Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Pergilah, Din!


__ADS_3

Mizan tampak gelisah ketika Medina berlama-lama di dalam. Meskipun dia berusaha tersenyum dan tetap meladeni permainan Okta tapi hatinya yang khawatir sangat terlihat dari gestur tubuhnya.


"Susul Medina, Zan!" Aku berinisiatif menyuruhnya, "Sebenarnya aku nggak ingin kemari, tapi tadi siang Okta menanyakan kamu terus, kedatanganku mengacau kan?"


"Enggak Mariam, cukup santun karena niatmu berpamitan, Ibu Medina berarti keluargamu juga."


"Sudahlah, susul isterimu!" Dia menatap mataku entah apa yang dia pikirkan, "Pergilah."


Mizan mengikuti saranku dan beranjak masuk menyusul Medina. Aku yakin Mizan tahu apa yang harus dia lakukan. Okta pun bermain sendiri dengan gelembung sabunnya. Kusandarkan kepala sambil berpikir dalam, semua sudah terlanjur dan entah darimana harus kususuri satu per satu.


Keinginanku? Keinginan Medina? Keinginan Mizan? Atau masa depan Oktavia yang harus diutamakan sekarang?


Kami sudah menjadi satu, luka kami saling berbenturan, keinginan kami saling bertentangan, doa kami saling besebrangan. Tidak mudah menjadi satu, ini hanya ikatan yang fana dibuat manusia secara tertulis. Meskipun janji dan ikrar juga terucap di hadapan Alloh, tetapi apalah artinya jika hati tidak bertaut.


Terdengar dengungan dari dalam rumah, aku tidak peduli apa yang mereka bicarakan, hidupku sudah cukup sulit. Tak berselang lama Mizan keluar menghampiri kami, disusul Medina di belakangnya, tampak bekas jejak airmata di wajahnya.


Mizan menepuk pundakku sambil berlalu dan kembali bermain dengan Okta. Sementara Medina duduk di sampingku sambil tersenyum. Aku tidak mengerti dengan wanita ini, wajahnya sendu tapi dia mencoba tersenyum. Perasaannya yang sebenarnya selalu menjadi misteri, kadang terlihat bodoh namun kadang terlihat tulus.


"Mah ..., Okta mau beli eskim, Abi yang ngajak." Okta berkata sambil menunjuk ke arah Mizan, padahal baru saja aku berpikir untuk undur diri.


"Hhh ... iya." Mizan pergi dengan menggandeng tangan gadis kecilku, tiba-tiba ada rasa perih yang menusuk-nusuk hati ketika melihat kedekatan mereka. Bagaimana tidak, Mas Bian selalu berkeinginan menggandeng putrinya hingga dia beranjak dewasa dan menikahkannya, kini perannya justru digantikan.


Kuambil nafas dengan berat, susah sekali untuk mengikhlaskannya. Semua yang dulu indah, berubah menjadi menyakitkan.


"Kenapa Mba? Mba baik-baik aja?" tanya Medina menyadari perubahan emosiku.


"Nggak papa."


Bukankah percuma bicara padanya? Dia tidak akan mengerti lukaku, di matanya hanya ada pengorbanannya yang begitu mulia tanpa pernah sedikit pun mencoba memaklumi luka yang sedang kuderita.


"Din ... aku sesuatu hal lagi yang harus kubicarakan." Kucoba mengutarakan maksudku.


"Bicara aja, Mba! Tentang Mas Musa kan?" tebak Medina dengan tidak bersemangat.


"Bukan, tapi tentangku." Mendengar jawabanku Medina sedikit tertarik dengan pembicaraanku.


"Silahkan Mba," ucap Medina setuju.


"Aku salut pada cintamu untuk Mizan, kamu rela melakukan apa saja asal dia bahagia, kamu bahkan memaklumi perasaan yang terpendam dari masa lalunya, menerimaku dan Oktavia. Aku tahu itu semua nggak mudah, bukan?" Kubuka percakapan dengan hal-hal tentangnya.


"Memang nggak mudah Mba, tapi apa aku punya pilihan lain yang lebih baik? Aku bisa saja menutup mata tapi nggak bisa menutup hati, apalah artinya berdua jika pasangan kita nggak bahagia, kalau pun bukan untuk Mba Mariam, aku pun akan tetap memberikannya jika memang Mas Musa menginginkannya," ucap Medina yakin seolah pilihanya sudahlah yang terbaik.


