
Medina banyak melamun sepanjang hari itu. Berbagai kemungkinan buruk merasuk liar ke dalam pikirannya. Bayangan wajah Musa dan Mariam menari bergantian memperburuk suasana hatinya.
Terkadang dia memutuskan untuk bicara jujur dan bersiap menerima apapun kenyataannya nanti, namun detik berikutnya hatinya berubah, mencari aman dengan membiarkan Mariam meledakan sendiri bom waktunya. Kemudian, hatinya berubah lagi. Terus begitu, terombang-ambing dilema yang luar biasa.
Bukan perkara yang bisa dia putuskan dengan mudah, mengingat dirinya pun punya perasaan dan rasa takut kehilangan. Namun, prinsip kebenaran yang tertanam dalam hatinya, tidak mengijinkannya untuk ikut menutupi apa yang sedang Mariam coba sembunyikan. Logika dan hati Medina terus bertarung, ego dan moralnya sama-sama ingin menang.
"Dek, kamu kenapa?" tanya Musa, "Mas perhatikan kamu melamun terus dan makanan kamu cuma di aduk-aduk tadi."
"Ehm ... nggak papa, Mas."
"Lihat, sikapmu juga dingin. Ada apa? Tadi kata ibu kamu ke supermarket sendirian? Tumben, kenapa nggak nunggu mas libur aja besok?"
"Medina cuma capek, Mas. Tadi, ada barang yang mendesak harus dibeli."
"Jangan pergi sendiri lagi, Dek. Lihat perutmu sudah besar begitu, kalau terjadi apa-apa gimana,"
"Lagian Medina dianter Pak Iwan, Kok." Suasana hatinya membuat Medina irit bicara, hatinya merasa bersalah karena harus diam dengan kenyataan sebesar itu.
"Dek, mas minta maaf kalau ucapan mas kemarin nyakitin hati kamu." Musa berinisiatif mencairkan Medina, mengingat jawabannya atas pertanyaan Medina kemarin mungkin menyakiti Medina.
"Hhh? Medina nggak sakit hati, Medina cuma capek, Mas."
"Ya udah, kamu tidur aja istirahat di kamar sama ibu."
"Medina cape tapi nggak ngantuk, Mas."
"Hem, mau jalan-jalan?" tawar Musa, Medina melihat datar pada suaminya itu.
"Kita ke taman kota saja melihat-lihat pemandangan," usul Musa lagi, "Mas jarang banget ngajak kamu ngilangin suntuk, lihat muka kamu kusut begitu."
Medina pun setuju, mungkin hiruk pikuk keramaian bisa memberinya kedamaian. Musa pun berpamitan pada ibunya. Mobil melaju perlahan, meninggalkan komplek perumahan dan mulai menapaki jalanan kota yang ramai.
Banyak pedagang kaki lima yang menambah ramai suasana malam, anak muda berlalu-lalang dengan bergerombol ada pula yang saling berpasangan.
"Tumben Mas ngajak Medina nongkrong-nongkrong begini?" tanya Medina.
"Iya, maaf karena jarang mengajakmu jalan-jalan, Dek. Hem ... kamu mau makan apa, Dek? Banyak jajanan disini."
"Hem ... apa aja, Mas."
"Kalau begitu tunggu disini yah, mas beli minuman sama cemilannya dulu."
Musa pergi berbaur dengan antrian yang ramai di area pedagang kaki lima. Medina merasa bahagia dengan perlakuan sederhana Musa akhir-akhir ini. Namun, sebuah ketakutan bersembunyi di relung hatinya.
"Harusnya aku bahagia, nyatanya aku resah karena harus menyimpan semua ini darimu, Mas," gumam Medina.
"Aku harus bagaimana?!"
Medina menangakupkan kedua tangan pada wajahnya, baginya tidak sesederhana itu menyembunyikan rahasia dari suaminya. Diam? Namun hidupnya seperti diteror, resah dan penuh ketakutan. Bicara? Namun resikonya terlalu besar, dan kebahagiaannya kembali terancam.
"Dek? Kamu kenapa?" tanya Musa yang telah kembali.
