
[Assalamualaikum, Mas, Medina harap Mas enggak memasukan ke dalam hati ucapan Ibu tadi. Ucapan Ibu sama sekali tidak mewakili perasaan Medina, mungkin semua salah Medina yang kurang baik menyampaikan semuanya pada Ibu. Maafkan Medina dan Ibu, Mas.]
Kembali kubaca pesan yang tak kunjung dibaca oleh Mas Musa, hatiku sudah mulai sedih dan gelisah. Dan hari ini waktu berjalan dengan sangat lambat bagiku, aku harus bagaimana?
Hari menjelang Dzuhur tapi aku masih mengurung diri di dalam kamar. Berkali-kali Melisa mencoba memanggil tapi aku enggan keluar. Melisa benar, dari dulu pendapat Ibu adalah segalanya aku tidak pernah menolak walaupun kadang hatiku tidak suka. Apapun pilihan dalam hidupku, Ibulah penentunya. Termasuk pernikahanku dengan Mas Musa, tapi kali ini kuterima dengan senang hati.
Berawal dari rasa kagum dan qodarulloh kami memang berjodoh, rasa cintaku tumbuh semakin dalam tanpa bisa kubendung. Aku yang sepanjang hidupnya habis untuk belajar di pesantren dan kampus, akhirnya merasakan jatuh cinta untuk pertama kali. Aku tidak berpengalaman, aku hanya mengikuti arus dan keinginan hati.
Berbagai gejolak perasaan ini kunikmati dengan halal namun menyakitkan, aku tidak mengeluh hanya saja aku tetap berdoa agar suatu saat aku bisa bahagia dengan cinta balasan seperti yang kumau.
Mungkin aku terlalu bodoh dan naif karena terlalu cinta. Untuk pertama kalinya kulalukan sesuatu sesuai keinginanku, bukan keinginan Ibu. Karena aku sudah menjadi seorang istri, toh aku tetap berbakti padanya hanya saja aku sudah berada di kapal yang berbeda dengan Ibu. Nahkodaku sekarang adalah Mas Musa.
Di tengah lamunanku terdengar bunyi notifikasi pesan masuk. Langsung kubuka Ponsel yang tidak lepas dari genggamanku.
[Bicara nanti saja di rumah Dek] tulis Mas Musa singkat.
[Maafkan Medina, Mas] balasku dengan membubuhkan beberapa emoticon sedih, namun Mas Musa tidak lagi membalasnya.
Tiba-tiba melintas sebuah ide di kepalaku, segera kuhapus jejak airmata di wajahku dan meraih jilbab berwarna coklat susu. Kubuka pintu kamar dan nampak Ibu dan Melisa sedang duduk saling diam sambil menonton televisi. Aku tidak yakin mereka menonton, mungkin hanya sebagai pengusir bosan.
"Mba mau kemana?" tanya Melisa menyadari kehadiranku.
"Mba ada perlu keluar sebentar, di dalam kulkas masih ada ayam dan beberapa sayur, kamu siapkan makanan untuk Ibu," ucapku pada Melisa sambil meraih kunci motor yang tersimpan di dekat televisi.
Ibu masih diam dia hanya mengamatiku, perlahan kumendekat untuk berpamitan tapi tanpa banyak basa basi.
"Medina keluar dulu, Assalamualaikum," pamitku sambil mencium tangannya dengan takdzim.
"Waalaikumsalam," jawab Ibu, mungkin Ibu hendak bertanya kemana aku akan pergi namun beliau sungkan.
Kupacu sepeda motor milikku menuju rumah Mba Mariam, dia telah lama mengenal Mas Musa, mungkin saja dia bisa menebak bagaimana perasaan Mas Musa saat ini.
"Assalamualaikum, Mba!" Kuketuk pintu rumah yang sedang terbuka lebar, hari ini rumah Mba Mariam ramai, nampak beberapa orang sibuk di ruangan yang Mba Mariam gunakan untuk konveksinya.
"Waalaikumsalam, kenapa Din?" sahut Mba Mariam.
"Ramai sekali Mba," komentarku.
