
Ketika pulang Musa dan Medina mendapati rumahnya dalam keadaan kosong. Setelah mereka mencari akhirnya mereka tahu kalau Bu Aini sedang berada di rumah Mariam untuk menemui Oktavia.
Musa dan Medina kembali ke mobilnya dan bergegas ke rumah Mariam. Mereka disambut dengan raut wajah yang penuh tanda tanya dari Bu Aini.
"Kenapa, Bu?" tanya Musa, "Ibu kelihatan bingung? Dimana Oktavia?"
"Sudah tidur, dari tadi mainan sama ibu. Kalian lama banget perginya, ibu kesepian."
"Maaf, Bu. Tadi ada urusan."
"Sini, Din. Duduk dulu pasti kamu capek," ajak Bu Aini melihat Medina yang terlihat mulai kepayahan.
"Iya, Bu."
Mereka menuju ruang tamu rumah Mariam, Lisa--keponakan Teh Desi yang merawat Oktavia, segera membuatkan minuman untuk mereka.
"Zan, sini! Ibu mau bicara sama kamu," ucap Bu Aini, Musa pun menurut dan duduk di sampingnya.
"Tadi Oktavia bilang kalau dia kangen mamanya, mamanya enggak pernah pulang ke rumah selama beberapa hari ini. Ibu benar-benar kasian pada anak itu, kira-kira Mba Mariam kemana Zan? Ibu udah tanya sama si Lisa tapi dia kaya nutup-nutupi sesuatu yang seolah-olah ibu nggak boleh tahu." Bu Aini bercerita dengan penuh curiga.
"Ehm, itu juga yang mau Mizan sampaikan, Bu." Musa melirik Medina dan berusaha merangkai kalimat terbaik untuk ibunya.
"Sampaikan gimana? Pokoknya besok ibu pulang mau bawa Oktavia sekalian, di kampung kan enak, ada ibu ada bapak, ada orang tua Mariam juga yang bisa gantian nemenin Oktavia main dan belajar, kaya gini dia kaya anak terlantar dan kurang perhatian," ucap Bu Aini emosional.
"Iya, Mizan paham, Bu."
"Bu, Mariam sebenarnya sedang ... sedang di rawat," ucap Musa.
"Apa? Di rawat? Mba Mariam sakit apa, to? Kenapa nggak bilang-bilang?" tanya Bu Aini terkejut.
"Se-benarnya, Mariam hamil, Bu."
"Hah?"
"Mariam hamil dan ... kondisinya lemah, makanya ... sekarang sedang dirawat," jawab Musa dengan gugup.
"Apa tadi kamu bilang? Mba Mariam hamil?" tanya Bu Aini penuh ketidak percayaan, Musa pun hanya mengangguk tanpa berani menatap langsung wajah ibunya.
"Beneran, hamil?" Bu Aini kembali memastikan kata-kata yang diterima telinganya, Musa kembali mengangguk.
"Anak kamu?" tanyanya lagi, Musa pun hanya mengangguk.
"Anak kamu, Zan!" seru Bu Aini tidak percaya.
"Astaghfirulloh ... astaghfirulloh." Bu Aini terlihat syok.
"Bu ... ibu!" seru Medina segera menopang pundak ibu mertuanya yang hampir limbung.
"Tenang, Bu. Minum dulu," ucap Medina sambil memberikan secangkir teh pada ibu mertuanya.
"Istighfar, Bu. Tenang dulu." Musa pun sedikit panik melihat respon ibunya.
"Astaghfirulloh ... Ya Alloh, Zan. Mba Mariam hamil bagaimana? Kenapa menceraikannya kalau dia sedang hamil anakmu? Pamali, Zan. Nggak pantes seorang laki-laki menceraikan istrinya yang sedang hamil. Ya Alloh ... cobaan apa lagi ini," ucap Bu Aini sambil berlinang air mata.
"Tenang dulu, Bu. Mizan akan menjelaskan semuanya. Mizan dan Medina juga baru mengetahuinya, Mariam menutup rapat kehamilannya dari semua orang."
