Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Keinginan Mariam


__ADS_3

"Bukankah kamu wanita baik? Isteri yang sholehah? Berhati malaikat?"


"Sekarang aku punya satu permintaan, yang harus kamu wujudkan!"


"Apa itu, Mba?" tanya Medina dengan ragu.


"Berjanjilah, kamu harus melakukannya!" Medina mengangguk ragu.


"Kembalikan ketenangan hidupku!" ucap Mariam tegas.


"Maksud Mba Mariam apa?" tanya Medina.


"Dulu ... hidupku bahagia, tepat sebelum kalian berdua datang ke tempat ini, sebelum kamu mengacak-ngacak kehidupanku." Mariam berusaha menjelaskan maksudnya.


"Sekarang, lihatlah! Semua terasa menyakitkan, bahkan udara yang kuhirup untuk bernafas terasa seperti racun yang membuatku tercekik."


"Andai almarhum Biantara nggak dimakamkan di sini, aku yang akan pergi dengan senang hati. Tapi, mengertilah! Betapa berharganya kota ini bagiku, semua tentang Biantara ada disini."


"Mintalah pada suamimu untuk pergi dan mencari kota yang lain, atau pergilah sedikit saja menjauh dari hidupku," pinta Mariam lagi.


"Mba?!"


"Aku mohon, Din! Bukankah kamu orang yang baik? Bujuklah suamimu! Terlalu sesak bagiku bila harus terus bernafas dengan udara yang sama dengan kalian."


Medina menghempaskan bobot tubuhnya dengan duduk di samping ranjang Mariam. Ucapan demi ucapan yang keluar dari bibir Mariam benar-benar membuatnya terpukul. Dia berpikir keras dan berusaha mencernanya.


"Jangan katakan pada suamimu ini adalah permintaanku, mintalah padanya dengan alasan yang lain, buatlah alasan versimu sendiri," ucap Mariam lagi.


"Lihatlah kesedihan yang telah kalian berdua berikan pada hidupku! Setiap keping dari hatiku runtuh perlahan hingga hancur semuanya tanpa sisa."


"Din." Mariam meraih dan menggenggam tangan Medina yang sedari tadi hanya diam karena terkejut.


"Aku mohon, pergilah. Berikan aku kesempatan untuk kembali hidup tenang dan baik-baik saja," ucap Mariam dengan memandang Medina penuh harap.


"Sebesar itukah kesalahan kami di matamu, Mba?" tanya Medina.


"Benarkah semua yang Medina coba lakukan nggak ada artinya sama sekali?"


"Benarkah Mba Mariam menghempaskan perasaan Mas Musa secara kejam begini?!"


"Medina menyesal telah memberikan Mas Musa padamu, Mba!" ungkap Medina penuh kekecewaan.


"Akhirnya Medina tahu, masalah yang sebenarnya. Baiklah, Medina dan Mas Musa pasti akan menghilang dari kehidupan Mba Mariam. Dan Mba Mariam akan menyesal karena telah meremehkan cinta Mas Musa yang besar pada Mba Mariam!"


"Aku udah melepaskan Mizan dari dulu Din, perpisahan yang pernah menjungkir balikkan kehidupanku, dan Biantara adalah sosok yang berhasil menuntunku untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih baik." Mariam berkata penuh emosional, semua yang dia pendam seolah berdesakan memaksa ingin di utarakan.


"Terlepas dari masih atau tidaknya cinta di hatiku untuknya, tapi aku telah memutuskan untuk melepaskannya. Jadi jangan usik hatiku, cinta atau pun tidak, bukan urusanmu! Karena aku telah benar-benar melepasnya dan sangat ingin lepas darinya!" ucap Mariam disertai isak dan airmata.


"Din, sepanjang waktu aku terus berpikir. Apa sebenarnya alasanmu ingin menyatukan Mizan kembali denganku? Kenapa tekadmu begitu kuat? Aku terus berpikir dan hanya menemukan keegoisanmu disana, bahkan ketika aku dan Mizan sama-sama saling melepas, kamu tetap pada keinginanmu, tanpa peduli kami ingin atau tidak, tanpa peduli kami bahagia atau tidak."


"Cintaku pada Mizan bukanlah cinta yang ingin memiliki. Rasa itu sudah terkubur jauh."


"Aku ikhlas dia bahagia denganmu walaupun Biantara sudah nggak ada lagi di sisiku."


"Maafkan Medina Mba, Medina janji akan pergi secepatnya!"


Medina berusaha menyeret kakinya yang melunglai untuk pergi, semua ucapan Mariam begitu membuat hatinya terpukul. Tepat setelah pintu kamar kembali tertutup Mariam menumpahkan semua tangisnya. Tangannya tak lagi memukul-mukul namun kini dia memeluk erat perutnya sendiri.

__ADS_1


"Maafkan ibumu, Nak! Percayalah ini yang terbaik untuk kita, " ratap Mariam.


Tak lama kemudian Teh Desi kembali memasuki kamar Mariam dengan raut wajah penuh tanya.


"Bagaimana, Mba?"


"Aku akan menyimpan semuanya sampai akhir, Medina dan Mizan nggak akan pernah tahu keberadaan anak ini."


"Mba, yakin?"


"Yakin."


🍀🍀🍀


Medina merasa sangat sedih, rasa bersalah benar-benar menyusup dan mengganggu hatinya.


Semua perkataan frontal Mariam benar-benar membuatnya kecewa dan marah pada dirinya sendiri, wajar saja bila akhirnya Musa menceraikannya, Mariam tidak pernah membuka hati.


