
Paginya Mas Musa menemaniku berjalan pagi, meskipun usia kandunganku sudah tua tapi karena ibu mertuaku rajin mengajakku jalan pagi, kakiku tidak mengalami bengkak. Mas Musa menggandeng tanganku sepanjang jalan, hubungan kami semakin hangat layaknya pengantin baru, banyak warga yang menyapa kami dan menanyakan kabar Mas Musa.
Aku yakin mereka pun tahu keadaan kami dan Mba Mariam yang memang asli warga kampung ini juga. Tapi aku bersyukur, tidak satu pun warga yang menyinggung Mba Mariam.
Seperti biasa aku mampir membeli kue basah favoritku untuk sekedar mengganjal perut, banyak orang mencuri pandang ke arah kami dan berbisik. Selama ini mereka tidak berani karena aku selalu bersama ibu mertuaku.
Ah, hatiku tidak peduli, aku sedang benar-benar menikmati kebahagiaan ini. Aku dan Mas Musa berlalu meninggalkan kerumunan para penjaja dan pembeli sarapan itu. Kulihat raut wajah Mas Musa juga tidak berubah, artinya dia pun tidak peduli.
"Mas ... boleh Medina tanya sesuatu?" tanyaku memberanikan diri.
"Tanya apa, Dek?"
"Hem ... nggak usahlah," urungku.
"Tanyain aja, Dek, daripada kamu penasaran," lanjut Mas Musa.
Kutata hati sejenak mempersiapan apapun nanti jawaban Mas Musa, meskipun aku paham pertanyaanku kali ini sama saja mengundang penyakit.
"Apa Mas Musa nggak teringat sama Mba Mariam lagi? Meskipun Mas sekarang ada disini? Ehm ... tempat kenangan kalian," tanyaku nekat, kugigit sedikit bibirku menyesali pertanyaaan yang mungkin konyol, tapi begitulah wanita, sudah tahu akan sakit tapi dia tetap ingin tahu.
"Tentu saja mas inget, Dek," jawab Mas Musa membuatku melunglai, kuperiksa telingaku berkali-kali berharap pendengaranku ini salah.
Mas Musa mengajakku duduk di sebuah bangku dan beristirahat, di depan kami terhampar lapangan desa yang biasa digunakan untuk bermain sepak bola. Kami beristirahat dibawah pohon palem yang besar.
Mas Musa membimbingku duduk dan meraih tanganku, dia mungkin sadar aku sedang cemburu, nafasku panas mungkin hatiku terbakar di dalam sana.
"Dek?" panggil Mas Musa memintaku menatap matanya, setelah berkedip berkali-kali akhirnya kuputuskan untuk meladeni tatapannya. Aku malu, karena masih saja merasa cemburu setelah berhasil melewati goncangan rumah tangga sedahsyat itu.
"Kamu tadi bertanya tentang ingatanku, tempat ini, dan Mariam," ucap Mas Musa dengan perlahan.
"Kalau ditanya, mas akan menjawab dengan jujur, iya ... mas inget, semuanya." Mas Musa berucap dengan wajah serius, sedetik kemudian dia tersenyum dengan hangat, aku benci senyum itu, senyum yang selalu berhasil meredakan panas dan cemburuku.
"Tapi ... mas juga sadar, itu hanya ingatan, memori, sesuatu yang sudah membantu menjadi kenangan, mungkin saat itu indah bagi Mizan dan Mariam remaja kala itu, tapi ... saat kita memaksa menjalaninya lagi, bukan kebahagiaan yang ada tapi petaka ...."
Aku terdiam mencerna semua ucapan Mas Musa.
"Masa lalu yang indah pun akan berubah seiring berjalannya waktu, aku bukan lagi aku yang dulu, Mariam pun bukan Mariam yang dulu. Saat kita mencoba mendekap masa lalu yang indah itu sudah berbeda, sudah berubah, tapi saat kita membiarkannya dia akan tetap menjadi kenangan, walaupun semua tokohnya sudah sama-sama berjalan ke depan."
Aku terdiam menatap Mas Musa yang berkata-kata dengan serius. Pandangannya telah beralih, menyapu luasnya rumput yang hijau.
Aku diam dan menyesali pertanyaanku, bukan karena hatiku tersakiti, tapi karena aku telah mengorek sesuatu yang pada kenyataannya tidak pernah dengan sengaja menggangguku.