"Kamu bisa saja memilih pergi dan mencari orang yang hanya mencintaimu saja," pancingku.


"Apa jaminannya, Mba? Kalau aku mencari yang lain apa aku akan mendapatkan seseorang yang lebih baik? Bagaimana kalau sebaliknya? Jujur saja, aku juga pernah berpikir untuk berhenti dan pergi, tapi ... menyerah hanya untuk orang yang kalah, dan aku hanya harus sedikit bersabar untuk bisa memiliki apa yang aku inginkan," jawab Medina mantap.


"Din, apa kamu tahu kenapa dulu aku menyerah dan memilih membuka lembaran baru?" pancingku lagi.

__ADS_1


"Iya, Mba Mariam sudah pernah memberitahuku, karena derajat kalian berbeda," jawab Medina sambil sesekali melihat kepadaku.


"Benar, itu salah satunya. Ada satu hal lagi yang membuatku menyerah. Aku merasa berjuang seorang diri, sementara Mizan lebih mencintai ambisinya. Mencintai itu melelahkan, bukan?" Medina menatapku tepat saat aku tersenyum kecut padanya, sebelum dia mencintai Mizan dengan buta aku telah terlebih dahulu mencintainya, memimpikan masa depan dengannya.


"Aku memilih pergi dan berusaha membuang semua tentang Mizan, kupaksakan diri untuk membuka lembaran baru, mengenal orang baru, dan menerima cinta yang baru. Alasan aku menerima Biantara sebagai suamiku adalah karena aku melihat cintanya sama besar dengan cintaku pada Mizan. Aku lelah mencintai dan akhirnya memilih untuk dicintai saja," lanjutku, Medina semakin tertarik dengan ucapanku, dia tidak melewatkan sedikit pun dari kata-kataku.


"Wanita akan menjadi ratu ketika bertemu dengan pria yang tepat, dan semua yang Biantara berikan membuatku benar-benar jatuh hati padanya. Mizan dan Biantara adalah kedua cinta yang berbeda yang pernah hidup dalam hatiku," pungkasku.


"Maksud Mba Mariam apa?" tanya Medina dengan nada tinggi, aku membiarkan pikirannya melayang, menebak apa yang dia tangkap dari ceritaku.


"Apa Mba Mariam sedang menyuruhku pergi dan mencari yang lain seperti yang dilakukan Mba Mariam?! Apa yang itu yang diinginkan Mba Mariam?! Enggak Mba, aku akan memilih untuk menjadi seperti almarhum Pak Biantara, yang dengan sabar membuat hati Mba Mariam bisa mencintainya, Mas Musa akan mencintaiku sebesar cintanya padamu, Mba! Sebesar Pak Biantara mencintaimu juga! Jangan membujukku untuk menyerah Mba!" ucap Medina berapi-api, dia terlihat marah dan takut.


"Ahaha ... lihatlah dirimu Din, pemahamanmu sangat cetek." Tentu saja jalan pikiran Medina membuatku tertawa geli, tapi harus kuakui matanya memancarkan tekad yang kuat seperti Biantara.


"Lalu apa maksud Mba Mariam bercerita panjang lebar seperti itu?" tanya Medina lagi sambil berusaha mengontrol emosinya.


"Pergilah, Din!" Mata Medina membelalak mendengar ucapanku.


"Mba Mariam!" sentak Medina semakin marah.


"Kamu tahu Din? Hubungan itu seperti layang-layang, kamu harus tahu kapan harus mengulur dan kapan harus menarik. Kamu pikir apa yang membuat Mizan begitu terikat pada perasaannya terhadapku? Apa Din? Tebaklah!" Medina menurunkan emosinya dan mulai terlihat berpikir keras.


"Aku nggak ngerti," jawabnya asal, sepertinya emosi tadi membuatnya lambat berpikir.


"Aku pun pernah begitu mencintainya sama seperti dirimu, tapi bagi Mizan itu tidaklah cukup berharga sehingga dia memilih mengejar cita-citanya terlebih dahulu daripada menghalalkanku," tuturku perlahan berharap Medina mengarti maksud ucapanku.


