm ...."


"Melisa khawatir malah karena Mba malah banyak diem dan tiba-tiba melamun kaya gini, apa lagi Mba yang mengganjal di hati Mba?"


"Nggak papa Mel, makasih ya udah perhatian."


🍀🍀🍀


Sebenarnya hatiku cemas, malam ini adalah jatah Mas Musa pulang ke rumah Mba Mariam. Aku sengaja tidak menanyakannya dan membiarkan semua ini jadi kejutan untukku, akankan Mas Musa pulang padaku atau Mba Mariam? Jam 8 malam sudah lewat beberapa menit, tapi belum ada tanda-tanda Mas Musa akan pulang.


Untunglah Ibu dan Melisa sudah makan malam tadi, karena kami tidak terbiasa makan malam terlalu malam. Sehingga hanya tinggal aku yang menunggu kepulangan Mas Musa dengan perut keroncongan.


"Suamimu belum pulang, Din?" tanya ibuku yang tiba-tiba menyusulku ke teras.


"Belum Bu, mungkin jalanannya macet. Sini Bu, duduk!" Kubimbing Ibu untuk duduk bersama.


"Di doakan saja, semoga selamat sampai rumah," tutur Ibu.


"Iya Bu," jawabku singkat, "Gimana keadaan Bapak?" tanyaku karena sebelumnya aku mendengar Ibu sedang menelepon Bapak.


"Baik, udah nyuruh pulang terus."


"Baru 2 hari, Bu," keluhku, "Kenapa Bapak enggak ikut ke sini aja Bu?"

__ADS_1


"Bapak enggak mau, lagi banyak urusan di rumah. Ibu aja yang enggak sabar nunggu waktu Bapak kamu longgar jadi ibu berangkat sama Melisa."


"Maaf ya Bu, udah bikin Ibu khawatir," sesalku melihat gurat usia di wajah ibuku.


"Ibu aja yang pikirannya terlalu cetek, Din, ibu bangga ternyata ibu berhasil mendidik seorang putri berhati mulia seperti kamu. Ibu hanya bisa marah tanpa paham bagaimana situasinya, walaupun ibu keberatan kamu dimadu, tapi ibu berusaha mengerti posisi dan keadaan kamu. Ibu nggak bisa apa-apa lagi, ibu hanya bisa mendoakan semoga hidup kamu berkah dan bahagia. Insha Alloh, kamu bisa segera mengandung nanti ya Nak," ungkap ibuku dengan penuh haru, air mata kembali menghiasi wajahnya, aku tahu Beliau sudah berusaha menahannya, tapi halusnya hati dan perasaan Beliau tidak bisa di tutupi.


"Terimakasih Bu, Medina nggak akan bisa apa-apa tanpa doa dan restu Ibu." Kami kembali saling berpelukan dengan air mata haru yang bersahutan.


"Ibu yakin, kamu akan bahagia!"


Sorot mobil Mas Musa terlihat memasuki garasi, aku dan Ibu kompak menyembunyikan air mata kami begitu menyadari kedatangannya. Betapa leganya hatiku, Mas Musa mengabulkan permintaanku semalam.


"Sambut suamimu Nak," titah Ibu.


Aku segera menyambut kedatangan Mas Musa dengan senyuman. Sepintas aku juga melihat senyum yang sama di wajah ibuku.


"Assalamualaikum," salam Mas Musa.


Segera kusambut tangannya dan menciumnya dengan penuh rasa syukur, "Waalaikumsalam, Mas!" Seperti biasa Mas Musa membalasnya dengan mencium keningku.


"Assalamualaikum, Bu!" Mas Musa bergantian menyapa ibuku.


"Waalaikumsalam, macet jalanannya Mas?" tanya ibuku.


"Iya Bu, biasa kalau mau weekend, kenapa Ibu di luar? Dingin nanti Ibu bisa flu," ucap Mas Musa penuh perhatian, kemudian Mas Musa menggandeng Ibu masuk sementara aku mengekor di belakang.


"Mas, air hangatnya udah siap," ucapku.


"Makasih Dek," balasnya sambil bersiap untuk mandi.


"Medina yang berterimakasih Mas, karena Mas udah mempertimbangkan untuk pulang ke sini demi ibuku."


"Hem ... sebenarnya tadi mas udah ke rumah Mariam, dan Mariam memintaku untuk kemari," jelas Mas Musa.


Senyumku menghambar tanpa sempat menarik sudut bibirku.


"Oh ... begitu."


"Mas mandi dulu ya Dek," pamit Mas Musa meninggalkanku yang kecewa.


Sadar diri, Medina!


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2