
Medina pulang ke rumah dalam keadaan gusar. Nafasnya terengah-engah karena perutnya yang besar. Apakah benar kabar yang baru saja Bu Indri sampaikan?
Medina cepat-cepat memeriksa ponsel yang sedari pagi diabaikannya. Memeriksa kabar dari grup dengan hati berdegup dan tangan gemetar. Dia menyimak satu persatu, kabar dimana Mariam membutuhkan pendonor darah secepatnya di Rumah sakit.
Air mata mulai lolos dari netranya, menyadari kebenaran dari desas desus yang dia dengar. Entah kenapa dia yakin kalau Mariam benar-benar hamil.
Mendadak Medina merasa dunianya berputar, seiring rasa takut kehilangan yang membuat nafasnya pendek dan sesak. Medina meletakan ponselnya namun pandangannya mulai kabur hingga ponsel itu jatuh. Medina merosot ke lantai, keringat dingin mulai membanjiri sekujur tubuhnya, Medina bersandar pada tembok, dan berusaha meraih kembali kesadarannya.
"Mba Mariam hamil?" gumamnya.
"Kenapa dia memintaku dan Mas Musa pergi dari tempat ini?"
"Karena Mba Mariam ingin terus menyembunyikan kehamilannya!"
"Kenapa dia ngotot meminta pisah kalau dia sendiri sedang hamil?!"
"Mba ... kamu berhutang banyak penjelasan."
Medina semakin merasa sesak, pikirannya liar menebak-nebak apakah suaminya tahu? Apakah Ibu mertuanya tahu? Apakah hanya dirinya yang tidak tahu?
Medina merasa dirinya telah dibodohi, perceraian Musa dan Mariam yang tidak terprediksi justru membuatnya merasa dikhianati. Berapa banyak yang dirinya tidak tahu? Semakin banyak semakin membuat hatinya sesak. Padahal selama ini dia sudah memamerkan hatinya yang sekuat baja, agar apapun kenyataan cinta diantara keduanya bisa diceritakan secara gamblang di depannya.
Semakin mereka berdua menutupi justru hatinya semakin sesak seperti paru-paru yang kehabisan oksigen.
"Apa rencana kalian berdua? Apa yang kalian tutupi dariku?" gumam Medina sambil terisak.
Tangan Medina meraba perut besarnya, anak yang sangat dia impikan, keturunan Musa yang dia minta kehadirannya setiap malam di sepanjang doa dan sholatnya.
"Nak? Apa kamu bisa merasakan kalau kamu punya saudara yang tidak sekandung denganmu?" lirih Medina.
Masih terduduk di lantai dan bersandar pada tembok, Medina menangis memeluk calon buah hatinya, dia tidak berusaha bangkit, kakinya lemah setelah sekian lama berusaha kuat. Air matanya menganak sungai mengisyaratkan sesak di hatinya yang tidak lagi terbendung.
"Dulu, saat pertama kali mengetahui Mas Musa masih mencintai wanita lain, aku bisa kuat. Tapi sekarang, aku merasa tercabik-cabik, merasa dikhianati. Mas Musa, Mba Mariam, kenapa kalian tidak jujur saja?!" rintih Medina.
Beberapa saat kemudian, Bu Aini dan Musa pulang ke rumah setelah mengunjungi Oktavia. Medina telah berhasil menguasai dirinya kembali, info dari grup pengajian mengabarkan kalau darah yang dibutuhkan Mariam telah didapat. Hati Medina curiga, suami dan ibu mertuanya ada di balik semua ini.
"Oktavia sehat, Bu?" tanya Medina berbasa-basi.
"Sehat, Alhamdulillah ... tadi kita pulang sekalian nganterin Oktavia berangkat ke Madin," jawab Bu Aini.
"Oh ... apa ada Mba Mariam juga di rumah?"
"Ya ... begitulah Din, seperti dugaan ibu. Mariam jarang di rumah dia sangat sibuk, kasian Oktavia harus tumbuh dan berkembang di tangan pengasuh. Keputusan ibu nggak salah dengan merawatnya, Mariam berhasil menjadi tulang punggung, tapi perannya sebagai ibu mulai terabaikan."
