
POV Musa Hamizan
Hari ini kubelokkan mobilku ke rumah Mariam, memang sudah jadwalnya aku bermalam di rumahnya. Tapi, karena di rumah sedang kedatangan ibu mertuaku, kuputuskan untuk bermalam di rumah lagi. Akan kusempatkan sebentar menengok keadaan Mariam dan Okta, sekaligus mengutarakan maksudku untuk menukar jadwal.
"Assalamualaikum ...," ucapku sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam," jawab seseorang dari dalam, langkah kaki terdengar mendekati pintu, tidak lama kenop pintu pun diputar.
"Assalamualaikum," ulangku ketika Mariam muncul dari balik daun pintu.
"Waalaikumsalam," jawabnya lagi, dengan kaku kuulurkan tanganku dan Mariam menyambutnya serta menciumnya, rasa kikuk masih ada diantara kami ketika aku hendak mencium keningnya seperti yang selalu kulakukan pada Medina, akhirnya kuurungkan niatku mungkin belum saatnya.
"Waalaikumsalam," ucap Oktavia yang baru keluar menyambutku. Dia menyuguhkan senyum manis yang polos, rasa lelah perlahan sirna, mungkin seperti inilah bahagianya menjadi orangtua.
"Masuk Mas, biar kusiapkan minuman dulu," ucap Mariam sambil berlalu, aku tersenyum simpul mendengarnya memanggilku dengan sebutan 'Mas'.
Hatiku berbunga-bunga, tapi segera kualihkan pandangan ke Oktavia, gadis kecil yang menatapku dengan mata berbinar-binar. Kugandeng tangannya masuk, kutemani dia duduk di karpet sambil menonton kartun kesukaannya.
"Sholehahnya abi kangen nggak nih?" tanyaku padanya.
"Kangen, tapi emang Om mau jadi abinya Okta telus?" tanya Oktavia polos.
"Ya iya dong ... sampai kapanpun, om kan udah jadi abinya Okta sekarang, kenapa nanya kaya gitu?" jawabku lembut.
"Kilain kemalin cuma main abi-abian," jawabnya menggelitik.
"Enggak dong sayang, bukan main abi-abian, nanti abi akan sering main sama Okta yah," ucapku seraya tertawa, gadis 4 tahun itu pun berdiri dan berjingkrak kegirangan.
"Hore ... hore ... hore," serunya dengan girang, "Okta punya abi telus Mah, ayo main masak-masakan Bi," aku pun bahagia melihat tingkahnya, "Ayo Abi main masak-masakan!" ajaknya lagi.
"Enggak Okta, abinya cape baru pulang kerja," jawab Mariam yang muncul dengan secangkir teh di tangannya.
Ada desiran bahagia yang masuk ke hatiku, perasaan yang baru, sambutan hangat seorang anak ketika lelah pulang bekerja, celotehnya, tingkah lakunya telah menjadi wujud kasih sayang Alloh yang nyata. Dan juga Mariam yang sepertinya mulai menerima kehadiranku.
Mariam meletakkan tehnya di atas meja dan aku bangun menghampirinya, sebenarnya aku ingin berlama-lama menghabiskan waktu bersama Oktavia tapi berhubung niatku hanyalah mampir sebentar, jadi aku beranjak dengan berat hati.
"Terimakasih."
"Sama-sama."
"Oh iya, tapi Medina kesini" cerita Mariam.
"Ehm, sendiri?" tanyaku memastikan.
"Enggak, sama ibu dan adeknya."
"Jadi udah kenalan?" tanyaku penasaran, namun aku harus memilih bahasa yang benar untuk bertanya.
"Udah, lebih baik kamu tinggal di sana dulu. Hargai mertuamu yang jauh-jauh datang berkunjung," usul Mariam.
"Begitu yah? Apa kamu nggak keberatan kalau aku disana?" tanyaku lagi, sebenarnya aku senang mendengar usulnya yang sesuai dengan rencanaku.
"Nggak papa, kamu nggak usah khawatir."
"Ehm, apa ibu Medina bertanya perihal pernikahan kita?" tanyaku sangat penasaran.
"Bertanya, tapi sudahlah, isterimu kan pandai mengendalikan situasi, semua berjalan lancar sesuai keinginannya," jawab Mariam seperti kurang antusias.
"Benarkah?" tanyaku heran.
__ADS_1
"Iya, memangnya aku bohong?" Mariam nampak tidak ingin membahasnya.
"Eh, maaf ... oh iya, pakai ini untuk kebutuhan kamu dan Okta, maaf baru sempat memberikannya." Kuletakan kartu pipih yang sudah kupersiapkan dan sengaja baru kubuat untuk Mariam.
