
"Mar, ibuku dan juga ibumu mungkin akan kecewa pada keputusanku--"
"Biar ibuku menjadi urusanku, aku yakin ibuku akan mengerti." Mariam menyela ucapan Mizan dengan cepat.
"Dan ... sampaikan permintaan maafku pada Bu Aini. Kalau memang beliau mau, beliau tetap boleh menganggap Oktavia sebagai cucunya, walaupun nanti dia akan dapat cucu dari Medina," lanjut Mariam.
"Iya ... terimakasih, nanti aku sampaikan."
Mariam berdiri menghampiri meja kerjanya, dan mengambil sebuah kartu dari dalam tasnya.
"Aku kembalikan lagi benda ini," ucap Mariam sembari meletakkan atm yang pernah diberikan oleh Mizan.
"Simpan saja, itu masih hakmu. Aku pun masih berkewajiban menafkahi Oktavia, dan juga beberapa tunjangan atau kompensasi yang nantinya akan jadi hakmu, Mar."
"Kamu nggak usah repot-repot begitu, Okta anakku, dia hanya--"
"Dia anakku juga, Mar! Terimalah ... aku mohon," potong Mizan.
Mariam terdiam mendengar permintaan Mizan.
"Aku akan menunaikan kewajibanku, jadi terimalah semua ini sebagai hak seorang isteri yang diceraikan. Aku tahu mungkin sekarang uangmu lebih banyak, tapi biarkan aku melalukan kewajibanku."
"Percayalah, tidak ada maksud apapun lagi," ucap Mizan meyakinkan Mariam.
"Hem ... baiklah, bila itu membuatmu lega." Mariam akhirnya mengalah dan menuruti kemauan mantan suaminya.
"Berjanjilah untuk hidup dengan baik, agar aku tahu bahwa keputusanku untuk melepaskanmu bukanlah langkah yang keliru," ucap Mizan diambang kerelaannya.
"Aku berjanji," jawab Mariam.
"Apa Medina tahu, Zan?" tanya Mariam kemudian.
"Belum," Mizan menggeleng, "Medina belum tahu, tapi kamu jangan khawatir, aku sudah menjelaskan padanya pelan-pelan sejak kemarin. Bukan maksudku menceritakan semuanya padanya, tapi agar Medina tidak lagi menggangumu."
"Aku mengerti," ucap Mariam memaklumi keterbukaan Mizan pada isterinya.
"Kalau nanti dia mendengar berita ini dia tidak akan terlalu terkejut," lanjut Mizan.
"Iya, lagi pula cepat atau lambat semua orang akan tahu."
"Iya."
"Sampaikan salamku pada Medina, terimakasih atas semuanya selama ini."
"Kamu bisa mengatakannya langsung, Mar. Kita yang berpisah, bukan kamu dan Medina. Lagi pula silaturahmi kita masih bisa tetap terjalin."
"Hem, iya."
"Aku akan meminta temanku untuk mengurusi perceraian kita di pengadilan nanti, kamu nggak usah khawatir, aku yang akan mengurus semuanya."
"Iya, terimakasih."
"Hem ... baiklah, aku pamit dulu. Terimakasih atas semuanya, Mar. Maaf ... aku--"
"Sudahlah, Zan. Mari kita sama-sama membuka kembali lembaran baru."
"Iya, aku harap kamu dipertemukan dengan seorang laki-laki yang hebat yang mampu mengerti dirimu dan mampu membuatmu bahagia."
"Aamiin ... tapi, masih terlalu dini untuk semua itu."
🍀🍀🍀
Musa kembali ke rumahnya dengan hati yang hampa. Di satu sisi dia lega, di satu sisi dia terluka.
"Waktu akan menyembuhkan kita kali ini, Mar! Aku telah jauh lebih ikhlas melepasmu, karena menggenggammu selama ini hanya membuatmu semakin terluka," gumam Musa seorang diri.
Di rumah Musa di sambut oleh Medina yang tanpa sengaja sedang berada di teras. Medina mendekati Musa dengan heran, tidak biasanya suaminya pulang saat masih ada matahari.
"Assalamualaikum," ucap Musa dengan tersenyum, berusaha menutupi sesuatu yang hancur dalam dirinya.
"Waalaikumsalam, Mas Musa tumben pulang jam segini?"
"Iya Dek, Mas ijin setengah hari."
"Setengah hari?" tanya Medina mengingat hari sudah sore tapi suaminya mengatakan setengah hari.
"Mas ada keperluan."
__ADS_1
"Ya sudah, Medina siapkan makan ya? Mas Musa keliatan ... pucat, Mas cape banget, ya? Atau Mas sakit?"
