
Sambil menunggu hari ini berlalu, aku berniat mengunjungi Mba Mariam dan Oktavia. Semenjak melamar Mba Mariam aku tidak pernah lagi berbincang dengannya.
Sekarang kita sudah sama-sama menjadi istri Mas Musa, walaupun aku adalah istri pertama tapi aku cukup tahu diri bahwa Mba Mariam telah lebih dulu bersemayam di hati Mas Musa.
Bagiku tidak penting siapa yang menjadi istri muda ataupun istri tua, kita sama-sama ada untuk membahagiakan Mas Musa.
"Assalamualaikum ... !" kuketuk pintu rumah bercat biru muda itu.
Aku harus mengetuk dan mengucap salam berkali-kali sampai akhirnya Mba Mariam membuka pintu.
"Assalamualaikum Mba Mariam," salamku entah ke berapa kali.
"Waalaikumsalam," jawab Mba Mariam irit.
"Boleh saya berkunjung?" tanyaku sungkan, Mba Mariam tidak langsung menjawab atau pun mempersilahkan.
"Iya," butuh beberapa detik untuk Mba Mariam berpikir sebelum mengijinkan aku masuk.
Baru saja masuk selangkah, aura rumah Mba Mariam sudah berbeda dangan dulu ketika pertama kali kuinjakan kaki di sini. Keceriaannya memudar, hawa dingin kota hujan terasa semakin menusuk di dalam sini.
Konveksi kecil milik Mba Mariam yang sebelumnya selalu ramai sekarang ditutup oleh Mba Mariam. Aku sadar Mba Mariam belum sepenuhnya ikhlas melepas kepergian almarhum suaminya.
Senyumnya sekarang tidak pernah lagi menawan siapapun lagi, ujung bibirnya hampir selalu tertarik ke bawah. Mata yang dulu berbinar dan membuatku Iri, sekarang tampak sayu dan cengkung, lingkaran hitam terpampang jelas di area matanya.
Di tengah duka yang masih menyisakan luka, Mba Mariam masih harus menanggung gunjingan para tetangga karena pernikahan yang terjadi tidak lama selepas masa iddah. Dalam hal ini, aku merasa bersalah. Aku sangat prihatin dengan keadaan Mba Mariam saat ini, Mas Musa memiliki tugas berat untuk mengembalikan Mba Mariam seperti dulu lagi.
"Ada apa?" tanya Mba Mariam.
"Nggak papa Mba, aku cuma mau main sama Okta, boleh kan?" Mba Mariam tampak ragu dengan permintaanku.
"Kan, aku juga berhak di panggil Okta dengan sebutan Umi," lanjutku.
"Ya sudah," ucap Mba Mariam singkat, lalu dia pergi masuk ke kamarnya.
Aku menghampiri Okta yang tengah asyik bermain boneka dan barbie di depan tv. Kuhabiskan waktuku untuk mengobrol dan mengajarkan Okta beberapa hal, dia sangat cerdas dan selalu ingin tahu. Dia juga punya senyum yang menawan seperti mamanya, dan jiwa yang ceria dan hangat seperti papanya.
Menjelang sholat Dzuhur akhirnya Mba Mariam keluar dari kamarnya. Tanpa bicara dia bergerak ke dapur dan mulai memasak, Mba Mariam tak ubahnya seperti mayat hidup. Entah karena keberadaanku, atau memang dia biasa begini?
Kasihan Oktavia.
Kutinggalkan Oktavia dan bergerak perlahan ke dapur untuk membantu Mba Mariam.
"Mba, boleh aku bantuin?" tawarku berbasa-basi, lagi-lagi Mba Mariam hanya diam.
Aku mulai membantu mencuci beberapa sayur, sementara Mba Mariam menggoreng ayam.
"Mba, terimakasih yah udah mau jadi istrinya Mas Musa," ucapku memancing Mba Mariam bicara.
"Kamu senang?" tanya Mba Mariam, aku hanya mengangguk sambil mentap wajah Mba Mariam.
__ADS_1
"Aku kasihan sama kamu, Din," ucap Mba Mariam.
"Kenapa Mba harus kasihan?" tanyaku heran.
"Seorang wanita akan lebih bahagia jika hidup bersama orang yang mencintainya, dari pada bersama orang yang dicintainya."
"Maksud, Mba?"
"Laki-laki yang mencintaimu akan memperlakukanmu seperti ratu, tapi laki-laki yang kamu cintai akan membuatmu banyak berkorban dan berjuang. Iya kan?"
Pertanyaan Mba Mariam menyinggung perasaanku, dia sedang membahas hidupku yang penuh pengorbanan dan perjuangan untuk Mas Musa, sementara dirinya diperlakukan bagaikan ratu oleh Mas Musa. Nasib kami benar-benar berbanding terbalik.
"Mba, aku mencintai Mas Musa tulus tanpa penyesalan apapun. Bahkan ketika aku tau Mas Musa masih mencintaimu, aku nggak pernah kecewa. Aku berusaha untuk terus mengerti dan menerima keadaan Mas Musa seutuhnya, termasuk hatinya yang penuh olehmu Mba."
"Kamu menikmati peranmu sekarang?" tanya Mba Mariam dengan nada sinis.
"Maksud, Mba?" tanyaku tak mengerti.
"Seorang wanita cantik, sholehah, telah dimadu dengan seorang janda. Terlihat menderita dan terdzolimi, dukungan dan simpati banyak sekali datang padamu, bukan?"