"Maaf, Mas. Medina nggak akan bertanya lagi."
"Nggak papa, Dek. Wajar kamu bertanya, tapi ... mas memang sudah jauh lebih ikhlas, berkat pernikahan itu akhirnya mas mampu bebas dari perangkap masa lalu, menyusul Mariam dan tokoh yang lain di masa itu yang telah terlebih dulu melangkah ke depan."
Aku tersenyum lega, bahagia rasanya mendengar kata ikhlas dari bibir Mas Musa. Karena raut wajahnya begitu tenang menggambarkan dirinya telah benar-benar bangkit dan ikhlas.
"Sekarang aku adalah Musa, Mariam dan Mizan memang pernah saling mencintai, tapi Musa telah lahir kembali berkat seorang bidadari cantik dan baik hati bernama Medina," lanjut Mas Musa sambil menggodaku yang terdiam tanpa bisa menjawab sepatah pun.
Aku tersipu, gombalan Mas Musa kenapa terdengar sangat tulus. Wajahku pasti memerah. Apalagi mengingat cinta subuh tadi, aku benar-benar malu.
"Ingatan apapun tentang Mariam, sudah seperti cerita bagiku, dia tetap ada, namun hatiku tidak lagi bergetar atau pun sakit seperti dulu," pungkas Mas Musa.
Aku tersenyum kembali, hati yang berbunga-bunga sekarang ditemani semilir angin pembawa kedamaian. Ya Alloh, aku bahagia, benar-benar bahagia.
__ADS_1
"Sudah puas?" tanya Mas Musa, aku mengangguk perlahan.
Mas Musa mengajakku kembali berjalan, kali ini dia merangkulku sepanjang jalan.
Bukankah hati wanita memang seperti itu? Meskipun sudah pasti, dia tetap butuh diyakinkan berkali-kali.
Waktu terus berjalan, karena aku bahagia semua terasa begitu cepat. Hingga suatu pagi perutku merasakan mulas yang semakin kutahan semakin menggila. Seluruh keluarga mulai bersiap dan riuh, dari subuh hingga jam 9 pagi mulas ini semakin sering dan setelah keluar tanda cinta, Bu Aini memberi kode untuk segera ke klinik persalinan.
Hanya butuh 5 menit untuk sampai, Mas Musa memapahku masuk dan Bu Aini mengurusi administrasinya. Bisa kulihat raut cemas dan takut di wajah Mas Musa. Dia terus berdzikir dan tetap mengusap pinggangku yang sedang menahan sakit yang luar biasa.
Keringat dingin mengucur deras dari kening Mas Musa, entah apa yang dia rasakan. Sementara aku bahagia dengan sakit ini, aku fokus dan terus penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Bukaan 8 dan hanya butuh 1 kali kontraksi lagi untuk menjadi bukaan sempurna.
"Kalau udah bukaan 10 terus apa lagi, Mba?" tanyaku pada perawat yang mondar mandir mengecek keadaanku.
Dia tersenyum, "tinggal nunggu kontraksi selanjutnya lalu ibu boleh mengejan, miring kiri aja ya Bu, biar cepet."
"Oh ... tinggal nunggu saya ya, Mba?" tanyaku lagi.
Mas Musa menatapku dengan heran, mungkin dia ketakutan namun aku justru menanyakan hal yang lucu pada perawat.
"Sakit atau enggak, Dek?" tanya Mas Musa.
"Sakit Mas, tapi ini lagi enggak."
Mas Musa tersenyum dan kembali mengusap punggungku.
Beberapa detik kemudian perutku mulas dan sesuai aba-aba Ibu Bidan, aku terlentang kemudian mulai mengejan. Hanya dalam satu tarikan nafas yang hampir melayangkan nyawaku, terdengar tangisan bayi kecil yang melengking.
"Alhamdulillah."
Selanjutnya bayi dibawa oleh perawat untuk dibersihkan sementara Bu Bidan sibuk menunggui plasentaku.
Setelah semua selesai kulihat Mas Musa menerima bayiku dari perawat, dia cantik dengan selimut berwarna merah muda. Dari ekor mataku bisa kulihat air mata Mas Musa saat mengadzani putri kami. Sementara Bu Aini terus mengajakku bicara agar aku tidak mengantuk.
