Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Malam yang Indah


__ADS_3

Malam ini menjadi malam terakhir kebersamaanku dengan Mas Musa. Ingin rasanya aku tidur dalam pelukannya sepanjang malam ini, tapi kami masih harus tidur terpisah, ibu mertuaku sudah tertidur pulas di sampingku. Sementara Mas Musa tidur di depan tv bersama Pak Iwan, tidak mungkin aku menyuruh ibu tidur bersama Mba Lastri di kamar belakang.


Besok aku akan ikut ibu pulang ke kampung Mas Musa, kandunganku yang sudah besar membuat ibu khawatir. Dan Mas Musa juga khawatir pada ibunya yang sedang sedih, berharap dengan adanya aku bisa sedikit mengobati kesedihan ibu. Bulan depan Mas Musa akan menyusul, dan kami tidak akan kembali ke kota ini lagi.


Kubolak-balikkan tubuhku, tidak nyaman rasanya, tapi inilah kenikmatan menjadi seorang ibu. Aku akhirnya keluar hendak mengambil air wudhu, lebih baik aku membaca Al-Quran.


Aku tercekat ketika mendapati Mas Musa yang masih terjaga, dari belakang aku bisa melihat punggungnya naik turun. Aku mendekat dan nampak potret Mas Musa dan Mba Mariam saat mereka menikah dulu di layar ponselnya. Cahaya layarnya nampak begitu terang, mengingat temaramnya lampu ruang tengah.


"Dek?" ucap Mas Musa yang terkejut menyadari kehadiranku, aku pun terkejut karena terlalu fokus pada potret yang Mas Musa tangisi tengah malam begini. Buru-buru dia menyembunyikan ponselnya, tapi aku sudah lihat, Mas.


Mas Musa berusaha menghapus sisa air mata di netranya, percuma juga, aku melihatnya.


"Mas bisa jelaskan, Dek," ucap Mas Musa.


"Medina nggak papa, Mas. Medina paham perasaan, Mas Musa." Apa salahnya menahan perih sedikit lagi, setelah ini Mas Musa hanya akan menjadi milikku, bahkan keluarga kami akan segera sempurna dengan lahirnya si jabang bayi.


"Kamu nggak tidur?" tanya Mas Musa.


"Medina nggak bisa tidur."


"Ayo duduk di teras!" ajak Mas Musa, aku mengangguk dan mengikuti langkah kakinya, setelah sebelumnya kuambil nafas yang berat dan panjang untuk menetralkan hatiku.


Mas Musa menarik tanganku dan membimbingku duduk di sampingnya. Dinginnya udara malam terasa segar ditengah kesakitan yang sedang dialami semua orang, kesakitan dengan sudut pandangnya masing-masing.


"Pasti semua ini berat bagimu, Mas," ucapku.


"Iya, Dek. Tapi ... mas beruntung ada kamu dan anak kita yang menjadi sumber kekuatan bagi mas."


Aku tersenyum mendengarnya, meskipun hatiku sakit dengan prasangka-prasangka yang tidak berhasil kuhalau setelah melihat potret Mba Mariam yang di pandangi suamiku.


"Mas ... menangis karena menyesal, Dek," ucapnya lagi.


"Menyesal?" tanyaku tidak mengerti.


"Iya, disini mas bahagia denganmu, dengan cinta kita, dengan rumah tangga kita, dan dengan calon buah hati kita. Apa pantas aku menikmati semua itu, Dek? Sementara ada wanita di luar sana yang sedang kesusahan karena sebuah benih yang terlanjur tumbuh di rahimnya seorang diri, harusnya mas juga menanggung sakit yang sama, minimal mas harus mendapat sedikit hukuman, bukan?" Mas Musa membuang nafas dengan berat, menyiratkan beban yang tidak ringan sedang ditanggung hatinya.


"Andai saja hal itu nggak terjadi, andai saja Mariam nggak harus hamil, dia pasti nggak akan kesusahan seorang diri, mas merasa sangat bersalah padanya," ucap Mas Musa, penyesalan tergambar jelas di wajahnya.


"Itu takdir, Mas. Jangan menyalahkan diri sendiri, apalagi menyesal, anak itu rejeki dari Alloh, dia suci, apapun yang terjadi pada orang tuanya." Aku berusaha menghibur Mas Musa dan membuang sejenak ego dan sakit di relung hatiku sendiri.

__ADS_1


"Mungkin akan lebih baik kalau anak itu mas yang merawat, biar Mariam bebas dan nggak terbebani oleh anak yang mungkin dia sendiri pun menganggapnya sebagai kesalahan."


"Mba Mariam nggak mungkin melakukannya, Mas. Dia tetaplah seorang ibu."


Bagaimanapun anak itu bukti kalau cintamu dan Mba Mariam pernah ada. Ah ... aku harus melupakannya, bukankah Mas Musa sudah berusaha hanya mencintaiku sepenuh hatinya? Tidak sepatutnya aku meragukannya.


"Tapi mas juga bingung, bagaimana caranya agar rasa bersalah di hati mas ini berkurang?" ucap Mas Musa lagi dengan sedih.


Aku pun sedih mendengarnya, pertanyaan Mas Musa tak ubahnya seperti jalan buntu.


"Apa masih mungkin bagi kalian untuk kembali? Rujuk demi anak itu dan menebus rasa bersalahmu, Mas?" tanyaku menguji, mungkin saja ini jawaban kegelisahan Mas Musa, ah ... bodohnya aku menanyakan ini. Sedetik kemudian aku menyesal.


