Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Satu Hati Dua Cinta


__ADS_3

POV MUSA HAMIZAN


Setelah jam istirahat siang kuputuskan untuk pulang lebih awal, aku merasa tidak enak karena sejak kedatangan Ibu mertua, aku justru sibuk dengan pekerjaanku. Dan hari ini Ibu memutuskan untuk pulang kampung, entah kenapa singkat sekali kunjungannya.


Sengaja aku tidak memberi kabar pada Medina biar saja menjadi kejutan untuknya. Butuh 30 menit untuk sampai di rumah, tapi saat meliwati gang rumah Mariam terbesit keinginan untuk menemuinya terlebih dahulu.


Akhirnya kubelokan mobil dan berhenti di depan rumah Mariam. Tidak seperti biasanya rumahnya kembali ramai, sepertinya dia sudah membuka kembali konveksinya. Mariam memang cuek, kalau bukan aku yang menelpon atau mengirim pesan dia tidak akan melakukannya terlebih dahulu. Sifat yang membuatku penasaran.


"Assalamualaikum." Kuucapkan pada beberapa orang yang terlihat berkumpul di ruang konveksi yang terbuka.


"Waalaikumsalam," jawab mereka bersamaan.


"Mariamnya ada?" tanyaku.


"Ada Pak Musa, di dalam lagi sama Okta, masuk aja."


"Iya, terimakasih."


Aku melepas sepatuku dan masuk berjalan melewati mereka. Kususuri ruang tamu dan dapur tapi nihil. Kucoba mengetuk di pintu kamar Okta.


Tok tok tok!


"Assalamualaikum," ucapku.


"Waalaikumsalam,"terdengar Mariam menjawab salamku dengan pelan, tidak lama kemudian terdengar langkah kakinya mendekat.


"Lho Zan, kenapa disini? Kamu nggak kerja?" ucap Mariam sambil membenarkan jilbabnya.


"Panggil Mas," pintaku.


"Terus kamu manggil aku apa? Dek?" ledek Mariam sambil berjalan melewatiku.


"Terserah kamu mau dipanggil apa," jawabku asal.


"Okta lagi bobo, jangan berisik di situ," ucap Mariam mengalihkan pembicaraan.


Akhirnya kususul Mariam yang sedang membuat minuman di dapur. Kebersamaan kami masih terasa bagaikan mimpi di mataku, mimpi indah yang berdiri di atas kepahitan hidup Mariam dan keikhlasan cinta Medina. Akulah lelaki paling beruntung yang bisa memiliki dua isteri semengagumkan mereka.


"Ibu Medina akan pulang nanti sore, makanya aku pulang lebih awal," tuturku memberi tahu Mariam.


"Sayang sekali, kenapa cuma sebentar di sini?" komentar Mariam.


"Masih banyak kegiatan di rumah," jawabku singkat.


"Kenapa malah kemari?" tanya Mariam


"Sebentar, untuk menengok Okta, tapi ... aku bahagia akhirnya kamu bangkit dan kembali menjalani kehidupan, semoga usaha kamu sukses."


"Aamiin, aku nggak mau membebani kalian terlalu banyak, bagaimanapun Okta tetaplah tanggungjawabku."


Aku hanya tersenyum menanggapinya, berusaha lebih menghargai semangat Mariam untuk bangkit, aku tidak bisa serta merta memaksakan kehadiranku sebagai tulang punggung baginya. Kemudian Mariam menyajikan secangkir teh hangat di depanku.

__ADS_1


"Terimakasih telah berusaha menganggap Okta sebagai anakmu," ucap Mariam.


"Okta adalah keberuntungan bagiku, semoga aku bisa menjadi orang tua yang baik untuknya, kamu jangan sungkan kalau butuh apa-apa pada hal yang berkaitan dengan Okta, aku akan sangat senang bila kehadiranku di perlukan," ungkapku.


Mariam hanya terdiam, mungkin saja kata-kataku berlebihan baginya, tapi begitulah adanya.


"Sudahlah, nggak usah terlalu dipikirkan," ucapku menyudahi kecanggungan yang masih ada diantara kami, kuminum teh yang Mariam buatkan.


