Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Tempat Penuh Kenangan


__ADS_3

Hari sudah hampir siang ketika aku dan Medina pulang dengan membawa sekeranjang jeruk yang Medina petik sendiri dari kebun. Medina terus menggandeng tanganku sepanjang jalan dengan gembira, hal yang jarang sekali kami lakukan mengingat kesibukanku sebagai dosen pemula. Ibu menyambut kami dengan beberapa hidangan yang sudah Ibu siapkan.


"Kenapa banyak sekali, Bu makanannya?" tanyaku heran melihat semeja penuh dengan berbagai menu.


"Iya, Ibu mengundang Mariam datang dengan Okta. Nggak papa kan?" ucap Ibu yang lebih mirip pemberitahuan daripada pertanyaan.


"Nggak papa, Bu. Pasti rame nanti kalau ada Okta," jawab Medina sambil tersenyum.


Kuamati benar setiap inchi raut wajahnya, entahlah dia berpura-pura ataupun tidak. Bisa jadi hatinya yang lemah selalu dia sembunyikan, dan kelemahan itu telah luput dari perhatianku.


"Medina habis metik jeruk Bu," ucap Medina sambil memamerkan keranjang jeruknya.


"Dibikin jeruk peras aja Din, itu belum mateng banget masih asem, kenapa nggak metik yang mateng aja?" tanya ibuku. Benar, jeruk yang dipilih Medina belum matang sempurna hanya beberapa yang matang.


"Ini ada yang mateng kok Bu, siapa tahu Okta suka nanti. Medina suka yang asem kok," ucap Medina sambil memilah antara yang matang dengan yang masih mengkel, ibuku hanya tersenyum melihat Medina yang perhatian pada Okta.


Aku mencuri pandang pada Ibu penuh tanya, apa Ibu benar-benar mengira Medina datang sekedar untuk mengunjunginya?


"Assalamualaikum ...." Terdengar suara Mariam dan Okta lirih, jarak ruang makan dan pintu depan memanglah luamayan karena rumah ibu adalah rumah kampung.


"Waalaikumsalam," jawab ibuku sambil tergopoh-gopoh menyambut mereka.


"Cucu eyang yang cantik, apa kabar?" terdengar suara ibuku menyapa Okta.


"Emang nenek juga eyangnya Okta?" tanya gadis itu dengan polos.


"Tentu saja ini eyangnya Okta," jawab ibuku sambil menuntun Okta menuju meja makan, "nih, eyang udah masakin yang enak-enak buat Okta."


"Wah, ada ayam goleng," seru Okta dengan senang.


Ibuku terlihat senang dengan kehadiran Okta, rumah ini telah ramai dengan celotehnya. Kulihat Mariam dan Medina pun saling berpelukan layaknya seorang teman.


"Bapak kemana, Bu?" tanyaku pada Ibu, kami hanya sempat sarapan bersama-sama tadi pagi.


"Belum pulang Zan, masih ngawasin kebun. Tadi Ibu udah nyuruh orang buat nganterin makan siang."


🍀🍀🍀


Malam ini Ibu memaksa Mariam dan Okta untuk menginap di rumah, dengan alasan masih kangen dengan Okta. Lusa kami pun berencana untuk kembali ke kota Bogor karena pekerjaanku.


Ibu telah menyuruh seseorang untuk menyiapkan kamar Mas Harun untuk Mariam, sementara Okta telah setuju untuk tidur bersama ibuku di kamarnya. Mariam tidak kuasa menolak karena dalam sekejap Okta telah akrab dengan ibuku.


"Zan, apa Mariam belum hamil?" tanya ibuku ketika kita hanya berdua.


"Eeh ... be-belum, Bu," jawabku gelagapan.


"Kamu sehat-sehat aja kan, Nak?" tanya ibuku lagi dengan cemas, aku tidak mungkin jujur tentang hubunganku dengan Mariam yang masih renggang kepada Ibu.


"Sehat Bu, doakan saja yang terbaik untuk kami. Rejeki ada yang mengatur Bu."


"Tapi Zan, masa kedua isterimu belum hamil juga? Ibu pikir Medina yang bermasalah selama ini, tapi jangan-jangan kamu, Nak? Cobalah ke dokter, ibu udah pengen nimang cucu yang banyak."


"Mizan udah ke dokter Bu, insha Alloh sehat semua."


"Benarkah?"


"Iya."


Akhirnya Ibu meninggalkanku dengan kebingungan, Maafkan aku, Bu. kuputuskan kembali ke kamar bersama Medina. Ketika melewati kamar Mariam kulihat lampunya sudah dimatikan, mungkin dia sudah tidur.


Kubuka pintu perlahan, Medina masih terjaga dengan sebuah novel di tangannya. Entahlah sejak kapan tiba-tiba Medina menyukai novel-novel terutama tentang pernikahan. Aku tersenyum seraya menghampirinya.


"Tidur Dek, udah malam."


"Sebentar lagi Mas, ini lagi seru ceritanya."


