
Musa Hamizan
"Maaf, Dek. Mas ... nggak bisa menahan diri," ucapku setelah sadar, aku mencumbu istriku di ruangan terbuka seperti ini.
Bibir kami masih basah, kuusap bibir Medina yang ranum, dia tersenyum simpul.
"Medina juga terbawa suasana, Mas," ucapnya malu-malu.
Jujur saja, dulu ... aku mencumbunya bukan dengan cinta. Tapi, kewajiban. Rasa bersalah selalu muncul saat melihat mata Medina, dia penuh cinta saat melakukannya, tapi ... aku?
Ah, bodohnya aku.
Sekarang, akan kutebus semua rasa sakitmu. Bukan sekedar kewajiban, tapi rasa cinta yang membuat jantungku berdegup keras karena gugup setiap melakukannya.
Aku mencintaimu, Dek. Sangat-sangat mencintaimu.
Benih cinta yang kamu tanam telah tumbuh dan mengakar dengan sangat kuat di hatiku. Dengan kesabaran, pengorbanan, dan air matamu, menjadikan cinta ini tumbuh subur, serta kokoh menantang hujan, atau pun badai.
"Aku harap mas bisa membahagiakanmu, Dek," ucapku.
"Medina bahagia, Mas. Bukannya Mas Musa sudah mencintai Medina?" tanya Medina memastikan.
"Kamu pasti merasakannya, Dek."
Tentu saja aku mencintainya, sampai susah mulutku merangkai kata untuk mengakuinya. Tapi dengan kubuktikan, kamu akan kubahagiakan.
Medina kembali menyenderkan kepalanya di pundakku. Kedua tangan kami saling bertautan. Setelah kuingat kembali, jarang rasanya menghabiskan waktu bersama istriku dengan berbincang begini.
Malam semakin mendekati dini hari, dinginnya udara tidak seperti biasanya. Ada Medina di sampingku, membuatku merasa hangat.
"Mas, Medina ikhlas pada semua yang telah terjadi," ucap Medina tiba-tiba, pandangannya menerawang jauh menyapu langit.
"Maksudmu, Dek?"
"Medina ikhlas menjadi istri Mas Musa, dengan segala proses yang harus Medina lalui sebelumnya, Medina bahagia," ucap Medina mengulas.
"Jangan mulai lagi, Dek. Mas memintamu mengatakan sakit, jika yang kamu rasa memang sakit," ucapku seraya menoleh padanya, berusaha keras membaca matanya, aku selalu penasaran apa yang ada di hatinya saat berpura-pura baik-baik saja.
Medina tersenyum, dan menatap balik padaku dengan meledek. Sungguh aku tak mengerti hati perempuan ini, kadang dia terlihat benar-benar tanggung kadang dia terlihat menitikkan air mata di balik senyumnya.
Belum puas, dia melanjutkannya dengan tertawa kecil.
"Mas ... Medina memang bahagia," ucapnya penuh kesungguhan setelah berhenti tertawa.
"Memang, perjalanan Medina mendapatkan hati Mas Musa nggak mudah, Medina harus menahan sakit, hati Medina remuk, tapi Medina tetap bisa melewati semua karena Medina yakin, suatu saat pasti Mas Musa akan mencintai Medina," ulas Medina, andai dia tahu, betapa sakit hatiku mengingat penderitaannya.
"Saat menjalaninya memang sakit, tapi sekarang ... saat Medina mengingatnya kembali, Medina merasa menang dan tentu saja bahagia," ucap Medina lagi, kucerna perlahan ungkapan hati Medina kata demi kata.
"Bukan berarti Medina menang karena berhasil mendapatkan Mas Musa dengan mengalahkan Mba Mariam, tapi karena Medina berhasil mengalahkan ketidak mampuan Medina sendiri," jelas Medina.
"Medinalah yang meminta poligami, bukannya lucu kalau Medina juga yang mengeluh sakit?" pungkas Medina.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar penuturannya, sudut pandangnya yang selalu positif, dan sifatnya yang selalu optimis, mempertanggung jawabkan apapun yang sudah menjadi pilihannya dengan hati yang selalu berprasangka baik pada takdir Alloh.
Aku mengagumimu, Dek.
"Medina pun ikhlas ...," Medina menjeda kata-katanya, dia nampak mengatur air mukanya sejenak, "... Medina ikhlas dengan cinta Mas Musa pada Mba Mariam, Medina yakin semua akan berlalu."