Entahlah, rasanya memang sangat mengantuk.
Aku hanya menginap 1 malam di klinik persalinan, aku dan bayiku sehat sehingga aku cepat pulih dan bayiku cepat beradaptasi dengan dunia ini.
Sabira Almahira.
Nama yang Mas Musa berikan pada bayi cantikku, serangkaian acara dilangsungkan menyambut kelahiran putri pertama kami. Tangisannya membuat suasana rumah menjadi hangat dan ramai.
Entah kata apa yang bisa menggambarkan kebahagiaanku saat ini. Alhamdulillahirobilalamin. Ya Alloh, Engkau memang sutradara terbaik, maafkan hamba bila saat menjalani cobaan kemarin telah banyak mengeluh bahkan suudzon terhadap takdir-takdir-MU.
Sebulan berlalu, putriku semakin mirip abinya. Hari ini ibuku yang selama ini menemaniku berpamitan untuk pulang. Bu Aini memperlakukanku dengan sangat baik sampai aku merasa seperti ratu.
Suatu siang, aku sedang menyusui Sabira di temani oleh Mas Musa. Tiba-tiba ibu datang dengan nafas ngos-ngosan ke kamar kami.
"Ada apa, Bu?" tanya Mas Musa, ibu melambaikan tangan menyuruh Mas Musa keluar, wajahnya terlihat sangat panik dan cemas.
Mas Musa bangkit dan menghampiri ibunya. Aneh, mereka bicara agak menjauh dari pintu kamarku. Aku penasaran, dan Sabira telah tertidur. Aku pun beranjak dan mendekati mereka.
Aku mengintip dan berusaha mencuri dengar.
"Keluarga Mba Mariam sudah dalam perjalanan ke sana? Kamu bagaimana?" tanya Bu Aini.
__ADS_1
Kulirik sekilas wajah Mas Musa, terlihat panik dan cemas, sama seperti Bu Aini. Apa yang aku lewatkan? Mba Mariam? Ada apa? Tidak mungkin Mba Mariam melahirkan, usia kandungannya baru 7 bulanan kalau aku tidak salah.
"Sudah, lebih baik ibu saja yang kesana. Kamu temani Medina, dia juga masih butuh ditemani," ucap Bu Aini lagi.
"Tapi Bu ... Astagfirullohaladzim ...." Tubuh Mas Musa limbung ke kursi, kedua tangannya menutupi wajahnya yang kacau.
"Sudah, ibu saja." Bu Aini mengusap pundak Mas Musa berusaha menenangkannya.
Aku tidak tahan lagi dan keluar dari persembunyianku.
"Ada apa, Bu? Mas?"
Mas Musa terperanjat dan gelagapan berusaha menenangkan dirinya di depanku. Bu Aini pun tampak ragu menjawab rasa penasaranku.
"Ada apa?" tanyaku lagi semakin penasaran.
"Mba Mariam, Nduk ... dia ... ehm ...."
"Mba Mariam kenapa, Bu?"
"Dia koma, Mba Mariam mengalami preklamsia berat."
"Innalilahi ...."
"Kabarnya Mba Mariam sekarang sedang disecar untuk menyelamatkan nyawanya dan bayinya," lanjut Bu Aini.
"Tunggu apa lagi, pergilah Mas! Anakmu membutuhkanmu." Mas Musa tidak bergeming.
"Biar ibu saja yang ke sana, kalian bantu doa dari sini," ucap Bu Aini.
Kudekati Mas Musa, kupegang tangannya.
"Pergilah, Mas! Dia juga anakmu. Dia membutuhkanmu, beri dia semangat untuk bertahan," ucapku lirih.
"Tapi, Dek--"
"Medina nggak papa, Sabira juga nggak papa!" Bagaimana aku bisa menahan Mas Musa tetap di sini, sementara tadi sebelum aku keluar dia tampak sangat khawatir dan panik, aku tahu, hatinya ingin pergi.
Mas Musa mencari kebenaran kata-kataku dari mataku.
"Kamu abinya, Mas! Dia darah dagingmu, mas nggak bisa mengabaikannya." Mas Musa tampak berpikir dan menimbang ucapanku.
"Aku aja yang pergi, ibu disini aja nemenin Medina."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.