"Enggak Dek, mas mau mandi dulu, mas belum sholat Ashar, habis itu ada hal yang ingin mas bicarakan denganmu."
"Bicarakan? Ehm ... baiklah, Medina siapkan air hangatnya," ucap Medina kebingungan.
"Nggak usah Dek, anak kita sepertinya udah mulai mempersulit gerakanmu, berbahaya takut licin nanti kamu kenapa-kenapa. Biar mas sendiri aja, yah."
Musa segera masuk dan menuju kamarnya, menyeret paksa kakinya yang lunglai. Di kamar dia meletakan tasnya begitu saja di meja, berjalan ke arah lemari dan mengambil baju gantinya sendiri.
Sementara itu Medina duduk di teras dengan penuh tanda tanya, dia penasaran pada hal yang ingin suaminya bicarakan.
"Sudah Mba Medina, jangan dibawa gelisah. Insha Alloh nggak ada apa-apa," ucap Mba Lastri mencoba menenangkan.
"Nggak bisa dibohongi Mba, hati Medina gelisah, firasat Medina mengatakan hal yang buruk telah terjadi. Mas Musa bukan menunjukan raut cape, tapi sedih, Mba."
"Banyak-banyak husnudzon aja Mba," ucap Mba Lastri lagi.
"Iya."
"Mba Lastri siapin makanan dulu ya, Mba."
"Biar Medina bantuin Mba," ucap Medina.
"Nggak usah Mba, Mba Medina disini aja istirahat."
"Medina udah kebanyakan istirahat, nggak papa dari pada Medina berpikir kemana-mana."
Akhirnya Mba Lastri membiarkan Medina ikut membantu sebisanya di dapur. Terkadang Medina juga belajar memasak menu-menu kesukaan suaminya saat kecil dari Mba Lastri. Semenjak mabuknya hilang Medina memiliki hobi baru yaitu memasak.
Medina larut dalam perbincangan seru mengenai masakan dengan Mba Lastri sampai dia lupa pada kegelisahannya.
"Masak apa, Dek?" tanya Musa yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melewati mereka.
"Masak sayur nangka pake santen, kata Mba Lastri Mas Musa suka ngabis-ngabisin nasi kalo makan pake sayur ini," jawab Medina.
"Kayaknya enak, ya udah mas sholat dulu."
"Iya."
Perlahan Medina membuka sedikit pintu untuk mencari tahu apa yang terjadi. Musa tengah menahan tangis di dalam doanya, dia bersimpuh dengan pasrah, penuh lafadz istighfar yang terdengar gemetar.
Medina hendak masuk dan menanyakan apa yang telah terjadi, tapi sesuatu dalam dirinya menahan langkahnya. Medina memutuskan memberikan waktu untuk suaminya. Medina menutup kembali pintu kamarnya dengan perlahan tanpa ingin Musa menyadari keberadaannya.
Beberapa saat kemudian Musa menghampiri Medina dan bersikap biasa seolah-olah tidak ada yang terjadi. Medina pun menghormati apa yang suaminya berusaha sembunyikan dengan berpura-pura tidak tahu.
Mereka makan dan bicara seperti biasa, membuat Medina semakin tidak sabar menahan rasa ingin tahunya. Tidak lama setelahnya waktu telah masuk ke sholat Maghrib. Medina sholat berjamaah dengan Musa.
"Dek, ada sesuatu yang harus mas sampaikan," ucap Musa setelah selesai berdzikir.
"Ada apa, Mas?" Medina mulai merasakan senyum suaminya yang dipaksakan.
"Mas, sudah beristikharoh beberapa malam belakangan ini, dan setelah menimbang berbagai hal yang terjadi, dan melihat keadaan yang sebenar-benarnya mas telah memutuskan sesuatu hal." Medina menyimak ucapan Musa tanpa berani menyelah.
"Mas ... telah memberikan talak pada Mariam."
"Astaghfirullohaladzim ...," Medina terkejut, dengan gerakan refleks dia menutup mulut dengan telapak tangannya.
"Mas ... apa yang telah Mas Musa lakukan? Talak? Kenapa?"
"Selama ini Medina memang curiga ada yang nggak beres dengan kalian, tapi apa Mas? Kenapa sampai jatuh talak?" tanya Medina.
"Apakah benar, Mba Mariam meminta cerai karena kehamilanku, Mas?" tanya Medina dengan cepat.
"Tenangkan dirimu, Dek. Dengarkan penjelasan mas dulu."
Medina diam dan mengatur kembali nafasnya.
