
"Aku tidak akan menikahi Mariam!" tolak Musa.
"Lebih baik kalian pergi!" usir Mariam.
"Mba ... pikirkan sekali lagi Mba, aku mohon!" pinta Medina dengan iba.
"Dari awal aku mengenalmu, aku sudah curiga dengan cara berpikirmu yang tidak waras ... tapi aku nggak nyangka, kamu bakalan tega berbuat sejauh ini, kamu terus saja menuang garam di lukaku!"
"Aku minta maaf, Mba, aku minta maaf ...!"
"Dek, sudah ayo kita pergi!"
Musa segera menarik tangan Medina, mereka berpamitan setelah membuat keributan. Mariam hanya menatap nanar kepergian mereka.
"Bu, apa begini rasanya dihina karena status janda?" tanya Mariam.
"Kamu harus kuat, Mba!"
"Kamu juga harus bangkit, tidak ada yang menyuruh untuk melupakan suamimu, tapi terus-terusan bersedih juga nggak baik, lihat kamu punya Oktavia, dia tanggung jawabmu Mba, kamu harus berpikir untuk masa depannya," lanjut Ibu.
"Tapi kepergian Mas Bian baru kemarin Bu," tukas Mariam.
"Terus mau sampai kapan? Suamimu pasti juga sedih melihat keadaanmu yang seperti ini Mba, bagaimana ibu bisa percaya dan tenang membiarkan kalian tinggal di sini sementara kondisi kamu belum meyakinkan? Atau kamu ikut ibu pulang?"
Mariam hanya diam mendengar usul Ibunya, dia sadar selama ini terlalu terbawa arus kesedihan tanpa sedikit pun mencoba melawan. Oktavia, gadis kecil yang menjadi tanggung jawabnya, bagaimana membuat dia bahagia walaupun dia seorang yatim? Semua pertanyaan tentang hari esok berkelebat di hati Mariam.
"Mba ... kalau memang kamu belum siap mencari pengganti, pikirkan Oktavia, cepat atau lambat dia akan butuh figur seorang ayah, kalau kamu tidak mau memberikannya, hadirkan sosok ayah dan ibu sekaligus pada dirimu, tidak dengan lemah seperti ini, bangkit Nak!"
"Ibu benar ... Oktavia adalah titipan Mas Bian yang paling berharga, aku harus menjaganya."
__ADS_1
"Bagus Nak, ayo bangkit ... Ibu yakin kamu bisa."
Sementara itu, Medina tengah menghadapi kemarahan besar dari Musa dan juga kekecewaan dari Ibu Mertuanya.
"Astaghfirullohaladzim ... !" Musa merebahkan tubuhnya di kursi, kedua tangannya menelungkup menutupi wajahnya.
"Kejadian tadi memang memalukan, sekarang jawab Ibu, Zan! Apa kamu betul-betul tidak ingin menikahi Mba Mariam?"
Musa memutar kedua bola matanya, dia terdiam menunjukan perdebatan antara hati dan logikanya.
"Niat Medina bagus, lihat bagaimana istrimu ingin kamu bahagia, dia menderita saat suaminya masih memikirkan wanita lain, tapi dia berbesar hati alih-alih cemburu atau marah dia malah ingin menjadikan wanita itu madu baginya. Kamu mau cari kemanapun tidak akan menemukan wanita berhati besar seperti Medina," bela Bu Aini pada menantunya.
"Ibu malu Zan, ternyata kamu tidak bisa menghargai perasaan istrimu ... sekarang jawab jujur, kamu mau atau tidak? Ibu bisa mengusahakan agar rumah tanggamu dengan Medina tetap utuh tapi kamu juga bisa menikahi Mariam sebagai istri keduamu," Kata Bu Aini, Medina hanya menyimaknya dengan isakan-isakan kecil dari mulutnya.
"Aku memang mencintai Mariam, Bu, tapi aku tidak mampu untuk berpoligami, aku juga tidak mungkin melepaskan Medina, biarkan aku menjaga Mariam hanya dalam doa."
