
"Innalilahi wa innailaihirojiun ...."
🍀🍀🍀
"Zan? Bangun! Kita istirahat dulu," ucap Bapak menggoncang-goncangkan badanku.
Mata terasa sangat berat, rasanya masih ingin terpejam sedikit lebih lama. Perjalanan baru sebentar tapi Bapak sudah meminta istirahat lagi, padahal sebelumnya kita pun sudah beristirahat untuk sholat Ashar.
"Kita sholat Maghrib dulu!" ajak Bapak.
Kulihat sekitar rest area, masih terang, jam menunjukan pukul 17.29 memang mobil baru berjalan sebentar. Kuikuti langkah Bapak menuju mushola, mengambil air wudhu kemudian bersiap menunggu sholat Maghrib.
"Zan? Ponselmu mana?" tanya Bapak.
"Ada, Pak." Saat kulihat ponsel di saku celana ternyata mati, karena batrainya habis.
"Wah, lupa nggak dices, Pak. Kenapa, Pak?"
Bapak dan Pak Iwan saling pandang mendengar jawabanku, raut wajah Bapak terlihat berat. Ada apa?
"Tadi Pak Maulana menelpon bapak, memberi kabar kalau ... kalau ... --"
"Kalau apa, Pak?"
"Mba Mariam tiba-tiba kritis dan ...." Kulihat tangan Pak Iwan menyentuh pundak Bapak, mata mereka saling memberi kode.
"Mariam meninggal, Zan."
"Mariam?" tanyaku memperjelas, Bapak hanya mengangguk.
"Meninggal!"
Kalimat Bapak masuk ke telingaku namun gagal masuk ke otakku.
"Mariam ... meninggal?" gumamku berkali-kali, sulit sekali menterjemahkan kalimat itu.
"Sabar, Zan. Kita sholat Maghrib dulu saja, nanti kita putar balik."
"Maksud, Bapak? Mariam benar-benar meninggal?" tanyaku lagi masih dengan mimik yang datar.
Bapak dan Pak Iwan kembali saling pandang, kebisuan mereka memaksaku mengartikan sendiri ekspresi mereka. Bapak hanya menepuk pundakku dan meninggalkanku pergi.
"Inna ... Inna ... Inna ...." Berat sekali rasanya mengucap kalimat Tarji untuk Mariam, nggak mungkin.
Aku merasa tubuhku lunglai tak bertulang, yang hancur bukan hanya hatiku, tapi jiwaku ikut roboh bersama kepergian Mariam. Waktu terasa berhenti seiring ketidak mampuanku mempercayai kabar ini. Tiba-tiba alam membisu menyisakan suara deru nafasku sendiri yang tersengal dan suara detak jantungku yang tak beraturan.
"Mariam ...."
"Astaghfirullohaladzim."
Kutangkupkan wajah dengan kedua tangan, merasakan betapa beratnya kepala dan isi otakku.
Bapak kembali menghampiriku sambil mengeluarkan ponselnya.
__ADS_1
"Istrimu cemas, kamu nggak bisa dihubungi, Zan," ucap Bapak.
"Medina?"
Kuterima benda pipih itu dan menempelkannya pada indra pendengaran yang masih samar-samar fungsinya.
"Halo?" ucapku lirih.
"Halo, Assalamualikum ... Ya Alloh, Mas, Medina cemas nomor Mas Musa nggak bisa dihubungi, Mas baik-baik aja, kan?" Terdengar suara Medina begitu khawatir di ujung sana, terdengar pula tangis Sabira yang sudah sangat kurindukan.
"Waalaikumsalam, maaf, Dek. Ponsel mas mati," jawabku mengambang.
Medina menanyakan keadaanku? Andai boleh aku mengeluh dan mengadu padanya, ingin kukatakan aku lelah lahir dan batin. Aku merasa hancur jiwa dan raga. Bagaimana mungkin aku bisa memaafkan diriku sendiri jika hal-hal buruk terus saja terjadi. Seperti efek domino yang berkelanjutan, satu kesalahan yang bahkan mampu meluluhlantakan semua tanpa tersisa.
