Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Tersesat Dalam Kesedihan


__ADS_3

"Setidaknya panggil aku dengan sebutan suami atau mas," pintaku padanya.


Lama dia terdiam sebelum akhirnya mengangguk dan mengucap 'iya' dengan suara yang sangat lirih.


"Okta main apa nih, Abi boleh ikut?" Aku beralih pada Oktavia, mencoba menjadi sosok ayah pengganti Biantara.


"Abi itu apa?" tanya Oktavia polos.


"Abi itu ... panggilan sayangnya Okta, jadi panggil Abi Musa, Okta sayang nggak sama Abi?"


"Sayang dong, tapi kenapa bukan Paman? Kaya Paman Halun?"


"Bukan, karena Abi sama Mama Mariam sekarang udah jadi temen deket, kita akan hidup sama-sama sampaai tua."


"Okta juga ikut?"tanyanya lagi.


"Tentu saja."


"Oh ... kata Eyang Papa udah ada sama Alloh, jadi sekalang yang jagain Okta sama Mama itu Abi Musa?" Aku tercengang mendengar penuturan gadis kecil ini, mataku beralih ke arah Mariam yang sedang memperhatikan kami, dia langsung berdiri dan masuk ke dalam kamarnya.


"Iya, abi yang akan jagain Okta!" jawabku.


"Kalo Okta kangen sama Papah, Okta tinggal beldoa  sama Alloh ya, Bi?"


"Iya, Okta 'kan anak sholehah, kalo Okta banyak berdoa buat papa nanti Alloh tambah sayang sama papa," lanjutku.


Oktavia begitu baik menerima kepergian papanya, dia melepaskan tangisnya kemudian dia tersenyum dan menerima, anak kecil memang tanpa dosa. Walaupun aku yakin kepergian papanya menyisakan banyak pertanyaan dalam dirinya. Berbeda sekali dengan Mariam yang begitu terguncang, sikapnya masih jauh dari kata ikhlas.


Kuhabiskan waktuku untuk lebih dekat lagi pada Oktavia, tanggung jawabku tidak sederhana karena Okta adalah seorang putri, kesholehahannya berada dipundakku, ayah sambungnya. Tidak bisa dipungkiri karena dirinyalah Mariam mau menikah denganku.


Kutinggalkan Okta yang sudah asik dengan film kartun kesukaannya. Perlahan kubuka pintu kamar Mariam, aku sedikit khawatir padanya.


"Assalamualaikum ...."


Mariam duduk di ranjang dan membelakangi pintu, bisa kulihat tangannya bergerak menghapus air matanya.


"Waalaikumsalam," jawabnya dengan suara yang sengau.

__ADS_1


"Mariam, istriku, apa kamu tahu? Aku juga merasakan sakit setiap kali kamu mengeluarkan air mata."


Kuberanikan diri duduk di sampingnya, tak bisa kutahan lagi hasratku untuk memegang tangannya, perasaanku begitu menggebu untuk segera mendapat kepercayaan darinya, hatiku pun sedih melihatnya masih saja terpuruk dan mendung. Aku harus apa agar kamu membuka hati?


Mariam berusaha menarik tangannya, tapi aku menahannya agar dia tahu, aku pun berhak.


"Aku suamimu Mariam, jangan perlakukan aku seperti benda yang menjijikan sampai kamu tidak sudi untuk disentuh."


"Apa maumu?"


"Aku ... tidak akan menginginkan apapun, tapi biarkan aku menunjukan perasaanku Mariam, bertahun-tahun aku mencoba melupakan dan menghapus perasaan ini, melupakanmu," bujukku lembut padanya, dia tidak lagi memberontak ketika tangannku tetap ingin menggenggam tangannya.


"Dulu kamu bilang, kamu tersiksa karena perasaan yang tidak juga aku halalkan, bukan? Sekarang alasanmu apalagi? Meskipun banyak lika liku yang telah kita jalani, tapi aku berhasil menepati janjiku beberapa tahun yang lalu untuk menghalalkanmu. Jawab Mariam, apa benar kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" Aku menatap ke dalam matanya, mencoba mencari jawaban di tengah kesedihan yang merundung dirinya.


Mariam hanya diam, dia bukan sedang menutupi perasaanya, dia benar-benar tersesat dalam kedukaan. Sepertinya aku harus menuntun Mariam untuk bangkit dan keluar dari zona depresinya. Prihatin sekali rasanya melihat Mariam kehilangan sebagian jiwanya.


"Maaf, tapi ... aku masih sangat mencintai Mas Bian," jawabnya parau.


"Aku tidak menyuruhmu berhenti mencintainya, Mariam ...." Suaraku tercekat, Mariam terkurung dalam ruangan dan aku tidak tahu bagaimana cara mengeluarkannya.


Selama ini aku hanya menangis di atas sajadah, tapi kali ini air mata telah menetes dari mataku di depan seorang wanita. Aku lelah menahan perasaan, dan saat aku berhak mengungkapkannya, semua kebuntuan ini terjadi.


