Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Menahan Kecewa


__ADS_3

Bagaimanapun aku tidak bisa mempertemukan Ibu dengan Mba Mariam dalam keadaan seperti ini, ibuku yang belum sepenuhnya mengerti dan Mba Mariam yang masih belum sembuh hatinya. Namun sejak kedatangannya, ibuku terus saja uring-uringan dan memaksa meminta bertemu dengan Mba Mariam, maduku, cinta pertama suamiku.


Dengan kesabaran aku berhasil menahan keinginan Ibu untuk menemui Mba Mariam sampai waktunya Mas Musa pulang, tentu saja ini juga bukan hal yang baik, ibu pasti akan menumpahkan kekecewaannya pada Mas Musa. Beruntung aku sempat menjelaskan keadaan ibuku sedikit pada Mas Musa lewat pesan singkat.


Suara mobil Mas Musa terdengar memasuki halaman.


"Nah ... akhirnya suamimu pulang juga Din," ucap ibuku berapi-api setelah beberapa jam ini tidak lelah mondar mandir di rumahku yang tidak seberapa.


Jarum jam hampir menunjukan pukul 9 malam, Mas Musa harus lembur karena kemarin dia banyak mengambil cuti. Raut wajah ibu seperti algojo yang siap membombardir suamiku dengan pertanyaan dan amarahnya karena membuatku dimadu.


"Ibu ...." Aku memandanginya dengan memelas, Ibu pasti lelah karena perjalanan kemari, dan Mas Musa lelah karena seharian mengajar, tidak akan baik kalau harus terjadi perdebatan sekarang.


"Nggak usah kamu bela suami kamu itu Din, Bapak dan Ibu masih sangat mampu untuk membahagiakan kamu," tolak ibuku.


"Astaghfirullohaladzim ... Bu, jangan begitu! Medina mohon jangan berpikir untuk memisahkan Medina dengan Mas Musa Bu," pekikku panik.


"Ibu, tenang dan sabar adalah kuncinya," Mellisa ikut membantu menenangkan Ibu.


"Kamu belum menikah jadi ...."


"Assalamualaikum ...!" salam Mas Musa dan berhasil memotong ucapan Ibu terhadap Mellisa.


Kami bertiga tampak saling berpandangan, aku sangat paham karakter ibuku. Dia tidak akan melepaskan Mas Musa. Melisa ikut memegangi satu lengan Ibu, seolah ikut memohon untukku. Dalam hati, aku tidak berhenti berdoa meminta kepada Alloh agar membolak-balikkan hati ibuku, hanya pada-Nya aku berserah.


"Waalaikumsalam." Dengan keringat dingin kupegang gagang pintu dan memutarnya dengan gemetar.


Mas Musa berdiri di baliknya dengan senyumnya yang hangat, namun terlihat jelas rasa penat di guratan wajahnya. Suamiku, aku harus apa?


Aku menyambut tangan Mas Musa yang terulur padaku, dia nampak terkejut dengan tangan yang basah karena keringat dingin. Sekilas dia mencium puncak kepalaku dan mengusapnya sebentar. Rasa hangatnya mengalir menciptakan ketenangan di hatiku yang penuh dengan kegusaran. Aku tersenyum membalas senyumnya.


'Lihat Ibu! Begini saja aku bahagia," batinku.


Mas Musa mengalihkan pandangannya dengan cepat kepada Ibu dan Melisa. Aku masih gusar, namun ciumannya di puncak kepalaku telah meninggalkan kekuatan dan keyakinan untuk lebih bersabar menghadapi ibuku.


"Assalamualaikum Bu," salam Mas Musa dengan membungkukkan badannya yang tinggi dan meraih tangan ibuku, Mas Musa nampak menciumnya beberapa kali dengan takdim, Mas Musa memperlakukan ibuku sama seperti saat dia memperlakukan ibunya sendiri.


"Waalaikumsalam," jawab Ibu singkat dengan nada yang lembut, aku terkejut namun sangat bersyukur. Aku bermain mata dengan Melisa menyadari perubahan emosi Ibu.


"Maaf Bu, saya sudah berusaha pulang cepat tapi tidak ada dosen pengganti hari ini, maaf ya Bu," ucap Mas Musa dengan lembut.


"Ee ... iya, nggak papa," jawab Ibu tergagap.


"Saya harap Ibu bisa tinggal lama di sini, biar ada banyak kesempatan saya untuk berbakti pada Ibu," imbuh Mas Musa.


