
"Tante Medina kenapa? Kenapa bisa ada disini? Tante Medina sendirian?" Teh Desi pun cemas dan gusar melihat orang yang Mariam sedang hindari.
"Hhhhiiiiisssskkk ...," tangis Medina mulai meledak dengan suara yang normal, tidak lagi tercekat seperti tadi.
Teh Desi reflek memeluk Medina, dia paham, situasi ini bukan hanya membuat Mariam terluka, Medina pun terluka jika dia bisa membaca semua keadaan di hadapannya dengan benar. Teh Desi dilema, apa yang harus dia lakukan sekarang?
Untung saja Mariam tidak terbangun, karena masih dalam pengaruh obat-obatan yang mengharuskannya beristirahat secara penuh.
Medina tidak peduli pada siapa dia menangis, dia hanya harus mengeluarkan semua sesak di hatinya. Teh Desi pun hanya diam membiarkan Medina mengeluarkan tangisnya.
Cukup lama Medina menangis, sebelum akhirnya Teh Desi kembali memberinya segelas air putih. Teh Desi merasa iba pada keduanya, perut Medina memang lebih besar dari pada Mariam. Tapi, ayah dari anak yang mereka kandung adalah sama.
"Sudah Tenang sekarang, Tan?" tanya Teh Desi lagi, Medina hanya mengangguk.
"Tante Medina sendirian?" Medina kembali mengangguk.
"Bagiamana Ibu hamil bisa jalan-jalan sendirian?"
"Teh ... boleh Medina tanya sesuatu? Bisakah Medina mendapat jawaban yang jujur?" tanya Medina mengintimidasi.
"Ehm ... ma-mau nanya apa?"
"Berapa bulan usia kehamilan Mba Mariam?"
"Apa?!"
"Berapa bulan, Teh?"
"Ehm ... i-itu bukan hak teteh untuk njawab pertanyaan seperti itu, mohon Tante Medina mengerti."
"Lantas Medina harus nanya sama siapa? Jawab Teh, percuma berbohong sekarang," desak Medina.
Teh Desi mengambil nafas panjang dan menghembuskannya.
"Sudah 5 bulan."
"Kenapa? Kenapa Teh?" tanya Medina lagi dengan tetap berusaha menguatkan diri.
"Mas Musa? Suamiku? Apa tahu?" tanya Medina dengan suara yang semakin lirih.
"Jawab, Teh!" tanya Medina sekali lagi.
Teh Desi hanya menggeleng.
"Astaghfirullohaladzim !!!" pekik Medina.
"Apa yang sedang Mba Mariam lakukan sebenarnya? Apa Teh?! Kenapa dia suka sekali bertindak diluar batas seperti ini?"
"Dan kalian semua bersekongkol? Membantu Mba Mariam menyembunyikan kehamilannya?" tanya Medina penuh emosi.
"Mba Mariam terus merasa bersalah karena harus hadir dalam rumah tangga kalian Tante, Mba Mariam berusaha pergi dan ingin melanjutkan kehidupannya tanpa embel-embel isteri kedua suami Tante Medina," jawab Teh Desi pada akhirnya.
"Mba Mariam pun baru mengetahui perihal kehamilannya setelah Pak Musa menjatuhkan talak padanya." Medina terkejut, sampai membulatkan kedua matanya.
__ADS_1
"Apa?!"
"Benar, Mba Mariam tahu setelah talak itu jatuh. Dia begitu syok, frustasi, dan kebingungan."
Teh Desi menghembuskan nafasnya dengan berat, sambil terus mencoba menenangkan Medina yang syok.
"Tante ... cobalah melihat masalah ini dari sudut pandang Mba Mariam. Bukan maksudnya menyembunyikan semua ini, tapi Mba Mariam nggak mau kalau gara-gara kehamilannya dia harus kembali terbelenggu oleh ikatan pernikahan dengan suami Tante Medina."
"Tapi Mas Musa berhak tahu kalau dia juga mempunyai anak dalam rahim Mba Mariam, dan hak anak itu untuk tahu siapa ayahnya."
"Mba Mariam hanya berniat menyembunyikannya sementara saja, sampai perceraian mereka di putuskan dan tidak ada kesempatan untuk mengikatnya kembali."
"Apa?!"
"Kenapa Mba Mariam begitu ingin berpisah? Dia tidak mungkin berbohong kalau dia sama sekali tidak mencintai suamiku. Kenapa dia begitu munafik?"
"Tante ... tenang dulu, coba dengarkan jerit hati Mba Mariam yang sebenarnya. Teteh yang jadi saksi. Hati Mba Mariam tidak seperti yang Tante Medina kira."
Medina kembali menenangkan diri dan mencoba mendengarkan penuturan Teh Desi.
"Mungkin Mba Mariam memang masih mencintai Pak Musa, tapi hati Mba Mariam masih cukup waras untuk tahu batas. Walaupun akhirnya mereka menikah, tidak lantas membuat Mba Mariam bahagia, dia merasa risih karena Pak Musa harus menduakan cintanya. Dia tidak bisa bahagia di atas pengorbananmu, Tante."
Medina mendengarkan dengan seksama.
"Teteh yang jadi saksi bagaimana kehidupan Mba Mariam sebelum ini, dia begitu bahagia dan sangat mencintai almarhum Pak Biantara. Terlepas dari sudut hatinya yang masih menyimpan kisah masa remajanya dengan Pak Musa, tapi itu hanya kepingan masa lalu. Kehidupan Mba Mariam dan Pak Bian sama sekali tidak terpengaruh oleh kisah itu, pada kenyataannya cinta Mba Mariam pada Pak Bian pun tidak bisa Tante Medina sepelekan."
