
"Coba ulangi siapa nama gadis itu?!" ucap paman dengan nada tinggi.
"Sa-sabira Almahira," ucap Adam dengan terbata-bata.
Entah berapa kali harus kutahan Paman Faisal agar Adam tidak dipukul lagi olehnya.
"Katakan sekali lagi!" lanjut paman dengan nada geram.
"Sabira Almahira." Adam menjawab dengan lebih tegas.
Bugk!
Sebuah tinjuan kembali dilayangkan Paman Faisal pada Adam.
"Ya Alloh, jangan Paman!" pekikku.
Adam tersungkur, kucoba menolong namun Adam menepis tanganku. Aku berbalik menatap mata Paman yang terlihat sangat marah. Aku memelas dan memohon mereka untuk berhenti.
"Minggir kamu Okta! Anak itu pantas dihukum!"
"Okta mohon Paman, jangan pukul Adam lagi, Adam pasti nurut kali ini jadi tolong jangan pukul Adam, Paman!" Aku berusaha memohon, meski rasanya mustahil meredakan amarah Paman Faisal kali ini.
Aku bersimpuh dan memeluk kaki Paman Faisal, Paman Faisal terdengar mengeram menelan amarahnya sendiri. Aku harus menyelamatkan Adam dari amarah Paman.
Paman kemudian mundur dan memukul tembok menggunakan tinjunya, semua terasa bergetar, amarah yang Paman rasakan terasa lebih menyeramkan.
Aku kembali pada Adam, merangkulnya dengan sedikit memaksa dan membawanya pergi dari hadapan Paman.
__ADS_1
Kuobati luka memar di sudut bibir Adam di kamarku, dia hanya diam, dadanya naik turun, dirinya yang beranjak dewasa mulai bisa melawan kehendak Paman.
"Paman ngelarang kamu pacaran, Dam?" tanyaku mencoba menepis kebisuan.
"Emang cewek yang kamu deketin kaya apa sampe Paman semarah itu, Dam?" tanyaku lagi.
"Nggak tahu, Paman aneh!" jawab Adam kesal.
"Makasih, Kak, udah nolongin aku tadi."
"Kamu nurut aja, Dam. Paman nggak mungkin marah tanpa sebab kaya gini," saranku.
"Ah! Kakak nggak ngerti!"
"Apanya yang kakak nggak ngerti?" tanyaku pura-pura.
"Aku juga nggak tahu, pokoknya Sabira itu menyenangkan," ucap Adam sambil melepas pandangannya ke luar jendela kamar, tubuhnya turun dari kasur dan duduk dibawah di sisi ranjang, tangan satunya meraih kompresan dan menempelkannya sendiri ke bibirnya yang berdarah.
"Aku nyaman bersamanya, Kak! Ada rasa yang nggak pernah kurasakan sebelumnya kalau dekat dengan Sabira."
Kubuang nafas kasar, sambil mengikutinya duduk di bawah. Aku sebenarnya senang Adam menemukan sosok yang membuatnya sedikit berbeda sekarang, kehadiran gadis bernama Sabira membuat Adam sedikit ceria dan terbuka.
"Tadi ... aku dan Sabira sedang di cafe, aku nggak tahu kalau paman ada disana. Aku iseng aja ngenalin Sabira sama paman, eh ... tiba-tiba paman marah, padahal sebelumnya paman biasa aja," tutur Adam bercerita.
"Paman berkata kasar pada Sabira, aku yakin Sabira sakit hati, dan paman menyeretku pulang."
"Paman bilang apa, Dam?" tanyaku penasaran, karena paman tidak pernah melarang kami dekat dengan siapapun sebelumnya, asalkan kami bisa menjaga diri dan tahu batas.
__ADS_1
"Paman bilang Sabira pembawa sial, itu jelas menyakitkan, Kak!"
"Paman aneh sih kali ini, tapi kamu jangan ngelawan seharusnya, kan jadi kena pukul begini."
"Aku hanya membela Sabira, Kak! Paman nggak bisa ngomong seenaknya begitu."
"Sekarang lebih baik diam dan nurut, Dam! Mungkin paman ingin kamu fokus kuliah dulu," ucapku berusaha menenangkan Adam.
Kuacak-acak rambut Adam penuh kasih sayang, sejak mama meninggal aku hanya punya dia dan Paman yang merawat kami.
Sabira? Siapa gadis itu?
.
.
.
.
.
.
Blurb untuk Cerbung selanjutnya.
.
__ADS_1