
Kali ini aku merasa sangat kecewa pada sikap dan perbuatan Medina, kami berbicara seperlunya dan bersikap sangat kikuk di depan ibuku. Dia sering melamun, dan banyak menghindariku.
Sejak kadatangan Ibuku, aku berusaha untuk pulang sebelum maghrib, aku ingin menghabiskan waktu bersamanya. Sore itu seperti biasa Medina akan menyambut kepulanganku dangan takdzim, walaupun hatinya sedang sedih dia selalu memperlakukanku dengan baik.
"Assalamualaikum ...!"
"Waalaikumsalam, Mas ... Ibu bilang ingin membicarakan sesuatu nanti malam."
"Iya ...," jawabku singkat dan berjalan melewatinya, tampak di sudut mataku dia melihatku dengan sedih.
Bukan maksudku membuatnya sedih, aku hanya ingin dia berpikir tentang perbuatannya yang salah, aku tidak ingin gagal mendidik Medina.
Selepas Isya, aku melihat Ibu sudah terlebih dahulu berbicara dengan Medina. Aku sempat mencuri dengar nasehat yang diberikan Ibuku, untuk menantunya.
"Seorang istri yang bersabar terhadap suaminya dengan mengharap pahala, menunggu pertolongan dari Alloh, dan tetap menunaikan hak suaminya walaupun suaminya kurang dalam memenuhi haknya, maka kesudahan yang baik akan didapatkan," nasehat Ibuku seolah memojokkanku, memang benar akar masalah ini adalah diriku sendiri yang tidak tegas.
'Astaghfirullohaladzim ... aku sudah berdosa!'
"Iya, Bu ... !" terdengar jawaban Medina lirih.
"Ehem ... !" aku segera menghampiri, dan mereka langsung diam menyadari kehadiranku.
"Besok Ibu pulang, tapi tidak tenang rasanya kalau belum mendengar keputusan kalian, jadi bagaimana, Zan?"
"Maaf Bu, karena sudah merepotkan. Aku tetap pada pendirianku, aku tidak akan menikahi Mariam," jawabku dengan mantap.
Ibu terlihat mengangguk-ngangguk mendengar keputusanku, sementara Medina nampak terkejut.
"Benarkah?" tanya Ibuku lagi.
"Insha Alloh, Bu."
"Mas ...?" Medina mencoba menyela.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin meninggalkan Medina, Bu. Dia adalah jodoh yang kuminta bukan hanya pada kedua orang tuanya, tapi aku memintanya pada Alloh, aku bukan hanya berjanji di depan kedua orang tuanya, tapi juga di hadapan Alloh, bagaimana aku bisa ingkar?"
Mata Medina sedikit berbinar mendengar penuturanku, aku harap dia mengerti.
"Bagaimana dengan Mba Mariam?" tanya Ibuku lagi.
"Aku ... aku memang mencintainya, aku pernah berdoa kepada Alloh dan meminta Mariam menjadi jodohku, tapi ... sejak aku mendapat kabar dia telah menikah, aku hanya mendoakan kebahagiaannya, aku sama sekali tidak pernah meminta Mariam menjadi jodohku lagi, karena aku sadar aku bukan orang yang tepat untuk membahagiakan Mariam."
"Demi Alloh, Bu. Aku sudah berusaha dengan sangat keras untuk melupakannya, aku juga selalu berdoa agar hatiku berpaling darinya. Ini hanya urusan waktu, aku tidak berniat sedikit pun memiliki Mariam, aku sadar aku tidak mampu."
Aku berkata dengan sejujur-jujurnya, memang inilah hatiku, aku tidak akan pernah pantas untuk seorang Mariam. Ibuku tampak berpikir dan mencoba mencerna penjelasanku, sementara Medina terlihat mulai mengerti, aku harap dia akan benar-benar berhenti mengusik Mariam setelah ini.
"Orang seperti apa sebenarnya Mba Mariam itu?" tanya Ibuku dengan heran.
"Dia wanita biasa dan sederhana, Bu, tidak ada yang istimewa, hanya saja Alloh menakdirkan perasaan ini hidup di hatiku, Bu, bukan salah Mariam ini murni karena kelemahanku."
"Bagaimana Nduk? Apa kamu puas dengan jawaban suamimu?" Pandangan mataku dan Ibuku beralih ke Medina, dia begitu tidak tenang, entah apa yang ada di hatinya, kenapa aku semakin tidak mengerti dirinya.
