Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Bukan Keikhlasan Wanita Biasa 2


__ADS_3

[Maaf, Din aku sibuk. Jahitanku numpuk,] tolak Mariam ketika Medina meminta untuk bertemu.


[Kalau Medina sehat, Medina pasti kesitu. Semalam Medina pendarahan Mba, ini harus bedrest tapi ada sesuatu yang harus Medina bicarakan sama Mba Mariam.]


[Pendarahan? Kamu nggak papa kan?]


[Nggak papa Mba, makanya Medina pengin ngomong.]


[Tentang kehamilan Medina, Mba. Tolong jam berapa aja Mba Mariam sempet tolong kunjungi Medina ya.]


[Baiklah, setelah makan siang aku usahakan]


[Makasih Mba, Assalamualaikum]


"Apa lagi yang diinginkan Medina?" gumam Mariam.


"Mama Okta? Ada pesanan seragam pengajian dari RT 4. Mau diambil atau enggak?" tanya Teh Desi.


"Tanyain Teh, buru-buru atau cepet? Kalau buru-buru kita nggak sanggup."


"Santai katanya, cuma 35 potong."


"Oke sikat aja Teh," seru Mariam.


"Aku suka mama Okta yang semangat kaya gini! Jangan lupa bonus kita ya, Mam ...." ucap Teh Desi.


"Siap ... pokoknya kita harus semangat, kita udah mulai mendapatkan kepercayaan orang-orang lagi."


Usaha Mariam mulai kembali dan berjaya, dia senang karena bisa membantu orang-orang yang bergantung hidup dari konveksi kecil miliknya. 2 orang pegawai laki-laki dan 4 orang pegawai wanita, semua Mariam jalani dengan gembira. Kehadiran mereka mengisi kekosongan tersendiri di hati Mariam. Sekaligus sumber kekuatan dimana dia harus bangkit.


"Teh Desi, kalau ada info ruko yang dijual kabari aku ya."


"Kenapa nyari rumah Mama Okta?"


"Hem, kayaknya tempat ini udah terlalu sempit."


"Wah Mama Okta mau nggedein usaha ya, nanti aku cariin info, cari tempat yang paling strategis."


"Nggak usah, takut mahal. Yang biasa-biasa aja."


"Kan mama Okta bisa minta tolong sama Pak Musa kalau uang mama Okta kurang."


"Hust ... enggak lah, ini uang peninggalan almarhum Mas Bian, nggak boleh dicampur-campur. Sekalian aku mau beli mobil impian Mas Bian yang belum kebeli dulu, kita kan juga butuh mobil buat beli-beli kain sama nganter pesanan, rukonya yang biasa aja biar uangnya cukup."


"Kalau mobil minta tolong Heru aja, dia sodaranya kerja di dealer mobil Mam," saran Teh Desi menunjuk salah satu pegawai lelaki di sana.


"Oh iya?"


"Iya, siapa tahu dapet diskon," bisik Teh Desi.


'Aku harus mandiri! Akan kubuktikan aku bisa membesarkan Oktavia tanpa harus dibantu oleh siapapun! Akan kubuktikan kalau pernikahan ini adalah kesalahan!' batin Mariam.


🍀🍀🍀


Selepas istirahat makan siang Mariam menepati janjinya untuk mengunjungi Medina.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Mba Mariam ditunggu dari tadi sama Mba Medina," ucap Mba Lastri menyambutnya.

__ADS_1


"Dimana Medina, Mba?" tanya Mariam.


"Di kamarnya."


"Oh." Kemudian Mariam duduk di sofa untuk menunggu Medina.


"Mba Mariam langsung aja ke kamar, Mba Medinanya lagi bedrest nggak boleh bangun-bangun dulu," ucap Mba Lastri melihat Mba Mariam duduk di sofa.


"Oh iya, benar semalem dia pendarahan?" tanya Mariam.


"Cuma ngeflek Mba, udah di cek ke dokter kandungan, semalem kita bertiga panik ngepot-ngepot ke rumah sakit, tapi syukurlah kandungan Mba Medina baik-baik aja, kata dokter harus istirahat total. Jadi Mba Mariam ke kamar aja, Mba Medina udah nungguin dari tadi sampe nanyain mulu, mba bikinin minum dulu, yah."