"Singkatnya Mba Mariam tidak berniat untuk memiliki Pak Musa lagi, cintanya bukan cinta yang harus memiliki, hanya selentingan rasa yang telah berlalu, jangan diungkit."
"Hhhhhh ...," Medina menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Biarkan Mba Mariam bahagia, Tante," pungkas Teh Desi.
"Aku kehabisan kata-kata disini, ternyata benar, dari sudut pandang Mba Mariam memang akulah yang salah, pantas saja Mba Mariam begitu membenciku."
Teh Desi diam seolah membenarkan penyataan Medina.
"Mba Mariam ingin Tante Medina dan Pak Musa juga bahagia. Apalagi dengan kehamilan Tante Medina, Mba Mariam semakin yakin untuk pergi. Jangan memaksa sesuatu yang memang tidak seharusnya bersatu."
"Tapi Teh, Medina nggak mungkin diam dan ikut menyembunyikan kehamilan Mba Mariam, meskipun hati Medina pedih dan sakit, tapi ini hak Mas Musa dan calon anak itu."
"Medina memilih untuk menghadapi semua kenyataan pahit ini dari pada harus berdosa karena diam," ucap Medina yakin.
"Tunggu waktu yang tepat Tante, Mba Mariam tentu lebih berhak mengatakan semuanya pada suami Tante Medina."
"Hem ... baiklah."
"Lalu, apa yang terjadi pada Mba Mariam dan kandungannya?" tanya Medina sambil menatap Mariam yang terbaring lemah di ranjangnya.
"Seperti yang teteh katakan tadi, Mba Mariam sama sekali tidak tahu bahwa dirinya hamil. Dia ... terus bekerja keras bersama kami, semua tanda-tanda kehamilan diabaikannya, dia hanya fokus pada usahanya yang baru saja menapaki babak yang baru."
"Mba Mariam kelelahan, kondisi tubuhnya kurang baik. Ditambah beban psikis dan mental yang Mba Mariam terima selama perceraian ini, Alhamdulillah, beruntung kandungannya cukup kuat untuk bertahan. Sekarang Mba Mariam mengalami anemia akut hingga harus mendapat transfusi."
"Mba Mariam menjalani hari yang berat namun dia berusaha tetap diam, " ucap Medina.
__ADS_1
"Teteh nggak bisa bilang apa-apa. Tapi, kalau bisa teteh hanya minta Tante Medina untuk tidak membebani Mba Mariam lagi, jangan menanyakan alasannya, atau Tante Medina bisa berpura-pura tidak tahu dan tidak pernah datang kemari."
"Kalau pun Mba Mariam bersikap kasar dan dingin pada Tante Medina selama ini sebenarnya itulah bentuk pertahanan dirinya, cara Mba Mariam melindungi hatinya," ucap Teh Desi.
Medina terdiam mendengar cerita Teh Desi. Dia bangkit dan mendekat pada Mariam. Seseorang yang pernah dia sederhanakan perasaannya agar mudah melaksanakan salah satu syariat agama, tapi kenyataannya hati Mariam lebih rumit dari pada yang dia duga.
"Kamu membuatku merasa jahat, Mba. Bangun, dan pulihlah. Mba Mariam harus menjelaskan banyak hal nantinya."
Hati Medina teriris, momen ketika Mariam membelikannya tespek saat itu kembali berputar. Mariam memang nampak ikut bahagia dengan kehamilannya saat itu, meski setelahnya dia kembali bersikap dingin dan misterius.
Medina menjalani kehamilannya dengan penuh perhatian dan kasih sayang dari Musa. Sementara Mariam, berjuang seorang diri. Setiap malam Musa selalu mengusap perut Medina, membacakannya surat Yusuf dan Mariam, sementara Mariam mengusap perutnya seorang diri sambil menahan ngilu karena seharian bekerja.
"Nak, jangan menyalahkanku jika semasa dalam kandungan kamu kurang kasih sayang dari ayahmu. Semua karena jalan terjal yang dipilih ibumu." Medina berbicara pada perut Mariam.
"Kalian berdua saudara tidak sekandung," ucap Medina sambil menangis, satu tangan memegang perutnya sendiri dan tangan satu lagi diletakan di perut Mariam.
"Ya Alloh ... jika ini jalan takdirku, aku ikhlas. Sehatkanlah Mba Mariam, dan anak dalam kandungannya," ucap Medina sambil berusaha menyudahi tangisnya.
"Nak ... aku dan ayahmu akan mencintaimu sepenuh hati kami, berdoalah agar ibumu dan kami bisa saling mengikhlaskan. Aamiin."
"Teh ... Medina pamit dulu, katakan yang sebenarnya pada Mba Mariam kalau aku udah datang dan aku tahu."
"Tapi--"
"Percayalah, kita memang harus menutupi sebuah kebohongan dengan kebohongan lainnya, tapi Medina tidak mau."
"Hem ... baiklah."
Medina pergi meninggalkan rumah sakit, tidak lupa dia mampir ke super market membeli beberapa barang agar ibu mertuanya tidak curiga.
"Kenapa lama sekali, Nduk?" tanya Bu Aini.
"Tadi macet, Bu," jawab Medina beralasan.
Medina segera masuk ke kamarnya, terbesit rasa bersalah yang besar yang menyusup ke hatinya karena harus tetap diam setelah menemukan sebuah kenyataan yang besar.
Medina terus membayangkan, apa yang akan dilakukan Musa jika tahu Mariam sedang mengandung anaknya? Bagaimana sikap Bu Aini kalau dia tahu dia akan mempunyai cucu dari mantan menantunya?
Bisakah Musa tetap menjaga janjinya untuk tidak kembali pada Mariam?
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.