"Enggak, Dek. Bukan itu jalan keluarnya, mas sudah berjanji padamu, dan mas tahu Mariam wanita yang memegang teguh prinsipnya, dan yang paling penting kisah itu memang sudah selesai," jawab Mas Musa dengan sedikit kesal karena pertanyaanku.


"Maaf, Mas, Medina hanya bingung, nggak tahu harus bagaimana membantu Mas Musa," sesalku.


"Cukup berhenti dan jangan membohongi dirimu sendiri lagi. Mas nggak mau lagi dibodohi, kalau hatimu sakit katakan saja sakit, jangan mengatakan sebaliknya seperti yang biasa kamu lakukan selama ini, jangan membuat mas semakin merasa bersalah karena menyakitimu lagi, Dek."


Mas Musa benar, hatiku sakit. Namun aku cukup senang dengan keteguhan hatimu sekarang, Mas. Tentu saja aku tersenyum simpul dan tersipu dengan jawabannya, untunglah Mas Musa mereda setelah melihat senyumku.


"Maafkan, Medina, Mas," rengekku manja.


"Bukan Mariam yang membuat hatiku berat dan sakit, tapi anak itu, darah dagingku, jadi ... berhenti membahas kesempatan untuk rujuk lagi, bahkan memikirkannya di kepalamu pun jangan pernah," lanjut Mas Musa penuh kesungguhan, aku tersenyum dan mengangguk.


"Kita berdoa agar Mba Mariam cepat membuka hati ya, Mas," ucapku.


"Aamiin, terimakasih, Dek."


"Besok kita harus berpisah sementara, kalau Medina kangen bagaimana?" ucapku seraya menyender pada bahu Mas Musa, sudah cukup meratapi masalah ini, saatnya untuk membahas aku dan Mas Musa.


"Sabar, Dek. Hanya sebulan, Insha Alloh setelah itu mas akan mengabdikan diri seutuhnya menjadi suami siaga, teman mas memberi kabar bahwa pekerjaan baru mas akan dimulai 6 bulan lagi."


"Benarkah?" ucapku girang, waktu bersama Mas Musa, adalah hal berharga bagiku.


"Iya, Dek. Lagi pula mas akan lebih tenang kalau sementara ini kamu dijaga oleh ibu, jadi ... kamu sabar ya," usap Mas Musa seraya mengecup puncak kepalaku yang tersender di bahunya. Romantis, itulah yang tergambar, kami sepasang manusia bahagia sedang menikmati udara malam yang dingin namun segar, setelah mengalami semua luka yang menyakitkan ini.


"Mas nggak usah khawatir, ya, selain ibu yang menjaga Medina, Medina juga akan menemani ibu dan menghibur ibu," ucapku mengerti kekhawatirannya.


Mas Musa menatapku malu, aku mampu membaca hatimu, Mas. Bukan hanya aku yang kamu khawatirkan, tetapi juga ibumu. Selain masalah Mba Mariam, ibu juga sedih saat kakak Mba Mariam mengungkit tentang Mas Harun. Aku ... cepat mengerti kan, Mas?

__ADS_1


"Terimakasih, Dek. Baik-baik nanti di sana, jangan lupa beri mas kabar dan jangan lupa, bacakanlah Alquran pada calon anak kita."


"Iya, Mas. Medina akan ingat pesan Mas Musa, bila anak ini laki-laki pasti akan tampan sepertimu, Mas."


"Iya, kalau perempuan pasti cantik sepertimu, Dek. Akhlaknya juga pasti mulia sepertimu," ucap Mas Musa.


'Aamiin, tapi aku harap nasib percintaannya akan jauh lebih baik,' batinku.


Kupeluk erat tubuh suamiku, "Sekarang aja Medina sudah rindu."


Mas Musa kembali mencium puncak kepalaku, cukup lama Mas Musa mendaratkan kecupannya disana. Entahlah, mungkin hatinya sedang mengucapkan sesuatu, aku mungkin tidak mendengarnya, bahasa cinta yang selalu Mas Musa lantunkan dalam doa. Tapi, aku yakin akan sampai ke hatiku.


Ciuman Mas Musa berpindah ke keningku, kehangatan merasuk ke dalam hatiku. Mengalir di setiap aliran darahku, dan mengobati setiap luka di dalam jiwa dan ragaku dengan cinta.


Separah ini lukaku, namun sebahagia ini ganjaranku, menjadi seorang istri Musa Hamizan.


Kamu, adalah cinta pertama dan terakhir bagiku. Seperti layaknya perang, aku pun bertekad mempertaruhkan segalanya agar menang. Aku siap terluka namun tetap berusaha untuk menggapai bahagia.


Kamu, adalah kemenangan yang berhasil kuteguk manisnya. Buah dari kesabaran dan pengorbananku yang sepenuh hati. Tapi, tahukah kamu, Mas? Aku bahkan mempersiapkan diri untuk kalah, tidak apa-apa, aku tetap melakukannya sepenuh hati dan jiwaku, agar aku kalah dengan tersenyum, bukan dengan penyesalan.


Kamu adalah surgaku.


Ciuman Mas Musa bermuara di bibirku, bergerak dengan lembut dan penuh cinta. Bukan hanya gairah, tapi rasa nyaman yang luar biasa. Aku serasa terbang, kedua tanganku melingkar di lehernya, dan kedua tangan Mas Musa memeluk erat pinggangku yang bengkak.


Tidak ada lagi prasangka, dan tidak ada lagi bayang-bayang Mba Mariam.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2