Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Bicara Pada Mariam


__ADS_3

Pagi di hari minggu, Medina dan Musa berpura-pura pergi untuk menghadiri pernikahan teman Musa. Tentu saja mereka tidak bisa jujur sementara waktu pada Bu Aini.


Medina dan Musa saling menguatkan diri. Menghadapi Mariam dan segala argumennya pastilah tidak mudah. Hatinya yang lemah tentu terbalut sikapnya yang arogan.


Sampai di lorong rumah sakit, Medina menggenggam tangan Musa dengan erat. Tangan keduanya sama-sama dingin.


"Tenang, Mas!" ucap Medina sambil tersenyum.


"Iya, Dek. Bissmillahirrohmanirohim."


"Dek ...."


"Iya, Mas."


"Jangan ragu padaku, karena kamu sumber kekuatanku."


"Medina dan calon anak kita, pasti percaya dan selalu yakin sama Mas Musa."


Mereka kembali berjalan dan hendak memasuki ruangan tempat Mariam dirawat.


"Assalamualaikum," ucap Medina sambil membuka pintu, Medina melangkahkan kakinya masuk disusul Musa di belakangnya.


"Waalaikumsal--am," jawab Teh Desi.


"Medina? Musa?" ucap Mariam heran.


Dia baru saja selesai sarapan di temani oleh Teh Desi. Keadaannya sudah jauh lebih baik dari saat kemarin Medina datang. Wajahnya masih tampak pucat. Teh Desi dengan cepat membantu Mariam memakai kembali jilbabnya.


Teh Desi menunduk tidak berani menatap Mariam yang sangat terkejut. Mariam terdiam menahan degup jantungnya, tangannya berusaha membenahi selimut yang menutupi area perutnya.


"Mba Mariam sudah lebih baik?" tanya Medina.


"Hah? Ehm ... i-iya, aku baik-baik aja, hanya kecapean," jawab Mariam tergagap.


"Aku baik-baik aja, nggak perlu repot dijenguk-jenguk," ucap Mariam lagi.


Musa dan Medina saling pandang.


"Mba Mariam ...."


"Iyah?"


"Maaf Medina lancang, Mba nggak perlu berpura-pura lagi, kami ... sudah tahu semua." Medina memberanikan diri membuka percakapan.


"Tahu, apa?" tanya Mariam berusaha menutupi.


"Tahu apa yang sedang Mba Mariam coba sembunyikan," jawab Medina.


Mariam mencoba mencari jawaban dengan menatap pada Teh Desi. Sikap Teh Desi yang gugup membuat Mariam mengerti bahwa Medina memang telah mengetahui kehamilannya.


"Benarkah kamu sedang mengandung anakku, Mar?" tanya Musa tanpa basa-basi.


Mariam ternganga tidak percaya, rencana yang sudah dia susun telah terbongkar. Sejenak hatinya bimbang.


'Bagaimana mereka bisa tahu? Apa yang harus aku lakukan sekarang?' batin Mariam.

__ADS_1


"Tolong jawab, Mar!" pinta Musa lagi.


"Iya," jawab Mariam setelah mengambil nafas panjang dan berat.


Jawaban jujur Mariam membuat Musa syok, walaupun Medina sudah banyak memberitahunya. Tapi mendengarnya langsung dari mulut Mariam memberikan sakit yang berbeda di hatinya. Rasa marah dan bersalah beradu menjadi satu.


"Kenapa? Kenapa kamu menyembunyikannya?" tanya Musa dengan bergetar menahan gemuruh dalam dadanya.


"Jawabannya jelas, aku tidak ingin kehadiran anak ini mempengaruhi keputusanmu saat itu. Lagi pula apa yang kalian inginkan lagi dariku? Medina pun sedang mengandung, dia akan segera memberimu anak, memberi ibumu seorang cucu, kalian berdua sudah sempurna, jadi biarkan aku tenang dengan kehidupanku," ucap Mariam dengan tegas namun begitu menusuk.


