
Bragk ... bragk ... bragk!
Pukul 9 malam terdengar suara pintu diketuk secara kasar, sebelumnya kudengar suara mobil Mizan berhenti. Memang hari ini jadwal Mizan untuk menginap bersamaku.
Aku tergopoh-gopoh mendatangi pintu, "sebentar ...!"
Saat membukanya terlihat Mizan datang dengan nafas terengah-engah seperti habis berlarian. Wajahnya bingung sepertinya telah terjadi sesuatu, biasanya Mizan akan pulang jam 8 malam tapi kali ini dia telat satu jam.
"Kenapa, Zan? Ada apa?" tanyaku panik melihatnya seperti itu.
"Apa Medina di sini?"
"Medina? Nggak. Dia sama sekali nggak kemari hari ini."
"Apa Medina menghubungimu, Mar? Apa dia mengatakan sesuatu padamu sebelumnya?"
"Nggak, Zan. Memangnya Medina kenapa?"
Mizan tidak langsung menjawab pertanyaanku, dengan masih terengah-engah, dengan wajah yang kalut dia masuk dan menghempaskan tubuhnya di sofa dengan kasar.
"Ada apa dengan Medina, Zan?" tanyaku lagi.
"Sepertinya Medina pergi dari rumah," jawab Mizan singkat.
"Hah? Pergi dari rumah? Kalian bertengkar?" tanyaku tidak mengerti.
"Nggak Mariam, sepertinya hanya salah paham. Tapi nggak tahu kenapa Medina begitu memasukkannya ke dalam hati, bahkan sampai pergi seperti ini." Aku hanya mengernyitkan dahi, salah paham apa yang membuat Medina pergi?
"Kamu sudah cari kemana?" tanyaku yang mulai tertular kecemasan dari Mizan.
"Seharian perasaanku nggak enak, beberapa kali kukirim pesan padanya tapi hanya dibaca tanpa dibalas. Kutelephon tapi nggak diangkat. Sebelum kemari kuputuskan untuk menemuinya terlebih dahulu, tapi rumah kosong, lantai kamar mandi pun kering seperti sudah ditinggal dari pagi, koper Medina juga menghilang, kucoba menelephon ke orangtuanya berpura-pura menanyakan kabar, tapi respon mereka biasa saja, sepertinya Medina nggak pergi kesana," tutur Mizan dengan nada khawatir.
"Apa masalahnya kali ini, Zan? Mengapa Medina begitu marah sampai pergi seperti ini?" Kutetap mencoba bertanya meskipun itu adalah urusan rumah tangga mereka, sungkan rasanya untuk ikut campur, tapi kepergian Medina benar-benar membuatku penasaran.
"Aku nggak mengerti Mariam." Mizan menyenderkan kepalanya kebelakang, entah apa yang terjadi diantara mereka, Mizan memijat-mijat keningnya sambil terus berpikir.
Aku berinisiatif membuatkannya secangkir teh hangat agar dia kembali tenang.
"Ini Zan, diminum dulu," ucapku sambil menyodorkan cangkir itu kehadapannya, Mizan memandang ke arahku. Biasanya aku hanya meletakkannya di meja, tapi kali ini aku ikut merasakan kekhawatiran yang sama dengannya sehingga aku ingin memberikan secangkir teh ini langsung padanya, "minumlah! Biar kamu sedikit tenang, nanti kita cari Medina bersama."
"Terimakasih," ucap Mizan sambil menerima teh dariku dan meminumnya.
"Zan, aku ingat kemarin Medina memberiku pesan dia mengatakan dirinya tidak akan rela kalau kamu menikah lagi, karena aku masih sibuk jadi aku tidak menggubrisnya. Apa berhubungan dengan hal itu?" Kucoba menebak dengan pesan aneh Medina kemarin, kini aku menyesal mengabaikannya.
Mizan terlihat terkejut mendengarnya, aku bisa menebak memang itulah masalahnya.
"Kamu mau menikah lagi, Zan? Itukah yang membuat Medina marah?" tanyaku dengan rasa yang tidak percaya pada kelakuan Mizan, kumundurkan sedikit badanku pertanda menghilangnya simpati berganti pada kemarahan yang mungkin sama dengan yang dirasakan Medina.
"Nggak Mariam, itu hanya salah paham." Mizan menggeleng-gelengkan kepalanya, dia terlihat putus asa namun tetap mencoba menjelaskannya padaku.
"Kemarin temanku datang dan dia menceritakan kehidupannya yang sudah berpoligami dengan 3 orang isteri. Layaknya teman, dia bercanda menawariku untuk dicarikan isteri lagi. Medina hanya mendengar bagian temanku menawarkan itu, tanpa mendengar kelanjutannya. Dia masuk kamar dan menangis sepanjang siang, aku sudah berusaha menjelaskan tapi dia terus menghindar sampai akhirnya seperti ini."