"Kamu ingin Mizan mencintaimu, bukan?" tanyaku menegaskan, "Maka, pergilah!" ucapku sekali lagi.


"Mba menyuruhku melepaskan Mas Musa? Berpisah?" tanya Medina masih belum menerima dan mengerti.


"Nggak, hanyalah pergi untuk sementara. Kehadiranmu bahkan pengorbananmu yang sempurna membuat laki-laki tidak merasa ada tantangan dalam dirimu, buatlah sedikit sulit agar Mizan sadar betapa berartinya dirimu." Medina berpikir semakin keras.


"Sebagus apapun logikanya, laki-laki tetaplah laki-laki, dia selalu butuh tantangan, kamu harus tahu cara kerja otak dan hatinya agar tetap bisa mengimbanginya," pungkasku.


"Apa perasaanmu yang sebenarnya, Mba? Mengapa Mba Mariam memberikan saran sesulit ini untukku? Mba Mencintai Mas Musa, bukan?" ucap Medina balik bertanya padaku.


"Perasaanku?" tanyaku mengulang, menanyai diri sendiri tepatnya.


"Aku sengaja bersikap menyebalkan agar Mizan menyesal menikahiku. Apa aku mencintainya? Jawabannya tidak Din, aku tidak punya keberanian untuk mencintai siapa pun lagi. Kehilangan Mas Bian membuatku takut untuk kehilangan yang berikutnya," jawabku.


Mizan. Tentu saja aku masih mencintainya, terlebih dia suamiku sekarang, telah halal untukku. Tapi, aku terus mencoba membunuh perasaan ini, aku takut mencintai lagi, aku takut kehilangan lagi. Trauma ini begitu nyata, kepedihan hidup yang tidak dialami Medina.


"Saat kamu baru tahu sakitnya mencintai, aku sudah merasakan sakitnya mati sebagai seorang isteri, haruskah aku mengulanginya lagi? Aku tidak sekuat itu, Din," lanjutku.


"Mba, takdir orang berbeda, jangan karena usia Pak Bian yang pendek Mba juga meyakini umur Mas Musa akan pendek." Medina mencoba menasehatiku.


Aku harap Mizan akan mencintai Medina, aku akan semakin kesulitan menahan perasaanku bila Mizan terus menerus menunjukan rasa cintanya. Aku begitu takut untuk mencintai lagi, takut hal buruk menimpanya, takut semua ketakutanku akan terjadi. Akan lebih baik jika aku tidak memiliki rasa.

__ADS_1


Mizan harus benar-benar mencintai Medina.


"Mba, tampaknya Mba terlalu berpikiran negatif pada takdir Alloh. Mencintai atau di cintai Mas Musa sudah menjadi hak Mba Mariam, nikmatilah Mba. Biar perasaanku menjadi urusanku!" lanjut Medina.


"Aku hanya mencoba memberitahumu, mencoba membantumu, aku tahu saranku sedikit sulit untukmu, tapi cobalah keluar dari zona nyamanmu dan mencoba cara yang baru. Pikirkanlah kata-kataku."


"Terimakasih Mba, atas kepeduliannya."


Kami kembali terdiam dalam kebisuan masing-masing, sepertinya Mizan memang sengaja pergi untuk memberi waktu padaku dan Medina untuk bicara. Sungguh suasana yang canggung setelah pembicaraan tadi.


"Maaf Din, aku pamit dulu, sepertinya Okta terlalu lama aku masih banyak pekerjaan di rumah." Kuberanjak dan menaiki sepeda motorku yang terparkir tidak jauh.


"Iya, Mba, nanti biar Mas Musa sekalian pulang ke rumah Mba Mariam," jawab Medina.


'Pulang ke rumahku?' batinku.


"Nggak usah, kamu aja yang nganterin. Mas Musa biar di sini," tolakku sambil bersiap pergi.


Akan lebih sulit bagiku menahan dan membunuh rasaku sendiri jika Mizan terus berada di dekatku.


'Medina buatlah dia mencintaimu!' pintaku dalam hati.


"Tapi, Mba ...!"


" Assalamualaikum."


Kupacu sepeda motorku menjauh dan pergi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2