
"Tidak mudah bukan? Seorang diri dalam keadaan hamil," celetuk Mas Faisal yang tidak sengaja mendapati Mariam menangis di ranjangnya.
Mariam yang menyadari kehadiran kakaknya segera menghapus air mata di wajahnya.
"Iya ... aku merindukan Mas Bian," ucap Mariam sambil menahan tangisnya, " Aku ingat semua sikap dan perlakuannya semasa kehamilan Okta dulu, dan itu membuatku sesak ... hatiku sakit."
Mas Faisal memeluk Mariam dan menenangkannya, tangis Mariam meledak di pelukan sang kakak.
"Nangis aja, Mar! Jangan dipendem sendiri."
Mariam menangis sesenggukan menumpahkan semua sesak di dadanya, dia lelah karena harus berpura-pura tegar dan baik-baik saja di depan semua orang.
"Sesak itu bertambah, ketika harus melihat Mizan memperlakukan Medina. Aku kasihan pada anak ini, karena harus menderita bahkan sebelum dia lahir," ucap Mariam lagi di sela-sela tangisnya.
"Harusnya Mas Bian ada di sini, Mas Bian lebih pantas menjadi ayah dari anak ini!" raung Mariam dengan segala kesedihannya.
'Ternyata kamu masih saja mencintai adik si Harun itu,' batin Mas Faisal membaca isi hati Mariam lewat kata-katanya.
Mas Faisal hanya diam sambil menepuk-nepuk pundak adiknya yang menangis tidak berdaya di pelukannya.
"Biantara sudah tenang, jangan meratapi dia lagi, kasian. Kamu jangan khawatir, Mar! Mas akan membantumu menjaga Okta dan anak ini nanti. Kamu nggak sendirian," ucap Mas Faisal mencoba menenangkan Mariam.
"Sudah ... ayo siap-siap pulang, administrasi sudah beres, mantan suamimu membayar semuanya."
"Benarkah?" tanya Mariam, seraya bangkit dari pelukan kakaknya.
"Iya, sudah biarkan saja jangan merasa nggak enak atau sungkan, kamu pun tahu uang bukan hal yang sulit baginya."
"Mizan nggak begitu, Mas. Dia nggak menggandalkan harta keluarganya."
"Ya sudah biarin aja, toh memang itu kewajiban dia sebagai ayah anak itu. Jangan diambil pusing apalagi diambil hati," ucap Mas Faisal tidak ingin memperpanjang.
"Aku nggak ngambil hati!" sergah Mariam.
"Hem!" dengus Mas Faisal sambil membereskan barang-barang Mariam.
"Ayo cepat, Mas. Aku udah kangen banget sama Okta."
Malam itu juga Mariam pulang kembali ke rumahnya. Kabar kehamilannya kian merebak lewat desas desus tetangga.
Konveksi dan toko Mariam kembali stabil berkat Mas Faisal. Dia juga menambahkan beberapa pegawai yang ahli agar pekerjaan berat tidak menumpuk pada satu orang.
Keesokan harinya Mariam menerima pesan dari Medina, bahwa dia akan menemui Mariam bersama ibu mertuanya. Mariam tidak terkejut karena sebelumnya Teh Desi telah memberitahu padanya terlebih dahulu.
"Kalau begitu mas ke toko nanti saja, keluarga mereka harus tahu kamu nggak sendirian," ucap Mas Faisal ketika Mariam memberitahukan padanya.
"Aku nggak papa, Mas," tolak Mariam.
"Mas nggak mau kecolongan lagi," ucap Mas Faisal tegas.
"Kamu masih mencintai laki-laki itu, kan?" tanya Mas Faisal membuat Mariam terpojok.
"Kenapa kamu memilih berpisah?" tanya Mas Faisal cepat tanpa memberikan kesempatan Mariam menjawab.
"Ehm ... hidup nggak harus melulu soal cinta, apa lagi aku seorang ibu, ada anak yang harus kupikirkan masa depannya."
"Oh ... ternyata harga dirimu nggak mengizinkan dirimu sendiri menjadi madu?" tebak Mas Faisal, Mariam hanya mencebik ledekan kakaknya.
"Bagus, Mar. Perempuan memang harus seperti itu, berprinsip dan tegas," ucap Mas Faisal seraya memboyong cangkir kopinya meninggalkan Mariam.
Mariam terdiam, semua yang diucapkan kakaknya memang benar. Meski luka yang dia tanggung begitu besar dan perih, hanya demi sebuah harga diri yang menurut sebagian orang terlalu tinggi. Bahagia dengan menumpang kebahagiaan wanita lain bukanlah suatu yang pantas baginya. Dirinya memilih pergi walau harus mematahkan semua sayap bahkan kedua kakinya untuk pergi.
🍀🍀🍀
__ADS_1
Medina turun dari mobilnya, kemudian menghampiri Bu Aini yang turun dari kursi belakang dan menuntunnya. Raut wajah Bu Aini menunjukan kesedihan yang dia rasakan sepanjang malam. Disusul di belakang mereka Musa kemudian Mba Lastri.