"Iya, bisa diatur, sudah-sudah Nak Musa pasti lelah. Silahkan istirahat." Sepertinya senyum teduh Mas Musa berhasil menenangkan hati ibuku.

__ADS_1


"Iya Bu, ini saya bawakan martabak dan ayam bakar buat Ibu sama Melisa," ucap Mas Musa sambil menyerahkan bungkusan besar di tangannya padaku. Aku terlalu larut dalam kekhawatiran sehingga aku lupa menyiapkan hidangan terbaik untuk menjamu Ibu dan Melisa.


"Makasih ya Mas, Mba Medina nggak ngasih kita apa-apa dari tadi. Kita cuma makan nasi sama telor," seloroh Melisa sambil meraih bungkusan yang kini ada di tanganku.


"Hust, kamu malu-maluin," tegur Ibu pada Melisa, namun kami kompak menyambutnya dengan tawa yang renyah, suasana tegang berhasil menguap dan hilang entah kemana.


Aku beristighfar dalam hati, menyesali ketakutanku. Padahal Alloh Maha Segalanya, tidak ada yang perlu dicemaskan selama kita berada di jalan yang diridhoi-NYA.


Mas Musa berpamitan untuk membersihkan diri. Ibu tampak menghempaskan tubuhnya di sofa, dia pasti sangat lelah setelah seharian menunggu suamiku pulang dengan hati yang penuh kekecewaan. Ibu akhirnya meraih secangkir teh yang hampir dingin karena diabaikan sedari tadi.


"Alhamdulillah," gumamku penuh rasa syukur.


"Mba Medina tegang ya?" tanya Melisa sambil tangannya sibuk memindahkan bungkusan makanan ke dalam piring.


"Tegang banget sampe Mba lupa sama perut kamu sama Ibu, maafin Mba yah?" sesalku.


"Nggak papa, tapi aku terkejut lho Mba, kira-kira apa yang bikin Ibu nggak jadi marah-marah sama suami Mba yah?" tanya Melisa yang mewakili rasa penasaranku juga.


"Entahlah, yang jelas semua karena Alloh," jawabku singkat.


"Tapi kharisma suami Mba memang luar biasa, mungkin Ibu kehilangan amarahnya karena ngeliat perlakuan manisnya tadi sama Mba, ooh ... sok sweet banget Mba, suami pulang kerja kita sambut dengan senyum terus di cium keningnya, aku jadi pengen cepet-cepet nikah," ucap Melisa sambil sedikit memperagakan adegan tadi, aku tersipu melihatnya.


"Tapi ... itu bukan dilakukan karena ada kami kan Mba? Bukan akting kan?" tanya Melisa curiga.


"Tentu saja enggak Mel, Mas Musa emang selalu memperlakukan Mba kaya gitu," jawabku tegas, Melisa manggut-manggut puas mendengar jawabanku.


"Iya Mba, kalo Melisa sih paham, tapi Mba juga harus tetap mempertahankan posisi Mba, bagaimanapun madu Mba itu adalah cinta pertama suami Mba, yang jelas-jelas mereka lebih saling mengenal dari pada Mba mengenal suami Mba yang ganteng itu."


Aku terdiam mencerna ucapan Melisa yang ada benarnya, ini lebih mirip nasehat dan peringatan untukku.


"Mba ini makanannya bawa ke depan apa ditata di sini aja? Wah ... ternyata ada buah-buahan juga, pengertian banget Kakak iparku daripada Mbaku sendiri," seloroh Melisa lagi.


"Di sini aja," jawabku sambil mengintip ke depan melihat Ibu yang masih saja terlihat berpikir. Rasa bersalah juga bersarang di hatiku, aku telah membebani ibuku dengan berbagai kesedihan dan prasangka. Aku sepenuhnya menyadari, Ibu melakukan semua ini untuk kebahagiaanku.


Malam itu berlalu dengan hangat, Mas Musa sangat memperhatikan Ibu di meja makan. Dan Melisa menghiasi kebersamaan ini dengan keceriaan. Aku tahu, dia melakukannya untuk menghibur Ibu. Sikap Ibu pun melunak dan terbawa dengan nuansa kebahagiaan dari keluarga kecilku. Namun, bisa saja Ibu tidak membatalkan niatnya untuk menanyai Mas Musa, dan hanya menundanya.