"Baca apa sih, Dek?" tanyaku mencoba mengerti Medina lebih dalam dengan menyelami apa yang menjadi dunianya.


"Ini Mas, ceritanya poligami juga tapi diawali dengan perselingkuhan."


"Kenapa baca cerita yang seperti itu sih, Dek?"


"Biar Medina belajar, bagaimana menjalani rumah tangga kita ini dengan baik. Medina juga jadi banyak-banyak bersyukur karena Mas Musa nggak seperti laki-laki dalam novel itu yang sukanya membohongi isteri pertama dan menikah diam-diam dengan isteri kedua. Medina juga akan marah dan nggak ikhlas kalau caranya seperti itu, pernikahan karena nafsu hanya akan memghancurkan, bukan begitu Mas?"

__ADS_1


Aku tertegun mendengar penuturannya, mungkin beginilah cara Medina menguatkan diri selain dengan doa.


"Iya, Dek."


"Medina mungkin seringkali mengeluh ketika sendiri, tapi dengan membaca novel seperti ini membuat Medina sadar kalau Medina masih jauh lebih beruntung dari mereka yang rumah tangganya penuh prasangka, dan berujung dengan saling menyakiti. Medina nggak mau kita seperti itu, Mas. Medina sudah menganggap Mba Mariam sebagai kakak Medina sendiri, kita bisa hidup bahagia dengan saling berbagi dan berdampingan. Iya kan, Mas?"


"Jadi begini caramu mendewasakan diri, Dek?"


"Pengalaman memang guru yang terbaik Mas, tapi kita juga bisa kok belajar dari pengalaman orang lain. Kebanyakan novel seperti ini ditulis berdasarkan kisah nyata."


"Iya, tapi ini udah malem, tidurlah Dek!"


"Mas? Apa Mas Musa akan bermalam dengan Medina?" tanya Medina ketika melihatku membaringkan tubuh di sampingnya.


"Iya, kamu keberatan, Dek?"


" Tapi ini masih jatah Mba Mariam, ingat Mas harus adil pada kami berdua."


"Mariam udah tidur, Dek!"


Beberapa saat kemudian Medina telah tertidur dalam pelukanku. Dia memang akan cepat terlelap ketika kulantukan sholawat sebagai pengantar tidurnya. Jarum jam menunjukan pukul setengah 10 malam, tapi mataku tidak bisa terpejam, mungkin efek minum kopi tadi bersama Bapak.


Suara dentingan jarum jam menggema ke setiap sudut kamar. Kuputuskan melepaskan tanganku dari Medina secara perlahan agar dia tidak terbangun. Dengan mengendap-ngendap kulangkahkan kaki keluar kamar untuk mencari udara segar.


"Astaghfirullohaladzim," seru Mariam kaget ketika aku sampai di luar kamar.


"Mariam kamu belum tidur? Maaf aku membuatmu terkejut," ucapku yang tidak kalah terkejut.


"Aku habis dari kamar mandi, aku nggak bisa tidur karena masih asing di sini."


"Oh, sama aku juga nggak bisa tidur, ini mau nyari udara segar."


"Dimana?"


"Balai samping rumah seperti dulu, kamu lupa? Ehm ... kamu mau ikut, Mar?" Mariam pun mengangguk sambil berjalan mengikutiku.


Udara yang dingin dan sejuk membuat mataku semakin segar, apalagi dengan adanya Mariam bersamaku. Kami duduk menikmati bintang di langit malam, serangan kenangan masa lalu kami tidak dapat kubendung lagi karena berada di kampung ini. Seperti buku lama yang terbuka satu persatu halamannya karena tertiup angin. Sepeti air sungai yang bergemuruh dan mengalir deras.


"Zan? Bagaimana Medina? Apa yang membuat dia pergi? Kalian bertengkar?" Aku menggeleng pelan.


Entah apa yang dipikirkan oleh kedua isteriku, setiap bersama Medina dia selalu bertanya, bagaimana Mariam? Setiap bersama Mariam dia pun selalu bertanya, bagaimana Medina?


"Kamu yakin?" tanya Mariam lagi.


"Aku yakin Mariam," ulangku tegas.


"Syukurlah," gumamnya.


"Maaf ya, Ibu memaksamu menginap pasti kamu nggak nyaman."


"Iya, aku cuma nggak terbiasa."


"Kamu baik-baik aja Mariam?" tanyaku menyadari gelagat yang tidak bahagia dari Mariam.


"Ehhhm, aku ... aku--"


"Kamu kenapa?"


Mariam mengatur nafasnya sebentar, sikapnya seperti sedang menahan sesuatu yang besar.


"Aku merasa aneh aja," ucapnya.


"Kenapa?"


"Dengan kita, aku masih nggak mengira semua ini nyata. Tapi berada di tempat ini semakin membuat perasaanku aneh dan ... lain," tutur Mariam dengan enggan.