Setelah Bu Aini menutup pintu kamar tamu, Musa segera meraih tangan isterinya dan menuntunya ke kamar, Medina dengan pasrah mengikuti suaminya.
Medina duduk di tepian ranjang, di depannya Musa terlihat mondar-mandir.
"Katakan Dek, apa benar mas telah gagal mendidikmu?"
"Kamu telah berani melakukan hal yang gegabah bahkan tanpa persetujuan dari mas, dan juga melibatkan Ibuku dalam permasalahan ini, katakan, kapan mas mengatakan mas ingin menikahi Mariam?"
Medina hanya tertunduk diam, selama pernikahannya baru kali ini dia melihat suaminya semarah ini.
"Mas ... maaf Medina hanya lelah, Mas Musa selalu berkata tidak, tapi hati Mas Musa mengatakan yang sebaliknya, mas semakin sering bermimpi dan mengigaukan nama Mba Mariam, hatiku sakit Mas ...."
"Tapi itu bukan alasan untuk kamu berbuat gegabah dan membuat Mariam kembali teringat kepergian suaminya."
__ADS_1
"Mas ... bahkan sekarang aku muak, maafkan aku. Mas bukan marah karena aku melamar Mba Mariam, kan? Mas marah karena aku membuat Mba Mariam menangis dan kembali bersedih, iya kan Mas?"
"Hal seperti ini Mas yang melukaiku, rasanya sakit Mas! Aku lelah, aku harus melakukan sesuatu, kalaupun aku harus merelakan Mas untuk Mba Mariam, aku akan berusaha ikhlas! Bertahan pun aku akan semakin hancur!" Medina mencurahkan kepedihan hatinya.
"Mas mencintai kamu, Dek! Kamu terlalu fokus pada Mariam tapi kamu lupa menghargai apa yang ada pada dirimu!"
"Menjadikan Mba Mariam sebagai istrimu adalah caraku mencintaimu, Mas! Aku ingin Mas bahagia."
Musa merasa buntu dengan pendirian istrinya.
"Bahkan kalau mas mau, tidak akan mudah meluluhkan hati Mariam, kamu tidak lihat Dek, dia hanya mengujimu tapi tidak benar-benar menginginkan kamu untuk melepasku dan menikahinya. Mas tahu benar, dia mencintai almarhum suaminya."
"Dan aku tahu benar, Mas masih mencintainya dan Mba Mariam pernah mencintaimu, Mas. Mba Mariam hanya belum siap, tapi aku yakin masih ada perasaan di hatinya untukmu, Mas!"
"Cukup, Dek!"
Musa membungkam Medina dengan segala keteguhan hatinya.
Medina menangis meratapi nasibnya, andai saja dia hamil dia tidak akan segila ini menginginkan Mariam sebagai madunya. Dia menyadari bahwa berbagi suami bukanlah hal mudah, dia harus siap terluka kapan saja. Tapi, dalam posisinya sekarang dia hanya memiliki Musa hanya raganya, sementara hatinya belum berpaling dari Mariam.
"Pada kenyataanya aku tidak pernah benar-benar memilikimu Mas, lantas kenapa aku harus takut untuk berbagi bahkan kehilangan, Mas tahu, sebenarnya akulah yang sedang mengemis meminta Mba Mariam membagi sedikit ruang di hatimu untukku Mas!"
"Bila Mba Mariam, tidak ingin membaginya, lebih baik aku pergi."
"Astaghfirullohaladzim ... ! Dek kamu sudah terlalu jauh berburuk sangka. Selama ini mas terus mencoba menepis Mariam dan menggantikannya denganmu. Cukup! Mas tidak ingin membahasnya lagi, Mas tidak akan melepaskanmu atau berpoligami, lupakan ide gilamu dan cobalah berpikir positif," sangkal Musa.
"Mas punya waktu satu minggu selama Ibu masih di sini, Mas berpikirlah dengan jernih, jangan mencoba menolaknya cobalah pahami maksudku, aku lelah mengharapkan cintamu Mas, barangkali dengan menghadirkan Mba Mariam akan membuat Mas tersentuh dengan pengorbananku, dan aku harap Mas bisa mencintaiku."
.....
__ADS_1