Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Ada yang Salah Dengan Hatiku


__ADS_3

"Mau saya carikan, Sa?"


Pertanyaan Mas Arifin membayang terus di kepalaku. Apa-apaan ini? Aku harus bicara dengan Mas Musa, biar tidak terlalu dekat-dekat dengan kawan lamanya itu. Bisa-bisa otak Mas Musa tersugesti untuk melakukan hal yang sama.


Walaupun dalam hati aku percaya, Mas Musa tidak mungkin melakukannya. Tetap saja aku takut Mas Musa terbawa oleh lingkaran pertemanan itu. Aku tidak akan sanggup berbagi lagi, aku tidak akan sanggup menerima wanita lain lagi. Bagiku, menerima Mba Mariam yang sangat dicintai Mas Musa sudah jauh lebih berat dari pada menerima 100 wanita yang tidak ada hubungan masa lalu dengan Mas Musa.


Tanpa terasa airmataku jatuh bercucuran, aku menangis sesenggukan dengan perasaan yang sangat sedih. Berkali-kali kucoba menghibur hati tapi entah mengapa besar sekali dorongan dari dalam lubuh hatiku untuk mengeluarkan tangisan layaknya kesedihan anak kecil yang kehilangan bonekanya.


Kukirimkan pesan melalui aplikasi hijau milikku kepada Mba Mariam. Setidaknya Mba Mariam juga harus tahu ada yang sedang mencoba menyusupkan wanita lain di hati Mas Musa.


[Assalamualaikum, Mba Mariam, demi Alloh aku tidak rela kalau sampai Mas Musa menikah lagi]


Setelah itu kulempar kembali ponselku ke tengah kasur setelah mengirimkannya. Kulepaskan suara tangisan yang tidak bisa lagi kutahan di dalam bantal agar Mas Musa dan kawannya tidak mendengarnya.


Aku kecewa sekali dengan kedatangan kawan Mas Musa itu, seharusnya dia tidak usah menemui Mas Musa jika hanya memberi pengaruh seburuk itu pada Mas Musa. Rumah kami saja masih mengontrak, bagaimana kalau Mas Musa berpikiran untuk menikah lagi?


'Astaghfirullohaladzim'


Kucoba menenangkan hatiku dari segala prasangka buruk, kuucapkan istighfar berkali-kali namun rasanya hatiku sangat kecewa.


'Bagaimana dengan hati, Rif?'


Terngiang kembali pertanyaan dari Mas Musa. Kenapa Mas Musa bertanya?


Apakah Mas Musa sebenarnya kesusahan membagi hatinya secara adil?


Mas Arifin bilang, dia pun bisa membagi kasih sayang secara adil tapi tidak dengan cinta. Apa perbedaan kasih sayang dan cinta dari kacamata mereka kaum laki-laki?


Bagaiamana dengan Mas Musa sendiri selama ini? Benarkah dia juga hanya bisa membagi kasih sayangnya sama rata? Tapi tidak dengan cintanya? Siapa yang lebih dicintai Mas Musa? Aku atau Mba Mariam?


Aku kembali menangis dengan berbagai pertanyaan dan prasangka buruk yang berputar-putar dengan liar di otakku. Tidak perlu lagi ditanyakan, pastilah Mas Musa lebih mencintai Mba Mariam dan hanya memberikan kasih sayangnya padaku.


'Astaghfirullohaladzim ... astaghfirullohaladzim ... astaghfirullohaladzim ... !'


Tiba-tiba terdengar suara pintu kamarku terbuka, aku tidak melihatnya wajahku sepenuhnya tenggelam di dalam bantal. Suara langkah kaki Mas Musa terdengar mendekatiku yang menangis di atas ranjang. Segera kuhentikan tangisan dan mencoba mengatur nafas.


"Dek, kamu kenapa?" Usapan tangan Mas Musa terasa lembut mendarat di punggungku, nada suaranya terdengar khawatir.


"Dek? Ada apa?" tanya Mas Musa lagi, akhirnya kutegakkan kepalaku dan menghadapi Mas Musa dengan wajah sembabku.


"Apa Mas Arifin udah pulang?" tanyaku.