"Mas ... maaf yah," ucapku sebelum beranjak ke peraduan malam.


"Untuk apa, Dek?" tanyanya lembut.


"Karena Ibu dan Melisa datang tiba-tiba," jawabku.


"Nggak papa, apanya yang salah," ucap Mas Musa, guratan penat sangat terlihat di wajahnya, membuatku tidak tega bila harus mengajaknya berbincang panjang meskipun sebenarnya aku rindu.


Mas Musa meraihku ke dalam pelukannya, seolah mengerti benar apa yang seharian ini berkecamuk di hatiku. Tanpa ragu aku pun membalas pelukannya, hal yang selalu membuatku candu karena kedamaian dan kebahagiaan yang tercipta. Aku menenggelamkan kepalaku lebih dalam, aku sangat takut mengingat ucapan Ibu yang seolah hendak memisahkan aku dengan Mas Musa, semua obat penawarnya kudapatkan di sini.

__ADS_1


"Maaf ya Dek, semua yang terjadi udah menyusahkanmu, Mas juga merasa bersalah sama keluarga besarmu Dek, Mas juga nggak tahu harus memulai dari mana menjelaskannya," ungkap Mas Musa menunjukkan dirinya juga tidak baik-baik saja.


"Mas kita hadapi sama-sama, kenyataannya memang Medina yang memaksa Mas untuk menikahi Mba Mariam."


"Iya, tapi itu terjadi karena sikapku yang bodoh selama ini karena masih saja mencintai Mariam. Kalau saja mas mampu menghilangkannya, kamu nggak harus melakukan tindakan yang sulit seperti itu, Dek. Mas nggak bisa membela diri, memang mas yang salah."


Aku tertegun mendengar pengakuan Mas Musa, meskipun semuanya adalah benar. Tindakanku memaksanya menikahi Mba Mariam adalah keputusan yang sulit dan menyakitkan. Akhirnya kuberanikan diri untuk meminta sesuatu dari Mas Musa.


"Mas, boleh Medina meminta sesuatu?" tanyaku.


"Apa Dek?"


"Ehhm, bisakah Mas Musa menunda jatah hari untuk Mba Mariam? Hanya selama ibuku ada disini Mas," pintaku ragu.


Kuintip wajah Mas Musa yang nampak berpikir mendengar permintaanku, sudah kuduga Mas Musa akan berat untuk mengabulkannya.


"Apa sulit Mas untuk sebentar saja nggak menemui Mba Mariam dulu?" tanyaku kecewa, aku bangkit dari pelukan Mas Musa, rasanya ingin kutatap mata suamiku itu untuk mendapat jawaban yang jujur dari matanya, namun aku tidak berani.


"Bukan begitu Dek, Mariam belum stabil psikisnya, Mas khawatir dengan Okta. Mas takut terjadi sesuatu mengingat Mariam nggak punya siapa-siapa di sini," jawab Mas Musa.


"Medina paham," ucapku tertunduk, aku tidak bisa lagi menyembunyikan kekecewaanku meskipun alasan Mas Musa benar.


"Mas nggak bisa lari dari pertanyaan ibumu Dek, pada akhirnya kita harus menghadapinya dengan sebenar-benarnya dan tidak memberikan kenyataan yang palsu pada ibumu Dek," lanjut Mas Musa.


"Ibu pasti akan meminta menemui Mba Mariam lagi besok," ucapku, Mas Musa tampak berpikir lagi.


"Pertemukan saja Dek, Mas percaya sama kamu!" jawab Mas Musa diluar dugaanku.


"Bagaimana bisa Mas? Mas juga mengakui kondisi psikis Mba Mariam belum stabil," tanyaku tidak mengerti.


Seharian aku berusaha menahan Ibu dengan berbagai alasan untuk tidak mendatangi Mba Mariam. Sekarang justru Mas Musa menyuruh untuk mempertemukan mereka. Apa Mas Musa tidak paham situasi kedua belah pihak sekarang? Ibuku juga labil dan sangat kecewa.


Aku kesulitan mengatur nafas menahan kecewa.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Saya selaku penulis meminta maaf karena terlalu lama menghilang. Kondisi saya sedang hamil muda dan mabok parah. Tapi sekarang sudah bisa dikondisikan, saya harap pembaca Medina, Musa, dan Mariam tidak kecewa. Sekali lagi saya minta maaf.


__ADS_2