__ADS_1
"Apa?!"
"Iya, Bu. Kami baru tahu, dan langsung mengecek kabar itu di rumah sakit tempat Mba Mariam dirawat tadi," ucap Medina menimpali.
"Ya Alloh, Mba Mariam ... kenapa dia begitu?!" ratap Bu Aini.
"Tenang dulu, Bu. Biar Mizan ceritakan semua pelan-pelan ke ibu."
"Astaghfirullohaladzim ...."
"Mariam pun baru mengetahui kehamilannya setelah Mizan menjatuhkan talak padanya. Mariam nggak mau kalau harus kembali pada pernikahan hanya karena kehadiran anak itu."
"Tapi apa kata orang nanti kalau mereka tahu kamu menceraikan Mba Mariam dalam keadaan hamil?" ucap Bu Aini masih dengan tangisnya.
"Perceraian kalian saja sudah membuat ibu terpukul, sekarang ibu nggak habis pikir dengan kejadian ini."
"Semua pilihan Mariam, Bu," ucap Musa berusaha menenangkan ibunya, namun sia-sia.
"Ibu semakin nggak habis pikir, kenapa Mba Mariam ingin sekali bercerai. Kalau alasannya hanya seperti kemarin masih bisa ibu terima, tapi ini? Dia hamil lho!"
"Ya Alloh ... ibu harus bagaimana, Zan? Ibu semakin nggak punya muka di depan keluarga Mba Mariam di kampung," sesal ibu penuh kebuntuan.
"Nasi sudah menjadi bubur, Bu. Nggak sepenuhnya ini menjadi salah kita, Mba Mariam pun punya andil yang kuat dalam perpisahan ini, Medina yakin Mas Musa pun sudah berusaha mempertahankan Mba Mariam sebelumnya."
"Tapi ... Mba Mariam memang sudah membulatkan tekatnya dan tidak ada sedikit pun keinginan Mba Mariam untuk kembali, itu lah alasan kenapa Mba Mariam menyembunyikannya seorang diri."
"Mba Mariam ... takut jika Mas Musa membatalkan proses perceraian mereka dan malah merujuknya." Medina berusaha menenangkan ibu mertuanya.
"Jadi orang tua Mba Mariam pun nggak tahu?" tanya Bu Aini.
"Faisal?"
"Iya, Bu. Tadi, Mizan ketemu juga sama Mas Faisal."
"Terus sekarang kita harus bagaimana?" tanya Bu Aini.
"Mizan akan bertanggung jawab pada anak dalam kandungan Mariam, seluruh biaya pun menjadi tanggungan Mizan karena masa iddah wanita hamil adalah saat dia melahirkan. Hanya itu, Bu. Mariam tidak memberikan banyak, itu pun sudah cukup mengingat betapa susahnya meluluhkan Mariam."
Bu Aini terdiam mendengar penuturan panjang putranya.
"Bu ... Mizan juga berat dengan keputusan ini, rasanya seperti memakan buah simalakama. Tapi Mizan sudah berusaha sebelumnya dan Mariam nggak bisa dipaksa, dan Mizan pun sudah berjanji hanya akan menjadikan Medina sebagai satu-satunya istri." Mizan bangkit dan berlutut di pangkuan ibunya.
"Bu ... maafkan Mizan, karena selalu memberikan masalah sama Ibu," ucap Mizan dengan menangis sambil bersimpuh pada ibunya.
Suasana haru menyelimuti ruangan, Lisa yang menguping diam-diam memberi tahu Teh Desi mengenai apa yang terjadi.
"Sudahlah, Zan. Ini sudah tanggung jawab Ibu sebagai orang tua. Semua cobaan sudah kamu borong di awal, semoga setelah ini tinggal kebahagiaan untukmu dan keluargamu."
"Terimakasih ya, Nduk. Kamu jangan meninggalkan anak ibu seperti Mba Mariam, " ucap Bu Aini pada Medina.
"Iya, Bu."