"Mas ... Mas ... Mas Musa ...!" Kembali Medina meneriakkan namaku, ah ... rupanya aku melamun.
"Maaf, Dek. Apa Sabira rewel?" tanyaku.
"Jangan khawatirkan kami, Mas. Sabira baik-baik aja, Medina khawatir pada Mas Musa. Setelah mendengar kabar duka Mba Mariam seluruh tubuh Medina lemas, apalagi Mas Musa nggak bisa dihubungi, Medina nggak tenang, apa yang terjadi, Mas? Bapak bilang kalian sebenarnya sudah dalam perjalanan pulang," ucap Medina panjang, namun otakku tak mampu meresponnya.
"Mas baik-baik aja, nanti saja Mas ceritakan," jawabku seadanya.
Aku begitu terpukul hingga tak mampu berpikir jernih. Bagaimana bisa aku menenangkan Medina bila diriku saja sedang hancur.
"Mas ... yang kuat, yah!" ucap Medina membuatku terharu, disaat seperti ini aku yakin dia pun terpukul, namun dia masih mampu menguatkanku.
"Iya, Dek. Mas sholat Maghrib dulu, jaga diri dan Sabira baik-baik, tunggu mas pulang, ya!"
Air mataku tumpah seperti anak kecil yang meminta balon pada ibunya, tidak peduli lagi pada jamaah lain yang ikut menjadi makmum sholat bapak.
Rokaat demi rokaat menjadi sandaran bagiku untuk bebas menumpahkan apa yang selama ini tertahan. Kesedihan, kekhawatiran, rasa bersalah, kecewa, dan segala duka lara bebas meledak seiring bacaan dan gerakan sholatku.
Kunikmati setiap sujudnya dengan kenyamanan yang tiada tara, belum pernah kurasakan sujud senikmat ini seumur hidupku.
Setelah salam, kulanjutkan doa dan dzikir penuh haru. Beban yang tak bisa kuungkap pada siapapun terasa telah terangkat dengan sendirinya.
"Aku pasrah pada-MU, YA ALLOH. Jika memang ini yang terbaik untuk Mariam, lapangkanlah jalannya, mudahkan urusannya, ampuni semua dosanya, dan terima semua amal ibadahnya."
"Berikan kekuatan pada anakku Sabiru, yang belum pernah melihat ibunya, belum pernah merasakan hangatnya pelukan sang ibu, dan belum merasakan kasih sayang seorang ibu sejak lahir, namun harus dipisah sedemikian rupa. Berikan aku jalan untuk bisa menemani tumbuh kembangnya, aku mohon pada-MU Ya Alloh! Bukakan hati orang tua Mariam dan Mas Faisal."
"Berikan kekuatan pada orang tua dan semua keluarga Mariam. Aku rela menampung semua amarah dan kekecewaan mereka, aku yakin suatu saat mereka akan mengerti bahwa semua yang terjadi pun jauh dari kuasa dan keinginanku."
Setelah sholat Maghrib, Pak Iwan segera mencari exit tol terdekat dan memutar balik. Aku hanya pasrah dan rasanya mengambang, setiap rangkaian kejadian-kejadian masih terasa seperti mimpi.
Terbayang wajah merah Sabiru, juga wajah lugu Oktavia yang harus menjadi yatim piatu. Betapa kasiannya anak-anak itu, andai boleh aku pasti mau menjaga mereka dan Oktavia pun sudah kuanggap anak kandungku sendiri, bagaimanapun juga dia adalah anak pancingan yang membuat Medina hamil.
Hampir 2 jam kami telah sampai kembali ke kota yang penuh kejutan ini, dimana hidupku benar-benar dijungkir balikkan disini. Mobil segera memasuki blok rumah Mariam yang walaupun sudah malam tetap saja ramai oleh para pelayat.
Langkah kakiku seolah mengambang dan tidak menapak, mengikuti langkah Bapak menghampiri ruangan depan yang kini disulap menjadi ruang duka. Beberapa tetangga tampak duduk membaca Al-quran untuk Mariam.