Pintu rumah Mariam telah terbuka, seolah sudah menunggu kedatangan mereka. Tanpa ragu Medina menuntun Bu Aini masuk setelah sebelumnya mengucap salam di depan pintu.
"Wa'alaikumsalam," jawab Lisa tergopoh-gopoh menyambut mereka.
"Mangga Bu ... silahkan duduk," sambut Lisa ramah, "sebentar saya panggilkan Bu Mariam," lanjut wanita muda itu.
"Ibu baik-baik aja?" tanya Medina lagi pada Bu Aini yang hanya dijawab anggukan oleh ibu mertuanya tersebut.
"Kamu baik-baik aja, Dek?" tanya Musa pada Medina.
"Medina baik, Mas."
Tak lama kemudian Lisa keluar dari kamar Mariam setelah memberi tahu kehadiran tamu yang sudah ditunggunya.
"Sebentar ya, Bu," ucap Lisa.
"Oktavia kemana, Lis?" tanya Bu Aini.
"Lagi main sama omnya tadi, mungkin beli es cream di mini market, Bu," jawab Lisa dan Bu Aini manggut-manggut mendengarnya.
"Mba Lisa, saya bantu bikinin minum ya?" ucap Mba Lastri seraya mengikuti Lisa ke dapur.
"Ehm, kalian tunggu di sini dulu. Ibu mau bicara berdua dulu dengan Mariam." Bu Aini beranjak dari duduknya dan berjalan ke kamar Mariam meninggalkan Medina dan Musa.
Musa diam membiarkan ibunya bicara dengan Mariam. Perlahan Musa meraih dan menggenggam erat tangan Medina.
"Tenang, Dek. Mungkin memang ada yang harus ibu dan Mariam bicarakan berdua," ucap Musa mencoba menenangkan Medina yang resah karena ibunya mungkin menyembunyikan sesuatu.
"Iya, Mas."
"Nggak semua harus kamu tahu, terkadang nggak tahu justru baik untukmu, Dek. Percayalah!" Medina merasa tertampar, benar, rasa ingin tahunya yang sudah membawanya ke titik ini, rasa ingin tahu yang kadang dia sesali.
Sementara itu Mariam tengah mengambil jilbabnya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dan dibuka.
"Mba Mariam? Boleh ibu masuk?" ucap Bu Aini dengan suara yang sedikit serak.
Mariam menoleh ke sumber suara, Bu Aini menatap Mariam yang hanya mengenakan setelan baju tidur, air mata tidak bisa dia bendung menyaksikan sendiri perut Mariam yang membuncit.
"Ibu?"
Bu Aini mendekatinya perlahan, satu tangannya reflek menutup mulutnya untuk meredakan suara isaknya. Tanpa menunggu jawaban Mariam, Bu Aini memeluknya dengan erat.
"Ibu?"
Bu Aini hanya menangis tergugu di pelukan Mariam, Mariam hanya pasrah dan membiarkan mantan ibu mertuanya memeluknya.
"Maafkan aku, Bu!" ucap Mariam.
Mariam menuntun Bu Aini dan duduk di tepi ranjang, menunggu tangis Bu Aini mereda sejenak.
"Ibu yang minta maaf, Mba Mariam. Karena anak ibu, kamu harus menjalani kehidupan yang sulit sebagai seorang wanita dan ibu." Mariam hanya diam mendengar penuturan Bu Aini yang diselingi isakan.
"Maafkan Ibu, dulu ibu pikir kamu adalah wanita lemah yang harus ibu lindungi dengan ikatan pernikahan. Tapi ... ternyata kamu wanita yang luar biasa dan hebat, ibu nggak nyangka niat baik ibu dulu justru membuat hidupmu semakin berat, ibu minta maaf, Mba Mariam ...," ucap Bu Aini merasa kecewa pada dirinya sendiri.
"Nggak papa, Bu. Aku yang salah, nggak bisa menurunkan ego demi mempertahankan pernikahan itu. Aku tahu, dari awal niat ibu memang baik, hanya saja ... aku yang terlalu egois dan belum siap berbagi."
"Bagaimana keadaanmu, Mba? Bagaimana anak ini?" ucap Bu Aini dengan berlinang air mata, tangannya meraba perut Mariam yang sedang mengandung cucunya.
"Pasti berat menjalani semuanya seorang diri, apa cucuku membuatmu kesulitan? Kenapa dia nakal sekali seperti ayahnya?" Mariam tidak bisa lagi menahan tangisnya mendengar semua ucapan Bu Aini, dia seolah sedang berbicara dengan perutnya.
"Jadilah anak yang baik nak, jangan membuat ibumu susah."
__ADS_1
"Jangan khawatir, Bu. Sekarang semua sudah baik-baik aja," ucap Mariam sambil menyeka air matanya.
"Maaf karena harus membohongi ibu," ucap Mariam lagi.
"Ibu paham alasan dan keadaanmu, Mba. Tapi ... ibu mohon jangan pertaruhkan keselamatanmu dan anakmu lagi, jangan sungkan, walaupun Mizan bukan lagi suamimu tapi kamu dan Oktavia sudah ibu anggap keluarga."