"Aku juga merasa hal yang sama, semua tempat di sudut kampung ini mengingatkan pada masalalu kita, bukan?" Ternyata bukan hanya aku yang merasakannya, Mariam pun sama. Kami sama-sama mengalami ledakan masa lalu.


"Ehm, iya," jawabnya malu-malu. Mungkinkah Mariam akan kembali membuka hatinya?


"Dulu ... aku pernah berdoa, memintamu menjadi jodohku dengan peenuuh kesungguhan hati, dan kemudian aku kembali berdoa agar bisa mengikhlaskanmu juga dengan penuh kesungguhan hati," ungkap Mariam.


" Lalu, sekarang apa doamu untukku?"

__ADS_1


"Aku pasrah aja, mengikuti takdir-Nya," jawab Mariam sambil melempar pandangannya ke langit.


"Lihat aku Mariam!" Mariam perlahan mengarahkan wajahnya dan menatapku dengan ragu.


"Sekarang jujurlah, apa kamu masih mencintaiku?" Mariam terlihat gugup dan salah tingkah dengan pertanyaanku.


"Jawablah Mariam!" desakku.


"Aku ... a-aku ..." Mariam tidak mampu melanjutkan kalimatnya.


"Sudahlah, aku tahu jawabanmu sekarang. Kenapa kamu menahannya? Sejak kapan kamu mencintaiku lagi?"


Mariam hanya diam, mata kami saling bertautan dalam pandangan yang sendu dan haru. Tanpa kata Mariam telah mengakui perasaannya, tempat ini telah membuat Mariam merasakan kembali kenangan kami. Kupegang tangannya seolah kita berdua tengah kembali ke masa lalu dimana kita masih sama-sama naif.


Mariamku telah kembali, dengan semua cinta dan kehangatannya. Semua hal yang selalu membuatku rindu dan jatuh cinta. Meski hanya lewat pandangan mata semua cinta kami telah terungkap.


Sesuatu meledak-ledak di dalam diriku, cinta yang menunggu selama 10 tahun untuk bisa menyatu dengan halal. Penantian yang indah dan penuh lika liku terjal. Perlahan kudekati wajah Mariam, kucium keningnya, Mariam hanya memejamkan mata dan untuk pertama kalinya Mariam tidak lagi menolakku.


"Aku selalu berharap agar Alloh kembali membuka hatimu Mariam." Mariam memandangku dengan berkaca-kaca.


"Maafkan aku karena membuatmu menunggu." Kata-kata yang keluar dari mulut Mariam membuatku semakin yakin cintanya telah kembali, kupeluk dirinya karena aku bahagia dan tanpa kuduga Mariam juga membalas pelukanku dengan erat.


"Aku berusaha lupa, berusaha pergi, berusaha tegar dan berusaha kuat. Tapi aku lelah karena pura-pura lupa, aku lelah karena pura-pura ingin pergi, dan aku lelah pura-pura tegar dan kuat. Semakin ingin aku berpaling kenangan itu semakin nyata dan aku ... a-aku mencintaimu, Zan!" ungkap Mariam.


"Apa itu pernyataan cinta?"


"Bukan, aku sedang mengakui kelemahanku!" Mariam melepaskan pelukannya dan menatap mataku.


"Cintaku masih sama untukmu Mariam, tidak pernah berubah ataupun berkurang justru semakin bertambah! Kamu adalah wanita yang selalu ada di mimpiku yang menjadi semangat di setiap perjuanganku! Aku harus lulus aku harus membuktikan pada Mariam!"


"Benarkah?"


Rasa bahagia membuat kita berdua menitikkan airmata, kisah kami yang rumit dan penuh liku. Walaupun harus menunggu dalam waktu yang sangat lama, akhirnya aku bisa memiliki sosok wanita dalam mimpiku. Bukan hanya raganya, tapi juga jiwa dan cintanya. Kami berdua hanya remaja naif yang berani jatuh cinta, hingga takdir mengizinkan kami untuk bersama.


"Mariam ... bolehkah kuminta hakku sebagai seorang suami padamu?"


🍀🍀🍀


Pukul 3 dini hari, aku terbangun dengan sosok Mariam di sampingku. Aku tersenyum mengingat semuanya, hatinya yang keras dan terluka kini sudah tidak ada, Mariam kembali menjadi pribadi yang hangat seperti 10 tahun lalu.


Kunaikan selimutnya dan kucium keningnya, "Alhamdulillah, atas segala karunia dan kasih sayang-Mu."


Aku segera beranjak untuk mandi junub dan segera sholat malam.


"Hueeek ...! hueeeek ...! hueeek!"


Aku telah selesai mandi saat terdengar suara orang muntah-muntah di depan kamar mandi. Segera kubuka pintu untuk melihat siapa yang sakit.


"Dek?"


Medina berdiri di tempat wudhu dengan wajah yang pucat.


"Mas," sahutnya.


"Kamu kenapa?"


"Enggak tahu, tiba-tiba perut Medina mual."


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2