Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Pergi


__ADS_3

Hati Mariam? Tentu saja sakit.


Dia memang ingin keluarga Musa pergi jauh dari kehidupannya, tapi mereka membawa serta Oktavia, hati kecilnya menjerit.


"Tunggu ... ada apa ini?" tanya Mas Faisal tidak peduli Mariam yang mencoba menahannya.


"Begini Mas," ucap Bu Aini mencoba menjelaskan.


"Dulu saat ibu melamar Mba Mariam ibu telah berjanji pada Bu Sri akan melindungi dan bertanggung jawab pada kehidupan Mba Mariam dan pendidikan Oktavia. Walaupun Mba Mariam sudah berpisah dengan Mizan, tapi janji saya terhadap Okta tetaplah sebuah janji yang harus saya tepati," terang Bu Aini.


Mas Faisal terdiam dan mendengus, mencoba mencerna janji Bu Aini.


"Ibu hanya ingin membantu Mba Mariam menjaga Oktavia, apalagi kehamilannya kali ini cukup menguras pikiran, belum lagi bisnis Mba Mariam yang sedang bagus-bagusnya, agar Mba Mariam tenang ibu akan menjaga Okta," ucap Bu Aini lagi.


"Tapi sekarang udah ada saya, Bu. Jadi sepertinya hal itu udah nggak perlu," tolak Mas Faisal.


Raut wajah Bu Aini berubah kecewa.


"Toko pun sudah mulai stabil, Mariam bisa istirahat di rumah dan merawat Okta seperti dulu lagi."


Semua terdiam, alasan membawa Okta memang sudah hilang. Mariam juga sudah tidak perlu lagi menyembunyikan kehamilannya dari siapapun. Kemarin Mariam mengijinkan Bu Aini membawa Oktavia agar kebohongannya tidak terbongkar, pasti akan susah menyembunyikan perutnya. Tapi, sekarang sudah tidak perlu.


"Saya menghargai niat baik ibu untuk bertanggung jawab, tapi sepertinya berat bagi adik saya untuk berpisah dari anaknya. Saya kira perjanjian itu kita lupakan saja, Mariam nggak sendirian lagi, saya sebagai kakaknya akan menjaganya," ucap Mas Faisal, dia tidak akan membiarkan Mariam terjerat hutang budi setelah lepas dari jerat pernikahan.


Bu Aini tertunduk sedih, Medina memegangi pundak ibu mertuanya untuk memberinya kekuatan.


"Lagi pula ibu akan segera mendapatkan cucu ibu sendiri," lanjut Mas Faisal.


"Tapi, Mas. Ibu sudah berniat membiayai semua pendidikan Okta, berpisah atau tidaknya Mba Mariam dengan anak saya, Okta sudah saya anggap cucu sendiri," ucap Bu Aini memelas.


"Saya menghargai niat tulus ibu, dan saya sangat berterimakasih. Tapi, kami pun tidak ingin berhutang terlalu banyak, walaupun ibu tidak akan menganggapnya sebagai hutang. Saya rasa Mariam akan mampu mendidik anaknya, saya sendiri yang akan mengawasinya." Mas Faisal tetap menolak dan tidak ingin kecolongan lagi, andai dia ada di saat Mariam dilamar dulu, mungkin pernikahan itu tidak perlu terjadi.


"Ya sudah, kami terima keputusan Mas Faisal." Musa segera angkat bicara, tidak ingin lagi melihat ibunya memelas pada Mas Faisal.


"Baguslah, harusnya ibu memaksa anak ibu yang di Kairo untuk membawa pulang cucu ibu, bukannya Oktavia," ucap Mas Faisal lagi.


"Sudah, Mas. Kalau memang enggak boleh, ya sudah kami mengerti, nggak perlu membawa-bawa Mas Harun," ucap Musa tidak suka.


"Oke, maaf," ucap Mas Faisal seraya menyenderkan tubuhnya ke sofa untuk menikmati kemenangannya.


"Maaf, Bu," ucap Mariam yang tidak enak hati.

__ADS_1


"Nggak papa, Mba. Ibu mengerti."


Suasana cukup canggung, untung saja Oktavia bisa mencairkan kembali keadaan dengan celotehnya.


🍀🍀🍀


Medina Khafiza


Berkali-kali kucoba melirik raut wajah Mba Mariam, namun aku yang bodoh tetap tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya. Kucoba menerka hati dan perasaannya setelah apa yang dia lakukan, menyembunyikan kehamilan dalam kondisi yang sulit pasti bukan perkara mudah.


Aku kasihan. Tapi, aku jelas-jelas dilarang untuk kasihan. Bahkan untuk sekedar ingin tahu beberapa hal saja Mas Musa sudah mengingatkanku dan menyuruhku berhenti.


Aku sadar, apa yang sedang Mba Mariam lakukan adalah pengorbanan. Dia ingin Mas Musa bahagia hanya bersamaku, dia menarik diri, dari cinta segitiga yang membuatnya muak. Aku tahu kamu menyembunyikan luka hatimu, Mba! Hatimu pun hancur berkeping-keping saat memutuskan untuk pergi. Hingga saat suami kita mengikrarkan talak kamu sangat senang hingga harus kau tutupi janin dalam kandunganmu, anak suami kita. Hanya demi pembebasan dari cinta segitiga yang menyesakkan hati.


