Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Pelajaran Hidup Dari Kawan Lama


__ADS_3

Waktu berlalu tanpa terasa, kami menjalani kehidupan poligami dengan suka dan cita. Sudah dua bulan sejak terakhir kedatangan Ibu, dan saran gila Mba Mariam yang menyuruhku mengulur sedikit pada Mas Musa. Setiap hari aku berpikir keras.


🍀 Flashback


"Lantas apa yang sebenarnya Mas mimpikan setiap malam tentang Mariam?"


"Rasa bersalah."


🍀


Percakapan beberapa tahun yang lalu kembali kuingat dan kuresapi, awal-awal pengakuan Mas Musa tentang uraian panjang perasaannya pada Mba Mariam. Saat itu aku belum tahu Mama Okta adalah Mba Mariam yang kucari-cari.


Teori Mba Mariam benar, Mas Musa terikat kuat karena rasa bersalahnya. Mas Musa sendiri mengakuinya, bahkan jauh sebelum Mba Mariam mengungkapkan teorinya.


Haruskah aku melakukannya dengan sengaja? Bukankah yang terjadi pada mereka murni takdir? Dan bahkan mereka harus memutar jalan dan saling mengarungi takdir yang lain untuk bisa bersatu kembali pada akhirnya. Aku harus mengulur perasaan Mas Musa yang bagaimana?


Kedokter, jamu dari Ibu dan semua juga sudah mulai kucoba. Mungkin saja belum, semoga secepatnya aku bisa hamil. Mas Musa juga serius menjalani program hamil ini bersamaku, Mas Musa lebih banyak berolahraga dan menjaga makanannya.


Sepertinya hubungan Mas Musa dan Mba Mariam semakin baik, Mba Mariam sibuk dengan usaha konveksinya yang mulai hidup kembali. Dan kami berbagi hari kebersamaan dengan Mas Musa sesuai kesepakatlan.


Aku pun berusaha menata hidupku, dan kembali mengikuti pengajian rutin bersama ibu-ibu di masjid. Aku berhenti dan menarik diri tepat setelah pernikahan Mas Musa dan Mba Mariam, aku tidak kuat mendengar isu-isu liar yang berkembang saat itu. Memang sebagian dari isu adalah mereka yang menjelek-jelekan Mba Mariam secara berutal. Tapi diantaranya juga adalah isu yang menyebutku mandul.


Walaupun canggung aku harus kembali, seperti Mba Mariam yang telah bangkit dan berani menghadapi dunia serta melawan isu-isu yang menyudutkannya. Seharusnya aku malu, karena akulah yang menempatkannya pada posisi tersebut.


Malam ini Mas Musa kedatangan seorang kawan lama, dia adalah kawan Mas Musa semasa menimba ilmu di Hadramaut. Aku sangat antusias, sengaja kusiapkan beberapa hidangan untuk menjamunya.


Akhirnya orang yang ditunggu-tunggu datang juga, namanya Arifin. Aku pikir dia datang bersama isteri dan anaknya, ternyata kawan Mas Musa datang seorang diri. Sejenak Mas Musa dan Mas Arifin saling berpelukan melepas rindu. Dan saling memuji perubahan masing-masing.


Tidak seperti Mas Musa yang kembali menyatu dengan kebudayaan Indonesia, Mas Arifin masih setia mengenakan baju gamis dan memelihara kumis serta jenggotnya. Dulu Mas Musa pun melakukannya, Mas Musa pernah sesekali menunjukan foto-foto ketika masih berada di negri Yaman dulu. Sekarang, Mas Musa mencukur bersih semuanya.


"Isteri kamu cantik sekali Sa," puji Mas Arifin saat Mas Musa memperkenalkanku sebagai isterinya.


"Kamu bisa saja, ayo masuk!"


Mas Musa mengajak Mas Arifin masuk, sebelumnya sudah kutata meja dengan berbagai hidangan sehingga aku tidak kelimpungan saat Mas Arifin datang. Selanjutnya aku masuk dan mencuri dengar perbincangan mereka yang menurutku lucu dari ruang makan. Aku juga ingin tahu lebih banyak tentang tingkah Mas Musa saat muda dulu.