Ah, aku hampir saja lupa, Medina pasti sempat melihat layar ponselku, tadi.
__ADS_1
Kutatap lekat-lekat matanya, seorang malaikat berhati lembut yang harus merasakan perih karena menjadi istriku, seorang Musa yang hatinya penuh kekurangan. Medina, dialah wanita yang cemburunya berbeda dengan wanita lain di luar sana.
Cemburumu membuat hatiku gemas.
"Dek ... kamu benar, Mariam memang ada di hatiku, tapi biarkan waktu yang menghapusnya. Bukankah aneh kalau mas bisa melupakannya hanya dalam sekejap mata?" Kucoba mencari kalimat yang tepat untuk menjelaskan hatiku sebenar-benarnya.
"Tentu saja, Mas. Bila Mas Musa semudah itu melupakan Mba Mariam, semudah itu juga Mas Musa akan melupakan Medina suatu hari nanti," ucap Medina menimpali, dan memang benar, dia mampu menangkap apa yang berusaha aku sampaikan.
"Tapi semuanya berbeda sekarang, mungkin dulu cinta itu ada, membara, dan tetap berkembang. Namun, kali ini, cinta itu sudah tidak lagi berkembang, tidak lagi membara, dia hanya tersimpan begitu saja, ibarat bunga dia akan layu, hingga waktu yang akan mengubahnya menjadi sudut kenangan yang pastinya memberi hikmah yang luar biasa bagi kita."
Medina kembali tersenyum, entahlah sulit sekali merangkai kata. Aku ingin jujur mengatakan diriku apa adanya, Mariam memang masih ada, kisahnya saja, tidak lagi perasaan cintanya.
"Medina mengerti, Mas. Biarkan dia di sana. Medina nggak akan mengusiknya," ucapnya.
"Iya, kita tidak akan mengusiknya." Sengaja kutekankan kata kita agar Medina tahu aku bersamanya
"Segalanya tentangmu telah mengalihkan hidupku, Dek."
"Hatimu telah berhasil membimbing hati mas yang terperangkap oleh masa lalu. Cintamu memberi mas cahaya untuk menemukan pintu keluar dari jalan buntu. Berkatmu, mas telah lahir menjadi jiwa yang baru."
"Mas akan terus belajar memahamimu, mengerti dirimu, sehingga mas bisa membalas cintamu berkali-kali lipat dari cinta yang telah kamu berikan selama ini."
Kulihat mata Medina berkaca-kaca, entahlah, mungkinkah ada yang salah dari ucapanku?
"Kenapa kamu menangis, Dek?" tanyaku seraya mengusap bulir bening di sudut netranya.
"Medina masih nggak percaya, Alloh mengabulkan semua doa-doa Medina dengan begitu indah. Rasanya seperti mimpi bisa menggapai cinta suamiku sendiri," jawab Medina sedikit terbata.
Subhanalloh ....
Sedalam itukah cintanya?
Ya Alloh, mampukan aku untuk menjadi suami yang baik baginya, nikmat-MU begitu indah.
Terutama Medina.
Tunggu, Dek, mas akan membuatmu bahagia.
Jika ditanya, apakah aku menyesali pernikahanku dengan Mariam?
Jawabanku, tidak.
Tanpa menikahi Mariam aku takan sampai pada diriku yang sekarang. Dan mungkin perjalanan rumah tanggaku dan Medina akan berbeda. Tidak ada jaminan rumah tanggaku akan lebih baik tanpa kehadiran Mariam, mengingat diriku yang masih naif dan bodoh.
Pengecut sekali rasanya jika harus menyesali pernikahan itu, terlebih menyesali anak yang ada di rahim Mariam.
Aku melihatnya sebagai sebuah takdir yang memang harus terjadi dan harus aku lalui. Masing-masing dari kami menjadi pribadi yang lebih baik. Ini sebuah pelajaran hidup yang mahal dan berharga.
Dimana cinta membuat semua harus jatuh bangun, terseok-seok, merana, kecewa, terpaksa menjadi kuat, menjadi sabar, hingga tanpa sadar kita telah menjadi sosok hati yang benar-benar tegar.
Aku melepaskanmu, Mar. Cintamu, dan segala rasa di hatiku untukmu yang telah bertahun-tahun menggerogoti hidupku.