Kurasakan tangan Mariam berada di atas pundakku, dia menepuk-nepuk pelan, sementara aku menunduk di depannya berusaha menyembunyikan wajahku di bawah hidungnya.


"Aku merindukanmu Mariam, sangat-sangat merindukanmu!" Kutegakan tubuhku dan dengan cepat memeluk dirinya, selintas terlihat mimik wajahnya yang terkejut, namun dia tidak lagi berusaha menolak, akhirnya kuledakkan tangis di pelukannya.


Andai dia tahu, selama ini aku merasa sangat dekat dengan dirinya karena namanya selalu kusebut dalam doa-doa sepanjang malamku. Sekarang dia hadir secara nyata dan telah menjadi milikku tapi hatinya seolah mati tak dapat lagi kusentuh. Aku tersiksa, seluruh perasaan yang berhasil kulepas dengan mudah dia hempaskan.


"Aku sedang menangisi kehidupanku yang bodoh, kalau kamu menangisi apa, Zan?" Kudengar dia bertanya dengan suaranya yang lembut, dia masih saja tidak menyadari perasaanku. Kulepas tubuhnya dari pelukanku dan beralih fokus pada matanya.


"Aku menangisi perasaan seseorang yang telah hilang, terkubur bersama kesedihan, aku menangisi cinta yang sedang tersesat dalam kegelapan, aku menangisi kisah yang terpaksa tamat karena sebuah kesalahpahaman, aku menangisi terkabulnya satu doa namun bertabrakan dengan doa yang lain ... apa lagi Mariam? Aku menangisi dirimu? Kita?" ucapku berusaha membuatnya mengerti.


"Kembalikan Mariamku! Aku mohon!"


Sikapnya yang mulai salah tingkah seolah menjadi titik terang untukku, aku masih bisa menarik Mariam keluar dari kesedihannya.


"Pulanglah, Zan! Medina membutuhkanmu," ucapnya setelah mengambil nafas dengan berat.

__ADS_1


"Bicarakan tentang kita Mariam, tentang perasaan kita, tidak sehari pun waktuku terlewat tanpa rasa menyesal telah melewatkanmu, aku yakin perasaanmu sama, aku bisa ...."


"Sudahla, Zan! Kita semua tahu bagaimana kondisi dan situasi kita saat ini, lupakan masa lalu kita dan berhenti bersikap picisan begini!" sela Mariam.


"Jika pernikahan kita yang terlalu cepat ini di luar kuasaku, tapi hati dan jiwaku sepenuhnya ada dalam kekuasaanku. Jangan meminta atau memaksa, aku butuh waktu," lanjut Mariam.


"Katakan aku harus bagaimana?" tanyaku putus asa.


"Aku tidak akan menyerah dengan hatimu," ucapku penuh tekat.


"Aku akan melakukan apapun untuk kembali menghidupkan debar-debar rasa yang pernah kamu rasakan padaku selama ini."


"Aku menyesal harus menyakitimu, tapi aku belum bisa lepas dari bayang-bayang Mas Bian, seharusnya kamu memaklumiku, bukan ikut-ikutan menghakimiku."


"Kamu bisa meletakkan luka hatimu itu di pundakku, kamu harus ikhlas dan percaya bahwa hari esok akan lebih indah."


"Percayalah padaku Mariam!" pintaku penuh harap.


"Aku tidak bisa percaya."


"Kenapa?"


"Aku ... a-aku takut, aku selalu takut setiap kali memikirkan apa yang akan terjadi esok, aku pun takut untuk percaya padamu. Bukan karena aku ragu pada janji dan keseriusanmu, tapi aku takut pada takdir," ucap Mariam.


"Ketika kuanggap hudupku sempurna, tidak ada keinginan yang belum kudapatkan, bahkan aku pernah ingin bertemu lagi denganmu, itu pun terwujud, dalam sekejap takdir merubah segalanya, merenggut semuanya," lanjut Mariam, dia kembali menarik nafas panjang dan berat.


"Aku takut untuk bahagia lagi, aku takut kalau harus terluka lagi," pungkasnya.


"Jangan su'udzhon sama Alloh Mariam, jodoh, maut, rejeki, semua sudah tertulis bahkan sebelum seseorang itu lahir."


Kembali kuposisikan Mariam untuk menatap mataku, kupegang kedua bahunya dan kutatap tajam ke dalam matanya.


"Dengar Mariam, jangan terlalu sibuk menghitung apa yang pergi darimu, tapi lihat apa yang almarhum Biantara tinggalkan untukmu, dia memberimu amanah sebesar Oktavia maka bangkitlah untuk merawatnya, dia memberimu cinta yang paling tulus maka ambillah pelajaran dari caranya mencintaimu, dia memberimu kenangan maka bersyukurlah setidaknya kamu pernah memiliki seseorang yang luar biasa seperti Biantara!"


Bulir-bulir bening kembali menetes dari mata Mariam yang indah, aku harap dia sadar dan mampu menemukan jalan keluar dari keputus asaan yang menimpanya.


"Kalau kamu tetap tidak bisa, aku akan menjadi Biantara untukmu!"

__ADS_1


......


__ADS_2