Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Rasa Ingin Tahu Medina


__ADS_3

"Maaf kalau Mba Mariam nggak nyaman, Medina cuma berusaha mengingatkan, Medina nggak mau Mas Musa nanti di akhirat bangun dengan tubuh miring sebelah," ucap Medina pelan.


"Harusnya kamu nggak membiarkan suamimu poligami dulu, dia nggak akan miring-miring begitu," jawab Mariam dengan sedikit menggumam.


"Apa, Mba?" tanya Medina mendengar gumaman Mariam yang samar-samar.


"Ah, udah lupakan."


Medina kehabisan kata-kata untuk bicara pada Mariam, dia memutar otaknya berusaha agar bisa mencari sedikit informasi tentang apa yang terjadi diantara mereka.


"Hem, Mba--"


"Jalani saja rumah tanggamu dengan tenang, Din," sela Mariam seolah tahu apa yang akan Medina tanyakan.


"Mba ... Medina sedih melihat hubungan kalian renggang begitu. Kalian sama-sama saling menutupi, sama-sama bilang nggak papa. Tapi ... dari sikap kalian tersirat jelas ada sesuatu yang udah terjadi diantara kalian," ucap Medina nekat, tanpa mengindahkan kata-kata Mariam.


"Din, kamu jangan melewati batas," ujar Mariam.


"Bukan Mba, kalau suami kita melenceng wajib diingatkan. Mas Musa terlalu lama mengabaikan Mba Mariam, bukan ... kalian berdua terlalu lama saling mengabaikan. Apa yang terjadi? Apa ini ada hubungannya dengan kehamilanku, Mba?" tanya Medina penuh keingintahuan.


Mariam mulai terpancing emosinya, namun melihat kondisi Medina yang sedang hamil dia mengurungkan niat untuk mendebatnya. Mariam kembali menyesap kopinya tanpa buru-buru menjawab rasa penasaran Medina.


"Mba, meskipun Medina hamil, nggak akan merubah apapun. Medina tetap ikhlas membagi Mas Musa dengan Mba Mariam," tambah Medina.


Mariam tersenyum kecut mendengar Medina kembali menegaskan kehebatannya sebagai wanita.


"Din ... kalaupun terjadi apa-apa antara aku dan Mizan, enggak ada hubungannya sama kehamilan kamu," sergah Mariam.


"Mba Mariam berubah semakin jauh sejak tahu Medina hamil," ucap Medina, "Mas Musa pun menjadi tertutup bahkan Mas Musa keliatan nggak suka kalo Medina nanyain kabar Mba Mariam."


"Astaghfirullohaladzim ... itu cuma perasaanmu, aku ikut bahagia, pada akhirnya kamu bisa hamil, tapi bukan berarti aku harus menunjukan terang-terangan padamu. Aku punya kehidupan lain, Din. Aku punya anak yang harus kuperjuangkan masa depannya," ucap Mariam dengan nada sedikit meninggi.


"Tapi Okta anak Mas Musa juga, Mba. Bahkan Bu Aini menjamin masa depannya, kenapa Mba Mariam bersikap seolah-olah Mas Musa lepas tangan sama masa depan Oktavia? Bukankah selama ini Mas Musa juga memberi nafkah yang cukup untuk Mba Mariam?" balas Medina dengan nada yang sama tinggi.


Mariam menggeretakan kedua giginya menahan geram.


"Kehadiran anak dalam kandunganku nggak akan merubah apapun Mba, Mas Musa tetap menyayangi Okta seperti putri kandungnya sendiri. Aku juga sayang sama Okta, percayalah!" ucap Medina lagi mencoba menebak kerisauan Mariam.


Mariam mengambil nafas panjang dan berat, masih berusaha memilah kata untuk membuat Medina mengerti.


"Setelah kepergian Mas Bian aku belajar untuk tidak menyandarkan hidup dan hatiku pada siapapun," ucap Mariam seraya meninggalkan cangkir kopinya di meja.


