
"Mari menjalani hidup baru, Dek!" ucap Musa dengan lembut.
"Tapi Mba Mariam hamil, Mas!" ucap Medina pada akhirnya.
"Apa?!"
Musa terperanjat dengan pernyataan Medina.
"Dek, jangan mengada-ngada. Kemarin Mariam masih baik-baik aja, dia nggak hamil. Bagaimana dia bisa hamil sementara kami sudah bercerai?"
"Mba Mariam hamil, Mas!" ulang Medina dengan terisak.
Sementara Musa terdiam masih dengan hatinya yang tidak percaya, mencoba mencerna apa yang sedang Medina ucapkan, mencoba menghubung-hubungkan keanehan sikap Medina dengan kabar yang keluar dari mulutnya.
"Nggak mungkin, Dek!"
"Apanya yang nggak mungkin, Mas? Kalian pernah menikah dan Mas juga mengatakan kalau nggak mungkin Mas nggak pernah menyentuh Mba Mariam."
Ucapan Medina membawa Musa kembali pada malam saat di rumahnya. Saat itu untuk pertama kalinya Mariam mengakui kalau dia masih mencintai Musa, kenangan masa lalu dan kisah mereka begitu kental di tempat itu. Mariam tidak bisa melawan gejolak hatinya menantang kenangan kisah indah yang pernah mereka lalui bersama.
Sikap Mariam menghangat, hatinya kembali terbuka. Dan untuk pertama kalinya Musa melakukan hubungan suami isteri dengan Mariam. Pertama dan juga terakhir kalinya.
"Nggak mungkin," gumam Musa lirih.
"Nggak mungkin Mariam hamil," ucap Musa lagi, raut wajahnya mulai kacau.
"Mas ...."
"Katakan itu nggak bener, Dek!"
"Selamat Mas, selain dari Medina, Mas juga akan segera punya anak dari Mba Mariam," ucap Medina sambil menangis.
"Nggak, Dek."
"Kandungan Mba Mariam sudah berusia 5 bulan, hanya beda sedikit dengan Medina, Mas. Mba Mariam tahu dirinya hamil setelah Mas Musa menjatuhkan talak padanya," ungkap Medina.
Musa masih diam, wajahnya penuh ketidak percayaan. Setelah semua usahanya melaju ke depan bersama Medina, kenapa takdir justru menyeretnya lagi kebelakang?
"Astaghfirullohaladzim ...." Musa membenamkan kepala pada lututnya, sementara tangannya mengacak-ngacak rambutnya dengan kesal.
Medina merapatkan tubuhnya dan memeluk Musa.
"Ini menyakitkan bagi Medina, Mas, tapi Medina tersiksa bila harus diam, sudah menjadi hak anak itu dan hak Mas Musa untuk saling tahu."
"Ya Alloh ..., " seru Musa yang tertelan tubuhnya sendiri.
"Kenapa Mariam nggak bilang, Dek? Mas hanya menjatuhkan talak satu padanya, kalau dia benar-benar mengandung anakku dia bisa saja kembali dan memintaku bertanggung jawab."
"Kita semua tahu, bukan hal seperti itu yang diinginkan Mba Mariam."
Musa kembali tenggelam dalam perasaannya yang kacau. Bahkan, dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
"Keadaan Mba Mariam nggak baik-baik aja, Mas," ucap Medina.
"Dia mengalami kelelahan yang hebat, dia juga mengalami anemia akut hingga harus di transfusi. Beban mental dan psikisnya juga berat," tutur Medina lagi.
__ADS_1
Musa yang mendengarnya semakin merasa bersalah, bagaimana bisa Mariam melewati semua itu seorang diri.
"Benarkah?" tanya Musa, Medina mengangguk sambil menghapus air matanya.
"Ya Alloh ... Astaghfirullohaladzim!!!" bulir bening mulai meluncur dari sudut mata Musa.
Hati Medina teriris melihat reaksi Musa di depannya. Medina paham kenyataan ini tidak mudah diterima siapapun, baik dirinya, Musa, bahkan Mariam pun kesulitan menerimanya. Namun, inilah yang terjadi.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang, Mas?" tanya Medina.
"Ayo ke rumah sakit, kalau memang Mas Musa ingin memastikannya sendiri, atau Mas ingin menemui Mba Mariam, menanyakan semua pertanyaan yang Mas Musa ingin tahu jawabannya."
Musa hanya diam, tidak menanggapi ajakan Medina. Sementara Medina merasa beban di hatinya sudah berkurang, kini dia hanya tinggal menunggu keputusan suaminya.
"Ayo mampir ke masjid sebentar, Dek!" ucap Musa dengan suara yang serak, ternyata dalam diamnya dia menangis.
Musa berdiri dan menggandeng tangan Medina untuk berjalan bersamanya. Medina yang sadar suaminya sedang dilanda kegalauan hati yang luar biasa segera memegang lengan Musa dengan kuat, untuk memberinya sedikit kekuatan.
Mereka berjalan dalam diam menuju sebuah masjid besar di dekat taman, masih nampak ramai para jamaah disana meskipun hari sudah malam. Ada yang sholat ada yang sekedar numpang beristirahat.
Medina hanya menunggu Musa yang sedang melaksanakan sholat, bukan sholat Isya tentunya, hanya dua rokaat. Dari belakang Medina melihat punggung Musa berguncang, dia tahu suaminya sedang mengadu.
"Aku pasrah pada-Mu Ya Alloh. Apapun nanti yang akan terjadi," gumam Medina.