"Apa ini?"
"Selayaknya suami aku wajib memberikan nafkah untuk kalian, kan? Pakailah untuk sehari-hari, ini udah jadi kewajibanku," terangku.
"Baiklah, terimakasih," jawab Mariam setelah mengambil nafas panjang.
"Mariam, kalau kamu atau Okta butuh sesuatu jangan sungkan untuk memintanya." Sengaja kutatap matanya saat mengucapkan ini, aku ingin dianggap dan berarti bagi mereka.
"Iya," jawab Mariam singkat, dia masih tidak nyaman dengan tatapanku.
"Aku sedang bersiap membuka konveksi lagi, biar nggak terlalu menjadi beban untukmu," lanjut Mariam.
Kuabaikan cara Mariam menyampaikan maksudnya, walaupun aku bahagia terbebani olehnya, karena sesungguhnya Mariam bukanlah beban. Tapi, aku ingin Mariam segera bangkit dan kembali menata kehidupannya.
"Iya, aku pasti dukung. Ingat jangan sungkan kalau kamu butuh bantuan."
"Terimakasih,"
"Aku juga terimakasih,"
"Buat apa?"
"Karena udah menganggapku suami dengan memanggil 'Mas' walaupun sekali, dan juga mengakuiku sebagai abinya Okta, terimakasih Mariam."
Mariam terlihat kikuk, aku paham dia sedang berusaha menerima keadaan.
'Alhamdulillah," batinku.
🍀🍀🍀
Medina dan ibunya menyambutku dengan hangat seperti biasa. Nikmat mana lagi yang aku dustakan, Mariam dan Okta membuatku merasa menjadi seorang ayah, sementara Medina dan ibunya membuatku menjadi seorang anak. Keduanya kebahagiaan yang saling melengkapi, semoga aku bisa adil dan menjaga kebahagiaan ini.
"Mas, air hangatnya udah siap," ucap Medina menghampiriku di kamar.
"Makasih Dek."
"Medina yang berterimakasih Mas, karena Mas udah mempertimbangkan untuk pulang ke sini demi ibuku," tutur Medina dengan senyum manis di wajahnya.
"Hem ... sebenarnya tadi mas udah ke rumah Mariam, dan Mariam memintaku untuk kemari," ucapku buru-buru, aku ingin segera mandi dan menyegarkan badanku.
"Oh ... begitu," ucap Medina lirih.
"Mas mandi dulu ya Dek," pamitku sambil berlalu ke kamar mandi.
🍀🍀🍀
Setelah selesai Mandi, Medina kembali melayaniku untuk makan malam. Sementara Ibu dan Melisa menonton televisi di ruang depan. Sikap Medina mendadak berubah menjadi sedikit bicara, kami makan bersama tapi pandangan matanya seolah menyiratkan hal yang lain. Mungkin ini berhubungan dengan pertemuan ibunya dengan Mariam tadi. Aku harus sabar untuk bisa mengetahuinya.
"Sehabis makan, Ibu mau bicara katanya Mas," ucap Medina sambil membereskan piring bekas makan kami.
"Iya Dek," jawabku menyanggupi, "Tapi, kamu baik-baik aja Dek?" tanyaku khawatir.
"Medina nggak papa, Mas, emang kenapa?"
"Sepertinya kamu memendam sesuatu," tebakku.
__ADS_1
"Enggak Mas, Medina baik-baik aja," ucapnya sambil tersenyum dan membuatku tenang,"Ayo Mas!" ajaknya.
Aku pun mengikutinya menghampiri Ibu dan melisa yang tengah menonton televisi.
"Ehm ...," Ibu berdehem seolah memberi kode, dan benar saja Melisa bangkit dan meninggalkan kami, seolah pembicaraan ini sangatlah pribadi.
"Langsung saja Mas Musa, ibu mau bicara perihal rumah tangga kalian," ucap Ibu membuka pembicaraan, Medina yang duduk di sampingku tampak tenang sambil menunduk.
"Silahkan Bu, dengan senang hati saya terima bila ada masukan atau wejangan dari Ibu," jawabku sopan.
"Iyah, bukan maksud ibu ikut campur dalam rumah tangga Mas Musa dan Medina, tapi peristiwa ini jujur telah melukai hati saya sebagai seorang ibu." Sekilas kulirik Medina yang hanya diam.
"Ibu dan Bapak sempet marah dan kecewa sama Mas Musa, tapi setelah ibu tau alasannya dan melihat keadaan kalian yang baik-baik saja dengan mata kepala sendiri, ibu berusaha ikhlas dan menerima keputusan putri ibu, meskipun berat kami berusaha mengerti dan membiarkan kalian dewasa dengan jalan yang telah kalian pilih," lanjutnya.