"Aku berusaha berdiri sendiri dan tidak mengandalkan suamimu atau memanfaatkan pernikahan sebagai alat untuk bertahan hidup. Aku lebih memilih jalan yang lain untuk bangkit dan maju," tutur Mariam dengan harapan Medina akan mengerti.


"Aku minta kamu memahami posisiku dan jangan terlalu sensitif dengan mengait-ngaitkan setiap hal yang nyatanya nggak ada hubungannya sama sekali denganmu," pungkas Mariam.


Medina hanya bisa terdiam mendengar ucapan Mariam.


'Bahkan sikap kalian berdua yang saling menutupi, saling menghindar, saling mengabaikan justru membuatku iri dan cemburu, cara kalian untuk saling menunjukan cinta memang lain dari pada yang lain," batin Medina.


"Din, aku nggak peduli pada apa yang terjadi antara kamu dan Mizan, berusahalah seperti itu juga padaku," ucap Mariam.


"Maaf Mba, kalau selama ini Medina terkesan ikut campur dan selalu ingin tahu. Medina berusaha memperbaiki diri dengan berkaca pada Mba Mariam, itulah sebabnya Medina selalu ingin tahu. Medina juga ingin membuat Mas Musa bahagia." Medina berusaha menjelaskan alasan dari perbuatannya.


"Kamu nggak perlu menjadi siapapun untuk membuat Mizan bahagia, jadilah dirimu sendiri. Aku juga nggak sebaik yang kamu lihat, kamu melihat ke kaca yang salah," seru Mariam.


Medina hanya tertunduk dan diam, dan sikapnya membuat Mariam merasa bersalah.


"Kita sama-sama dewasa, Din. Mizan mencintaimu apa adanya, berhenti melihat ke arahku," ucap Mariam lembut.

__ADS_1


"Kamu berbeda, kamu istimewa, nggak mudah menemukan wanita dengan hati sebaik dirimu, yang rela berbagi ranjang dengan wanita lain. Mizan sangat mencintaimu, Din," pungkas Mariam mencoba membesarkan hati Medina.


Medina pamit meninggalkan ruko Mariam dengan kecewa.


"Kenapa Mba Medina dateng kemari?" tanya Teh Desi sepeninggal Medina.


"Biasa Teh, entahlah apa yang salah dengan anak itu," jawab Mariam lesu.


"Sabar Mba Mariam, sekarang rumor di masyarakat tentang Mba Mariam yang menjadi orang ketiga juga udah mulai memudar. Juga gosip mengenai Mba Medina yang mandul juga udah lenyap," ungkap Teh Desi.


"Benarkah?" tanya Mariam.


"Bener, Mba."


"Syukurlah, semoga semua akan berimbas baik pada usahaku."


"Aamiin, memang Mba Mariam bukan wanita seperti itu, rumor-rumor pada akhirnya akan hilang sendiri."


"Iya, tapi rumor itu pernah membuatku terpuruk."


"Semua itu cobaan Mba, tapi Mba Mariam wanita yang kuat, setelah berhasil melewati semua cobaan itu Mba akhirnya bisa berdiri dengan kokoh."


"Makasih Teh, atas dukungannya selama ini," ucap Mariam sambil tersenyum mengingat Teh Desi yang tidak pernah pergi dari sisinya.


"Sama-sama Mba, jadi apapun yang Mba Medina coba lakukan jangan diambil hati atau membebani pikiran Mba Mariam."


"Hem, baiklah. Sekarang kita harus fokus memperluas pemasaran produk kita."


"Betul, Mba. Sekarang serba online, kita harus memperbanyak promosi secara digital," usul Teh Desi.


Mariam kembali tenggelam pada pekerjaannya.


"Apa Mba Mariam membuat Mba Medina sedih?" tanya Mba Lastri pada akhirnya, setelah berbagai topik pembicaraan ditolak oleh Medina.


"Enggak Mba, cuma ... hemmm ...." Medina enggan meneruskan kata-katanya.


"Mas Musa jarang mengunjungi Mba Mariam, apakah Medina aneh kalau menanyakannya langsung pada Mba Mariam? Setiap Medina nanya ke Mas Musa jawabannya selalu nggak papa," keluh Medina.