"Iya, kehidupan harus terus berjalan bukan? Meskipun Mizan sudah menjadi suamiku, tapi aku tetap harus mandiri agar bisa leluasa membesarkan Oktavia tanpa harus membebani kalian terlalu banyak," ucap Mba Mariam.
"Mba mau buka usaha konveksi lagi?" tebakku.
"Iya," jawab Mba Mariam singkat.
'Apa Mas Musa lebih menyukai wanita mandiri dan gigih seperti Mba Mariam?' batinku.
__ADS_1
"Ada apa tumben kemari? Ibumu enggak ikut?"
"Enggak, Mba ... aku mau minta tolong, bisakah Mba Mariam mendengar ceritaku dan memberi sedikit pendapat?" pintaku.
"Ceritalah," ucap Mba Mariam sambil sesekali mengawasi orang-orang yang sedang merapikan tempat usahanya.
"Nggak di sini Mba, bisakah di tempat yang nggak terlalu ramai?" pintaku lagi, Mba Mariam memandangku lekat-lekat, mungkin dia merasa aneh dengan permintaanku. Mba Mariam berjalan ke ruang makan dan aku mengekor di belakangnya.
"Ada apa?" tanya Mba Mariam lagi.
Kedua tanganku saling meremas, hal ini tentu saja berhubungan dengan Mba Mariam bisa saja bukan solusi yang kudapat tapi kemarahan Mba Mariam. Tapi 'Bismillah' biar kucoba.
"Mba, tadi pagi ada sedikit kesalahpahaman, Mas Musa nggak sengaja mendengar ucapan ibuku kalau Ibu masih belum benar-benar merestui pernikahan kalian, dan- yang sedikit menyakitkan, ibuku masih berharap agar aku menjadi satu-satunya istri Mas Musa kembali." Kuatur nafas sejenak untuk memberi jeda pada ceritaku, Mba Mariam yang awalnya tidak tertarik sekarang mulai antusias karena dirinya disangkut pautkan.
"Padahal malam harinya, ibu mengatakan kalau dia sudah merestui pernikahan ini dan mencoba menerima takdir rumah tangga anaknya. Mas Musa sudah lega, tapi hal berbeda disampaikan oleh Ibu tadi pagi, Ibu hanya ingin menasehatiku, ucapannya pun nggak ditunjukan kepada Mas Musa, hanya saja Mas Musa nggak sengaja mendengar semuanya," lanjutku.
"Sebelum pergi Mas Musa bersikap dingin, Mba, baru kali ini Mas Musa bersikap seperti ini padaku. Pesanku dibalas singkat, padahal aku sangat ingin menjelaskan padanya, aku takut Mas Musa kecewa karena ucapan ibuku yang berubah-ubah."
"Terus apa hubungannya semua ini denganku?" tanya Mba Mariam.
"Mba Mariam kan lebih mengenal Mas Musa, aku cemas dan khawatir dengan apa yang dirasakan Mas Musa, aku penasaran bagaimana Mas Musa menanggapi ucapan ibuku, aku nggak sanggup kalau sebentar saja Mas Musa bersikap seperti ini padaku. Mba, tebaklah bagaimana perasaan Mas Musa saat ini?" pintaku memohon.
"Aku? Menebaknya? Sepertinya kamu salah orang, Din."
"Mba aku mohon, berikan pendapatmu Mba, Mba mengenal Mas Musa dengan sudut pandang yang berbeda denganku."
"Apa Mas Musa kecewa padaku?" tanyaku lagi.
"Entahlah, Din, tanyakan padanya nanti."
Aku terdiam menyimak jawaban Mba Mariam, memang benar Mas Musa akan memikirkannya tapi tetap saja waktu berpikir Mas Musa terasa sangat lama bagiku yang cemas menunggu.
"Wajar kalau ibumu ingin kamu menjadi satu-satunya istri Mizan kembali," ucap Mba Mariam.
"Mba marah?"
"Enggak, aku bilang wajar. Aku nggak akan melawan, nggak akan menghindar, dan akan kulakukan semampuku. Persis ucapanmu kemarin."