Medina berusaha mencerna perkataan ibu mertuanya, tidak ada indikasi kebohongan di sana. Berusaha mencari keterlibatan ibu mertuanya pada rahasia Mariam dan Musa.
"Harusnya kamu tadi ikut Din, kamu akan sedih melihat tatapan bocah kecil itu yang kesepian dan haus kasih sayang. Ayahnya meninggal dan ibunya sibuk bekerja," ucap Bu Aini lagi dengan penuh empati.
"Sudah, Bu. Yang penting Mariam memberikan ijin ibu untuk merawat Okta sementara waktu," ucap Musa menimpali.
"Iya, ibu kasian sekali melihat anak itu. Din, kamu jangan salah sangka ya dengan kasih sayang ibu pada Okta," ucap Bu Aini melihat raut wajah tak biasa pada Medina.
__ADS_1
"Eng-enggak Bu, Medina paham, kok."
"Mizan sama Mariam mau menikah ataupun tidak, ibu dan Bu Sri juga dekat, jangan sampai karena mereka bercerai hubungan ibu jadi nggak enak. Ibu hanya berusaha memperbaiki apa yang masih bisa diselamatkan. Soal Mizan dan Mariam kan ibu nggak bisa berbuat apa-apa."
"Medina ngerti kok, Bu. Ibu jangan sungkan sama Medina," ucap Medina setelah menyimpulkan mertuanya tidak tahu apa-apa.
"Matamu sembab, Dek. Kamu baik-baik aja?" bisik Musa pada Medina, Medina hanya tersenyum.
"Ponselmu di mana, Mas?" tanya Medina.
"Oh, tadi mas tinggal di kamar. Apa kamu nyariin, mas?"
"Enggak, jadi Mas Musa nggak pegang ponsel selama bersama Oktavia?"
"Enggak, mas buru-buru jadi nggak sempet bawa. Ada apa, Dek?" tanya Musa, dia hendak bangkit dan mengambil ponsel di kamarnya namun tangan Medina mencegahnya.
"Nggak usah, Mas. Medina nggak nyariin kok, Medina cuma nanya." Batin Medina semakin bertanya-tanya, mereka menyimpan rahasia lewat apa?
"Ibu permisi dulu mau istirahat," ucap Bu Aini seraya beranjak pergi, meninggalkan Musa dan Medina.
"Iya, Bu."
"Mas, boleh Medina minta sesuatu?" tanya Medina setelah Bu Aini pergi.
"Boleh, Dek. Minta apa?"
"Medina minta Mas Musa jujur," ucap Medina, beribu tanya dalam hatinya tidak mampu ditahan lagi.
"Perihal Mba Mariam."
"Apa yang ingin kamu tahu?"
"Apa Mas masih menyembunyikan sesuatu? Sesuatu yang besar, yang nggak mungkin bisa ditutupi selamanya."
"Maksud kamu apa, Dek?"
"Apa Mas benar-benar putus hubungan dengannya?"
"Dek, setelah mas mengucap talak. Mas sangat membatasi komunikasi apapun dengan Mariam, bahkan mengurus perceraian pun mas dan Mariam tidak pernah bertemu langsung, semua melalui perantara temen mas sebagai pengacara."
"Mas bertemu lagi dengan Mariam pun tadi pagi, dengan ibu sebagai penengah. Ibu mengajak bertemu Oktavia pun mas sanggupi karena tahu Mariam tidak ada di rumah saat itu." Musa menjelaskan panjang lebar, dan Medina mendengarkannya dengan seksama.
"Apa yang kamu curigai, Dek? Semua yang terjadi kamu tahu, mas bahkan sudah berjanji padamu, baik perasaan dan ikatan antara mas dan Mariam sudah berakhir dengan dewasa. Apa yang mengganjal di hatimu, Dek?"
'Mas Musa sepertinya tidak tahu kabar kehamilan Mba Mariam, jangan-jangan Mba Mariam menyembunyikan semuanya seorang diri!' batin Medina setelah mendengar semua penuturan Musa yang dirasa sangat jujur.