Aku ikut tersenyum ketika mereka tertawa, kadang menertawakan Mas Arifin kadang menertawakan Mas Musa. Pertemuan keduanya hangat membahas perjuangan yang telah mereka lalui, dan hanya sedikit membahas pencapaian masing-masing setelah lulus. Mereka tidak saling membandingkan atau menyombongkan siapa yang lebih sukses.

__ADS_1


Aku bisa menilai bahwa Mas Arifin adalah teman yang baik. Tanpa terasa menit demi menit berlalu, dan jarum jam telah berganti angka. Obrolan mereka semakin luas dan membahas keluarga.


"Alhamdulillah Sa, anak saya sudah 4 sekarang, perempuan 1 laki-lakinya 3," jawab Mas Arifin setelah Mas Musa bertanya.


"Wah, selamat Rif, kenapa nggak sekalian di ajak kenalan kemarin?"


"Takut nggak adil Sa, isteri saya 3 soalnya." Sontak aku ikut terkejut mendengarnya, menurut cerita Mas Musa, pernikahan kami hanya berselang sebulan setelah pernikahan Mas Arifin. Maka dari itu aku berharap bisa berkenalan dan berteman juga dengan isteri beliau.


"Tiga?" tanya Mas Musa dengan nada tidak percaya, kupertajam telingaku agar tidak salah mencuri dengar pembicaraan mereka.


"Iya, tiga. Isteri pertama anaknya laki-laki umur 2 tahun, isteri kedua anaknya perempuan usia 1 tahun dan anak dari suami sebelumnya 7 tahun, dan isteri ketiga baru saya nikahi kemarin sedang hamil muda doakan saja Sa, tapi anak dari suami sebelumnya juga perempuan usia 4 tahunan," tutur Mas Arifin prihal keluarganya.


"Wah ... !" tanggapan Mas Musa, "Ini cita-cita atau bagaimana Rif?" tanya Mas Musa terkejut.


"Panjang ceritanya, isteri kedua dan ketiga saya semuanya janda karena suaminya meninggal. Saya awalnya juga nggak mau tapi karena satu dua hal kisah orang tua mereka dan orang tua saya ya sudahlah saya terima," ungkap Mas Arifin.


"Isteri pertamamu bagaimana, Rif?" tanya Mas Musa lagi, pertanyaan ini seolah mewakili rasa ingin tahuku. Wanita itu, bagaimana bentuk hatinya sekarang?


"Yah, sewajarnya perempuan isteri saya marah, nggak terima, apalagi dia merasa telah memberi saya anak laki-laki yang sempurna, sempat pulang juga ke rumah orang tuanya. Saat itu usahaku bahkan sedang kembang-kempis. Tapi sekali lagi, karena niat saya baik niat keluarga saya juga baik, Alloh perlahan membuka hati isteri saya. Selain karena utang budi orang tua saya di masa lalu, tapi pernikahan ini nilai ibadahnya besar karena menolong seorang janda, eh, dua orang janda maksudnya," tutur Mas Afwan panjang sambil sedikit terkekeh.


Rasa ingin berteman dengan isteri Mas Arifin semakin kuat, aku begitu penasaran dengan sosoknya, mendengar kisahnya yang begitu berbesar hati bukan hanya menerima satu wanita, tapi dua wanita dalam rumah tangganya. Kalau saja aku sudah memiliki anak seperti dirinya aku tidak akan mengejar Mba Mariam karena merasa diriku saja sudah cukup untuk Mas Musa.


"Wah, hebat kamu, Rif. Saya nggak nyangka kamu bisa melesat ke titik ini, saya tahu dulu kamu sama perempuan aja takut," puji Mas Musa pada kehidupan dan rumah tangga sahabatnya.


"Buat saya ini bukan pencapaian Sa, ini kuasa Alloh memberi saya tanggung jawab yang lebih dan lebih dari yang lain, saya hanya bisa menjalani dan ikhlas. Doa isteri juga mempermurah rejeki saya, apalagi anak-anak yatim yang menjadi anak saya, membawa berkah yang luar biasa secara materi dan secara spiritual saya Sa."