Aku tidak sepenuhnya percaya pada ucapan Mizan, terdengar aneh jika Medina pergi hanya karena salah paham.
"Benarkah?" tanyaku dengan ragu.
"Iya Mariam, benar. Aku nggak akan menikah lagi kalian berdua sudah sangat cukup untukku, percayalah!" ungkap Mizan dengan penuh penyesalan.
"Selama ini aku tahu, Medina begitu sabar menghadapi kamu Zan, dia ikhlas menerima semua kecacatan cintamu padanya, bahkan dialah yang memintaku untuk menikah denganmu. Dia telah melewati masalah yang jauh lebih pahit dari pada sekedar kesalahpahaman, jadi bagaimana mungkin dia pergi hanya karena itu?" tanyaku lagi.
"Aku nggak tahu lagi Mariam, aku juga memiliki pertanyaan yang sama, sekarang yang paling penting adalah mencarinya, tapi aku harus mencari Medina kemana?"
__ADS_1
Kuhirup nafas dengan berat, kalau benar hanya itu yang terjadi betapa janggal perilaku Medina kali ini. Kuakui dia memang naif, tapi dia tidak akan melakukan tindakan gegabah seperti ini. Atau jangan-jangan dia telah berhasil memahami ucapanku dulu?
Mizan terlihat sangat kalut dan cemas, kakinya seperti ingin berlari tapi dia tidak tahu kemana harus pergi. Medina yang bodoh, bagaimana bisa dia terus saja menilai Mizan tidak mencintainya? Lihatlah, Mizan begitu kelimpungan saat dia menghilang.
"Mandilah terlebih dahulu, dinginkan pikiranmu. Biar aku yang mencoba menghubunginya, siapa tahu dia mau mengangkat panggilanku," saranku pada Mizan karena dirinya terlihat sangat lelah.
"Baiklah, tolong aku Mariam!"
Mizan beranjak pergi ke kamar mandi. Kucoba menghubungi Medina tapi tidak diangkat, kukirim pesan berkali-kali, tapi tidak dibalas.
[Din, jangan pergi terlalu jauh, kalau kamu melihat Mizan sekarang kamu pasti bahagia, dia sangat khawatir dan dia sangat mencintaimu, pulanglah jangan sampai benang yang kamu ulur putus] pesan pamungkas kukirim padanya.
"Bagaimana Mar, diangkat sama Medina?" tanya Mizan yang baru selesai mandi, aku menggeleng pelan, Mizan kembali dengan raut kecewanya. Mizan kemudian menyambar kembali kunci mobilnya.
"Mau dicari kemana, Zan?"
"Entahlah, aku harus mencoba, diam justru menambah pikiranku."
"Nggak Zan, kita harus mencarinya dengan pikiran yang dingin. Lagipula dia mungkin pergi tidak lama setelah kamu berangkat kerja, udah gitu membawa koper. Nggak mungkin dekat-dekat sini, kita harus berpikir jernih agar kita bisa menebak jalan pikiran Medina, menebak kemana dia pergi."
"Tapi, Mar!"
"Nggak!" Kucengkram tangannya untuk menegaskan penolakanku, dadaku naik turun menahan sesuatu yang memang seharusnya tidak boleh terjadi. Lagi.
"Duduklah, kita pecahkan bersama-sama. Medina bukan anak kecil, dia pasti ada di suatu tempat. Aku tidak akan membiarkan kamu mengendarai mobil dengan pikiran kalut seperti itu! Kamu tahu kecelakaan bisa saja terjadi, dan aku tidak mau!" ucapku tegas.
Mizan akhirnya mengerti ketakutan dan rasa traumaku pada jalanan. Dia memelukku dengan erat, seolah ingin menyatukan rasa khawatir dan rasa bersalah yang ada pada dirinya untuk melebur bersama rasa takut dan traumaku.
"Maafkan aku, Mariam," ucapnya, "maafkan aku!"
Tangan kirikuku mencengkram erat ponsel yang sedari tadi kupegang, sementara tangan kananku menggenggam sambil bergetar. Dadaku masih naik turun mencoba menekan perasaan yang tidak seharusnya kambuh saat ini, mencari keberadaan Medina jauh lebih penting.
Kupejamkan mata dan berusaha mengatur nafas agar bisa kembali berpikir jernih. Dengan jarak sedekat ini bisa kurasakan kehawatiran yang teramat sangat dalam hati Mizan.
"Aku juga ingin mencari Medina, Zan. Tapi tolonglah cari dia dengan akal sehat," ucapku sedikit memohon.
