
"Mas, bagaimana kalau Mba Mariam lebih dulu hamil dari pada aku?" tanyaku pada Mas Musa.
Tiba-tiba raut wajah Mas Musa berubah murung, kuangkat kepalaku dari pelukannya.
"Kenapa, Mas? Medina salah bicara?"
"Nggak, Dek."
Mas Musa kembali tersenyum, dengan lengkungan yang terlihat kaku karena sedikit dipaksa. Sepertinya ada yang tidak beres dengan Mba Mariam.
"Maaf, Mas kalau Medina salah bicara." Aku berinisiatif meminta maaf.
"Sebenarnya Mas berjanji untuk tidak menyentuh Mariam selama dia belum bisa melupakan alramarhum Biantara."
Aku terkejut dengan hal itu, aku hanya tahu seorang istri akan dilaknat malaikat bila sebelum subuh suaminya meminta tapi dia menolak. Tapi, Mas Musa malah berjanji untuk tidak menyentuh Mba Mariam.
"Apa boleh, Mas? Bukankah dosa bagi seorang istri bila suaminya berkeinginan tapi dia menolak?" tanyaku ragu-ragu.
"Dek, kita sama-sama tau bagaimana kondisi Mariam yang sebenarnya, psikologisnya juga belum stabil."
Pantas saja, di hari pertama pernikahan Mas Musa mendatangiku. Apa aku harus bahagia?
"Dek, terimakasih atas semua pengorbanan dan pengertianmu, mas minta maaf karena selama ini telah banyak menyakitimu." Entah berapa kali Mas Musa mengucapkan terimakasih, andai saja ucapannya berubah jadi 'I love you' aku akan sangat senang.
"Iya Mas, kebahagiaan Mas Musa adalah kebahagiaan Medina juga."
Tapi, melihat kesabaran Mas Musa pada Mba Mariam membuatku iri, ada cinta yang sangat besar dan sudah teruji diantara mereka. Seandainya Mba Mariam sudah tidak berduka, maka mereka akan saling mencintai tanpa celah.
Artinya, aku masih punya kesempatan untuk ikut membaur menjadi bagian bulatan cinta yang sempurna, aku tidak ingin berakhir hanya sebagai ganjalannya.
Malam itu menjadi malam yang indah untuk kami, Mas Musa mulai mencurahkan cintanya. Kulupakan sejenak semua tentang Mba Mariam, aku bahagia selama Mas Musa masih bersamaku apapun keadaannya.
🍁🍁🍁
Tok ... tok ... tok ... !
Terdengar suara ketukan pintu. Aku bergegas mendatangi pintu untuk membukanya, mungkin saja Mas Musa kembali karena tertinggal sesuatu.
"Assalamualaikum."
Suara lembut wanita yang begitu kukenal, aku rindu. Aku segera membukanya dan benar.
"Waalaikumsalam, Ibu ... Melisa ...." Kami berpelukan, Melisa adalah adikku.
__ADS_1
"Melisa kangen," ucap Melisa.
"Kenapa dateng nggak ngasih kabar, Bu?" tanyaku gembira, senyum merekah dari wajahku.
"Ibu nggak mau ngerepotin, ibu biasa kok nyari tempat cuma modal alamat," jawabnya santai.
"Ayo istirahat dulu, Ibu sama Melisa pasti capek."
"Dimana Mas Musa?" tanya ibuku.
"Baru berangkat ke kampus, Bu," jawabku sambil membawakan tas bersama Melisa.
"Ibu nggak tahan pengen bicara sama kamu, Nak," ucap ibuku, dengan wajah yang membuatku dag dig dug.
Aku tahu arah pembicaraannya, apalagi kalau bukan pernikahan kedua Mas Musa. Melisa memainkan matanya, mengisyaratkan bahwa ibu masih tidak terima.
"Istirahat dulu Bu, wong capek kok. Nanti baru bicara ya," tolakku berusaha mengulur waktu.
"Ibu nggak capek, sini duduk!"
Dengan berat hati kuturuti kemauan Ibu, aku hanya berhasil mengulur waktu sebentar untuk membuat teh.
"Bicara apa, Bu?" tanyaku.
"Bu ...," selaku.
"Nanti dulu, biar Ibu selesai bicara dulu." Aku hanya melirik pada Melisa yang menjadi pendengar setia.
"Ibu nikahin kamu sama dia biar kamu bahagia, bukan untuk dimadu. Tau gitu dulu mending ibu terima lamaran Riko yang orang biasa aja tapi dia bisa bikin kamu bahagia," sesalnya.
Ibu berhenti sejenak mengatur nafasnya, wajar pertanyaan seperti itu menjadi beban di hatinya. Aku mendekat dan memeluknya lagi.