"Kamu juga sudah menghadapi cobaan yang nggak mudah sebagai seorang istri. Tapi kamu berhasil mendampingi putra ibu dengan sabar, semoga keturunan kalian menjadi anak yang sholeh sholehah, ya Nduk. Dan keluarga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah, saling menyayangi hingga akhir. Aamiin."
"Aamiin." Mereka bertiga berpelukan dengan haru.
__ADS_1
"Mba Mariam kemungkinan pulang hari ini, Bu. Ibu bisa menemuinya nanti," ucap Medina setelah keharuan itu berlalu.
"Baiklah, ibu akan tunggu disini. Kamu lebih baik pulang dan istirahat. Kamu kelihatan capek dan pucat."
"Lebih baik kita pulang saja, Bu. Nanti kalau Mariam sudah pulang pasti dikabari," usul Musa melihat ibunya yang masih syok dan tidak baik-baik saja.
"Oh ..., " Bu Aini terlihat berpikir beberapa saat, "baiklah, ayo kita pulang."
Musa menatap ibunya yang sedang menghampiri Oktavia di kamarnya, dia mencium gadis kecil yang terlelap itu untuk beberapa saat penuh kasih sayang. Seorang ibu yang di masa tuanya harus hidup jauh dari anak-anaknya.
Musa tahu, ibunya sedang merasa sedih. Kedatangan Mas Faisal telah mengingatkan ibunya pada Mas Harun. Pertemanan mereka yang dekat membuat Mas Faisal sering menghabiskan waktunya di rumah bersama Mas Harun dulu.
Tapi, karena suatu hal pertemanan mereka retak bahkan berganti menjadi permusuhan yang menyebabkan Mas Harun memilih untuk menetap di Kairo bahkan berkeluarga di sana.
Kemudian, dirinya sendiri, yang memilih hidup di luar kota untuk menghindari ingatan tentang Mariam, padahal ibunya sudah berharap Musa menetap di rumah setelah menyelesaikan studinya di Hadramaut. Tapi, di kota inilah Musa justru kembali bertemu dan terikat kisah yang rumit dengan Mariam. Musa paham kesepian yang ditanggung ibunya, dan untuk menebus kesalahannya dia berniat memboyong Medina ke rumah.
Mereka pun kembali ke rumah Medina. Bu Aini yang tampak terpukul lebih banyak diam dan memilih untuk tidur. Medina khawatir melihat keadaan ibu mertuanya.
"Mas?" panggil Medina pada Musa yang sedang bersantai di teras.
"Lho, Dek. Kamu nggak istirahat?"
"Medina nggak bisa tidur, Mas."
"Kenapa?"
"Medina kasihan sama ibu. Apa ibu baik-baik aja? Jangan-jangan ibu masih menginginkan Mba Mariam kembali bersama anak di kandungannya," ucap Medina dengan gelisah.
"Dek, jangan jadi beban pikiran. Ibu pasti sedih dan syok, tapi ibu pasti mengerti kalau Mariam nggak bisa dipaksa kembali. Ibu hanya sedih karena ibu kesepian selama ini."
" Makanya mas memutuskan pulang dan hidup di kampung, biar ibu bisa dekat dengan cucu dan anaknya," ucap Musa sambil tersenyum menatap Medina.
Medina justru berkaca-kaca mendengar ucapan Musa.
"Lho, kenapa, Dek? Ada yang salah dengan ucapan, mas?" tanya Musa mendapati bulir bening di sudut mata Medina.
"Nggak, Mas," jawab Medina sambil menyeka air matanya sendiri, dia mengangkat bibirnya dan tersenyum.
"Medina pikir Mas Musa pergi hanya karena Mba Mariam yang memintanya," ucap Medina dengan sedih.
"Bukan, Dek. Mas memang sudah memikirkannya sejak lama, mas ingin kita dekat dengan ibu."
"Maaf, Mas. Medina sudah suudzhon sama hati Mas Musa."
"Mas hanya mencintaimu, Dek. Mariam hanya kepingan masa lalu." Musa memeluk Medina yang masih saja menangis haru.
.
.
.
.
.
__ADS_1