"Belum Dek, Mas Arifin sedang sholat. Kamu menangis Dek? Kenapa? Ada apa?"


"Medina nggak suka Mas Musa deket-deket sama Mas Arifin," ucapku berterus terang.


"Kamu kenapa? Cemburu sama laki-laki?" tanya Mas Musa.

__ADS_1


"Mas Musa mau menikah lagi?" Kutanyakan hal itu langsung pada Mas Musa tanpa menunggu lagi, Mas Musa terlihat sangat terkejut dengan pertanyaanku.


"Medina nggak mau, Mas! Medina Nggak mau!" tolakku sambil menangis.


"Kata siapa, Dek? Mas nggak akan menikah lagi."


"Tadi Medina denger sendiri Mas Arifin nawar-nawarin diri untuk nyariin calon buat Mas Musa, cukup Mba Mariam aja Mas, Medina mohon!" Baru kali ini kutolak hal-hal yang mungkin bisa membuat Mas Musa bahagia dengan jujur.


Mas Musa hanya tertawa kecil sambil mendekat dan memelukku. Entah kenapa aku membencinya. Kumenangis dengan perasaan yang sangat sedih ketika pelukan Mas Musa menyentuhku. Tidak nyaman lagi seperti biasanya.


"Itu hanya bercanda, Dek! Mas Arifin kan tadi belum tahu kalau mas pun udah punya kamu dan Mariam. Mas nggak akan menikah lagi, bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu?" sanggah Mas Musa.


"Benarkah?" tanyaku menegaskan.


"Tentu saja, lihatlah bagaimana kamu menangis seperti ini hanya karena mendengar percakapan yang tidak komplit. Sudahlah Dek, jangan menangis lagi, sudah ya!" Mas Musa mengusap lembut airmata di wajahku sambil terus tersenyum dan tertawa kecil.


"Kamu terlalu su'udzhon Dek, lihatlah, kasian bantal kamu sampai basah kuyup begitu," lanjut Mas Musa.


Benar juga, aku bahkan tidak mendengar satu pun kalimat dari Mas Musa kalau dia akan menikah lagi, bagaimana aku bisa sesedih ini? Bagaimana prasangkaku bisa sejauh itu?


"Mas, satu pertanyaan lagi, Medina mohon jawab yang jujur."


"Apa itu, Dek?"


"Siapa yang Mas cintai? Aku atau Mba Mariam? Benarkah laki-laki tidak akan bisa benar-benar membagi cintanya dengan adil?" Kulontarkan pertanyaan itu hanya dengan satu kali tarikan nafas.


"Jawab, Mas." Aku memohon.


"Jawaban yang bagaimana, Dek?"


"Yang sejujur-jujurnya."


"Hem ...." Mas Musa mengambil nafas panjang, nampak Mas Musa sangat hati-hati menjawab pertanyaanku.as Musa benar, harusnya aku tidak bertanya sesuatu yang sudah jelas dan sudah pasti jawabannya apa. Aku hanya menyakiti diri sendiri.


"Dek, benar. Bagi kami kaum laki-laki memang tidak bisa membagi cinta itu dalam porsi yang sama." Seketika badanku lemas mendengar jawabannya langsung dari mulut Mas Musa, aku hanya bisa mengalihkan pandanganku dengan menunduk, tidak sanggup bagiku memandang wajah Mas Musa lagi, aku kecewa.


"Cinta tidak bisa diukur dari porsinya, bagi mas kamu dan Mariam memiliki ruang dalam hidup dan hati mas secara luar biasa. Cinta kalian berbeda, tidak bisa disamakan dan tidak bisa dibedakan, kalian saling melengkapi, saling menyempurnakan. Tidak ada yang lebih besar dan tidak ada yang lebih kecil, kalian istimewa dengan keajaiban takdir kalian masing-masing. Mas nggak bisa menjelaskan bagaimana tepatnya bentuk cinta kalian, kalian tidak bisa dipisahkan dan tidak saling menyatu, kalian berjalan saling beriringan di kedua sisiku." Mas Musa menjelaskannya dengan suara pelan dan lembut.