"Ibu, Mas ... Medina benar-benar ikhlas dengan keputusan ini, Medina berharap Mas Musa sedikit saja menghargai dan mempertimbangkannya, semua ini tidak mengurangi rasa hormatku sedikitpun terhadap Mas Musa, sekali lagi semua ini adalah bentuk rasa sayang dan cinta yang bisa Medina berikan," tutur Medina, mementahkan semua perkataanku. Ibuku sampai mengernyitkan dahinya mendengar kegigihan Medina.
"Ibu ... Mas Musa sangat menjaga cintanya pada Mba Mariam, Mas Musa sampai menderita karena harus berusaha keras menutupi perasaannya yang kian membesar, Bu ... Medina yakin, baik Mas Musa maupun Mba Mariam masih sama-sama saling menjaga di dalam doa," lanjut Medina seolah-olah menelanjangi hatiku.
"Medina lelah, harus menutup mata pada keadaan ini, semakin Mas Musa menyangkal, justru rasanya semakin sakit," Medina kembali menangis, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa, semua salahku.
"Mba Mariam telah kehilangan sandarannya, dia butuh Mas Musa sebagai cinta terbesar kedua dalam hidupnya, bantu dia bangkit Mas, aku memberanikan diri untuk semua ini karena melihat penderitaan Mas Musa selama ini, Mas menderita karena melihat Mba Mariam terpuruk, bukan?" Dengan mata sembabnya Medina menatap mataku dengan berani, dia memaksaku untuk jujur.
Ibuku memeluk Medina, tubuh keduanya berguncang terisak dalam tangis yang sama. Mereka seakan mengadili kesalahanku.
"Maafin ibu ya, Nduk. Ibu gagal mendidik anak ibu sampai dia bisa menyakiti istrinya begini," ucap Ibuku semakin membuatku merasa bersalah.
"Enggak Bu, Medina yang tidak sempurna sebagai seorang istri, Medina yang gagal, maka dari itu Medina berharap bisa memperbaiki semuanya, Medina ingin mengakhiri penderitaan Mas Musa, Medina berharap semua belum terlambat, Alloh memberi petunjuk padaku, Bu, memberikan Medina keberanian melakukan semua ini, menyederhanakan perasaan Medina agar lebih mudah menggapai ikhlas, apa lagi yang Mas Musa dan Ibu ragukan?"
Perkataan Medina tidak hanya membungkam mulutku tetapi juga pikiranku. Aku tidak mungkin melepaskan Medina ataupun memoligami Mariam.
__ADS_1
"Dek ... ada satu hal yang kamu harus tahu, mas juga mencintaimu, bukan karena kamu adalah istriku, tapi karena mas tersentuh kesabaranmu."
"Cintai kami berdua, Mas!" pinta Medina dengan mengiba.
"Medina tidak akan mampu mengusir Mba Mariam dari hati Mas, setidaknya ijinkan Medina berbagi sedikit tempat dengan Mba Mariam, Medina hanya ingin dicintai tanpa harus melihat Mas menderita."
"Maafkan aku, Dek!"
"Kalau Mba Mariam tidak mau membagi dirimu, mas, aku, Medina Khafiza akan mundur sebagai pemenang."
Kembali, Medina menunjukan kualitas kesabarannya. Ibu hanya diam, pandangan matanya seolah menyuruhku untuk segera mengabulkan permintaan menantunya.
"Baiklah, mas akan memikirkan kembali, tapi seandainya mas mau, tidak akan mudah meyakinkan Mariam untuk menerima permintaanmu, Dek."
"Biar nanti ibu bantu bicara pada Mariam dan juga Ibunya. Niat Medina sungguh mulia semoga Alloh memudahkan semuanya."
"Beri aku waktu sedikit lagi, Bu, aku tidak ingin gegabah."
"Semoga Alloh juga memberikan petunjuk untukmu, Nak!"
"Aamiin."
"Alloh telah memberiku menantu yang begitu berharga, semoga Alloh selalu memberkahi kehidupanmu, Nduk, ibu benar-benar terharu, ibu pasti berusaha agar kamu tetap menjadi menantu ibu."
"Jangan begitu, Bu, aku tidak berniat sedikitpun untuk melepaskan Medina," selaku.
"Kalau begitu kamu harus berpoligami, Nak!"
Aku hanya menunduk, berat sekali tanggung jawabnya jika nanti aku benar-benar berpoligami.
Dari luar terdengar suara mobil datang, rupanya mobil yang menjemput Ibu sudah datang.
"Assalamualaikum ...!" seseorang yang sangat kukenal ternyata datang, dia tersenyum di ambang pintu yang memang tidak tertutup.
__ADS_1
"Ibu ... " dia menghambur ke pelukan Ibu.
....