"Tapi Ibu mewakili Bapak meminta Mas Musa untuk berbuat seadil-adilnya, bahagiakanlah Medina dengan segala kekurangannya. Kapanpun Mas Musa merasa tidak bisa lagi membahagiakannya cukup jangan menyakitinya, kembalikan saja pada kami, kami akan menerima Medina kembali dengan tangan terbuka. Kami tidak akan ikhlas bila Medina tersakiti," pungkasnya.
Sejenak kami terdiam, dan nampak kelegaan di raut wajah ibu mertuaku, meskipun aku paham bahwa dia masih benar-benar sedih.
"Terimakasih Bu, atas restunya. Saya minta maaf karena kejadian ini terjadi sangat cepat dan tiba-tiba sehingga saya tidak sempat meminta restu langsung pada Ibu sebelum melakukan pernikahanku dengan Mariam. Insha Alloh saya akan terus berusaha membahagiakan Medina dan saya akan berusaha adil lahir dan batin kepada mereka berdua," jawabku.
"Din, ingat kapanpun kamu merasa tidak sanggup, kami selalu ada dan siap merangkulmu kembali," ucap Ibu kepada Medina yang terdengar seperti peringatan bagiku.
"Iya Bu, terimakasih, tapi Mas Musa sudah mengatakan kalau dia akan membahagiakan Medina Bu, Medina berharap hal-hal buruk tidak akan terjadi, doakan kami Bu, doakan Medina," tutur Medina.
Ibu mertuaku hanya mengangguk sambil membuang nafas dengan berat. Aku semakin penasaran apa yang mereka bicarakan tadi saat di rumah Mariam.
"Ibu minta tolong Mas Musa, titip anak Ibu, jangan biarkan dia menderita dan jangan lukai perasaannya," pinta ibu mertuaku lagi dengan haru.
"Insha Alloh Bu, saya akan menjaga Medina segenap hati dan jiwa saya, Ibu jangan khawatir, saya sangat mencintai Medina."
"Iya ... iya, ibu percaya, ibu pegang semua janji-janjimu." Airmata tidak bisa lagi ibu mertuaku sembunyikan, Medina pun ikut menangis, aku merengkuh perempuan-perempuan sholihah dan hebat ini ke dalam pelukanku.
🍀🍀🍀
"Dek, apa yang udah terjadi tadi di rumah Mariam?" tanyaku pada Medina sebelum beranjak ke peraduan malam.
"Mba Mariam bilang apa Mas?" jawab Medina membalas pertanyaanku dengan pertanyaan.
"Mariam nggak cerita apa-apa, tapi semua berjalan terasa begitu mudah Dek, amarah Ibu yang kamu khawatirkan pun menghilang begitu aja, Mas penasaran apa yang udah terjadi," terangku.
"Kita hanya ngobrol dan kenalan biasa Mas, karena pertolongan Alloh saja semua jadi mudah dan bisa diterima semua pihak dengan lapang dada," jawab Medina, aku tetap tidak merasa puas tapi mungkin memang bukan ranahku untuk tahu.
"Terimakasih Dek, dan maaf udah merepotkanmu," ucapku dengan tidak enak hati.
"Sudahlah Mas, sekarang tinggal jalani rumah tangga ini dengan seadil-adilnya, dan ... maaf kalau aku harus meminta jatah hari untuk Mba Mariam sekarang."
"Nggak papa Dek, Mas ngerti dan Mariam juga ngerti."
"Tapi apa kalau Mba Mariam nggak nyuruh Mas kesini, apa Mas akan tetap kesini atau bersama Mba Mariam?"
"Mas akan tetap kesini Dek, udah Mas niatkan hanya mampir untuk menengok Mariam dan Okta, serta ngasih nafkah untuk kebutuhan harian mereka yang belum sempet Mas kasih, Mas takut dosa kalau ditunda terlalu lama." Medina tersenyum mendengar jawabanku, sedari tadi dia memamg tersenyum tapi seolah dipaksakan.
"Benarkah Mas udah niat kemari?" tanya Medina.
"Iya benar, selama ibuku disini kamu juga melayaninya dengan baik, menyayanginya seperti menyayangi ibumu sendiri, aku pun harus melakukan hal yang sama."
"Tapi ... apa ini adil untuk Mba Mariam?"
"Insha Alloh adil Dek, Mariam juga tidak keberatan."
__ADS_1
"Syukurlah, terimakasih Mas ...!"
.