"Bagaimana dengan perkara adil, Rif?" Mas Musa kembali bertanya.


"Saya berusaha Sa, waktu saya bagi seminggu-seminggu, tapi kalau saya lagi di kantor isteri-isteri saya bebas datang tanpa jadwal, mereka membawa anak-anak yang mungkin kangen. Malah kadang datangnya barengan, ya sudah biasa walaupun awalnya kaku. Ada yang berperan sebagai kakak ada yang sebagai adik, tidak melulu isteri pertama saya paling dihormati. Alhamdulillah mereka saling menyayangi," tutur Mas Arifin.


"Bagaimana dengan hati, Rif?" tanya Mas Musa dengan sedikit menurunkan nada suaranya.


"Ah pertanyaanmu semakin susah saja," ucap Mas Arifin.


"Hati juga bagian dari adil kan, bagaimana kamu membaginya secara adil?"


"Untuk kasih sayang bisa dibagi secara adil, saya mengasihi ketiga isteri dan keempat anak saya sama saja, saya menyayangi mereka semua. Tapi cinta, yaah ... jujurlah saya nggak munafik, saya masih belajar menyamakan cinta. Karena isteri saya yang kedua dan ketiga adalah pilihan orang tua saya, kalau isteri pertama walaupun sama-sama dijodohkan dan taaruf tapi saya sudah memperhatikannya secara diam-diam dari jaman dahulu. Tapi saya berusaha tidak menunjukan hal itu, agar tidak menyakiti hati salah satunya atau membuat salah satunya berbesar kepala, ini hanya rahasia hati saya yang masih dalam proses belajar."

__ADS_1


"Subhannalloh," ucap Mas Musa.


"Ini hanya gambaran singkatnya aja Sa, sederhananya seperti itu, konflik mah setiap hari ada tapi bagaimana kita menyelesaikannya. Itu bumbu biar hidup kita lebih berwarna dan bijaksana."


"Iya Rif, saya jadi banyak belajar dari cerita kamu."


"Dulu awal-awal saya poligami banyak orang yang mencaci saya Sa, dijuluki tukang kawin lah, doyanlah, serakah lah. Tapi siring waktu dan seiring keuangan saya yang membaik dan bahkan sangat baik, cacian itu hilang tanpa perlu saya tanggapi," kisah Mas Arifin.


"Wah, beneran?"


"Iya, ya begitulah manusia terkadang terlalu cepat menilai dari sisi luarnya saja, tanpa tahu di dalamnya seperti apa. Dan ketika kita terlihat berharta mau isteri satu, dua, atau tiga mereka tetap menghormati saya tanpa berani berkomentar."


"Hem, iya iya iya."


"Terus kamu menilai saya bagaimana ini? Kayaknya terkejut banget?"


"Iya enggak menyangka aja Rif, dan salut dengan prinsipmu soal penikahan dan tanggung jawabmu terhadap keluarga."


"Iya, saya sendiri kadang nggak percaya. Tapi sudahlah, Bismillah saja semua ada jalannya. Terus kamu sendiri bagaimana?"


"Saya? Hem ... seperti yang bisa kamu lihat Rif, pernikahanku dengan Medina sudah lebih dari 2 tahun dan masih berikhtiyar untuk kehadiran buah hati," jawab Mas Musa seperti kurang bersemangat, keadaan rumah kami yang masih sepi seolah membuat Mas Musa tidak percaya diri.


"Sabar aja Sa, rejeki maut jodoh ada yang mengatur. Tapi, bagaimana kalau kamu menikah lagi, Sa? Kita diperbolehkan memiliki 4 lho. Biar bisa cepet punya anak."


"Sebenarnya--"


"Mau saya carikan, Sa?"


Tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak, Mas Arifin mungkin teman yang baik untuk Mas Musa, tapi bisa saja kehadirannya memberikan dampak dan pemahaman yang kurang baik untuk Mas Musa. Tidak. Berbagi dengan Mba Mariam saja sudah membuat airmataku hampir kering.


Kuseret kakiku masuk ke dalam kamar, rasanya tidak ingin lagi mendengar apapun pembicaraan mereka.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2