Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Desas Desus


__ADS_3

"Kami semua dengan senang hati akan menerima Oktavia sebagai bagian dari keluarga kami, Ibu harap Mba Mariam mempertimbangkan niat ibadah kami yang ingin melindungi anak yatim, Ibu berjanji akan memberikan pendidikan yang terbaik dan kasih sayang yang tak terhingga untuknya. Bagaimana? Apa alasan kami cukup pantas dipertimbangkan?"


"Kami menerima lamaran keluarga Bu Aini ... asalkan cucu saya mendapatkan perlindungan dan kasih sayang dari keluarga Ibu, saya rasa Mba Mariam tidak keberatan menjadi istri kedua!"


Ingatan Medina kembali di saat keluarganya melamar Mba Mariam. Memang begitulah janji Bu Aini pada Bu Sri, ibunya Mba Mariam kala itu. Janji yang membuat Bu Sri menerima lamaran itu walau Mariam bersikukuh menolaknya.


'Semoga Ibu tidak bermaksud menjaga tali antara Mas Musa dan Mba Mariam itu tetap ada,' batin Medina.


"Kenapa melamun, Nduk?"


"Eng-enggak papa, Bu."


"Jangan khawatir, ibu hanya ingin menepati janji, ditambah keberkahan Oktavia sebagai anak yatim."


"Iya, Bu. Medina ngerti, tapi apa bener Mba Mariam mengizinkan?"


"Iya, setelah agak alot tadi. Tapi akhirnya dia mengizinkan."


"Ohh ... begitu?" gumam Medina dengan heran, padahal dia meyakini bahwa Mariam sangat ingin memutus hubungan dengan Musa dan juga dirinya.


'Ah, ternyata Mba Mariam juga tidak berdaya di hadapan Bu Aini,' batin Medina menduga-duga.


"Bu ... apa ibu marah karena Mas Musa dan Mba Mariam bercerai?"


"Bukan marah, hanya saja kecewa karena nggak bilang apa-apa tahu-tahu udah selesai semuanya," ungkap Bu Aini dengan nada kalem tapi menusuk.


"Jangan marah sama Mas Musa, Bu. Mereka memang ga bisa bersama, Medina paham alasan Mba Mariam yang akhirnya harus meminta talak."


"Iya, yang lalu biarlah berlalu."


"Mungkin Medina yang salah, seharusnya dulu Medina nggak bersikeras meminta mereka menikah."


"Jangan begitu, Nduk. Takdir kalian memang harus begini, toh banyak hikmah dari semua kejadian dalam rumah tangga kalian ini."


"Iya, Bu. Tapi Medina tetap merasa bersalah, mengingat semua kejadian ini berawal dari keinginan Medina yang keras kepala. Mas Musa, Mba Mariam, Ibu, bahkan Oktavia, merasakan akibatnya sekarang."


"Semua udah ditulis sama Gusti Alloh, jangan menyalahkan diri sendiri."


"Iya, Bu."


"Sudah-sudah, nggak ada gunanya membahas yang udah selesai. Ibu mau istirahat dulu," ucap Bu Aini sambil berbaring di samping Medina.


Setelah ibu mertuanya terlelap Medina beranjak bangun untuk mencari keberadaan suaminya. Nampak di teras Musa sedang berbincang dengan Pak Iwan, supir keluarga mereka.


"Mas?" panggil Medina.


"Iya, Dek!"


Melihat Medina datang Pak Iwan segera undur diri.


"Kenapa, Dek? Kamu udah baikan?"


"Udah, Mas. Medina kepikiran sama Ibu sama Mba Mariam."


"Jangan memikirkan yang berat-berat, Dek."


"Ibu bilang ibu hanya minta diizinkan mengasuh Oktavia, benarkah Mas? Apa Ibu nggak memarahi kamu? Nggak meminta Mas Musa rujuk dengan Mba Mariam?"

__ADS_1


"Tenang dulu, Dek." Musa menggandeng tangan Medina dan membimbingnya untuk duduk.


"Benar, hanya itu yang ibu lakukan. Ibu menghargai dan menghormati apa yang sudah kami putuskan, Dek."


"Mas, Medina hanya bisa mengizinkan Mas Musa berbagi sekali saja. Dulu, Medina merasa nggak pantas untuk Mas Musa, sehingga Medina merasa rendah diri pada Mba Mariam. Sekarang ..., " Medina menatap lekat-lekat mata lelaki yang membuatnya sangat takut kehilangan, " Sekarang, Medina merasa berhak memiliki Mas Musa seutuhnya, baik jiwa, raga, dan juga hatinya."


"Setelah ini, Medina nggak akan sanggup berbagi lagi." Musa menangkap ketakutan hati Medina.


"Mas janji, Dek."


"Berjanjilah, Mas! Walaupun Oktavia diasuh oleh ibu, tidak akan terjadi apapun lagi antara Mas Musa dan Mba Mariam."


"Aku berjanji, Dek!" Mata mereka saling bertaut, meneguhkan hati pada pendirian yang sama.


🍀🍀🍀


Setelah mobil memasuki parkiran ruko, Mariam berusaha keluar dengan tertatih dari mobilnya. Keringat dingin bercucuran dan tubuhnya gemetar, sementara rasa sakit di kepalanya semakin tidak tertahan.


Mariam terus menyeret kakinya masuk melewati display gamis koleksinya, kemudian masuk ke ruang kerjanya yang berdinding kaca.


Bruuugk ...


