Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Sedalam itu kah?


__ADS_3

POV Medina


"Mariam ... ?"


"Mizan ... ?"


Seseorang yang menjadi sosok yang menghantui rumah tanggaku, ada di hadapanku. Benarkah? Mama Okta adalah Mariam yang kucari, Mariam yang selalu menangis di dalam mimpi suamiku, wanita yang menjadi cinta pertama suamiku.


Mereka saling diam, nampaknya mereka sama terkejutnya denganku, tiba-tiba bernostalgia. Aku memberanikan diri memecah momen di antara mereka.


"Mas Musa ...."


Tiba-tiba Mba Mariam masuk ke dalam rumah tidak jelas apa yang diucapkannya, kemudian Mba Mariam menutup pintu tidak peduli kami yang masih berdiri mematung di depannya.


"Mba Mariam ... ? Tolong buka pintunya!" Aku mengiba untuk sebuah penjelasan.


Berkali-kali aku memanggil, tapi Mba Mariam tidak juga bergeming, hingga Mas Musa meraih tanganku, menyuruhku untuk berhenti.


"Sudah Dek, ayo kita pulang!" ajak Mas Musa padaku.


Kenapa aku yang sedih? Melihat Mba Mariam memperlakukan Mas Musa seacuh itu. Aku menyaksikan sendiri pertemuan suamiku dengan sosok dalam mimpinya. Sikap Mba Mariam menunjukan bahwa, bukan hanya Mas Musa yang belum sepenuhnya ikhlas melepaskan masa lalu, Mba Mariam pun sama, artinya mereka masih belum saling melepas. Aku melihat ada yang hancur di dalam hati Mas Musa, ternyata perasaan Mas Musa untuk Mba Mariam jauh lebih dalam dari dugaanku.


Aku dan Mas Musa saling diam, pupus sudah rencana kami untuk pergi jalan-jalan. Hujan sore ini pun jadi bukti, kita tidak diijinkan kemana-mana, atau hujan ini pertanda bahwa mereka harus saling bertemu dan bicara.


Tubuhku bergetar, berbagai macam prasangka dan dugaan melintas bebas di kepalaku. Terlebih melihat efek pertemuan tadi pada perubahan sikap Mas Musa, dia diam dan banyak melamun, raut wajahnya membuatku tidak berani bertanya sepatah kata pun padanya.


Mba Mariam sudah menikah dan bahagia, artinya tidak mungkin Mas Musa meninggalkanku untuk cinta pertamanya, tapi entah dengan hatinya, aku merasa sudah dicampakan olehnya.


Aku meilhat tangan Mas Musa bergetar saat memegang cangkir teh di depannya, air mataku luruh melihat Mas Musa begitu menderita. Aku harus bagaimana?


"Mas ...," Kuberanikan diri mendekatinya, tidak tahan rasanya melihat Mas Musa, seseorang yang selalu kutinggikan derajatnya harus terjatuh seperti ini.


"Dek, maaf aku ... !"


"Sesakit itu kah Mas rasanya bertemu dengan Mba Mariam?"


"Ehmm, enggak Dek, mas hanya terkejut, maaf ya ... !"

__ADS_1


'Bohoong ... !' batinku.


"Mari temui Mba Mariam, selesaikan apa yang belum selesai diantara kalian, Mas!"


"Enggak Dek, hemm sudah tidak ada lagi yang perlu diselesaikan semuanya sudah selesai."


"Bagaimana kalau Mba Mariam ternyata merasakan hal yang sama?"


"Sudahlah Dek, Mariam sudah bahagia,"


"Mas takut akan mengusik kehidupan rumah tangganya, bukan?"


Mas Musa hanya diam, iya, dia memikirkan ke arah sana, tapi Mas Musa lupa bahwa rumah tangga kamilah yang selalu dihantui sosok Mariam.


"Mas bilang Mba Mariam ikut suaminya di kota Batam, kenapa dia ada di sini?"


"Sepertinya teman-temanku berbohong Dek, mereka menutupi dimana Mariam, atau memang Mariamlah yang tidak ingin ditemukan."


"Nyatanya kita malah bertemu Mba Mariam disini Mas?"


Mas Musa menarik nafas panjang dan berat.


"Jangan berpikir yang macam-macam Dek, semua kebetulan. Mariam sudah bahagia artinya semuanya sudah benar-benar selesai, sudah Dek, mas akan fokus pada kehidupan kita, sama kamu Dek!"


Ada kebohongan yang Mas Musa sedang coba lakukan, bukan tentang membohongiku tetapi membohongi dirinya sendiri.


"Mas, apa Mas akan mencintaiku seperti Mas mencintai Mba Mariam?"