"Maaf ya Bu, Medina udah ngebebanin pikiran Ibu, dan terimakasih udah khawatir sampai repot datang kemari."
Kulepas pelukanku dan berganti menatap matanya, aku harap wanita paling berharga dalam hidupku ini mengerti alasan putrinya.
"Tapi ... Medina bahagia, benar-benar bahagia. Pernikahan ini justru permintaan Medina," ucapku, namun ibu masih saja tidak menunjukan bahwa dia percaya.
"Mba Mariam adalah teman lama Mas Musa, suaminya meninggal karena kecelakaan, Mba Mariam sangat terpukul dan dia juga memiliki gadis kecil yang lucu." Kucoba menceritakan semua, berharap ibu memiliki sudut pandang yang sama.
"Mba Mariam bukan orang baru bagi Mas Musa, dan bukankah pahala menikahi janda itu besar, Bu? Apalagi kami berkesempatan merawat anak yatim, Medina nggak mau melewatkan kesempatan beribadah sebesar itu, siapa tau Alloh memberi kepercayaan pada Medina untuk memiliki anak sendiri, iya kan?"
"Pernikahan kalian baru seumur jagung, kenapa risau memikirkan anak sampai mengambil tindakan sebesar ini, belum tentu kamu yang bermasalah bisa juga suamimu," ucap ibuku dengan gemas.
__ADS_1
"Bu, Medina bahagia, Mas Musa adil. Ibu nggak percaya?"
"Bukannya nggak percaya, tapi ibu membayangkannya saja tidak rela jika kamu harus berbagi suami, berbagi ranjang, berbagi hati, Ya Alloh Nak, enggak gampang, kenapa kamu gegabah?"
Ibuku tidak mampu lagi menahan air matanya, rasa bersalah menyusup ke sanubariku. Tanpa harus kujelaskan ibu tahu apa yang menjadi kekhawatiranku. Aku hanya berusaha menepisnya, dan terus membuang pikiran itu jauh-jauh. Namun sebenarnya aku juga takut, jika suatu saat nanti Mas Musa akan condong ke salah satu sisi.
Air mataku ikut terjatuh, ibu menelanjangi semua ketakutan yang bahkan tidak mampu kuucapkan. Melisa yang sedari tadi hanya diam, sekarang ikut menangis dan berpelukan bersama kami.
"Kamu kok begitu si, Nak. Ibu menyesal dan merasa bersalah karena menikahkan kamu dengan keponakan Kyai Sholeh," sesal ibuku.
"Jangan begitu, Bu. Demi Alloh, Medina bahagia, nggak ada yang Medina sesali. Medina melakukan semua ini karena sangat mencintai Mas Musa, bagi Medina Mas Musa adalah segalanya, pengorbanan ini enggak seberapa, Bu." Aku berusaha menyakinkannya, dan juga berusaha menegarkan diriku sendiri.
"Ya Alloh, Nak!"
"Percaya sama Medina, Bu! Medina bahagia."
Mata kami saling menerawang, aku memaksa keyakinanku dan ibuku mencari kebenaran kata-kataku.
"Apa wanita itu menggoda suamimu?" tanya ibuku lagi.
"Enggak, Bu. Bahkan Mba Mariam beberapa kali menolak lamaran dariku. Ibu Mas Musa juga berusaha keras membujuknya agar dia mau menerima niat baik keluarga kita." Ibuku masih menatap dengan ketidak percayaan.
"Bu, Mba Mariam terguncang jiwanya karena kepergian suaminya yang tiba-tiba. Mas Musa seolah terpanggil untuk menjadi pelindungnya, dan juga ayah sambung bagi putrinya. Apa salah niat kami untuk menolong dan beribadah, Bu?" Aku terus mencoba membuat ibuku mengerti dan memaklumi, takan kubiarkan Mas Musa dipandang buruk oleh ibuku.
"Menolong nggak salah, Nak. Tapi nggak harus mengorbankan rumah tanggamu sendiri, bisa jadi ini bumerang yang akan menyerangmu nanti." Aku kembali bermain mata dengan Melisa yang hanya membisu.
"Ibu masih capek, lebih baik Ibu istirahat dulu, yah," saranku ketika percakapan kami terkesan buntu.
"Suamimu pulang jam berapa? Ibu nggak tahan pengen bicara langsung."
Perasaanku tidak enak, ibu bisa saja salah mengerti, takkan kubiarkan Mas Musa menghadapinya.
"Dan wanita itu, siapa? Ma-mariam. Dimana dia? Ibu mau ketemu, sekarang juga!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
.