Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Isi Hati Mariam


__ADS_3

"Sudah! Biar Medina sendiri yang meminta suaminya untuk menceraikanku!" ucapku karena sudah tidak tahan lagi dengan mereka.


"Mba, Istighfar Mba!" ucap Medina memohon, matanya tampak ketakutan, haruskah kuperjelas lagi padanya?


"Pertama-tama kamu menghina dan meremehkan pernikahanku dengan Mas Bian dengan menggali kisah lamaku dengan suamimu, kedua kamu meragukan pernikahanmu sendiri, ketiga kamu memaksakan pernikahan ini karena halusinasimu yang terlalu tinggi pada masa lalu suamimu, dan sepertinya kamu juga yang akan mengakhiri pernikahan yang sebelumnya kaupaksakan!"


"Aku pikir kamu berpendidikan, tapi kamu menganggap setiap pernikahan tidak lebih dari hal yang bisa kamu permainkan sesuka hatimu," pungkasku tajam.


Medina menggunakan kedua tangannya untuk menutupi telinganya, namun aku yakin semua kata-kataku telah berhasil masuk. Aku harap dia sadar dan berhenti mendramakan apa yang dia sendiri ciptakan. Sampai kapan dia akan terus mengatakan pada dunia bahwa dia yang paling menderita? Kenyataannya, aku yang telah dia dzolimi.


"Cukup, kamu telah menyakiti anakku!" bentak ibu Medina.


"Lebih baik kalian pergi, percuma menjelaskan panjang lebar, biar waktu yang menceritakan kepada kalian cinta buta Medina kepada suaminya."


"Ayo Mba, Bu, lebih baik kita pulang!" ajak gadis muda yang sedari tadi hanya diam.


"Mel, kamu antar Ibu dulu yah, mba masih harus bicara dengan Mba Mariam," jawab Medina yang sepertinya masih ingin berdebat denganku.


Tak kupedulikan lagi mereka, aku berusaha mengendalikan perasaanku. Hatiku seperti hampir meledak karena sakit yang terus di korek. Setiap memejamkan mata yang selalu terbayang saat-saat terakhir sebelum Mas Bian pergi. Saat dia pertama kali berkenalan dengan Mizan, saat pada akhirnya dia memintaku bicara dengan Mizan, hingga saat dia berpamitan berangkat kerja untuk terkahir kalinya.


Andai aku tahu, itulah akhir hidupnya aku akan berusaha lebih keras lagi menghindari Medina dan Mizan. Aku menyesal telah mengingat kembali perasaan yang sudah lama kukubur hanya karena permintaan Medina. Hingga saat Mas Bian terbaring tanpa detak jantung, duniaku serasa berhenti, runtuh, dan hancur. Sakit yang tidak akan bisa dimengerti siapapun.


"Mba ... aku minta maaf, aku akan memberi pengertian lagi pada keluargaku. Bagaimanapun aku tidak berniat melakukan apa yang Mba Mariam sangkakan," ucap Medina setelah ibu dan adiknya pergi.


"Mau sampai kapan kamu berlagak seperti malaikat? Kamu bersikap seolah kamu adalah korban padahal kamulah penyebab semua ini!"


"Mba, berdamailah dengan keadaan, mungkin selamanya aku akan terlihat bersalah, tapi mungkin juga tidak."


"Aku harus bagaimana agar kamu berhenti mengganggu hidupku? Sekarang kamu membawa keluargamu untuk ikut campur dalam rumah tanggaku, bahkan walaupun kamu adalah istri pertama Mizan kamu sama sekali tidak berhak ikut campur dengan rumah tanggaku dengan suamimu! Kita beda atap, kita beda kisah, kita beda urusan! Berhenti bersikap seolah kamu paling memahami segalanya!"


Rasa sedih benar-benar menguasai kepalaku, kaki ini seperti kehilangan kekuatannya. Aku limbung begitu saja, seiring tangisku yang meledak seperti orang gila. Benar, setiap kali ada orang yang menasehatiku untuk berdamai dengan keadaan, aku merasa telah dianggap gila oleh mereka.