Medina memandang ke setiap sudut rumah, sambil terus larut dalam pikirannya.


"Dek, kamu kenapa melamun?" tanya Musa.


"Tadi Mba Lastri bilang kamu menemui Mariam lagi," lanjut Musa.


"Iya, Mba Mariam sakit," ucap Medina.


"Sakit?" tanya Musa terkejut.


"Iya, Medina udah nengokin tadi, katanya kecapekan. Mas Musa nggak usah khawatir, dan nggak usah nengokin Mba Mariam, dia udah baikan," ucap Medina.


"Iya, Mariam kan bukan muhrim mas lagi, segala sesuatunya udah menjadi tanggung jawab Mariam sendiri. Mas sudah nggak punya tanggung jawab apa-apa lagi padanya, Dek."


"Bagaimana persidangan kalian Mas?"


"Temen mas yang ngurus, Dek. Nanti terima beres aja. Nggak bisa buru-buru juga, harus melewati banyak prosedur untuk bisa memenuhi syarat."


"Berapa lama Mas kira-kira?"


"Mas juga belum tahu kepastiannya."


"Tanyakan, Mas! Biar jelas," ucap Medina.


"Iya, nanti mas tanyakan. Kamu kenapa sih, Dek? Tumben banget sikap kamu begini," tanya Musa.


Tanpa menjawab Medina merangsek ke pelukan suaminya.


'Maafkan Medina Mas, ternyata Medina salah menilai Mba Mariam. Pasti nggak mudah menghadapinya selama ini, maaf karena kebodohan Medina, Mas Musa harus menjalani situasi yang sulit,' batin Medina.


'Andai Medina tahu, Mba Mariam menginjak-nginjak cinta Mas Musa dengan kejam begitu, Medina nggak akan rela memberikan Mas padanya.'


"Kamu kenapa, Dek?" tanya Musa dengan membalas pelukan Medina.


"Nggak papa Medina cuma kangen," jawab Medina.


"Apa ini bawaan si dede?"


"Bukan ... Medina yang kangen Mas Musa."

__ADS_1


"Apa si dede nakal hari ini? Apa tendangannya mulai keras?"


Medina menggeleng dan melepaskan pelukannya, dia memandang Musa dengan hangat.


"Medina senang akhirnya Mas Musa berpisah dengan Mba Mariam." Musa mengernyitkan kedua alisnya mendengar kalimat Medina.


"Benarkah?"


"Maafkan Medina, Mas! Mulai sekarang Mas Musa hanya boleh dicintai oleh Medina, dan Mas Musa hanya boleh mencintai Medina. Nggak ada lagi berbagi hati atau pun berbagi suami."


"Iya, Dek!"


'Hanya Medina Mas yang akan mencintaimu tanpa pernah merendahkanmu seperti Mba Mariam, Medina janji Mas!' batin Medina.


"Mas ... bagaimana kalau kita memulai hidup yang baru?"


"Hidup baru?"


"Medina pasti canggung hidup di lingkungan yang sama dengan Mba Mariam setelah semua ini. Bagaimana kalau kita pindah ke tempat lain?" usul Medina.


"Pindah?"


"Iya, Medina ingin Mas Musa lebih cepet ngelupain Mba Mariam. Medina tahu bagaimana pun baiknya sebuah perpisahan tetap saja meninggalkan luka, Medina ingin Mas Musa cepet sembuh dari luka-luka itu."


"Kita selesaikan dulu urusan kita satu persatu, Dek!"


"Selain persidangan ini kita juga harus mempersiapkan persalinanmu, Dek. Kita akan pindah segera setelah anak kita lahir, bagaimana?"


"Tapi Mas--"


"Percayalah Dek, mas sudah lebih ikhlas melepaskan Mariam. Perasaan yang dulu, kini sudah nggak ada lagi. Melihat Mariam bahagia dengan kemandiriannya membuat mas sadar diri dan melepas ikatan dengan Mariam."


"Mas hanya akan mencintaimu, Dek. Mariam hanyalah kenangan, kami memang indah di masa lalu tapi kami tidak diciptakan untuk bersama di masa kini. Yang ada kami hanya saling menyakiti."


"Mas ... andai Medina dulu tidak gegabah meminta mas menikahi Mariam pasti semua ini nggak perlu terjadi."


"Bukan, Dek. Mas memaklumi tindakanmu, bagaimanapun mas yang salah karena belum bisa melepaskan perasaan mas pada Mariam. Padahal, Mariam yang dulu pun bukan Mariam yang sekarang. Mas udah banyak bertafakur dan introspeksi diri, dan itu lah hasilnya."


"Tetap saja Medina yang berperan paling depan dulu saat melamar Mba Mariam," ucap Medina.


"Dek, kadang kala kita harus salah dulu untuk bisa tahu mana yang benar dan mana yang keliru. Andai pernikahan mas dan Mariam nggak pernah terjadi, pastilah mas akan selamanya terperangkap pada Mariam yang dulu. Tanpa menyadari bahwa waktu juga telah merubah Mariam."


"Apa Mba Mariam yang sekarang nggak mencintai Mas Musa lagi? Apa karena itu Mas akhirnya melepaskannya?"


"Mariam mencintai almarhum Pak Biantara, Dek."


"Mariam telah berhasil meninggalkan semua di masa lalu dan memulai kehidupan barunya. Sementara mas masih saja terperangkap tanpa berani membuka mata dan berusaha keluar dari zona kenangan itu."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2