
Musa menyadari, level tertinggi dari mencintai adalah rela melakukan apa saja agar orang yang kita cintai bahagia termasuk mengikhlaskannya dengan yang lain. Sama seperti Medina yang rela membiarkan dirinya menikahi Mariam demi ketenangan batin dirinya kala itu.
Dan level tertinggi yang pernah dilakukan Mariam adalah melepaskan Musa di masa lalu untuk terbang menggapai mimpi-mimpinya. Dia mengubur perasaannya, memaksanya mati, dan menghindari semua tempat bahkan orang yang dapat mengingatkan Mariam tentang Mizan dan kisah cinta pertama mereka. Mariam mengasingkan diri dan memulai kehidupan barunya. Berharap Mizannya juga bahagia dengan mimpinya kala itu.
Mariam dan Medina mencintai Musa dengan cara mereka masing-masing namun cinta keduanya sama besarnya. Yang berbeda hanyalah waktu, namun takdir menyatukan ketiganya di masa yang sama. Musa merasa bertanggung jawab untuk membahagiakan keduanya.
'Mariam ... kalau saja membuka hati untukku malah membuatmu sakit, lebih baik tutup saja. Biarkan aku menjagamu tanpa harus kamu balas dengan rasa,' batin Musa.
'Aku memang mencintai Mizan yang dulu, tapi jangan sampai mencintai Mizan yang sekarang! Wahai hati, kuatlah! Jangan hianati logika yang harus kujalani, agar aku tetap waras!' batin Mariam.
'Aku tidak takut jika kelak Mba Mariam membuka hatinya kembali, Mas Musa juga sudah mencintaiku sama besarnya seperti dia mencintaimu Mba, dan aku juga sudah mendapatkan karunia terbesar dengan menjadi ibu dan memberikan keturunan untuk Mas Musa. Jika memang sudah waktunya, bukalah hatimu Mba Mariam!' batin Mariam.
🍀🍀🍀
Mariam pun memberikan kunci mobil ketika Musa memintanya, Mariam tidak punya pilihan lain selain bersikap dingin pada Musa. Karena hanya dengan begitulah dia bisa melindungi hatinya.
Tiga puluh menit kemudian mobil sudah memasuki area perumahan di kota dingin yang sekarang entah kenapa udaranya panas. Mobil berbelok ke rumah Mariam yang memang letaknya di depan.
"Ye ... sampe rumah!" sorak Oktavia. Teh Desi yang kebetulan baru hendak menutup konveksi menyambut mereka dengan gembira.
"Dek, Mas bantu Mariam nurunin barang dulu, yah," ucap Musa pada Medina, Medina pun mengangguk.
"Ini rumah Mba Mariam ya Mba?" tanya Mbak Lastri.
"Iya, kalau rumah Medina masih masuk ke dalam sana!"
"Oh, jadi Mba Mariam juga punya usaha," ucap Mba Lastri.
"Iya Mba, baru mulai lagi. Waktu almarhum suaminya meninggal sempet berhenti cukup lama karena Mba Mariam sedih sampai depresi."
"Mba nggak nyangka, Mba Mariam yang dulunya cengeng ,manja, bisa mandiri kaya gini," ungkap Mba Lastri.
"Dulu Mba Mariam cengeng, Mba?" tanya Medina.
"Lumayan, hehehe. Dia kan anak perempuan satu-satunya, kakaknya 2 laki-laki."
"Oh, nanti Mba Lastri ceritain lebih banyak ya? Medina pengen tau Mba Mariam dulu gimana," pinta Medina.
"Eh, ehem, jangan Mba Medina, Mba takut salah cerita."
"Nggak papa Mba, Medina cuma pengen kenal lebih jauh lagi, selama ini Medina hanya tau Mba Mariam yang bisa ini bisa itu." Mba Lastri hanya tersenyum, menyesali ucapannya.
Musa membawakan tas dan beberapa kardus oleh-oleh ke dalam rumah.
"Udah semua?" tanya Musa.
"Udah, Zan. Makasih."
"Aku pulang dulu, kita masih ada sesuatu yang harus dibicarakan, aku akan secepatnya menyempatkan waktu kemari."
