
Kami menyewa hotel yang dekat dengan rumah sakit untuk singgah, agar Bapak dan Pak Iwan nyaman dan aku mudah bolak balik menengok Mariam dan anakku. Tidak lupa kukirimkan foto anakku dan Mariam yang sempat kuambil sebelumnya pada Medina, berharap dia mengerti keadaanku disini dan ikut mendoakan keselamatan keduanya.
[Sabar, Mas! Ini ujian yang lagi-lagi harus kita lewati, semoga si dede dan Mba Mariam kuat ya, Mas] tulis Medina dalam pesannya.
[Maaf ya, Dek. Mas harus ninggalin kamu dan Sabira]
[Medina mengerti, Mas. Medina merasa bersalah pada Mba Mariam, mintakan pengampunan untuk Medina pada Mba Mariam ya, Mas] kalimat terkahir Medina membuat firasat itu semakin menakutkan.
[Mariam pasti sembuh, Dek. Kamu bisa bicara langsung padanya nanti]
Malam berlalu dengan sangat lambat, kuadukan semua beban di hatiku pada Sang Maha Pencipta dan Pemberi Kehidupan. Sebenarnya berat hatiku untuk pergi dan istirahat di tempat senyaman ini, tapi keluarga Mariam masih nampak sangat kecewa dan marah atas semua peristiwa yang terjadi. Jadi kuputuskan untuk memberi mereka ruang.
Keesokan paginya kusempatkan untuk mengunjungi makam Pak Biantara terlebih dahulu sebelum datang ke rumah sakit. Biasanya Mariam tidak pernah absen mendatangi tempat ini setiap jumat pagi, dan pada hari jumat ini aku lah yang datang mewakili Mariam.
"Maafkan aku Pak Bian, aku masih jauh dari kata layak untuk menjaga Mariam. Bahkan yang kulakukan justru sebaliknya, membuatnya menderita bahkan sekarang nyawanya terancam. Aku masih belum menemukan hikmah dibalik kepergianmu, Pak. Kamu adalah lelaki hebat yang berhasil membentuk Mariamku yang dulu lemah menjadi Mariam yang lain, yang kuat menghadapi dunia yang begitu keras. Ah, bukankah orang baik memang lebih disayang Alloh?"
Kondisi Mariam mulai menunjukan kemajuan meskipun masih belum banyak merespon namun dokter mengatakan masa kritisnya sudah terlewati anakku pun mulai membaik, paru-parunya telah matang dan berat badannya perlahan naik. Keluarga Mariam masih membatasiku untuk tidak mendekat padanya. Di rumah ibuku rutin menggelar pengajian khusus untuk mendoakan Mariam dan anakku. Berbagai cara orang tuaku lakukan untuk menebus rasa bersalahnya pada keluarga Mariam.
Seiring kondisi Mariam dan anakku yang membaik, Bu Sri pun mulai melunakan sikapnya padaku, hanya Mas Faisal yang semakin hari justru semakin bertambah sinis. Selain karena masalah pribadinya dengan Mas Harun yang berlarut-larut, sekarang dia menyalahkanku sepenuhnya atas kondisi Mariam. Sementara Pak Maulana berusaha dengan bijak membuat suasana canggung diantara kami menghilang, meskipun aku tahu hatinya juga sedang kacau.
"Mas Musa, sudah 7 hari, berilah anakmu nama," ucap Pak Maulana.
"A-apa?" Jujur aku merasa tidak pantas.
"Biar aku yang memberi nama!" pekik Mas Faisal yang tiba-tiba datang.
"Jangan lancang Sal, bagaimanapun Mas Musa berhak memberinya nama," tukas Pak Maulana.
"Dia anak Mariam, Pak! Laki-laki ini hanya menghamilinya dan melimpahkan semua penderitaan pada Mariam seorang diri, sementara dia asik menikmati kehidupan dengan istrinya. Dia pikir uang bisa menyelesaikan segalanya?!" ucap Mas Faisal tepat di wajahku.
"Sudah, Mas. Jangan bahas lagi masalah ini, kita harus ikhlas dan fokus pada kesembuhan Mariam," ucap Bu Sri menimpali.
"Penderitaan Mariam tidak bisa dibayar dengan uang, Pak!"
'Aku paham luka keluargamu, Mar. Aku membiarkan diriku dicaci maki oleh Mas Faisal,' batinku.
"Mas Faisal benar, Bu, Pak, saya nggak pantas memberi nama anak itu, bahkan mengaku ayahnya saja saya malu," ucapku.
__ADS_1
"Tapi anak itu berhak mendapatkan sebuah nama darimu, apapun perbuatanmu, apapun yang terjadi diantara kalian dan keluarga kita, bukan tanggung jawab anak itu sampai dia harus kehilangan haknya untuk sebuah nama. Sudah-sudah, jangan diperpanjang," ucap Pak Maulana bijak.
Mas Faisal mendengus kesal kemudian pergi menjauh, sebenarnya aku merasa nyaman ketika Mas Faisal memaki-maki dan menelanjangi segala kehilafanku, meski tanpa perlu disalah-salahkan rasa bersalah sudah ada dan membuat hatiku sesak dan terbebani, hanya saja merasakan luapan amarah Mas Faisal membuatku sedikit lebih baik.
Tepukan Pak Maulana di pundak menyadarkanku dari lamunan.
"Seandainya ada yang hal yang bisa saya lakukan menebus semuanya, pasti akan saya lakukan! Saya benar-benar merasa bersalah," ucapku putus asa namun tulus.