"Medina nggak ngerti Mas," ucapku polos, kecewa membuatku malas mencerna ucapan Mas Musa.


"Ya sudah, istirahatlah dulu, Dek. Sepertinya kamu terlalu banyak berpikir, hem ... mas keluar dulu ya, nggak enak masih ada Mas Arifin, nanti kita bicara lagi. Tenangkan dirimu, Dek."


Sebelum pergi, Mas Musa menyempatkan untuk mencium kening dan mengusap puncak kepalaku. Aku mendiamkannya dan setelah terdengar suara pintu ditutup baru aku kembali merebahkan tubuhku di atas kasur.


Kubuang nafas dengan kasar, kulepas jilbab yang sedari tadi masih menempel dan menghempaskannya begitu saja. Terasa ada yang salah dengan hatiku.


Pikiranku kembali menerawang jauh dan teringat kembali ucapan Mba Mariam dulu.

__ADS_1


'Pergilah, Din!'


'Kamu ingin Mizan mencintaimu, bukan? Maka, pergilah!'


Benarkah ucapan Mba Mariam? Aku benar-benar ingin pergi sekarang, tanpa rekayasa dan tanpa dibuat-buat. Benarkah aku harus memberi ruang untuk diriku sendiri sebentar? Sepertinya aku butuh mengulur diriku sendiri dari Mas Musa, bukan mengulur Mas Musa dariku seperti nasehat Mba Mariam.


🍀🍀🍀


Hari ini kulayani kebutuhan Mas Musa sebelum berangkat kerja seperti biasa, setelah kejadian kemarin aku lebih memilih untuk diam. Saat Mas Musa mengajak bicara aku menolaknya dengan alasan capek dan mengantuk. Akhirnya, aku bisa bersikap cuek seperti Mba Mariam, mungkin benar aku terlalu bucin selama ini.


Keputusanku sudah bulat, untuk sebentar saja mengulur diriku sendiri dari Mas Musa. Entahlah, hal apa yang membuat diriku akhirnya merasa benar-benar lelah dan kecewa. Bolehkan aku egois? Sekali saja kuturuti keinginan hatiku tanpa memikirkan perasaan orang lain.


Setelah Mas Musa pergi, aku segera beres-beres rumah. Kubersihkan semua dari depan sampai belakang hingga rapi dan bersih. Setelah itu kubersihkan diriku sendiri dengan mandi.


"Maafkan aku Mas, aku harus melanggar larangan Alloh dengan pergi tanpa meminta ijin padamu, sekali saja biarkan Medina melindungi hati Medina sendiri."


Kumasukan beberapa potong baju dan segala keperluanku ke dalam koper. Entah setan mana yang merasukiku hingga aku berani melakukan semua ini. Aku menangis sambil memasukkan sebuah bingkai kecil foto pernikahan manisku dengan Mas Musa yang terpajang di nakas kecil di ujung kamar. Biasanya kupandangi foto itu ketika selesai sholat sambil terus mendoakan kembahagiaan kami. Sengaja kuletakkan di sana agar Mas Musa pun mengingatku di dalam setiap doanya, bukan hanya Mba Mariam saja.


Setelah selesai kupastikan semua rumah terkunci, Mas Musa memiliki kunci cadangan sehingga aku tidak perlu repot-repot menitipkan kunci untuknya. Lagi pula hari ini sudah masuk jatah waktu untuk Mba Mariam, Mas Musa akan pulang ke sana nanti malam.


Sengaja kupanggil taxi online agar tidak memicu pertanyaan dari tetangga. Aku memintanya mengantarkanku ke terminal.


Sejenak aku berpikir, aku hendak kemana? Tidak mungkin kalau aku pulang ke rumah. Orangtuaku pasti sedih karena anaknya pulang tanpa suaminya, aku tidak ingin kegaduhan, justru kuingin mencari ketenangan.


Sempat berpikir untuk kembali dan melupakan tindakan konyolku ini.


Mobil sudah hampir masuk ke terminal ketika sebuah ide melintas di pikiranku.


"Maaf Pak, nggak jadi, kita puter balik ke stasiun aja."


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2