"Sudahlah, kalau maksudmu mengenai kejadian dan ucapan-ucapanku kemarin, lupakan saja," ucap Mariam menghindar.
"Maaf."
"Iya, pulang dan istirahatlah!" ucap Mariam.
"Kamu yang lelah menyetir sejauh itu, istirahatlah!"
__ADS_1
"Iya."
Musa mengulurkan tangannya namun Mariam terlanjur membalikan badan dan beranjak pergi, tanpa menyadari apa yang Musa lakukan. Pemandangan itu pun terlihat oleh Medina tanpa sengaja dari dalam mobil. Musa menyadari sikap Mariam yang kembali dingin setelah kembali ke kota ini. Perlakuan Mariam yang hangat dan pernyataan cintanya terasa bagaikan mimpi.
Musa berpamitan pada putri kecilnya yang sedang sibuk bercerita pada Teh Desi tentang perjalanannya kali ini. Selain bekerja di konveksi Mariam, Teh Desi juga membantu Mariam mengasuh Oktavia selama masa sulit Mariam kemarin.
🍀🍀🍀
Jam 8 malam Musa dan Medina sampai ke rumah, Medina segera menunjukan kamar untuk Mba Lastri dan menyuruhnya untuk istirahat. Musa berinisiatif membersihkan kamar sebelum Medina bersitirahat.
"Mba Lastri anggep rumah sendiri ya, maaf rumahnya kecil," ucap Medina.
"Iya Mba Medina, makasih."
Medina beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah perjalanan yang melelahkan.
"Aaaarghh!" teriak Medina.
Musa dan Mba Lastri berlarian menuju sumber suara.
"Mba Medina, kenapa?" tanya Mba Lastri panik sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.
"Dek, kamu kenapa?" tanya Musa juga dengan cemas.
Medina segera membuka pintu kamar mandi, wajahnya pucat dan tangannya gemetar.
"Mas, Me-medina pendarahan," ucap Medina gemetar.
"Apa?!" seru Musa terkejut.
"Astaghfirullohaladzim," pekik Mba Lastri, "segera ke klinik aja Mas," usul Mba Lastri.
"Sabar ya Dek, kita ke rumah sakit terdekat." Medina tidak menjawab, wajahnya pucat dan ketakutan, keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya.
Hanya 15 menit mereka sudah sampai di pintu UGD rumah sakit terdekat. Musa berteriak memanggil perawat yang sedang berjaga, kembali dia membopong tubuh isterinya agar cepat sampai di UGD.
"Isteri saya hamil muda Sus, dia pendarahan setelah perjalanan jauh, tolong isteri dan anak saya Sus," ucap Musa setelah meletakan Medina di ranjang UGD.
"Iya Pak, akan kami tangani, Bapak silahkan tunggu di luar!"
Musa dengan pasrah membiarkan Medina ditangani oleh mereka yang ahli. Dia menunggu dengan mulut terus berdzikir dan berdoa. Mba Lastri hanya bisa mengikuti Musa, sambil berdoa agar hal buruk tidak terjadi.
Menit demi menit berlalu ketegangan di wajah Musa tidak bisa di sembunyikan lagi. Setelah 15 menit Medina keluar menggunakan kursi roda dengan di bantu seorang perawat dan Dokter yang berjalan di sampingnya.
"Suami Ibu Medina?" panggil perawat.
Musa tergopoh-gopoh menghampiri isterinya,"iya."
"Suami Ibu Medina?" ulang dokter,"Begini, Ibu Medina tidak apa-apa, hanya kelelahan, kebetulan Dokter Spog kami masih praktek di ruangannya, Ibu Medina lebih baik di periksa di sana untuk lebih lanjut."
"Isteri saya nggak papa kan, Dok?" tanya Musa pada Ibu Dokter.
"Anak pertama ya, Pak?"
"Iya, Bu."
"Isteri Bapak tidak mengalami pendarahan, itu hanya ngeflek. Hal tersebut cukup banyak dialami wanita di trimester pertama kehamilan, lebih jelasnya biar ke dokter Spog-nya saja ya, Pak. Tolong antarkan, Sus."
__ADS_1
"Terimakasih, Bu!" ucap Musa.