"Bapak mengerti, ya sudahlah, ini memang takdir, udah Gusti Alloh gariskan untuk Mariam anak kami, orang-orang disekitarnya hanya perantara,
mau di apa-apakan juga semua sudah terjadi, kalau menuruti emosi dan menyalahkan orang satu persatu tidak akan merubah keadaan Mariam, bapak hanya minta doa saja, yang terbaik untuk Mariam!"
"Benar Mas Musa, ibu juga bersalah, tapi ibu berusaha memaafkan diri sendiri, Mariam pasti akan sedih bila melihat kita begini," ucap Bu Sri, walau dirinya berusaha memperlihatkan keihlasan tapi wajahnya tidak bisa berbohong, yang terpancar adalah keputus asaan.
"Sabiru Muhammad Ahza, aku ingin dia menjadi lelaki yang beruntung."
"Bagaimana, Pak?" sambungku.
"Alhamdulillah, kita pakai nama itu saja," ucap Pak Maulana tanpa mendebat sedikitpun.
"Sebaiknya Bapak dan Ibu pulang dulu dan istirahat, biar saya dan Bapak yang gantian berjaga disini, jangan sampai Bapak dan Ibu sakit," usulku melihat keadaan mereka yang mulai kelihatan lelah lahir dan batin.
Awalnya Bu Sri dan Pak Maulana menolak, namun setelah sedikit kubujuk mereka akhirnya mau beristirahat dan pulang ke rumah. Kita tidak tahu sampai kapan Mariam harus di rawat, setidaknya kita harus berbagi peran untuk bisa menghandel semuanya.
Kutatap Mariam yang masih terbaring tak berdaya di ICU dari jendela, "Bangunlah Mariam!!! Maki-makilah aku seperti biasanya," gumamku pilu.
Sebenarnya aku rindu pada Sabira dan Medina, namun aku malu, apa masih pantas aku menikmati kebahagiaan sementara Mariam dan Sabiru sedang berjuang untuk kehidupannya.
"Zan?" panggil bapak menyadarkanku.
"Iya, Pak," sahutku.
"Sabar ... karena bagi Alloh membuat orang jatuh itu mudah, tapi mudah juga bagi-NYA memuliakan orang itu kembali. Ini cobaanmu, Zan. Teruslah berdoa untuk kesembuhan mantan istri dan anakmu."
"Iya, Pak," jawabku lirih, hatiku berat untuk memahaminya karena keadaanku yang terpuruk, tapi aku tetap percaya.
Beberapa saat kemudian Dokter datang dan memeriksa Mariam, aku hanya bisa menyaksikannya dari luar. Aku terus berdoa dan berharap Mariam segera sadar.
__ADS_1
Setelah Dokter keluar, kuhampiri Dokter untuk menanyakan keadaan Mariam.
"Maaf, Bapak siapanya pasien?" tanya Bu Dokter.
"Ehm, saya mantan suami pasien dan ayah dari bayi pasien, Bu," jawabku.
"Ohh ...." Raut wajahnya berubah masam dan seperti meremehkanku, entah memang seperti itu atau hanya perasaanku.
"Pasien mulai membaik, mulai sadar walaupun belum bisa berkomunikasi secara baik," jawab Bu Dokter di depanku.
"Alhamdulillah," seruku mengucap syukur.
"Untuk kasus Bu Mariam saya pribadi merasa prihatin, disaat kehamilannya bermasalah dan harus mendapat perhatian ekstra, justru dia harus menjalani perceraian," ucap Bu Dokter sebelum berlalu.
"Benar, keadaanmu memang memprihatinkan, Mar!" gumamku.
Aku harus apa? Haruskah kujelaskan pada semua tentangmu, tentang kita, dan tentang Medina? Melelahkan, bukan?
Mariam ... sepenuhnya aku sadar, kamu bukanlah sesuatu yang bisa kugenggam. Bahkan semua hal buruk yang menimpamu adalah dampak dari usahaku yang pernah menggenggam dan mempertahankanmu. Tapi, dimata mereka yang tidak mengerti akan mengatakan semua terjadi karena aku melepasmu.
Bila terus kugenggam aku yakin kau akan terus kesakitan, dan meskipun kau akan tetap kesakitan saat aku melepasmu, tapi kuyakin suatu saat kau akan bahagia.
Biarlah dunia menilai kita dari mata mereka masing-masing, aku tetap paham apa yang menjadi keinginanmu. Andai tidak meninggalkanmu adalah jalan keluar, pasti akan kulakukan. Andai kembali menikahimu akan memperbaiki keadaan, pasti akan kulakukan. Tapi ... kau dan aku sama-sama tahu, bukan itu.
🍀🍀🍀
"Bu ... biarkan aku bicara pada Mariam," pintaku pada Bu Sri.
"Pulanglah ke kampung Mas Musa, biarkan Mariam tenang," tolak Bu Sri.
Hari ini hari ke-10, Mariam telah sadar dan mulai bisa diajak berkomunikasi, namun orang tua Mariam dan Mas Faisal justru menghalangiku mendekati Mariam.
"Tolong, Bu, kalau Mariam yang memintaku pergi, aku akan pergi," pintaku memohon.
"Saya nggak akan nyakitin anak ibu, izinkan saya bicara sebentar," bujukku lagi.
Bu Sri bergeming dan terlihat menimbang-nimbang keputusannya, aku harus bertemu Mariam mumpung Mas Faisal tidak ada, kalau ada pastilah dia mengusirku mentah-mentah.
__ADS_1