"Iya, terimakasih atas kebaikan ibu selama ini."
" Sama-sama, Mba. Ibu salut pada wanita hebat sepertimu. Ayo kita keluar, ada Medina dan Mizan," ajak Bu Aini pada Mariam.
Mariam mengangguk dan mengikuti ajakan Bu Aini. Mas Faisal dan Oktavia sudah ikut duduk bersama Musa dan Medina ketika Mariam dan Bu Aini keluar. Oktavia bergelayut manja di pangkuan Musa, Mariam bisa melihat raut tidak suka dari wajah Mas Faisal melihat kedekatan keponakannya dengan mantan ayah tirinya.
"Mas Faisal?" sapa Bu Aini.
"Iya, Bu." Mas Faisal memaksa dirinya maju dan menyalami Bu Aini.
"Apa kabar? Sekarang kalian udah dewasa semua, ibu masih ingat bagaimana kalian dulu ... ibu jadi merasa tua." Bu Aini memegang lengan Mas Faisal.
"Iya, ibu bisa aja," ucap Mas Faisal seolah tidak ingin memperpanjang bahasan masa lalu.
Mas Faisal kembali duduk dan Mariam duduk di sampingnya.
"Okta ... sini, Nak," panggil Mariam pada Oktavia.
"Nggak mau, Okta mau sama Abi."
"Biarin aja, Mar. Aku lama nggak main sama Okta." Mariam akhirnya membiarkan Oktavia bersama Musa.
"Mba Mariam sudah baikan?" tanya Medina.
"Aku sudah jauh lebih baik, Din. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan, oh iya ... terimakasih karena sudah membayar biaya rumah sakitnya."
"Sudah kewajibanku, Mar. Biarkan aku bertanggung jawab pada anak itu," jawab Musa, Mariam pun terdiam mendengar jawabannya.
"Aku nggak punya maksud lain, Mar. Hanya ingin bertanggung jawab, beban yang kamu pikul sudah berat, aku hanya ingin mengurangi beban-beban yang disebabkan olehku," ucap Musa lagi meluruskan ucapnnya.
Medina menatap wajah suaminya kemudian kembali melihat Mariam, lawan bicaranya.
"Semoga sehat-sehat ya, Mba. Sampai lahiran nanti, Medina janji nggak akan mengganggu kehidupan pribadi Mba Mariam lagi, tapi ... biarkan Medina menyayangi anak Mba Mariam. Jangan tutupi apapun lagi, Mba. Medina sudah cukup merasa bersalah atas semua yang terjadi. Ijinkan Medina memperbaiki."
"Iya, terimakasih, Din."
"Lusa ... ibu akan pulang, sesuai kesepakatan kemarin Oktavia biar ikut bersama ibu," ucap Bu Aini, Mas Faisal yang baru mengetahui adanya kesepakatan itu tampak terkejut.
"Membawa Oktavia?" tanya Mas Faisal.
"Iya, Mas," ucap Bu Aini menegaskan, "Ibu akan bertanggung jawab pada Oktavia, lagi pula di sana juga ada Bu Sri dan Pak Maulana, kita bisa bergantian menjaga dan mendidik Oktavia."
Mas Faisal membuka mulutnya hendak bertanya, tapi tangan Mariam menepuk tangannya dan menahannya.
"Nanti aku jelaskan," bisik Mariam.
❤❤❤❤
Mendekati ending yah teman-teman ... terimakasih yang udah mengikuti.
Sebenarnya konflik cerita ini lebih ke hati dan perasaan, bagaimana seseorang terlihat hebat di luar tapi hatinya tetaplah penuh kekurangan, nggak ada yang sempurna, dan hati tetaplah hati nggak harus perempuan, laki-laki pun hatinya banyak menyimpan misteri.
Saya hanya ingin menyampaikan betapa manusiawinya seseorang, jadi walaupun ini fiksi yang terinspirasi dari kisah seseorang tapi saya tidak ingin membawa pembaca terbang ke langit ke 7 dengan karakter yang terlalu sempurna. Saya ingin memperkenalkan tokoh yang semanusiawi mungkin.
Kalau ada yang mengamati cerita ini mengalami perubahan sudut pandang di tengah cerita, karena di awal sudut pandang adalah orang pertama dan menggunakan kata "AKU" tapi menjadi Mariam, Medina, dan Musa dengan konflik hatinya masing-masing sungguh menguras pikiran dan hati, butuh riset sana sini, dan keikhlasan cinta seperti seorang Medina itu nyata dan ada. Jadi, bagi yang gemez sama karakter Medina, maaf ... itu nyata, dan dia bahagia (Saya juga gemez awalnya). Karena kesulitan itu, jadi saya terpaksa menggantinya dengan sudut pandang orang ketiga.
Terimakasih yang sudah membaca, dan mengikuti ... bantu share dan promo karya ini biar othor tetap semangat di detik-detik terakhir. Eh ... ada yang bisa nebak endingnya? Wkwkwk.
__ADS_1
Minalaidzin walafizin ... maafkan othor lahir dan batin. Selamat hari raya iedul fitri.