Aku pun mengerti lukamu, berharap dengan perpisahan ini bisa membuatmu leluasa menatap matahari untuk meneruskan hidup tanpa beban cinta dariku dan status madu yang Medina sematkan.
Melangkah dan buang jauh cintamu untukku, seorang laki-laki yang dulu mengaku sangat mencintaimu, namun nyatanya akulah yang menancapkan luka paling dalam pada hati dan hidupmu. Aku harap bisa melihat senyummu lagi, senyum yang nampak indah saat pertama kita berjumpa lagi. Aku yakin hidupmu akan bahagia walaupun tanpa Biantara, aku tahu kamu kuat dan tegar.
Terimakasih pernah mencintaiku, dan mengijinkanku mencintaimu. Terimakasih pernah membiarkanku mencoba mendampingimu, meskipun aku gagal. Takan kulupakan semua pelajaran berharga dari perjalanan kisah kita yang teramat panjang. Terimakasih telah bersikeras untuk pergi dan memberiku kesempatan untuk sadar, bahwa di sisiku telah menunggu sosok wanita berhati malaikat.
Pagi telah datang, seisi rumah sibuk dengan kebutuhannya masing-masing. Aku harus bersiap ke kampus, dan Ibu, Medina, Mba Lastri akan melakukan perjalanan ke kampung halaman bersama Pak Iwan.
__ADS_1
"Titip Medina ya, Bu," ucapku pada ibu.
"Iya, kamu jaga diri, tenang saja ibu akan mengurus istrimu."
Aku mencium tangannya dan ibu memelukku, matanya sendu, ada banyak kata yang tak mampu ibu ucapkan.
"Semua akan membaik, Bu. Sebentar lagi, rumah ibu akan ramai oleh tangisan cucu ibu."
"Jangan sok menguatkan ibu, kuatkan dirimu sendiri," ucapnya seraya masuk ke mobil.
Medina melambaikan tangannya, seiring kemudi yang bergerak dan roda yang berputar membawa orang-orang tersayangku pergi menjauh.
Aku pun bergegas menuju mobilku dan menyemangati diri untuk bersiap mengajar di waktu-waktu terakhir.
🍀🍀🍀
Mariam Maulida
Jika kamu bertanya pada wanita yang pernah diselingkuhi, manakah yang lebih baik, suamimu pergi untuk wanita lain atau suamimu meninggal dunia?
Maka dia akan memilih suaminya meninggal dunia.
Tapi jika kamu bertanya pada wanita sepertiku, yang suaminya telah mati, maka aku akan memilih suamiku pergi dengan wanita lain.
Walaupun konsep pernikahanku bukanlah perselingkuhan, tapi pada hakikatnya sama saja, kerelaan hatiku dipertanyakan.
Aku berusaha menutup telinga dari kabar burung yang begitu liar di luar sana. Aku harus melindungi bayi dalam rahimku agar dia tumbuh dengan baik. Aku menyesal setelah beberapa kali hampir saja aku kehilangannya karena ketidak becusanku.
Ah, anak ini masih rezekiku.
Andai mereka tahu, bagaimana bentuk hatiku saat ini, masih tegakah mereka menggunjingku?
Siapapun bisa saja berjalan di jalan yang sama denganku, tapi tetap saja, sepatu kita berbeda.
Beginilah aku, yang tetap memilih perceraian meski nyawa baru tengah tumbuh dalam rahimku. Ah ... lelah rasanya mencoba menjelaskan pada setiap orang, seharusnya aku diam saja dan hanya menutup telinga mengingat begitu banyak mulut yang bicara tanpa tahu apa yang sebenarnya.
Tubuhku masih lemah, tapi aku rindu dengan konveksiku. Disanalah aku merasakan kehadiran Biantara yang terus mendorongku untuk berpikir positif dan maju.
Aku memaksa Mas Faisal untuk ikut sekedar melihat kehebatannya mengatur usaha dan orang-orangku. Aku pun mengajak Oktavia agar kami kembali menghabiskan banyak waktu berdua.
"Mah ... itu mobil Eyang sama mobil Abi," ucap Okta saat mobil kami tak sengaja bertemu di persimpangan perumahan.
Kedua mobil yang ditunjuk Okta berjalan beriringan, Mas Faisal berhenti dan mempersilahkan mereka memakai jalan duluan.
Aku bersyukur, anakku tidak ikut serta bersama mereka.
"Mah, Okta mau sama Abi sama Eyang," rengek Okta.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.