"Ini murni masalah hati kita berdua, masalah prinsip hidup, dan perbedaan jalan pikiran. Mas sudah berusaha merubah sudut pandang Mariam maupun sudut pandaku sendiri, tapi tetap tidak bisa menyelesaikannya."
"Itu alasan klasik, Mas."
"Dengar dulu, Dek. Masalah ini nggak sesederhana itu, bukan juga karena kehamilanmu, ini lebih kemasalah hati kita berdua. Mas merasa telah menggenggam Mariam terlalu erat selama ini, bukan kebahagiaan yang mas berikan padanya, justru penderitaan."
"Mariam turut bahagia dengan kehamilanmu."
"Dek, percayalah. Apa yang terjadi antara mas dan Mariam tidak ada hubungannya denganmu dan tidak akan berpengaruh apapun pada cinta kita, mas berjanji. Tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
__ADS_1
"Mas dan Mariam bersepakat mengakhiri pernikahan ini dengan dewasa, perpisahan kami sekarang tidak seperti perpisahan kami yang dulu, dulu kami hanya remaja labil. Kini, tidak ada lagi penyesalan atau rasa bersalah, semua berakhir dengan ikhlas."
"Mas bohong! Tadi Medina liat Mas Musa berdoa sambil menangis," tuduh Medina dengan mata berkaca-kaca.
"Dek ... bagaimanapun perceraian adalah hal yang Alloh benci, mas tetap merasa berdosa dan mas harus bertaubat dari segala kekhilafan diri mas." Musa berusaha menjelaskannya perlahan pada Medina.
"Mas memang terluka dengan perpisahan ini, itu wajar. Tapi bagaimana pun pernikahanku dan Mariam tidak bisa dipaksakan lagi, Dek."
"Mas ...." Medina menghambur ke dalam pelukan suaminya dan menangis di sana. Berusaha menguatkan suaminya meskipun dirinya juga masih tidak percaya.
"Sudahlah, Dek. Percayalah ini yang terbaik untuk kita semua."
"Apa Mba Mariam baik-baik saja? Maksud Medina, apa benar selama ini Mba Mariam sama sekali tidak mencintai Mas Musa hingga dengan mudahnya dia minta untuk berpisah?"
"Sudahlah, Dek. Mariam sudah ikhlas. Mas yakin dia pun terluka, tapi waktu akan mengobati kita semua."
"Medina masih nggak percaya kalian berpisah," ucap Medina.
"Ini nyata atau mimpi, Mas?"
Musa tidak lagi menjawab pertanyaan isterinya, dia hanya memeluk lebih erat.
🍀🍀🍀
Sementara itu Mariam tengah menangis ditemani oleh Teh Desi di ruangannya. Semuanya bercampur dalam hatinya, terluka, sedih, lega, dan bahagia.
"Menangislah, Mba! Biar hatimu lega, teteh nggak tahu harus ikut sedih atau ikut bahagia. Menangislah Mba!" ucap Teh Desi.
"Ini yang terbaik, Teh! Aku yakin."
Bruugk ....
Tiba-tiba tubuh Mariam limbung dan terjatuh, kepalanya menghantam meja.
"Astaghfirullohaladzim ... Mba ... bangun Mba."
"Nov ... masuk, bantuin teteh ...," teriak Teh Desi pada Novi yang berada di luar.
Mereka mengangkat tubuh Mariam ke sofa, berusaha membangunkannya, memberikan wewangian di hidung dan memijit jempol kakinya.
"Nggak berhasil, tolong panggilan Heru di atas. Kita ke dokter, minta Heru untuk cepet!" ucap Teh Desi.
Heru segera datang, dan tanpa banyak bertanya dia meraih kunci mobil sementara beberapa karyawan lain menggotong tubuh Mariam.
Mobil segera melaju ke rumah sakit terdekat, begitu sampai IGD dokter segera menangani Mariam. Sementara Teh Desi dan Heru menunggu di luar ruangan dengan gelisah.
"Keluarga Ibu Mariam?" panggil suster.
"Iya," Teh Desi masuk ke ruangan IGD sementara Heru tetap menunggu di luar.
Infus telah terpasang di tangan Mariam, sementara matanya masih terpejam dengan wajah yang pucat.
"Mba Mariam kenapa, Dok?"
"Tekanan darahnya rendah sekali, sepertinya Bu Mariam kecapekan."
"Tapi nggak papa kan, Dok?"
"Nggak papa, hanya butuh banyak istirahat, untuk kondisi hamil muda seperti Bu Mariam memang tidak boleh terlalu banyak kegiatan yang menguras tenaga."
"Apa?!"
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1