"Hah?" Medina gelagapan menyadari Musa berada di depannya.
"Kamu sakit? Kita pulang aja, yah?" tawar Musa melihat keadaan Medina semakin kacau.
"Medina baik-baik aja, Mas. Sini duduk!" Medina berusaha kembali menguasai dirinya, membuat senyum yang terpaksa.
Bagaimana pun momen pergi berdua seperti ini jarang sekali ada mengingat kesibukan suaminya selama ini, sehingga waktu luang suaminya masih harus dibagi-bagi.
"Kamu aneh, Dek. Katakan, mas harus apa dan bagaimana? Apa yang salah?"
"Hem ... Medina baik-baik aja, Mas. Percayalah!"
__ADS_1
"Dek, mas sudah belajar bahwa ucapan baik-baik saja darimu itu masih harus dipertanyakan, mas nggak mau kecolongan lagi kali ini. Katakan, ada apa?"
Medina meraih tangan suaminya dan menariknya untuk duduk, setelahnya dia bersandar pada pundak suaminya dengan manja. Tangannya meraih minuman yang dibawa Musa dan meminumnya.
Musa hanya diam dengan perlakuan Medina, membiarkannya melakukan apa yang ingin dilakukan. Menunggu Medina selesai meminum minumannya.
"Enak, Mas. Makasih ya," ucap Medina.
"Kamu suka, Dek?"
"Suka. Hemmm ...." Medina menghirup udara malam yang dingin dengan panjang, seolah udara itu bisa menghapus sesak di dadanya.
"Begini aja Medina bahagia, Mas," ucap Medina.
Musa merentangkan tangan dan memeluk Medina di sampingnya.
"Katakan semua keinginanmu, Dek. Mas akan mewujudkannya satu per satu dan membuatmu bahagia."
Medina tersenyum, pandangannya menerawang jauh. Hatinya menghangat mengusir sedikit sesak dan gelisah di dalamnya. Pelukan ini memang selalu bisa menghadirkan ketenangan di batinnya. Sekaligus pelukan yang dia takutkan akan menghilang.
"Medina ingin Mas Musa selamanya."
Musa tersenyum mendengar penuturan isterinya.
"Terimakasih, Dek. Karena telah menjadi hebat dengan bersabar padaku. Percayalah, selau ada alasan kenapa semua harus terjadi, meskipun menyakitkan, dan membuat hatimu hancur."
"Kita mungkin marah dan kecewa, namun mengertilah, semua hanya karena kita tidak tahu, alasan kenapa semua harus terjadi. Alloh selalu memberikan sekenario terbaik-Nya untuk kita. Suatu hari nanti kita akan mengerti dan pada akhirnya kita juga lah yang akan tersenyum menyadari, memang inilah yang terbaik," ucap Musa, mencoba menenangkan Medina meski tidak tahu apa yang sedang menimpanya.
Medina terkesiap mendengar tutur kata suaminya. Hatinya terguncang.
'Benar, boleh jadi ini akan menyakitkan tapi ... aku tidak akan rugi jika berpegang pada prinsip kebenaran,' batin Medina.
"Mas ... boleh Medina bertanya sesuatu?"
"Apa Mas Musa mencintaiku?"
"Tentu saja, Dek. Mas mencintaimu dan calon anak kita tentunya. Kalian berdua adalah alasan mas untuk menjadi baik dan lebih baik lagi, kalian adalah dunia dan segalanya."
Medina tersipu mendengar jawaban suaminya, namun dia tidak ingin larut terlalu lama.
"Sudahkah Mas mencintaiku lebih dari Mas mencintai Mba Mariam?"
"Jangan bahas Mariam lagi, Dek. Semua sudah selesai."
"Perasaan Mas boleh saja sudah selesai, tapi ... silaturahmi tetap harus terjalin, bukan?" Musa menatap Medina lekat-lekat.
"Kamu mengkhawatirkan keberadaan Oktavia?" tebak Musa, namun Medina menggeleng pelan.
"Kalau kamu mengkhawatirkan hal itu, mas akan coba bicara pada Ibu."