"Maafkan aku yang ingin menjaga keselamatanmu, aku Nggak mau kalau harus kehilangan dua kali," gumamku lagi, entah Mizan mendengarnya atau tidak.
"Terimakasih Mariam sudah mengingatkanku. Astaghfirullohaladzim!"
Bersamaan dengan itu, ponselku bergetar. Aku reflek melihatnya berharap itu panggilan dari Medina. Mizan menatapku penuh harap bahwa nama Medinalah yang tertera di layar ponselku.
"Bukan Medina Mas, tapi Ibu." Mizan beringsut kecewa.
"Hallo Assalamualaikum Bu," salamku pada Ibu mertuaku saat ini.
[Waalaikumsalam, Mba Mariam ehm ... maaf Ibu menelepon malam-malam tapi ada sesuatu yang mau Ibu tanyakan,]
"Tanya apa Bu? Monggo tanyakan saja."
"Apa Ibuku Mar?" tanya Mizan, dan aku mengangguk serta mengisyaratkan Mizan untuk tenang.
[Begini ... Nak Medina ada di sini, apa Mba Mariam tahu, Mizan dan Medina sedang bermasalah?]
🍀🍀🍀
Dalam beberapa menit mobil sudah melaju membelah jalanan kota dan mulai memasuki gerbang tol. Begitu mengetahui keberadaan Medina, Mizan segera memutuskan untuk pulang menjemputnya. Aku sebenarnya tidak ingin ikut, tapi saat-saat seperti ini akan rawan membiarkan Mizan mengendarai mobil sendirian.
Sebelumnya kukemasi beberapa bajuku, Mizan dan Oktavia dengan cepat. Oktavia yang sudah tidur pun ikut kubawa serta, dia pasti senang mengunjungi eyangnya di kampung.
"Pelan-pelan saja Zan, kita harus hati-hati yang terpenting kita udah tahu Medina dimana dan dia baik-baik saja." Kuingatkan Mizan yang mengendarai mobilnya dengan kecepatan relatif tinggi.
__ADS_1
"Astaghfirullohaladzim." Mizan mulai mengurangi kecepatannya dan berusaha menguasai kesadarannya kembali.
"Terimakasih Mariam, kamu jadi ikut repot gara-gara masalah ini."
"Medina bukan orang lain. Hem ... aku nggak nyangka Medina memilih ibumu sebagai tempat untuk lari."
"Iya, syukurlah!" Nada kelegaan mulai terdengar dari suaranya.
"Udah lama banget aku nggak pulang ke rumah Ibu."
"Benarkah, kenapa?"
"Banyakan Ibu yang mengunjungiku, kalau pun hari raya aku lebih memilih pulang ke kampung halaman Mas Bian."
"Setelah ini kamu akan sering pulang."
"Aku yang pengecut, demi melupakan kamu, aku sampai membenci kota kelahiranku sendiri."
"Apa?!"
"Iya, dan aku nggak mau mengulangi hal yang sama, aku nggak akan meninggalkan Bogor hanya karena aku harus melupakan segala tentang Mas Bian."
"Bukahkah semua udah berbeda Mariam? Aku bahkan suami kamu sekarang."
"Iya, disaat aku berhasil lupa justru kamu muncul dan menjadi suamiku. Lucu sekali hidup ini."
"Ternyata aku sudah membuatmu menderita, setelah ini aku akan berusaha membuatmu bahagia Mariam."
"Bagaimana rasanya beristeri dua, Zan?"
"Entahlah, aku bahkan nggak pernah memikirkannya atau pun memimpikan semua ini sebelumnya. Aku hanya fokus melupakanmu."
"Lucu sekali, kita sama-sama berusaha keras untuk saling melupakan."
"Tapi takdir justru mempertemukan kita kembali," timpal Mizan.
"Nanti antar aku ke rumah ibuku terlebih dahulu, Zan."
"Nggak, pulanglah bersamaku, setelah itu kita akan mengunjungi ibumu sama-sama."
"Selesaikan dulu masalahmu dengan Medina, aku yakin Medina ingin bicara berdua denganmu." Mizan hanya diam.
"Nggak sopan Mar, membiarkan kamu pulang sendiri begitu aja, apa kata ibumu bahkan ibuku nanti?"
"Sudahlah, semua akan baik-baik aja, kamu fokus saja dulu pada Medina, kita harusnya sadar, Medina tidaklah sekuat itu. Dibalik pengorbanan dan kesabarannya selama ini, dia juga rapuh. Mungkin aja, kemarin dia sedang berada di titik terendah kekuatannya. Dia butuh kamu, Zan!"
.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komennya teman-teman ... biar Othor makin semangat nulisnya.
Terimakaasiiih.
.
__ADS_1
.
.