Mas Musa menatap ke arahku, air mata tidak mampu lagi kutahan. Sakit sekali menerima kenyataan bahwa Mas Musa masih sangat mencintai Mba Mariam.


Mas Musa memelukku, mencoba meredakan tangis seorang istri yang mungkin belum dia cintai. Aku yang terlanjur jatuh hati padanya saat pertama kali melihat parasnya, harus melewati sakit yang luar biasa.


Di sana, di ujung netra lelaki yang kucintai, menetes bulir-bulir air mata yang menambah sesak hatiku. Mba Mariam, kenapa susah sekali mencintai orang yang mencintaimu, rasanya aku ikut terluka merasakan sakit yang Mas Musa rasakan.


Mas Musa mengusap air matanya, dan juga air mataku.


"Mas akan mencintaimu Dek, lebih dalam dari Mariam, mas janji!" kata Mas Musa dengan tersenyum, senyum yang selalu membuatku tertawan

__ADS_1


"Bissmillahirohmanirohim ... !" ucap Mas Musa.


Dengan lembut Mas Musa mencium keningku, berlanjut dengan kedua pipi dan bermuara di bibirku yang masih bergetar. Dari irama yang lembut berganti keirama yang cepat seiring meningkatnya detak jantung Mas Musa, aku mulai membalasnya walau hatiku tahu, Mas Musa hanya melampiaskan perasaannya yang kandas dengan Mba Mariam padaku.


Rasanya berbeda, suamiku tidak seperti Mas Musa yang biasanya. Gerakannya, rengkuhannya, hembusan nafasnya, detak jantungnya dan sentuhannya menggambarkan dia sangat menginginkanku saat ini. Apa Mas Musa membayangkan aku sebagai Mba Mariam?


Mas Musa melakukannya sambil menangis, walau Mas Musa berusaha menyembunyikannya dariku tapi isak tangisnya seolah lepas keluar tanpa bisa Mas Musa kendalikan, semua bercampur dengan deru nafas saat Mas Musa mencumbuku. Sakit sekali Mas, tidak tergambar dengan kata-kata!


Kami melakukannya di ruang tengah, tidak seperti biasanya, Mas Musa selalu mengajakku ke kamar. Namun sepertinya kali ini Mas Musa terlupa karena telah dikuasai oleh sesuatu yang meledak dalam dirinya. Aku membalas semuanya, walaupun aku sadar ledakan itu bukanlah untukku.


'Aku ingin dirimu Mas, walaupun harus sesakit ini, aku mau!' ratapku dalam hati.


"Terimakasih Dek, mas sayang sama kamu!" ucap Mas Musa setelah ritual kami selesai dan hasratnya tersalurkan, kembali dia menciumi keningku.


Hatiku hancur berkeping-keping, sakit, sampai aku tak mampu menjawab. Hubungan macam apa ini?


Aku segera bangkit ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tidak! Untuk menangis. Kunyalakan shower untuk membasahi tubuhku, aku duduk dibawahnya sambil merenungi nasibku, kutumpahkan air mataku sepuas-puasnya. Ternyata tidak mudah untuk terlihat baik-baik saja.


Tok ... tok ... tok ... !


"Dek, kamu kenapa?"


"Enggak papa Mas, sebentar lagi Medina selesai!" Aku bergegas menyelesaikan mandiku.


Keesokan paginya aku kembali mendatangi Mba Mariam, berkali-kali Mas Musa menggenggam tanganku, Apa dia berusaha mencari kekuatan dari seorang istri yang belum dia cintai?


"Mas merasa, mas sudah dzolim padamu, Dek."


"Enggak Mas, Medina mencoba memahami apa yang Mas rasakan, dan bukankah pernikahan kita didasari perasaan saling ikhlas dan ridho, Medina berjanji akan mendampingi Mas melewati masalah apapun, asal Mas nggak berniat meninggalkan Medina apapun akan Medina jalani."


"Subhannalloh, sungguh mulia hatimu Dek, mas sungguh malu dengan diri mas sendiri. Entah bagaimana mas harus meminta maaf padamu."


"Cintai aku Mas, cuma itu yang Medina harapakan!" Mas Musa tidak menjawab dia hanya mencium keningku.


Aku memberanikan diri mengetuk pintu rumah Mba Mariam, aku siap menghadapi apapun yang akan terjadi. Aku Medina Khafiza istri Musa Hamizan tidak akan mengeluh untuk jalan yang sudah aku pilih.


Mba Mariam keluar bersama suaminya, dan aku sangat terkejut dengan sikap Mba Mariam yang sangat wajar, tidak seperti kemarin. Raut bahagia terpancar dari wajahnya, bahkan suaminya ikut menyambut kami dengan hangat.

__ADS_1


Mba Mariam, andai kau tahu penderitaan yang harus kualami.


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2