'Ke kamar?' batin Mariam, 'Bagaimana mungkin aku masuk ke kamar mereka? Membayangkan mereka bersama menghabiskan malam?'


Sejenak Mariam ragu untuk masuk ke area yang menurutnya sangat privasi. Butuh beberapa detik baginya untuk meyakinkan diri dan melawan perasaannya.


"Assalamualaikum, Din?"


"Waalaikumsalam, Mba. Akhirnya Mba dateng juga." Medina duduk bersandar di ranjangnya.


"Ada apa?"


"Maaf ya Mba, sampai minta Mba Mariam kemari. Kalau aja Medina nggak ngeflek-ngeflek pasti Medina yang dateng ke rumah Mba Mariam. Medina juga bosen banget di kasur begini," jelas Medina.


Mariam meraih kursi di samping ranjang Medina dan duduk di sana. Pandangannya menyapu sekitar dan menangkap ruangan hangat yang penuh cinta, rasa cemburu menyusup dengan lancang ke dalam hatinya. Mariam berusaha membuang perasaan yang seharusnya tidak dia rasakan.


'Wahai hati, kuatlah! Kamu tidak boleh ceroboh dengan mencintainya lagi. Ingat kita sedang bersiap-siap untuk pergi,' batin Mariam.


"Sabar Din, hamil memang begitu. Kamu harus membatasi gerak biar kandungan kamu selamat, menurutlah dulu sama anjuran dokter," tutur Mariam menenangkan Medina.


"Iya Mba, Mba Mariam bersedia 'kan menjawab pertanyaan-pertanyaan Medina soal kehamilan?"


"Tentu, tanyakan aja!" Mariam berusaha untuk nyaman di tempat penuh cinta yang bukan mililnya.


"Jadi, soal apa?" tanya Mariam penasaran.


"Semalam dokter bilang Medina nggak boleh melayani Mas Musa selama trimester pertama ini, Mba," tutur Medina sebelum bicara masalah inti.


"Oh ... iya biasanya memang begitu kalau yang lemah kandungannya, hampir semua orang mengalaminya, Din, bukan sesuatu yang harus kamu khawatirkan asalkan kamu istirahat dengan baik dan minum obat yang dokter kasih," jawab Mariam.


"Mba, kan Mba Mariam juga isteri Mas Musa. Sudah sepantasnya Mba Mariam melayani Mas Musa sebagai seorang isteri," ucap Medina memberanikan diri.


"Maksudmu?" tanya Mariam.


"Aku tahu Mas Musa berjanji untuk tidak menyentuh Mba sebelum Mba membuka hati, maaf Mba aku nggak sengaja tahu." Ucapan Medina membuat Mariam meradang.


'Bisa-bisanya Mizan mengayakan hal sepribadi itu pada Medina?' batin Mariam geram.


"Aku udah bilang Din, meski suami kita sama tapi rumah tangga kita beda. Jangan saling mencampuri rumah tangga masing-masing, apalagi mencampuri urusan ranjang," seru Mariam marah.


"Medina tahu Mba, tapi sekarang Medina sedang tidak bisa melayani Mas Musa. Sudah menjadi kewajiban Mba Mariam untuk melayaninya, dosa Mba, malaikat saja melaknat seorang isteri yang menolak suaminya sampai subuh tiba, apalagi dengan apa yang sudah Mba Mariam lakukan selama ini."


Mariam memijat pelan pelipisnya mendengar ucapan Medina. Ingatan Mariam terbang pada malam dimana dia menghabiskan malam bersama Mizan, malam yang akhirnya dia sesali. Karena cintanya justru tumbuh semakin tak terkendali.


Tok tok tok, "maaf ngganggu, ini minumannya Mba Mariam." Mba Lastri menyuguhkan segelas sirup dingin untuk Mariam, kemudian pergi lagi.


Mariam meraih gelas di meja dan meminum isinya hingga tandas. Medina memandangnya dengan terkejut, tidak disangka respon Mariam akan seperti itu.