"Mba Medina aneh, harusnya Mba seneng karena Mas Musa lebih banyak waktu untuk Mba Medina."


"Tapi nggak boleh begitu, Mba Lastri. Mas Musa harus adil pada kedua isterinya."


"Mba Medina nggak usah pusing mikirin mereka, mba yakin kok Mas Musa tahu apa yang dia lakukan, Mas Musa nggak akan sembarangan bertindak."


"Hem ... Medina nggak bisa berhenti memikirkan mereka Mba, Medina cemburu."


"Cemburu?"


"Iya, Medina akan baik-baik aja setiap tahu apa saja yang telah terjadi antara Mba Mariam dan Mas Musa. Kemarin-kemarin Mas Musa masih terbuka dan dengan senang hati menceritakan perkembangan hubungan mereka. Kondisi psikis Mba Mariam yang terus membaik meskipun belum menganggap Mas Musa sebagai suaminya, atau kedekatannya dengan Okta. Mas Musa selalu menceritakan semuanya."


"Tapi ... entah kenapa Mas Musa mulai tertutup dan enggan menceritakan perihal hubungannya lagi. Medina jadi cemas, Medina nggak tenang Mba."


"Manusiawi kalau Mba Medina masih cemburu, nggak papa, itu fitrah perempuan."


"Aku bukan cemburu pada kedekatan mereka."


"Tapi, cara mereka menunjukan cinta dengan saling melepas dan saling merelakan dahulu. Sepertinya sekarang mereka sedang melakukannya lagi, entah apa yang terjadi, Medina penasaran sampai tersiksa."


"Mba Medina nggak boleh begitu, kasian dedek bayi."

__ADS_1


"Mba ... yang membuat kisah mereka begitu menyentuh adalah cara mereka untuk pergi walaupun masih cinta, cara Mas Musa mendoakan Mba Mariam di setiap doanya. Medina nggak mau masa-masa seperti itu terulang, cinta mereka semakin besar jika dipisah, Mba."


"Jangan bicara yang enggak-enggak Mba," ucap Mba Lastri cemas, menyadari jalan pikiran menantu majikannya tidak seperti wanita kebanyakan.


"Udah masuk waktu Ashar Mba, lebih baik Mba sholat dulu biar tenang."


"Iya," jawab Medina seraya beranjak pergi.


🍀🍀🍀


"Medina udah tidur, Mba?" tanya Musa pada Mba Lastri ketika pulang.


"Belum Mas, dari Ashar tadi Mba Medina di kamar terus. Keluar cuma ke kamar mandi," jawab Mba Lastri.


"Tumben, kenapa?"


"Ehm ... ta-tadi Mba Medina pergi ke tempat Mba Mariam," ungkap Mba Lastri.


"Apa?!" seru Musa terkejut.


"Iya Mas, Mba Medina minta dianter ke ruko barunya Mba Mariam, pengen tahu katanya."


"Apa mereka berterngkar atau semacamnya, Mba?"


"Mba nggak tahu persisnya, Mas. Mereka bicara di ruangannya Mba Mariam, suaranya nggak kedengeran dari luar."


"Hem, apa yang Medina pikirkan sebenarnya?"


"Mba Medina cuma khawatir sama Mba Mariam, maksud Mba Medina baik kok Mas."


"Iya, tapi kadang yang menurut kita baik, belum tentu baik juga buat orang lain," ucap Musa sambil beranjak pergi.


Mba lastri terdiam dengan ucapan Musa.


"Mas ... kamu udah pulang?" tanya Medina menyapa Musa uang baru memasuki kamar.


"Udah, Dek."


"Maaf Medina nggak denger."


"Mikirin apa sih, Dek? Sampe Mas pulang nggak denger."


"Nggak mikirin apa-apa, Mas."


"Mau Medina siapin makanan?" tanya Medina.


"Enggak usah, mas nggak laper."


'Mas Musa akhir-akhir ini juga kehilangan nafsu makannya, apa yang sebenarnya telah terjadi antara kamu dan Mba Mariam, Mas?' batin Medina bertanya-tanya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2