Medina begitu terkejut dengan jawaban Mariam, secara tidak langsung menyiratkan kerendahdirian Mariam pada dirinya. Sementara selama ini Medina juga merasakan hal yang sama, merasa hanya menjadi pelengkap dalam kisah Musa dan Mariam. Namun ternyata Mariam merasakan hal yang sama, dirinya hanya pelengkap dari kisah Medina dan Musa. Ketika Medina sempurna dengan kehamilannya, Mariam pun tidak berguna lagi.


"Mba!"


"Berhenti menggangguku, berhenti mengejarku, kamu sudah sempurna Din, apalagi yang kamu inginkan dariku?" Medina beringsut tidak berani lagi menjawab kata-kata Mariam, kalimat pedasnya hanya pelindung dari hatinya yang lemah dan terluka.


"Tapi anak itu tetap anakku, Mar! Dia darah dagingku," ucap Musa lirih namun tegas, dia harus menahan emosinya menghadapi Mariam yang sedang labil.


"Ada saatnya nanti aku akan memberitahumu, Zan!" ucap Mariam, berharap Musa dan Medina berhenti mengintimidasinya.


"Nanti kapan, Mba? Bukankah Mba Mariam menyuruhku pergi dari kota ini agar kita tidak tahu keberadaan anak itu?" tanya Medina mengungkap maksud lain dari permintaan Mariam waktu itu.


Mariam terdiam, percuma rasanya jika terus mengelak. Dia mengambil nafas panjang.


"Lalu kalian mau apa?" tanya Mariam.


"Anak ini memang anakmu, tapi ikatan diantara kita sudah selesai. Aku tinggal menunggu anak ini lahir sebagai batas masa iddahku, bukan?" ucap Mariam pada Mizan yang terlihat sangat kacau.


"Biarkan aku tetap bertanggung jawab pada anak itu, Mar! Aku pun berhak memberikannya kasih sayang. Kamu tidak berniat memutus hubungan anak dan ayah, kan?" ucap Mizan yang berusaha memperjuangkan haknya.


"Hhhh ... aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin bahagia," ucap Mariam dengan sedih.


"Tanpa bayang-bayang kalian berdua!" lanjut Mariam.


"Jadi ... aku mohon pada kalian berdua, berbahagialah tanpa harus peduli lagi padaku. Dan jangan berharap kalian bisa mengambil anak ini dariku. Oktavia pun hanya akan sementara ikut Bu Aini, setelah aku berhasil dengan bisnisku, akan kubuktikan bahwa aku bisa mengontrol semuanya walau hanya dari rumah."


Musa dan Medina hanya terdiam. Menyadari betapa kerasnya usaha Mariam untuk berdiri sendiri.


"Aku ... tidak bermaksud mengambil anak itu darimu. Aku ... hanya merasa bersalah, karena membuatmu mengalami hal yang sulit seperti ini seorang diri. Jangan terlalu berkeras hati Mariam, maaf karena harus menempatkanmu pada keadaan yang buruk seperti ini," ucap Musa dengan penuh penyesalan.


"Secara hukum aku pun masih harus bertanggung jawab padamu selama masa iddah, jangan membuatku semakin berdosa karena melewatkan kewajiban-kewajibanku." Mariam terdiam mendengar penuturan Musa.


"Mba ... Medina juga minta maaf. Semua yang terjadi berawal dari Medina yang terus mengejar Mba Mariam. Medina tahu, Mba Mariam sangat membenci Medina karena hal itu, hal yang tidak Medina sadari telah menyeret Mba Mariam dalam rumah tangga kami. Entah bagaimana Medina harus menebus kesalahan ini," ucap Medina dengan berlinang air mata.


"Katakan, Mba! Medina harus apa?" ucap Medina putus asa.


"Baguslah kalau kamu sadar, tapi ... waktu nggak akan bisa diulang. Kamu hanya harus tahu, aku memang pernah mencintai suamimu, tapi itu dulu."


"Tapi ... bagaimanapun juga kamu telah berjasa menyelesaikan kisah cinta konyol itu, alasan perasaanku dan Mizan berlarut-larut memang karena cara kami berpisah dulu tidak dewasa." Mariam mulai menurunkan nada bicaranya.