"Din, kamu itu baik atau bodoh? Pergunakan kehamilanmu untuk membuat Mizan lebih banyak menghabiskan waktu denganmu! Kenapa malah menagih tugas-tugasku? Kamu bisa memiliki Mizan seutuhnya dengan kehamilan itu!" tutur Mariam.

__ADS_1


"Medina nggak pernah berpikiran seperti itu, Mba!" seru Medina.


"Berhenti bersikap arogan Mba! Mas Musa berhak Mba hormati karena dia juga suami Mba sekarang! Medina nggak pernah berpikir untuk memiliki Mas Musa sendirian, karena Medina sadar Medinalah yang hadir di tengah-tengah kalian. Mengertilah Mba! Medina nggak meminta Mba Mariam menikah dengan Mas Musa hanya untuk di rendahkan seperti itu, perlakukan Mas Musa dengan layak Mba, hormati dia sebagai suamimu! Jangan mentang-mentang Mas Musa mencintai Mba Mariam dengan sangat besar, Mba Mariam jadi berlaku seenaknya begitu!"


Mariam tercengang dengan apa yang Medina katakan. Kesedihan yang dialaminya selama ini membuatnya sibuk sampai tidak bisa melihat sisi keikhlasan yang luar biasa dari Medina. Dan waktu membuktikan pengorbanan yang telah dilakukan Medina tidak dia lakukan karena terpaksa, bahkan dia bisa tersenyum diatas takdirnya yang harus membagi suami.


Mariam merasa malu pada dirinya sendiri, karena merasa cemburu dengan kisah Musa dan Medina. Sementara Medina bisa begitu hebat mengusahakan segala cara agar suaminya bahagia.


"Din? Katakan padaku, bagaimana kamu bisa berbagi? Sementara hatimu mencintai Mizan?"


"Seperti yang dulu Medina katakan, Medina ikhlas, Alloh telah menyederhanakan hati Medina yang rumit, sehingga semua terasa ringan. Alloh juga menyederhakan semua yang menurut Medina berat untuk dijalani. Hanya itu Mba, cinta Medina memang sederhana tapi juga luar biasa untuk Mas Musa, tidak bisa di deskripsikan dengan kata-kata."


Mariam menitikan airmata mendengar penuturan Medina, bagaimana dia bisa egois dengan kecemburuan yang ada di hatinya? Bagimana dia bisa mengklaim telah mencintai Musa lebih lama dari Medina? Sementara hatinya masih enggan berbagi.


"Maaf Mba, bukan maksud Medina menggurui Mba Mariam tapi --"


"Benar Din, kamu memang lebih hebat segala-galanya. Wajar kamu menggurui, hatiku tidak sehebat hatimu. Berhenti membahas itu, pikirkan saja kehamilanmu. Aku pamit dulu, aku rasa nggak ada lagi yang perlu dibicarakan."


"Mba Mariam marah?"


"Enggak, aku takjub dengan hatimu. Harusnya Mizan cukup hanya dengan sosokmu tidak perlu lagi mengejarku yang hanya masa lalu."


"Mba!"


"Sudahlah Din, aku tidak pantas mendapatkan pengorbananmu!"


"Aku bukan berkorban untukmu, Mba! Tapi untuk Mas Musa."


"Kamu baik tapi keras kepala! Assalamualaikum."


"Mba Mariam, berjanjilah untuk memikirkan ucapanku!" seru Medina sebelum Mariam benar-benar menghilang di balik pintu.


Mariam beranjak pergi meninggalkan Medina. Melihat cinta Medina yang luar biasa, membuat tekatnya semakin bulat untuk pergi melepaskan ikatan pernikahan diantara mereka.


"Mba Mariam kenapa?" tanya Mba Lastri yang sedang menonton tivi.


"Nggak papa Mba, biasa wanita hamil memamg hormonnya nggak seimbang, hati Medina sedang labil. Aku pergi dulu Mba! Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Apa yang terjadi diantara mereka? Apa ini juga harus kulaporkan pada Bu Aini?" gumam Mba Lastri sendirian.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2