Kurasakan Medina ikut bersimpuh di lantai dan memelukku, seseorang yang paling kusalahkan atas kepahitan hidupku. Andai dia tidak mengganggu kehidupanku, masa-masa terakhir bersama Mas Bian pastilah akan selalu murni tanpa terkotori oleh kisah yang sudah kubuang jauh.


Andai dia tidak datang. Andai dia tidak mengganggu. Andai. Dan andai.


"Maafkan aku Mba, maafkan aku ...," rengek Medina.

__ADS_1


Aku tidak lagi bisa peduli, simpati darinya tetap terasa bagai hinaan. Semua sudah terlanjur, tapi lukaku tetap tidak terobati. Aku bukan lagi janda, tapi aku masih sangat merindukan suami yang telah pergi. Suami yang mungkin tidak bisa lagi kutemui walau di akhirat nanti. Karena menurut islam, imamku kelak di akhirat adalah Mizan.


"Aku merindukanmu, Mas ... aku menderita karena perasaan ini, aku ingin bertemu denganmu ... ingin memelukmu ... hanya kamu yang bisa menenangkan jiwaku, Mas Biaaaan ...," ungkapku di sela tangis yang tak tertahan.


"Lepaskan Mba, lepaskan semua beban di hatimu," ucap Medina sambil mengelus-ngelus punggungku.


Aku benci jika harus terlihat lemah di depan wanita ini, tapi aku tidak dalam posisi bisa memilih. Hatiku sesak ketika orang lain terus menghakimiku atas pernikahan yang sebenarnya kubenci. Aku harus bagaimana mengatakan pada mereka, kalau aku pun tidak ingin begini.


Benar saja, Medina terus memandangiku dengan iba. Seorang gadis yang datang bersamanya pun terlihat memandangiku. Menyedikan sekali, kehidupanku berubah gelap sejak kepergian Mas Bian. Semua yang dibangun sempurna jatuh begitu saja.


"Istighfar Mba Mariam ... Astaghfirullohaladzim ...."


Medina terus mencoba menenangkanku, aku tidak membencinya, aku benci pada apa yang sudah dia lakukan padaku. Tidak sedikit pun aku menjadi tenang dalam bimbingan Istighfarnya, berada di dekatnya hanya membuat penyesalanku semakin besar pada Mas Bian.


Aku mencoba kembali berdiri dan membuat Medina terhenyak dan melepas pelukannya dariku. Kuhapus airmata, dan harus kembali berdiri tegar. Airmata Medina sama sekali tidak menyentuh hatiku, aku justru menganggapnya sebagai penghinaan.


Aku baru menyadari, bukan hanya gadis muda yang di sini, sosok Ibu yang tadi sudah berpamitan nyatanya juga menonton kami di dekat pintu. Matanya jelas menatap anaknya dengan pilu. Tiba-tiba, tubuhnya ambruk membuat pintu di sampingnya berbunyi keras.


"Ibu ...," teriak Medina dan adiknya bersama-sama. Aku pun hendak berlari ke arahnya tapi kuurungkan, bagaimanapun dia hanyalah seorang Ibu.


Aku sedikit menyingkir ketika Medina dan adiknya memapah tubuh ibunya yang lemas ke arah sofa. Aku hanya bisa duduk sambil melihat kedua anaknya cemas.


"Iya," jawabku singkat.


Medina bergegas menuju dapur dan membuat minuman untuk ibunya, dia bahkan sudah paham seluk beluk rumah ini. Aku diam dan memperhatikan seorang Ibu yang tengah shock karena keadaan. Tidak lama kemudian Medina datang dan menyuapkan teh hangat padanya.


Selanjutnya dia menangis tergugu sambil memeluk Medina, entah apa yang sekarang ada di benaknya. Masihkah dia menyalahkanku atas terbaginya suami putrinya?