"Aku akan hidup mengikuti arus saja, membiarkan takdir mengombang-ambingkan jodoh dan hidupku. Semua kejadian ini mengalir begitu saja, nggak ada yang terjadi sesuai keinginanku, bukan? Aku nggak berani menginginkan sesuatu lagi," lanjut Mba Mariam dengan tenang, nada suaranya menandakan dia telah pasrah.
"Mengenai keluargamu yang tidak menginginkan kehadiranku, sama sekali bukan urusanku. Kalau pun suatu saat nanti aku harus berpisah dengan Mizan, aku akan terima takdir itu. Dan kalau kami memiliki jodoh yang panjang, juga akan kuterima dan kujalani semampuku."
"Aku hanya fokus pada tanggung jawabku dan kebahagiaan Oktavia," pungkas Mba Mariam, sepertinya dia sedang mencoba ikhlas menerima semua ini, tapi kenapa justru aku yang khawatir? Apa Mba Mariam sudah mulai membuka hatinya untuk menerima Mas Musa kembali?
Tubuhku melunglai, kusenderkan tubuhku pada kursi dengan hati yang kacau. Apa benar ucapan Ibu? Akulah yang akan tamat jika Mba Mariam telah ikhlas menerima Mas Musa kembali? Sepertinya aku telah salah datang kemari.
__ADS_1
"Minumlah ini." Mba Mariam memberikan secangkir teh hangat padaku.
"Terimakasih, Mba."
"Kamu harus membuang espektasimu yang tinggi tentang pernikahan, karena dalam pernikahan yang sebenarnya kamu harus siap menghadapi berbagai kenyataan hidup yang enggak semuanya manis, kamu harus berjuang setiap waktunya. Bila begini saja kamu kalang kabut dan panik, bagaimana kamu menghadapi masalah besar yang lain di depan sana? Sadarlah, dan kuatlah!" ucap Mba Mariam sebelum akhirnya meninggalkanku untuk merenung, dia kembali sibuk dengan kegiatannya.
'Apa kebangkitan Mba Mariam adalah akhir dariku?' batinku.
Aku justru melupakan alasanku datang kemari, ketakutan yang lebih besar justru menghampiriku sekarang. Padahal, akulah yang berkali-kali mengingatkan Mba Mariam untuk segera bangkit kembali. Semua kini seperti berbalik menyerangku.
Kuteguk teh untuk membasahi tenggorokanku yang kering, aku sampai lupa untuk minum dari tadi. Di tengah kebisingan rumah Mba Mariam kumanfaatkan untuk merenungi semua yang telah terjadi. Hingga tanpa terasa cangkirku telah kosong.
Mencintai tidak boleh sebodoh ini, aku harus tetap bersiap untuk berbagai kemungkinan, aku harus kuat bertahan, bukan lemah seperti ini. Mungkin ucapan Ibu ada benarnya, hanya saja penyampaiannya yang salah. Aku harus segera pulang dan meminta maaf, Ibu hanya ingin yang terbaik untukku.
Kuhampiri Mba Mariam yang masih sibuk mengarahkan orang-orangnya. Sepertinya mereka mekanik yang sedang memeriksa mesin-mesin jahit milik Mba Mariam.
"Mba ... aku pamit dulu," ucapku padanya.
"Iya, maaf aku lagi sibuk jadi nggak bisa lama-lama ngobrol," ucap Mba Mariam.
"Dari tadi aku nggak liat Okta, Mba, kemana?" tanyaku.
"Dibawa main sama Teh Lala, biar nggak rusuh di rumah," jawab Mba Mariam.
"Oh ya udah, aku pamit dulu Mba, makasih nasehatnya, Assalamualaikum!" Aku segera pergi memacu sepeda motorku.
"Waalaikumsalam!"
Aku berniat mencari jawaban atas Mas Musa tapi aku justru mendapat alasan logis untuk membuka mata dan menerima pendapat Ibu dengan sedikit saringan. Entah ini jawaban dari doaku, atau peringatan.
Kupacu sepeda motorku ke pasar dekat rumah, untung aku ingat kalau Ibu mengatakan akan pulang besok. Aku akan membelikan beberapa buah tangan khas kota ini. Aku sudah tidak sabar untuk pulang dan meminta maaf serta berterimakasih pada Ibu.
Mas Musa? Biarlah lihat nanti saja.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.