"Bu Mariam ..., " teriak Novi yang kebetulan melihat Mariam jatuh terjerembab tepat setelah dia masuk ke ruangannya.


Novi segera menghampiri Mariam sementara pegawai lain mencoba mencari pertolongan ke lantai atas. Teh Desi dan Heru segera sampai, Mariam pingsan di pangkuan Novi.


"Ke Rumah Sakit Her," ucap Teh Desi begitu melihat kondisi Mariam.


Mereka dengan cepat membawa Mariam ke Rumah Sakit terdekat.


"Bu Mariam mengalami anemia akut, kebetulan golongan darah Bu Mariam adalah A rhesus positif dan Rumah Sakit kami sedang kehabisan stok. Tolong cari pendonor dengan golongan darah A+ sesegera mungkin, Bu Mariam butuh 3 kantong," ucap Dokter di ruang IGD.


Dalam sekejap postingan mereka tersebar dan banyak yang menanyakan sakit yang di derita Mariam. Teh Desi sudah mengintruksikan Heru untuk tetap menutupi kehamilan Mariam dan menjawab pertanyaan orang-orang dengan alakadarnya.


🍀🍀🍀


Siang itu Bu Aini pergi ditemani Mba Lastri dan Musa menjenguk Oktavia. Medina memilih tidak ikut dan beristirahat saja di rumah. Sebenarnya hatinya enggan mengungkit lagi sesuatu yang berhubungan dengan Mariam.


Medina hendak ke warung untuk membeli beberapa camilan.


"Tumben Tante Medina belanja sendiri, biasanya Mba Lastri yang kemari," sapa Bu Indri pemilik warung.


"Iya, Mba Lastrinya lagi keluar sebentar."


"Waduh, Tante Medina hamil jadi semakin cantik ya, auranya keluar, semoga lancar ya Tante. Mau lahiran disini atau di kampung?" tanya Bu Indri lagi.


"Di sini aja, Bu. Paling ibu saya atau ibu Mas Musa yang kemari."


"Oh ... semoga lancar, sehat semuanya, Aamiin."


"Aamiin, makasih Bu."


"Oh iya, ibu denger kalau Mama Okta udah diceraiin sama Pak Musa? Bener nggak Tante?"


"Ehm ... iya Bu," jawab Medina enggan.


"Oh, sukurlah. Lagian Tante Medina cantik begini masa dipoligami."

__ADS_1


"Maaf Bu, itu masalah keluarga kami."


"Eh iya, maaf ya Tante. Tapi ibu ikut seneng kalau Tante nggak harus berbagi suami lagi, di sini pada bilang kalau Mama Okta udah sukses sama usahanya jadi langsung minta cerai, ada juga yang bilang karena Tante Medina udah hamil jadi nggak perlu lagi pancingan dari Oktavia. Yang bener yang mana Tante?" tanya Bu Indri.


"Nggak ada yang bener, Bu. Biarkan ini jadi masalah keluarga kami, lagi pula kami baik-baik aja. Semua selesai dengan kekeluargaan, lagipula kami tetap menganggap Oktavia sebagai anak, sebagai keluarga."


"Oh, ya sudahlah berarti orang-orang aja yang pada sok tahu ya Tante, kalau ibu sih di madu kaya gitu nggak akan mau, Te, kok dulu Tante mau sih?" Bu Indri semakin frontal menunjukan keingintahuannya.


"Ibu bisa aja ngomong kaya gitu, tapi kalau Bu Indri mengalami apa yang saya alami pasti pertimbangannya akan banyak lagi. Nggak semua keadaan bisa dipikir secara logis, Bu. Kadang kita harus pakai hati."


"Contohnya, kalau Ibu nonton sinetron. Isteri yang tersakiti, Ibu pasti akan bilang harusnya begini harusnya begitu, jangan mau digituin, harusnya dilawan." Bu Indri memgangguk mendengar penuturan Medina.


"Tapi ... saat keadaan yang sama menimpa Ibu, hilang semua kelogisan Ibu."


"Ah, amit-amit Tante Medina, jangan sampai menimpa saya."


Medina memandang puas pada Bu Indri yang terlalu ingin tahu pada masalah keluarganya. Bu Indri lanjut melayani kebutuhan Medina tanpa membahas masalah tadi.


"Semuanya 73 ribu, Tan."


"Ini, Bu."


Dengan cekatan Bu Indri memberikan kembalian pada Medina.


"Oh iya, Tan. Sudah denger berita belum?"


"Berita apa lagi, Bu?" ucap Medina enggan.


"Postingan yang rame di grup RT sama grup pengajian, Mama Okta di Rumah Sakit lagi butuh darah golongan A."


"Butuh darah? Kapan? Tadi pagi Mba Mariam baru aja dari rumah saya dan dia baik-baik aja," ucap Medina.


"Tadi sekitar jam 12an, rame di grup. Pada nanya sakit apa tapi nggak dijawab, desas desusnya sih Mama Okta lagi hamil, tapi saya nggak percaya wong Tante Medina sendiri yang bilang kalau kabar perceraian itu bener."


"Apa?!"


"Tapi kalau nggak hamil, Mama Okta sakit apa dong sampe butuh darah begitu?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.Maaf nggak bisa up cepet-cepet, karena situasi dan kondisi. Kalau dipaksa cepet takutnya malah kehilangan feel dari tulisan ini sehingga pesan dan kesan yang ingin saya sampaikan jadi melenceng. Terimakasih yang sudah sabar.


Selamat menjalankan ibadah puasa.


__ADS_2