Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Ungkapan Cinta


__ADS_3

POV MARIAM


Jika seorang pria menangis di depanmu artinya dia benar-benar mencintaimu. Saat itu, hujan sedang deras-derasnya, Biantara muda menyatakan perasaannya. Dia dengan percaya diri datang ke rumahku.


Suaraku teredam oleh suara air hujan dari luar ruangan, namun dengan jelas aku mengatakan, aku tidak bisa, aku tidak mencintainya.


Kemudian, dia kembali bertanya, bagaimana caranya agar aku bisa mencintainya?


Aku menjawab, tidak akan bisa.


Dia kembali bertanya, kenapa?


Aku menjawab, hatiku sudah terbang ke tempat yang jauh dan sepertinya mati karena terlantar di sana.


Biantara muda segera menjawab, aku rela mati asal hatimu hidup lagi.


Rayuan picisan yang kuanggap bercanda. Dia terus mengejarku dengan selalu berkata, aku adalah tempatnya melabuhkan hidup dan di pangkuanku dia yakin kehidupannya akan berakhir, suatu saat nanti.


Dia seperti malaikat yang bisa membaca kemauanku, keinginanku, dan selalu tepat dengan hal-hal yang aku sendiri saja tidak mengerti. Dia tidak mempunyai banyak kelebihan, tapi aku merasa sempurna ketika bersamanya.


Aku tidak menyukainya, aku ingin sosok suami yang agamis, sholeh, mungkin dari kalangan pesantren, atau khafidz. Dambaan setiap wanita bukan? Memiliki suami yang sempurna secara agama.


Tapi, Biantara berbeda. Dia berusaha memperdalam agamanya demi diriku, walaupun ilmunya tidak tinggi tapi berhasil membawaku terbang.


Hatiku karam karena mencintai sosok yang sempurna seperti Mizan, hingga aku terluka. Akhirnya, aku mematahkan hatiku sendiri dan memilih sosok yang jauh berbeda yaitu Biantara.


Dengan kesungguhan hati dia memintaku untuk menjadi istrinya, dia berjanji akan berusaha membahagiakan diriku dengan segenap jiwanya. Dia menangis di depanku, bukan karena memohon, tapi karena dia tidak kuasa menahan perasaan yang begitu besar terhadapku. Alloh yang menjadikanku sedemikian dalam tertanam di hatinya.


Kali ini, Hamizan, menangis di depanku. Seseorang yang telah membuatku mengambil keputusan berat untuk mematahkan sayapku sendiri. Seseorang yang membuatku membuka hati dan menerima Biantara.


Dua orang yang berusaha saling melampaui untuk diriku. Seseorang yang sama-sama membuatku jatuh cinta begitu dalam hingga akhirnya keduanya sama-sama menjatuhkanku pada pedihnya patah hati.


"Kalau kamu tetap tidak bisa, aku akan menjadi Biantara untukmu!" ucap Mizan dengan mata penuh keyakinan, entahlah mungkin putus asa, pandangan yang sama ketika Biantara muda memintaku menjadi istrinya.


"Biantara pun pernah berusaha sangat keras untuk menjadi dirimu."


"Benarkah?" tanya Mizan memastikan apa yang baru saja dia dengar.


"Iya, kenapa sekarang justru kamu yang ingin menjadi Biantara?" Mizan hanya diam tanpa bisa menemukan alasan yang tepat.

__ADS_1


"Aku seperti sedang dipermainkan."


"Aku dan Biantara sama-sama mencitaimu, ketika kamu bisa membuka hati untuknya, harusnya kamu bisa membuka hati untukku," ucap Mizan.


"Entahlah!"


"Aku akan berusaha mendapatkan kembali hatimu, dan juga membahagiakanmu. Dengan caraku sendiri!" ucap Mizan.


"Tolong, biasakan dirimu dengan kehadiranku Mariam, bagaimanapun aku sudah sah menjadi suamimu," pinta Mizan seraya pergi keluar kamar.


Aku gusar dengan permintaannya, dia benar. Terlepas dari pernikahanku yang terlalu cepat dan stigma salah di tengah masyarakat, ataupun beban tuduhan liar yang berdatangan, aku tetap sah menjadi istrinya.


"Ayo sholat maghrib berjamaah!" ajaknya padaku.


Aku bangkit dan mengikutinya ajakannya, tidak lupa Oktavia pun ikut serta. Ini adalah pertama kali Mizan menjadi imam sholatku dengan status suami istri, aku pernah berdoa dan meminta hal seperti ini, sebelum akhirnya kurelakan harapan itu kandas. Namun, takdir mempermainkanku dengan sangat baik, Hamizan benar-benar ada di depan sajadahku.