"Maaf, aku masih belum terbiasa ... bahkan semua yang terjadi masih mengambang seperti mimpi, aku ... bahkan berkali-kali menanyakan pada diriku sendiri, apakah aku harus bahagia ... atau harus bersedih atas kehadiranmu kembali," tutur Mariam terpatah-patah.


"Entahlah, aku masih meraba apa yang sebenarnya kurasakan. Aku harap kamu mengerti, semua tidak mudah bagiku," lanjut Mariam dengan terus menunduk tanpa berani menatap mataku.


Kuberanikan diri memegang tangan Mariam yang saling bertaut di atas meja, aku tahu dia sedang mengumpulkan keberaniannya untuk mengakui kenyataan pada dirinya. Mariam tersentak tapi tidak menarik mundur tangannya, sejenak dia memandang ke arahku sebelum akhirnya dia kembali menunduk.


"Jujur Zan, saat aku mengingat segala kenangan tentang kita saat masih remaja, aku masih merasakan debar-debar itu. Rasanya seperti ada kupu-kupu yang terbang dalam perutku, rasa ... yang berusaha kulupakan seiring dengan kepergianmu." Dengan bahagia kudengarkan semua ungkapan hati Mariam.


"Tapi ... saat aku menyadari keadaan kita yang sekarang, aku masih malu membawa masa lalu itu ke kehidupan kita sekarang. Aku merasa tidak pantas, kamu adalah bintang ... yang sejatinya tidak pernah tergapai olehku, dan hanya kebetulan saja ketika kamu melewati tempat dimana aku berdiri, kamu menyapaku sebelum akhirnya pergi melesat tinggi ke angkasa," ungkapnya.


"Dan aku yang masih naif, membiarkan begitu saja hatiku terbawa." Aku paham maksudnya, andai dia tahu bahwa hatiku juga tertinggal lama bersamanya.


"Dalam fase kehidupanku, aku sudah pernah melepasmu dengan ikhlas, karena bagiku kamu hanya bintang yang tak pernah kumiliki, aku hanya bisa mengagumi cahayamu dari jauh. Dan ... sekarang kamu adalah suamiku, aku bahkan tidak berani menganggap ini sebagai kenyataan," pungkasnya dengan sedikit putus asa, semua ucapannya menggambarkan betapa perih hatinya saat dia harus melupakanku.


"Alhamdulillah, sebagian dari Mariamku sudah mulai kembali," ucapku sambil tersenyum, berharap dia berhenti untuk kejam pada dirinya sendiri.


"Jangan pernah merasa kalau kamu tidak pantas, kamu menilaiku terlalu tinggi, padahal kamu pun telah terbang jauh lebih tinggi melampauiku."


Mariam mulai percaya dengan menatap perlahan kepadaku, inilah Mariamku yang dulu, begitu malu-malu namun selalu tegas dan penuh rasa cinta dalam setiap surat-suratnya. Aku terbawa suasana hingga tanpa terasa jarak kami sudah sangat dekat.


Aku tersenyum menyadari keterburu-buruanku, namun aku tetap mendekat.


"Allohumma layyin qolbahu kama laiyyanta li hadiid lidaud ...." Kuucapkan doa agar hati Mariam terbuka, kusengaja tidak mengucapkannya di dalam hati agar Mariam mendengarnya. Kemudian kucium puncak kepala Mariamku, isteriku.


'Ya Alloh ... luluhkanlah hatinya, sebagaimana Engkau meluluhkan besi untuk Nabi Daud,' pintaku kepada Sang Kholik di dalam hati.


🍀🍀🍀


Setelah sholat Dzuhur dan makan bersama, aku segera berpamitan. Waktu yang telah kubagi untuk mereka kuharap telah cukup adil berdasarkan situasi dan kondisi. Awalnya sepertinya tidak mungkin bagiku membagi hati seperti ini, tapi seiring berjalannya waktu menjadi mudah dalam satu hati dihuni dua cinta.


"Assalamualaikum."


Medina tergopoh-gopoh membukakan pintu dengan wajah yang sumringah.


"Waalaikumsalam, Mas Musa tumben pulang jam segini?" ucapnya menyambutku.


"Iya Dek, kan katanya Ibu mau pulang sore ini seenggaknya mas menyempatkan waktu sedikit walau nggak bisa nganterin," jawabku.