"Dek, maaf kalau semua tentang Mariam membuatmu begitu terluka. Tunggu sebentar lagi, kita bisa meninggalkan tempat ini dan memulai hidup baru bersama anak kita."
Deg!
Medina ingat bagaimana hari itu Mariam memohon padanya untuk membujuk suaminya agar meninggalkan kota ini.
__ADS_1
'Mba Mariam menyembunyikan kehamilannya dari Mas Musa!' batin Medina.
Tangan Medina kembali bergetar menyadari semua kejadian yang janggal. Bila Mariam memintanya pergi agar suaminya tidak tahu kalau dia hamil. Apakah ini adil?
"Kamu kenapa, Dek?" tanya Musa khawatir melihat perubahan emosi Medina.
Medina tidak mampu menutupi sesak yang ada di hatinya, dilema yang ada di pikirannya. Haruskah dia memberi tahu suaminya? Atau tidak? Apakah suaminya akan tetap menjaga janjinya untuk tidak kembali pada Mariam setelah mengetahui mereka punya anak?
Medina diam dan dikuasai ketakutan yang besar. Medina meraih kedua tangan Musa dan menggenggamnya dengan erat. Bibirnya kelu untuk berkata-kata.
"Dek?"
Medina masih diam, berusaha meredam kegusaran yang begitu menyakitkan.
"Jang--an tinggalin Medina, Mas. Apapun yang terjadi, jangan kembali pada Mba Mariam, apapun yang terjadi," ucap Medina dengan bibir gemetar.
Musa melepas pegangan tangan Medina dan menggantinya dengan sebuah pelukan. Musa bisa merasakan isak yang coba Medina tahan. Musa mengusap lembut kepala hingga punggung Medina, berusaha menenangkan kegusaran dalam diri Medina yang tidak dia mengerti.
"Maaf kan mas, Dek. Mas nggak menyangka, lukamu sedalam ini. Andai mas tahu, kamu hanya berpura-pura sanggup berbagi, mas nggak akan menikahi Mariam dulu."
'Pada dasarnya wanita itu sama, Mariam yang berkata jujur bahwa dia tidak sanggup berbagi cinta, sementara Medina hanya memaksakan diri untuk sanggup,' batin Musa.
"Kalau harus disalahkan, Medinalah yang salah. Medina yang memaksa kalian menikah, tapi ... Medina nggak menyesal, karena melalui Mba Mariamlah Mas Musa bisa mencintai Medina," ucap Medina.
"Medina yang bersalah pada Mba Mariam, karena harus melibatkannya dalam rumah tangga kita. Medina memanfaatkan Mba Mariam agar Mas Musa bisa cinta pada Medina." Medina menyesal mengingat ketika Mariam menyuruhnya menjauh dan jangan mengungkit masa lalunya, tapi dia tetap mengorek kisah cintanya.
"Dulu, Medina memang baik-baik saja Mas, tapi sekarang Medina sangat cemburu mendengar apapun tentang kalian. Apa Medina salah, Mas? Apa Medina jahat karena Medina bahagia dengan perceraian kalian?"
"Nggak, Dek. Itu hak kamu. Salah satu pertimbangan mas menceraikan Mariam, adalah kebahagiaanmu. Sudah saatnya mas melepas cinta yang semu dan memberikan cinta yang sejati padamu."
"Benarkah, Mas?"
"Fakta kalau Mariam tidak bahagia dengan pernikahan ini, dan fakta bahwa kamu harus tersakiti dengan pernikahan ini. Semua menjadi alasan yang kuat untuk mengakhirinya," jawab Musa.
"Kalau Mba Mariam bahagia, apa Mas Musa akan tetap mengakhirinya?"
"Kalau Mariam bahagia, dia akan berusaha membuatmu tidak terluka. Tapi nyatanya dia terus mencari celah bahkan celah terkecil sekali pun agar bisa berpisah. Ketidak mauannya telah menyakiti dan menodai usahamu untuk ikhlas berbagi."
"Mas ... apa Mas benar-benar belum pernah menyentuh Mba Mariam selama pernikahan itu?" tanya Medina.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.