"Walaupun pahit, kamu telah membuat kami berdua menyelesaikan kisah itu dengan bijaksana dan baik-baik saja. Sehingga tidak ada lagi rasa yang menggantung karena semua ikhlas untuk saling melepas."


"Aku bukan membencimu, hanya saja ... hemm sudahlah. Terimakasih, dan berbahagialah. Anak ini kuanggap sebagai kenang-kenangan dari kalian."


Kata-kata Mariam benar-benar membuat Medina dan Musa tidak bisa berkutik.

__ADS_1


"Aku tidak berniat menutupi semua ini selamanya, akan ada saatnya nanti kuberitahu pada kalian semua," lanjut Mariam.


"Bukan maksudku memutus hubungan ayah dan anaknya. Hanya saja, aku menjaga berbagai kemungkinan. Bagaimana tanggapan keluarga kita ataupun orang lain seandainya mereka tahu, Mizan menceraikan istrinya dalam keadaan hamil. Sementara yang paling menginginkan perceraian itu adalah aku, jadi ... aku bertanggung jawab menjaga nama baikmu, Zan. Walaupun harus menyembunyikan semua ini dari semua orang, termasuk kamu sebagai ayahnya."


"Ya Alloh, Mar! Harusnya penderitaan seperti ini tidak kamu pikul seorang diri. Apakah kamu juga menutupinya dari keluargamu sendiri?" Mariam pun mengangguk.


"Kalau mereka tahu apa mereka bisa diam saja dan membiarkan perceraian itu tetap bergulir? Terutama ibuku, kematian almarhum suamiku telah membuatnya sangat khawatir dengan nasibku, setidaknya aku harus baik-baik saja dan bercerai darimu dengan keadaan yang menjanjikan."


Musa terdiam tidak percaya dengan pilihan hidup yang dijalani Mariam. Sementara Medina menatap Mariam dengan nanar, hatinya tertampar dengan kerasnya keinginan Mariam untuk lepas dari pernikahan itu.


"Mariam tidak sendiri, masih ada aku yang akan melindunginya!" ucap seorang lelaki yang tiba-tiba muncul dengan nada bariton.


Medina dan Musa harus berbalik badan untuk melihat siapa yang berbicara.


"Mas Faisal?" gumam Musa lirih.


Lelaki bertubuh tidak kalah tegap darinya itu berjalan mendekat.


"Heh! Kita baru bisa bertemu sekarang ya? Setelah apa yang sudah kamu dan keluargamu lakukan pada Mariam!"


Buuugkk!!!


Sebuah tinju dilayangkan oleh lelaki itu tepat di wajah Musa sehingga membuatnya tersungkur.


"Mas Musa!" pekik Medina yang segera membantu Musa bangkit kembali.


"Mas ... jangan!" cegah Mariam.


"Tenang saja, aku hanya ingin memberimu satu pukulan! Tidak lebih," ucap lelaki itu.


Musa terkejut dengan pukulan yang mendarat di wajahnya.


"Dari dulu aku sudah melarangmu mendekati Mariam, hanya telat sebentar saja aku justru mendengar kabar kamu menikahi Mariam dan menjadikannya istri kedua!"


"Lihat sekarang! Dia hamil dan istri pertamamu juga hamil. Rakus sekali kamu, Zan!"


"Saya nggak berniat seperti itu, Mas!" ucap Musa.


"Saya menikahi Mariam dengan tulus, walaupun perjalanan rumah tangga kami harus pupus di tengah jalan tapi demi Alloh, niat saya dan keluarga saya dari awal adalah baik," ucap Musa.


"Halah! Jangan banyak alasan. Sekarang jangan ganggu Mariam lagi."


"Udah, Mas! Jangan diteruskan!" ucap Mariam.


"Kamu, Mar! Lihat akibatnya sekarang, semua terjadi karena kamu nggak dengerin omongan mas! Dari dulu mas sudah ngelarang kamu berhubungan sama dia."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2