Harusnya kamu membaginya saja denganku, Mba. Tapi ... kata Mas Musa kamu tidak bisa. Sama halnya denganku, banyak yang mengatakan, kenapa tidak kutinggalkan saja Mas Musa dari awal? Lelaki yang jelas-jelas masih mencintai wanita lain begitu dalam.


Jawabannya, tidak. Kenapa? Karena aku tidak mampu.


Aku hanya mampu berbagi, walaupun sulit setidaknya Mas Musa masih ada di sisiku. Aku ingat, dimana dulu aku melihat Mba Mariam begitu hancur saat suaminya meninggal, tangis dan kesedihan Mba Mariam kala itu selalu menghantuiku bagaikan mimpi buruk, jujur kalau Mas Musa yang harus pergi, aku akan lebih dari sekedar hancur. Disitulah titik balik perasaanku dan tekatku membulat untuk membagi suami dengan Mba Mariam, karena aku tidak akan sanggup kehilangan. Aku bahkan sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan yang paling terburuk, seandainya Mas Musa akan lebih condong pada Mba Mariam.


Namun nyatanya, cinta Mba Mariam pada suamiku juga masih besar. Suami yang sudah kubagi dengannya atas nama cinta.


Berbeda denganku. Mba Mariam tidak sanggup berbagi tapi dia mampu untuk pergi dan melepaskan Mas Musa. Hal yang aku tidak sanggup lakukan.


Kugenggam tangan Mas Musa yang duduk di sampingku. Seorang lelaki bernama Mas Faisal mengambil Okta yang sedari tadi bergelayut manja pada Mas Musa, seorang lelaki yang sepertinya mempunyai kisah sendiri dengan keluarga suamiku.


"Tapi Okta masih mau sama Abi," rengek Okta ketika Mas Faisal memaksanya.


"Abinya capek, Ta. Sama om dulu ya mainnya," rayu lelaki itu.


Mas Musa nampak kecewa, begitu pula ibu mertuaku yang akhirnya harus ikhlas karena Mas Faisal melarangnya membawa Oktavia.


Kami pun pergi meninggalkan rumah Mba Mariam, setelah pelukan yang mengharu biru ibu mertuaku pada Mba Mariam.


Mas Musa? Dia begitu membatasi diri berinteraksi dengan Mba Mariam. Aku tahu Mas Musa sudah sangat menyayangi anak dalam kandungan mantan istrinya itu, tapi karena beberapa hal dia harus menahannya, mungkin juga Mas Musa menjaga perasaanku, terimakasih Mas.


Andai perpisahan ini tidak harus diwarnai dengan kehadiran seorang malaikat kecil di rahim Mba Mariam, pasti semuanya mudah. Tapi, siapa aku? Alloh lebih Maha Segalanya, semua ini pasti yang terbaik.


"Mba ... terimakasih atas semua pengorbanan Mba Mariam," ucapku saat berpamitan.


"Aku tidak melakukannya untukmu, Din. Tapi untuk diriku sendiri," jawabnya.

__ADS_1


"Medina tahu, tapi ... tetap saja Medina akhirnya bisa memiliki Mas Musa seutuhnya karena Mba Mariam, jangan egois ya, Mba, cukup Mba Mariam yang dikorbankan, jangan anak ini," ucapku lagi.


"Maksudmu?"


"Medina yakin, suatu saat luka hati Mba Mariam akan sembuh." Tangis dan isakku tidak bisa lagi tertahan.


"Suatu saat Mba Mariam pasti bisa hidup bahagia dan tenang seperti sedia kala, tidak peduli ada atau tidak adanya Medina dan Mas Musa di sekitar Mba Mariam. Aku yakin, setelah hati Mba Mariam sembuh, kita bisa bersilaturahmi lagi atas nama keluarga."


"Kami akan pergi dari kota ini, Mba. Sesuai permintaan Mba Mariam, obati hatimu, Mba, agar suatu saat nanti anak ini tetap mengenal siapa ayahnya."


Kuseka air mataku, walaupun Mba Mariam tidak bergeming tapi aku yakin pintu hatinya telah terketuk.


"Jaga diri baik-baik, Mba. Jaga anakmu, juga."


Aku berbalik, melangkahkan kaki menuju Mas Musa yang sudah menungguku. Mas Musa mengulurkan kedua tangannya, langkahku gontai karena bukan hanya hatiku yang lelah, fisikku juga lelah mengingat kehamilanku yang semakin besar.


"Terimakasih, Din. Kamu ... juga, jaga diri baik-baik," ucap Mba Mariam saat hitungan langkahku sudah ketiga.


Aku menoleh padanya, dan mengangguk seraya tersenyum. Selamat tinggal Mba Mariam.


kulanjutkan langkahku dan meraih tangan Mas Musa, ah ... aku yang manja, tubuhku lunglai seketika saat tangan kami bersentuhan. Mas Musa memapahku sambil tersenyum, hatinya juga hancur, bukan karena Mba Mariam, tapi karena anak dalam kandungannya.


Kulingkarkan tanganku pada pinggangnya, kami berjalan saling berpelukan menuju mobil yang terparkir di depan.


"Ayo kita pulang, Dek."


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2