"Nak Mariam, Ibu minta maaf," ucapnya padaku dengan nafas yang masih terisak, aku terkejut mendengarnya, cepat sekali dia berubah pandangan.


"Dari hati yang terdalam Nak, maafkan ibu yang sudah salah menilai dan mengambil sikap," lanjutnya dengan bibir gemetar.


"Iya, aku juga minta maaf karena harus menyampaikan kenyataannya."


Ibu Medina memaksa berdiri dan merangsek memelukku, dia kembali menangis di bahuku. Butuh beberapa detik untuk mengambil sikap, hingga akhirnya tanganku bergerak untuk memeluknya kembali.


"Nak Mariam, sebagai orang tua ibu mohon untuk berhenti menyalahkan anak saya. Saya paham penderitaan Nak Mariam, saya menghargai perasaan Nak Mariam, tapi saya juga tahu niat anak saya meminta Nak Mariam menjadi madu baginya adalah untuk kebaikan, dia hanya berniat menolong Nak, jadi ... maafkan ibu dan anak ibu," jelasnya panjang berujung permintaan.

__ADS_1


Permintaannya menusuk kalbuku, mungkin dia datang dengan pandangan yang salah dan membuatku marah juga sedih. Tapi, hatinya begitu cepat menerima kebenaran, dan dia mau berbesar hati mengakui kesalahannya. Sekarang dia meminta maaf untuk putrinya, haruskah aku menerima kebenaran dan berbesar hati memaafkan?


"Aku akan mencoba menerima kenyataan," jawabku sambil melepas pelukannya.


"Terimakasih, Bu," timpal Medina dengan haru, mereka kembali berpelukan.


Airmata selalu saja tumpah di rumah ini, hampir setiap hari sejak kepergian Mas Bian. Kepergiannya benar-benar menjungkir balikkan kehidupanku.


🍀🍀🍀


"Mba Mariam, terimakasih!" ucap Medina menghampiriku yang sedang memasak di dapur.


"Aku tahu luka Mba Mariam begitu besar, aku tahu Mba Mariam sangat sedih dan terluka. Maka dari itu, aku merasa terpanggil untuk membagi cinta yang mungkin pernah Mba Mariam miliki dari Mas Musa, aku nggak bermaksud yang lain, aku nggak tega melihat kesedihan Mba Mariam waktu itu, aku-,"


"Sudahlah, bagaimanapun aku membenci dan menyalahkanmu, nggak akan membuat Mas Bian hidup kembali, kamu benar aku harus benar-benar berdamai dengan keadaan," ucapku mencoba mengalahkan kesedihanku.


"Hidup harus terus berjalan, semua yang terjadi begitu tiba-tiba dan mengubah keadaan dengan tiba-tiba juga. Pasti nggak mudah buatmu memutuskan untuk membagi suamimu padaku, dan aku belum tahu keberadaannya sekarang masih kuharapkan atau tidak, karena aku masih berduka. Tapi ... terimakasih telah memberikan sosok ayah bagi Oktavia." Kata-kata itu meluncur dari mulutku begitu saja, entah sejak kapan pikiranku mulai terbuka, jujur aku lelah menyalahkan orang lain atas kesedihanku.


"Aku senang Mba Mariam yang dulu mulai kembali," ucapnya.


Benar, telah lama aku kehilangan diriku sendiri. Aku harus hidup lagi. Aku tidak boleh menjadi zombie.


"Medina, tapi ... aku serius. Kamu boleh meminta Mizan menceraikanku jika kamu mau, dia akan tetap menjadi ayah Oktavia tapi tidak harus menjadi suamiku."


Mata Medina membelalak menatapku.


"Aku memang pernah mencintainya, tapi sekarang aku lebih mencintai Mas Bian meskipun dia sudah meninggal. Aku sama sekali nggak menginginkan dia yang sudah menjadi milikmu," ungkapku sambil menatap matanya.


"Aku nggak akan membiarkan hati Mas Musa patah untuk kedua kali, Mbak!" tolaknya tegas.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2