"Biar saya aja, Sus!" ucap Musa mengambil alih kursi roda Medina, kemudian mendorongnya melewati lorong rumah sakit mengikuti langkah perawat di depannya.
Sampai di sebuah ruangan, Medina langsung ditangani oleh dokter sebagai pasien terakhir prakteknya di hari itu. Dokter segera melalukan pemeriksaan USG, wajah Medina masih pucat tapi badannya tidak lagi gemetaran seperti tadi.
Mba Lastri memilih menunggu di luar ruangan, sementara Musa dengan setia mendampingi dan memegang tangan Medina sepanjang pemeriksaan.
"Kandungannya lemah, tapi tanda-tanda vitalnya bagus, perkembangannya pun sesuai. Ibu Medina hanya kecapekan Pak. Nanti saya resepkan penguat kandungan dan vitaminnya. Ibu Medina harus bedrest dulu, jangan melalukan hal yang berat-berat dan jangan sampai setres karena nanti akan pengaruh ke janinnya."
"Alhamdulillah," ucap Musa dan Medina berbarengan.
"Oh iya, Pak. Karena kehamilan Ibu Medina lemah, sangat disarankan untuk tidak melakukan aktifitas sexual dulu selama trimester pertama."
"Baik, Dok!"
🍀🍀🍀
"Maaf Mas, Medina panik waktu ngeliat darah, Medina takut jadi Medina mengira itu pendarahan, ternyata cuma ngeflek. Medina malu Mas, waktu dokter di UGD sudah panik semua tapi ternyata Medina nggak papa. Maaf udah bikin keributan malam-malam begini," rengek Medina dalam perjalanan pulang.
Mba Lastri yang tersenyum mendengarkannya, dia juga panik saat Medina mengatakan pendarahan, sehingga lupa menanyakan banyaknya darah yang keluar.
"Nggak papa, Dek. Wajar, kita kan sama-sama nggak tahu."
"Setelah ini Medina akan lebih banyak belajar tentang kehamilan."
"Iya Dek, saatnya kamu ganti novel-novel poligamimu dengan buku-buku tentang kehamilan."
"Iya Mas," jawab Medina dengan tersenyum," Mba Lastri, maaf ya udah ikutan panik," lanjut Medina.
"Iya nggak papa, Mba. Lumayan shock terapi, biar mba lebih hati-hati lagi jagain Mba Medina."
"Makasih, ya Mba!"
"Titip Medina kalau saya nggak ada ya, Mba!" ucap Musa sambil menyetir.
"Mba lastri kan sudah pengalaman jadi biar Medina juga belajar banyak tentang kehamilan dari Mba Lastri," imbuh Musa.
"Iya Mas Musa, siap!"
"Sudahlah Dek, nggak papa," ucap Musa lembut pada Medina yang tampak masih menahan malu.
"Semua butuh proses, dan selalu ada pengalaman pertama untuk hal-hal yang baru pertama," lanjut Musa.
"Mas, Medina tadi takuut banget. Biasanya setiap Medina telat, Medina akan kecewa dengan keluarnya darah haid setelahnya. Medina takut kehamilan Medina ini hanya mimpi, jadi Medina sangat takut waktu ngeliat darah seperti yang sudah-sudah, Medina sampai nggak bisa berpikir jernih tadi," sesal Medina.
"Mas sangat bersyukur kamu dan calon bayi kita sehat," ucap Musa.
"Terimakasih ya, Mas!"
"Iya, hitung-hitung latihan, Dek!"
"Latihan apa, Mas?"
"Latihan menjadi suami siaga untuk nanti," jawab Musa sambil tersenyum, Medina pun tersipu mendengar ucapan suaminya. Semua mimpi sekarang mulai menjadi nyata, semua doa mulai terkabul satu demi satu.
'Beruntung, aku memiliki Mba Mariam sebagai Madu, ketika aku sedang tidak bisa menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri. Mungkinkah ini saatnya Mba Mariam dan Mas Musa bersatu? Akan kubicarakan secara khusus dengan Mba Mariam besok, kasian Mas Musa kalau harus berpuasa selama itu,' batin Medina.
__ADS_1
.
.