Cukup lama Medina membiarkan suaminya sendiri, entah apa yang dirasakannya. Anehnya, hati Medina yang porak poranda justru terasa lebih damai setelah dirinya jujur. Rasa takut masih ada, namun dirinya telah pasrah pada apapun kemungkinan yang bisa terjadi nanti.
Satu persatu pengunjung mulai pergi, menyisakan beberapa orang yang masih betah berteduh. Medina mulai terkantuk-kantuk menunggu Musa.
"Dek?" panggil Musa.
"Maaf, mas lama ya?"
"Nggak papa, Mas. Medina tahu Mas butuh ketenangan yang nggak sedikit menghadapi semua ini."
"Terimakasih, Dek. Kamu telah memberi tahu hal ini, maaf kalau mas sempat bingung dan tenggelam dalam pikiran mas sendiri, padahal kamu pasti mengalami hal yang sama, hatimu pasti nggak baik-baik saja."
"Medina juga sempet mikir untuk diam dan membiarkan Mba Mariam yang bicara sendiri suatu saat nanti, tapi hati Medina gelisah, Medina merasa bersalah."
"Lantas, apa yang akan Mas Musa lakukan sekarang?" tanya Medina.
"Entahlah, pastinya mas harus menemui Mariam dan bertanya padanya secara langsung. Bagaimanapun anak itu darah dagingku, Dek. Mas nggak mungkin mengabaikannya."
"Bagaimana dengan Mba Mariam? Mas akan rujuk?" tanya Medina memberanikan diri.
Sejenak Musa terdiam mendengar pertanyaan Medina, ucapan bahwa Medina tidak ingin lagi berbagi masih terngiang di telinganya. Dan dirinya pun telah berjanji untuk membahagiakan Medina, janji yang bersumber pada tekat yang tulus dalam hatinya.
"Alasan Mariam menyembunyikan kehamilannya pasti karena dirinya tidak ingin mas memintanya untuk rujuk. Dia, begitu mendambakan kebebasan dari pernikahan itu," jawab Musa.
"Itu kan, Mba Mariam. Bagaimana dengan dirimu, Mas?"
"Tentu saja mas akan dan harus tetap bertanggung jawab pada anak yang dikandung Mariam. Tapi, bertanggung jawab bukan berarti harus rujuk, Dek."
"Benarkah?"
"Iya, sebagaimana Ibu yang tetap berusaha bertanggung jawab pada Oktavia, mas juga harus memperjuangkan kewajiban serta hak mas sebagai seorang ayah."
__ADS_1
"Mas hanya harus bicara pada Mariam, mas yakin semua nggak akan mudah. Tapi sebelumnya, banyak sekali pertanyaan yang ingin mas tanyakan padanya."'
"Apa Mas Musa menyesal menceraikan Mba Mariam?" tanya Medina.
"Mas menyesal karena baru tahu semua ini. Mas hanya merasa kasihan padanya karena harus menangung semua seorang diri, melewati kehamilannya yang tidak mudah, masih harus memikirkan Oktavia, dan juga usaha konveksi dan tokonya, ditambah masih harus membohongi banyak orang."
"Benarkah Mas Musa nggak ingin kembali pada Mba Mariam?" tanya Medina dengan sendu.
"Enggak, Dek. Mas ... sudah selesai dengannya."
"Bahkan hatimu?" tanya Medina memastikan.
"Iya, Dek."
"Jujur saja, Medina takut kehilangan Mas Musa," ucap Medina dengan menangis haru.
"Mas sudah janji akan membahagiakanmu, Dek," ucap Musa mencoba menenangkan Medina, Medina pun terkejut dengan jawaban yang Musa berikan padanya. Selama beberapa saat Medina larut dalam ketakjubannya sendiri, rasa tidak percaya bahwa akhirnya Musa hanya memilih dirinya.
"Medina berjanji, akan menerima dan menyayangi anak Mas Musa dan Mba Mariam sama seperti anak kandung Medina sendiri nantinya."
"Terimakasih, Dek." Ucapan Medina terasa aneh bagi Musa, karena dirinya bahkan belum sepenuhnya percaya akan mendapatkan 2 anak sekaligus.
"Maukah kamu menemani mas menemui Mariam esok, Dek?" tanya Musa.
"Tentu saja, Mas."
"Bagaimana dengan ibumu, Mas? Haruskah kita memberitahunya juga?"
"Sabar dulu, Dek. Kita harus memastikan banyak hal pada Mariam, seberapa rapat dia menyimpan kabar kehamilannya? Apakah keluarganya tahu? Atau dia benar-benar nekat menyimpan semuanya seorang diri?"
"Benar juga, Mas. Tapi ... sebenarnya Mba Mariam pun belum tahu kalau ternyata Medina tahu tentang kehamilannya. Saat Medina menemuinya dia masih tertidur, dan Teh Desi yang menceritakan semuanya, itu juga karena terpaksa karena Medina sudah menangkap basah mereka."
"Benar-benar nekat, Mariam!" gumam Musa.
"Mas, kita harus hati-hati. Jangan sampai menambah beban pikiran Mba Mariam, kemungkinan Mba Mariam pun tidak menginginkan kehamilan ini, tapi dia tetap menjalaninya. Sesuatu yang nggak mudah untuk kita tapi bagi Mba Mariam pun itu sulit."
"Kamu benar, Dek. Syukurlah Mariam masih diberi kewarasan untuk tidak menggugurkan anak itu."
"Mba Mariam nggak sekeji itu, Mas."
"Ayo kita pulang, ibu pasti sudah menunggu."
'Semoga semua benar-benar dari hatimu, Mas. Bukan sekedar penenang bagiku," batin Medina.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.