"Terimakasih Mas," ucap Medina bahagia.


"Mana Ibu?"


"Lagi masak Mas, Medina yang minta diajari masak ini itu, biar Medina jago dan enggak itu-itu mulu menunya, Mas Musa udah makan?"

__ADS_1


"Udah Dek, mas ganti baju dulu ya."


Setelah selesai mengganti baju, aku segera keluar menemui Ibu mertuaku. Selama Beliau disini aku belum benar-benar menghabiskan waktu dengannya.


"Mas Musa, Ibu boleh minta waktu bicara," sapa Ibu yang sudah duduk menungguku di ruang depan.


"Silahkan Bu," jawabku seraya duduk di kursi kosong di seberangnya.


"Ada apa, Bu?"


"Mengenai ucapan ibu tempo hari, ibu mau minta maaf, kalau Mas Musa marah jangan melampiaskan sama Medina, sama ibu aja, semua yang ibu ucapkan murni buah pikiran ibu yang memang salah," sesal ibu.


"Iya Bu, saya mengerti kekhawatiran Ibu, saya minta maaf kepada Ibu sekeluarga, karena harus memberikan pernikahan yang seperti ini kepada Medina, tapi Insha Alloh saya tetap berusaha membahagiakan putri Ibu semampu dan sebisa saya, sudah jalannya seperti ini, kami hanya bisa pasrah dan tawakal."


"Tapi ... ibu tetap berharap Mas Musa benar-benar membahagiakan Medina, bukan sekedar kata-kata, Medina itu naif terlalu polos, maklum dari dulu kami selalu menjaganya dan melarangnya berpacaran seperti teman-temannya. Dalam perasaan Medina tidak punya pengalaman apa-apa. Mas Musa harus membahagiakan anak ibu, dan ibu berharap kalian segera memiliki momongan agar anak saya memiliki ikatan dan nilai lebih," tutur ibu mertuaku.


Kuambil nafas panjang, aku mengerti Ibu mertuaku belum benar-benar menerima. Hanya Alloh yang mampu membolak-balikan hati manusia, aku hanya berusaha. Ucapan ibu mertuaku terdengar lembut tapi menuntut.


"Doakan kami Bu, saya dan Medina tetaplah manusia biasa, rumah tangga yang biasa pun pastilah ada masalah sebagai bumbu-bumbunya, apalagi rumah tangga kami yang terdiri dari 3 kepala dan 3 hati, pastilah lebih rawan akan permasalahan. Tapi ... tidak ada yang tidak mungkin, saya hanya berusaha sebaik-baiknya, seadil-adilnya, pastilah masih banyak kekurangan dan kekhilafannya."


"Maaf saya tidak bisa mengatakan Medina pasti bahagia, tapi seluruh jiwa raga saya akan mengusahakan kebahagiaan untuk seluruh keluarga saya. Saya harap Ibu merestui dan mendoakan kami," pungkasku.


"Ya sudahlah, ibu hanya minta kamu adil pada putri ibu," pinta ibu. Bagaimanapun aku menjelaskan sepertinya tidak bisa menghabiskan kekhawatiran beliau.


"Insha Alloh, Bu, saya pun berjanji pada diri saya sendiri."


Tiba-tiba Medina muncul menghampiri kami, sepertinya dia memang mencuri dengar sedari tadi. Dia duduk dan memeluk ibunya.


"Percayalah Bu, Mas Musa bisa menjaga janji-janjinya, bila Mas Musa ingkar Medina sendiri yang akan meninggalkannya." Ucapan Medina terasa bagai jaminan sekaligus peringatan.


"Putriku yang bodoh," tutur Ibu sambil tersenyum.


Keharuan di depanku berlangsung begitu saja. Sebelumnya sudah kubayangkan tanggung jawabku yang besar dan tidak akan mudah. Semoga aku diberikan pundak yang kokoh untuk memikul takdir-Mu Ya Alloh.


Tiba-tiba terdengar suara sepeda motor memasuki halaman. Bisa kutebak siapa yang datang.


"Assalamualaikum."


Medina pun berdiri dan membukakan pintu.


"Waalaikumsalam."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2