Pikiranku melayang kepada ibu-ibu yang suka bergosip di warung, dan juga beberapa obrolan di grup pengajian yang tidak henti-hentinya membicarakan pernikahan Mba Mariam. Tak kusangka Mba Mariam yang cenderung diam dan sekalinya bicara dia tidak lagi memikat lawan bicara, tetapi menyerangku.
"Kamu tau Din? Aku disebut pelakor," lanjut Mba Mariam dengan pelan tapi penuh penekanan di ujung kata.
"Astaghfirullohaladzim ... Mba, kita sama-sama tau kalau aku yang menginginkan pernikahan ini lebih dari siapapun. Mba jangan terpengaruh oleh omongan mereka." Aku berusaha menenangkan Mba Mariam meskipun sebenarnya aku pun merasa tidak nyaman.
"Sebenarnya aku udah mencoba meluruskan kesalahpahaman mereka Mba, aku memberi tahu beberapa orang kalau pernikahan ini adalah kemauanku," ucapku mencoba menjelaskan.
"Itu hanya akan menambah simpati mereka padamu, dan nggak akan mengubah pandangan mereka terhadapku," jawab Mba Mariam membuatku kecewa.
"Mba, ayo kita hadapi ini bersama-sama. Ini hanya salah paham, selama kabar yang beredar itu salah dan Mba yakin akan kebenaran yang sesungguhnya, jangan biarkan mereka mengusik hidupmu, Mba." Aku berusaha memotivasi Mba Mariam.
"Mba nggak sendiri, kita bertiga sekarang, berempat malah dengan Oktavia," lanjutku dengan penuh harap Mba Mariam akan kembali bersemangat.
"Mudah buatmu Din, nggak buatku!" ucap Mba Mariam dingin.
"Aku juga nggak mudah, Mba!" seruku.
"Bebanku juga sama, mereka bilang aku mandul makanya aku meminta Mas Musa menikah denganmu!" ucapku dengan suara bergetar menahan gemuruh di hatiku.
"Meskipun aku memang belum hamil ... dan kata-kata mereka semakin membuatku rendah diri." Aku mengakui kelemahanku di depan Mba Mariam, berharap dia akan simpati dan luluh.
"Kita sama-sama terluka dengan hal yang berbeda-beda, Mba. Jadi, bisakah kita hanya saling menguatkan saja? Dari pada harus terpengaruh oleh mereka yang memang tidak tau apa-apa tentang kita," usulku.
"Oke, baiklah!" jawabnya singkat sambil mematikan kompor.
Aku pulang dengan membawa makanan, Mba Mariam memaksaku membawanya. Dia mengatakan memasak adalah caranya melupakan kegelisahan hatinya.
Aku bergegas mandi karena hari sudah sore Mas Musa sebentar lagi akan pulang. Benar saja, baru saja aku merapihkan diri suara mobil Mas Musa sudah terdengar di telingaku.
__ADS_1
Aku berhias sebaik mungkin, hatiku berdebar menyambut kepulangan imamku dengan penuh cinta.
"Assalamualaikum, Dek!"
"Waalaikumsalam, Mas mandi dulu atau ...,"
"Mas mandi dulu aja, Dek!"
Kulayani kebutuhan Mas Musa dengan sepenuh hati, Mba Mariam benar mencintai membuatku banyak berkorban dan berusaha, tapi memangnya kenapa? Jika kenyataannya aku justru bahagia, sangat bahagia.
"Kenapa, Dek, kok dari tadi mas perhatikan senyum-senyum sendiri?" tanya Mas Musa.
"Enggak papa Mas," jawabku sambil tersipu, ternyata Mas Musa memperhatikanku.
"Mas, Medina boleh minta sesuatu nggak?" tanyaku setelah Mas Musa selesai dengan laptopnya, pekerjaannya mungkin menumpuk karena cuti kemarin.
"Minta apa, Dek?"
"Ayo kita ke dokter untuk program hamil, Mas." Mas Musa tampak berpikir sebelum menentukan jawaban dari permintaanku.
"Apa kamu begitu terganggu, Dek, dengan rumah tangga kita yang belum juga dikaruniai anak?" tanya Mas Musa dengan berusaha membaca mataku.
"Iya Mas, Medina mohon, Medina juga ingin merasakan jadi wanita sempurna."
"Nabi Zakaria adalah teladan terbaik untuk ujian cinta seperti yang sedang kita alami, Dek. Usianya telah mencapai 80 tahun, berpuluh-puluh tahun menanti kehadiran seorang putra namun Alloh belum juga memberikannya."
Mas Musa mendekat dan memelukku, aku merasa tenang dan damai dalam pelukannya, kudengarkan dengan seksama kisah yang Mas Musa ceritakan padaku.
"Meskipun begitu, cintanya pada sang istri tetap abadi, hingga akhirnya Beliau berdoa sebagaimana Alloh abadikan dalam Al-Quran Surah Al-Anbiya' ayat 89 dan 90. Alloh pun mengabulkannya, memberinya seorang putra sekaligus dengan nama dari sisi-NYA yaitu Yahya."
"Jadi Mas Musa akan tetap mencintaiku?"
"Iya, tapi ... mas akan mengabulkan permintaanmu, ayo kita promil!"
"Terimakasih, Mas."
"Mas, bagaimana kalau Mba Mariam lebih dulu hamil dari pada aku?"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1