Bapak menemui Pak Maulana dan Mas Faisal, mengucapkan bela sungkawa dan doa untuk Mariam. Aku terpaku menatap sosok yang terbaring tanpa tanda kehidupan, kain putih itu menutup tubuh Mariam seluruhnya.
Ah, haruskah aku percaya kalau sosok tubuh itu adalah Mariam? Atau ini hanya akal-akalan Mas Faisal agar aku benar-benar menjauh?
__ADS_1
Tampak beberapa warga, teman-teman, dan karyawan Mariam memandangiku dengan tatapan tidak suka, sambil sesekali berbisik entah apa. Anehnya, aku menikmati semua itu, kuanggap sebagai diskon untukku, mengurangi rasa bersalah yang menyakitikan serta agar lebih mudah bagiku memaafkan diriku sendiri.
Aku duduk di dekat Mariam dan mulai membacakan Al-Quran untuknya.
Mariam ... apa kamu benar-benar pergi?
Terlintas wajah Mariam saat menangis di rumah sakit di atas jenazah Pak Biantara. Saat itu hatiku pun remuk redam dan patah tercacah-cacah. Sekarang terbayang wajah pucatnya yang menangis menanyakan prihal jodohnya dengan Pak Biantara. Hatiku benar-benar tidak berbentuk lagi, bahkan untuk membuka penutup wajah Mariam pun aku tidak berani, aku takut menghadapi kenyataan.
'Ya Alloh ... Mariam,' batinku menangis dan terus merintih.
Dia bukan hanya mantan istriku, dia juga temanku, sahabatku, kekasihku, bahkan kami tumbuh remaja bersama-sama, jadi terbayang rasanya saat dia harus pergi karena kesalahanku.
Mungkin saja cinta sejati Mariam memang Pak Biantara, bukan cinta pertamanya yang selalu menyakitinya.
'Lihatlah, Pak Bian! Mariam begitu ingin bersamamu, bahkan maut hanya mampu memisahkan kalian sementara, aku bedoa walaupun aku pernah menikahi Mariam, dia akan tetap berjodoh denganmu, Pak!'
'Aku akan berjuang untuk Okta dan Sabiru, hatiku yang remuk pun merasa tenang karena Mariam bersamamu, Pak! Andai umurmu panjang, Pak, Ah ...!'
Aku larut dalam bayang-bayang sambutan yang hangat Pak Biantara dulu, rumah ini, menjadi saksi bagaimana kalian sebenarnya sangat serasi. Duka yang kurasakan perlahan membaur dengan rasa syukur karena Mariam telah benar-benar terlepas dari derita dan nestapanya, dan juga kembali dengan sosok yang dia rindukan.
Ini pasti takdir terbaik.
Pergilah, Mariam!
Kamu memang ingin bahagia, bukan?
Malam berlalu dengan sangat lamban, aku puas bernostalgia dengan semua tentang mereka, semua terasa indah sebelum kepergian Pak Biantara.
Keesokan paginya jenazah Mariam dimakamkan berdampingan dengan almarhum Pak Biantara. Melihat keduanya berjejeran, aku justru bahagia dan bersyukur.
Ijinkan aku memaafkan diriku sendiri Mariam, ijinkan aku bahagia dengan versiku bersama Medina, Oktavia, Sabira, dan juga Sabiru.
Bu Sri berkali-kali pingsan, pandangan Mas Faisal terlihat sangat membenciku, Pak Maulana kecewa namun masih menjaga harkat dan martabatnya. Banyak warga memandangku dengan pandangan marah dan menghujat, namun aku tidak peduli semua itu, Mar. Karena aku tahu, kamu telah benar-benar bahagia.
Selamat tinggal, Mariam Maulida.
.
.
.
.
.
.
.
.
Menjawab pertanyaan beberapa reader, kenapa dari awal cerita seolah berpusat pada Mariam, karena memang disini Musa dan Medina sedang menceritakan sosok Mariam yang sudah tiada.
__ADS_1