Aku menikmati lantunan ayat suci Al-Quran yang dibaca oleh Hamizan, bacaannya tartil, semakin indah, dan masih saja terasa begitu menenangkan jiwaku. Dulu, aku sering menjadi makmum sholatnya, tentu saja dengan teman-teman yang lain saat ada kegiatan rois di sekolah. Mendengar Hamizan membaca ayat Al-Quran seolah membuatku kembali kepada masa lalu, dimana sayapku masih utuh kedua sisinya.


Manis sekali rasanya, berjamaah dengan Hamizan bersama putri kecilku. Sesuatu yang jarang kulakukan bersama Biantara karena kami sama-sama sibuk. Aku beranjak menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam, sementara Okta sedang belajar mengaji dengan Abinya,--maksudku Hamizan--.


Oktavia begitu cepat beradaptasi, tidak seperti diriku yang masih belum sepenuhnya beranjak dari kesedihannku. Aku sangat bersyukur telah diberi sumber kekuatan seistimewa Oktavia.


.....


"Malam ini aku akan menginap disini," jawabnya sambil tetap fokus pada televisi.


"Bagaimana Medina?"


"Sini!" ucap Mizan sambil menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya. Dengan ragu aku mengikuti permintaanya untuk duduk.


"Aku sudah memutuskan, akan membagi hariku dengan 3 hari bersamamu dan Oktavia dan 3 hari berikutnya bersama Medina, bagaimana?" usul Mizan.


"Apa Medina setuju?"


"Ehm, aku belum menanyakannya."


"Baiklah, tanyakan dulu padanya."


"Apa kamu nggak setuju, Mariam?"

__ADS_1


"Aku terima, apapun peraturannya."


Dia kembali tersenyum mendengar jawabanku, senyum hangat yang dulu menjadi milikku, kini aku harus membaginya dengan Medina. Tanpa sadar aku terpana.


"Kenapa melihatku begitu?"


"Ehm, enggak papa, aneh aja tadi kamu menangis sekarang kamu tersenyum."


"Begitulah kehidupan, kamu harus siap dan tahan banting, satu yang paling penting, Iman Mariam."


Kata-katanya seolah menyindirku, tapi memang benar, imanku lemah saat ini.


"Jangan bersedih, ungkapkan semua lewat doa, kalau cuma bersedih nggak ada gunanya."


"Sama seperti caraku menjagamu dari jauh, bukan dengan kekuatan gaib atau telepati, tapi dengan doa Mariam, aku selalu menyebut namamu di setiap doa-doaku."


"Sebesar itukah rasa sukamu?"


"Aku ikhlas mencintaimu, dan perasaanku terlalu besar untuk kunikmati sendiri, maka dari itu aku mengungkapkanya di setiap doaku, aku tidak pernah merasakan dirimu jauh, karena bagiku kamu ada disini," jawabnya dengan menepukan tangan kanan ke dadanya.


Aku merasa bersalah, ternyata Mizan benar-benar mencintaiku. Namun, Biantara juga mencintaiku. Walaupun akhirnya kita berjodoh, namun jalan terjal yang harus kita tempuh memberikan hikmah yang luar biasa, juga kenangan tentang Biantara.


"Kamu paham maksudku Mariam?" tanyanya lagi.


"Berdoalah untuk almarhum Biantara, tunjukan rasa cintamu lewat doa. Aku akan setia menunggu sampai kamu siap, aku tidak akan memaksa dirimu untuk buru-buru membalas perasaanku. Ingat, Biantara tidak pergi, dia ada di hatimu," lanjutnya.


Kata-katanya benar, aku harus membiasakan diri tanpa kehadiran Biantara secara nyata. Dan membiasakan diri dengan kehadiran Hamizan sebagai suami sekaligus orang tua pengganti untuk Okta.


"Terimakasih,"


Malam itu, aku meminta Mizan membacakan surat Arrohman sebagai pengantar tidurku. Aku berbaring di sampingnya dan dia dengan lembut mengusap kepalaku. Bacaan Qurannya selalu membuatku tenang dan damai, hal ini juga yang membuat diriku yang masih remaja jatuh cinta dan dengan lancang bermimpi menjadi pasangannya.


Kini, semua bukan lagi mimpi, Alloh sang Maha Pengabul semua Doa telah mewujudkan harapanku walau jalannya perih.


Aku tenang, aku terhanyut dalam peringatan Alloh.


'Nikmat mana lagi yang aku dustakan!'


......

__ADS_1


__ADS_2