"Nggak, Mas. Medina setuju kok dengan perbuatan mulia yang ingin ibu lakukan. Oktavia anak yatim, dan menurut cerita Mba Lastri ibu memang gemar merawat anak yatim karena ibu juga menanggung pendidikan anak-anak Mba Lastri. Medina bangga punya mertua yang baik hati seperti beliau. Enggak heran Mas, apapun usaha keluarga Mas pasti selalu berhasil."
"Jadi?"
"Ini bukan soal Oktavia, aku pun menyayanginya. Bagaimanapun dia sudah jadi anak pancingan dan berhasil membuat Medina hamil."
"Apa yang sedang coba kamu sampaikan, Dek?"
"Nggak ada, Mas. Medina hanya ingin tahu ... seberapa berartinya Medina di hati Mas Musa."
"Kamu separuh jiwaku, Dek," ucap Musa cepat.
"Berhenti membandingkan dirimu dengan Mariam, kalian jauh berbeda. Kamu bahkan jauh lebih bersinar dari pada Mariam, jangan membuatku merasa bersalah dengan terus mengungkit kisah itu, Dek. Mas siap mengganti masa-masa itu dengan kebahagiaan. Apapun lukamu, mas akan sembuhkan."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Tentu saja, Dek." Jawaban Musa membuat Medina yakin.
"Mas ... Medina nggak mau jadi isteri yang durhaka.Tapi ... Medina juga nggak mau kehilangan Mas Musa," ucap Medina.
Air mata Medina mulai meluruh, kedua tangannya mencengkram erat tangan Musa walau dengan sedikit gemetar. Medina menunduk berusaha menguasai gejolak hatinya yang sedang bertarung. Sementara Musa keheranan memandangnya, menebak-nebak apa yang membuat isterinya begitu sedih.
"Dek?"
"Jadi ...." Medina mengumpulkan kekutan untuk bisa menatap mata Musa.
"Katakan, Mas. Medina harus bagaimana? Medina nggak bisa kehilangan Mas Musa dan Medina juga nggak bisa berbagi Mas Musa lagi. Tapi, Medina juga nggak bisa memiliki Mas Musa dengan kebohongan."
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Musa masih tidak mengerti.
"Ada satu hal, yang baru saja Medina ketahui hari ini. Medina bohong soal pergi ke supermarket. Sebenarnya ...."
"Medina mencoba menemui Mba Mariam."
"Dek, berhenti mencarinya kalau hanya membuatmu terluka, silaturahmi boleh tapi menjaga hati juga bo--"
"Mba Mariam dirawat di rumah sakit," ucap Medina memotong ucapan Musa.
Musa terdiam mendengar kabar itu, sementara Medina sibuk menguatkan diri.
"Mariam nggak sendirian, Dek. Banyak orang-orang di sekitarnya yang peduli padanya, kamu boleh saja menjenguk tapi jangan menjadikannya beban."
"Mas ... Mba Mariam sebenarnya ...."
"Dek, berhenti. Mas mohon! Mari menjalani kehidupan yang hanya tentang kita. Mas sudah ikhlas melepaskan Mariam dan semua kisah masa lalu kami, apa itu belum cukup untukmu, Dek?"
"Katakan! Mas harus apa lagi agar kamu berhenti mengorek tentang Mariam?" Musa terlihat lelah dengan perbuatan Medina.
"Tapi, Mas! Ini bukan mauku!"
"Lantas apa, Dek?" tanya Musa dengan putus asa.
"Mas hanya minta kamu juga melupakan Mariam, mas sudah mengajukan surat pengunduran diri, minimal satu bulan lagi kita bisa pergi dari kota ini. Semua mas lakukan agar kamu tenang dan berhenti teringat atau pun mengungkit semua tentang Mariam."
Medina masih diam, namun dadanya masih terus berdegup kencang. Musa meraih kedua lengan Medina dan menatap matanya dalam.
"Mari menjalani hidup baru, Dek!" ucap Musa dengan lembut.
"Tapi Mba Mariam hamil, Mas!" ucap Medina pada akhirnya.
"Apa?!"
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.