Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Beban Moral Mariam


__ADS_3

"Pengantin baru keramasnya di sini!" Kemunculan Mas Harun membuatku terkejut, aku lupa kalau masih ada Mas Harun yang suka iseng disini.


"Kenapa? Iri?!" ucapku meladeninya, aku tersenyum mengejek dan berjalan melewatinya dengan terus mengelap rambutku yang basah, aku sengaja ingin membuat dia merasa kalah.


Senyumku segera memudar ketika kulihat kehadiran Mariam dan Oktavia yang sedang ngobrol dengan Bapak dan Ibu. Mariam pasti mendengar ucapanku dan Mas Harun tadi, tenyata Mas Harun menjebakku.


Rasa bersalah tiba-tiba menyusup ke dalam hatiku, aku salah tingkah, canggung, dan malu karena bukan hanya keberadaan Mariam saja, tetapi orang tuaku.


"Mariam?" Dia menatapku dan tersenyum.


Apa tidak ada sedikitpun rasa cemburu di dalam hatinya? Aku begitu menginginkan dicemburui oleh Mariam. Ingatanku kembali pada malam tadi, saat aku berusaha pelan-pelan menyentuh hatinya. Aku memutar otak berusaha mencairkan sikapnya, mencari celah agar dia bisa percaya padaku sebagai imamnya.


Dia menolak sentuhan-sentuhan kecilku, dan saat tengah malam dia terlelap aku merasakan dia memelukku, aku begitu bahagia, namun yang terucap dari bibirnya adalah nama almarhum suaminya, Biantara.


Dia memelukku dengan erat, penuh dengan hasrat kerinduan, aku menyadari, perjuanganku menggeser Biantara tidak akan mudah.


Akhirnya, aku merasakan betapa pedihnya menjadi Medina, ketika hampir setiap malam aku terlelap dan menyebut nama Mariam dalam tidurku. Kini, aku tidur dengan Mariam, dan dia menyebut nama Biantara dalam tidurnya yang lelap di malam pengantin kita.


Itulah alasan aku buru-buru datang kemari dan dengan nyata aku melihat bidadariku yang terluka. Aku ingin memeluknya, menyadari betapa parah dia telah terluka.


Aku akan adil seadil-adilnya, aku akan berusaha mewujudkan semua tidak hanya dalam bentuk kata-kata. Dan aku akan membuat Mariam kembali mencintaiku.


"Aku masuk dulu," pamitku sebelum masuk ke kamar.


Medina menyambutku dengan senyum, aku yakin dia juga mendengar celoteh Mas Harun.


"Cuekin aja, Dek, Mas Harun emang suka begitu."


"Iya Mas, tapi Medina jadi malu."


"Enggak papa sayang, justru kita menunjukan kalau kita sekarang bahagia," ucapku menenangkannya.


"Oh iya, ada Mariam dan Oktavia di luar," lanjutku memberitahunya, tidak disangka Medina terkejut.


"Mba Mariam? Lalu?" tanyanya khawatir, tingkahnya justru membuatku gemas.


"Lalu apa sayang?"


"Mba Mariam enggak marah? ehm ...."


"Cemburu?"


"I-iya,"

__ADS_1


"Enggak Dek, Mariam enggak cemburu, sudah ... Bapak sama Ibu udah mau berangkat, ayo keluar!"


Kugandeng tangan Medina yang terlihat ragu untuk melangkah.


"Haduh, yang penganten baru yang mana sih?!" sindir Mas Harun lagi, sepertinya dia masih tidak terima dengan kekalahnnya.


"Hust ... saru kamu!" tegur Bapak pada Mas Harun.


Jujur aku menikmati tingkah Mas Harun, aku hanya ingin tahu bagaimana respon Mariam, namun sepertinya dia baik-baik saja. Mariam, kapan cinta lama kita akan bangkit kembali di matamu?


Beberapa kali kulihat Mas Harun mencuri pandang pada Mariam, dia menatap dengan tatapan yang membuatku risih. Mas Harun juga sok akrab dengan Oktavia, tentu saja dia lebih berpengalaman karena dia sudah menjadi ayah. Aku ingin Mariam cemburu tapi kenyataanya akulah yang cemburu padanya.


"Paman Harun itu siapanya mamah?" tanya Oktavia lugu.


"Paman ini bukan siapa-siapanya Mama Mariam, tapi paman ini super heronya Okta!" jawab Mas Harun dengan suara yang dibuat-buat.


"Waaaw ... jadi nanti bisa bawa Okta terbang nggak?" tanya Okta dengan terkagum-kagum.


"Bisa ... ayo!" Mas Harun mempersilahkan Okta untuk naik ke punggungnya, mereka berdua tertawa. Seketika ruangan ini hangat dengan celoteh mereka.


"Nanti Okta main juga ya sama Kaka Haidar," ucap Mas Harun.


"Siapa Kaka Haidal?"


"Dia Kakaknya Okta, anak paman yang ada di jaauh sana ...!"


Kuulurkan tangan untuk menghentikan aksinya meremas perutnya sendiri. Aku tahu dia sedih karena belum juga diberikan nikmat kehamilan.


"Maaf ...," ucapnya lirih.


"Nggak papa." Kuberikan senyum padanya agar dia tenang.


Padahal sebenarnya aku pun tidak dalam keadaan yang tenang, aku harus menjaga perasaan Medina andai saja tidak, pasti aku sudah duduk di samping Mariam dan membuat Mas Harun berhenti mencuri pandang ke arahnya. Semua ini membuat darahku mendidih.


"Bapak, Ibu, mobil udah siap," lapor Pak Iwan.


Saatnya keluargaku untuk pulang, mereka masih harus mampir ke tempat Medina untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada keluarga Medina. Aku terlalu merepotkan.


"Hati-hati, Mariam bisa saja berpaling padaku," ucap Mas Harun sebelum pergi, walau dia bicara dengan nada bercanda tapi aku tahu dia sedang mengancamku. Mobil pun melaju pergi, ibu berkali-kali mengucap kalau aku harus adil.


"Kalau gitu aku permisi dulu," ucap Mariam setelah mobil sudah tidak terlihat lagi, dia berjalan sambil menuntun Okta ke arah motornya.


Aku ingin sekali mencegahnya, tapi melihat wajah Medina aku tidak tega.

__ADS_1


"Antarkan Mba Mariam Mas!" ucap Medina berusaha meyakinkanku.


"Kalian masih pasangan baru, Medina ngerti kok, Mas."


"Nggak usah, aku bisa sendiri!" Mariam ikut menimpali.


Medina menatapku, dia pasti sedikit sungkan untuk membantah bila Mariam yang mengatakan tidak.


"Tapi Mba ...,"


"Kenapa? Kamu ingin aku terlihat berboncengan dengan suamimu?!" ucap Mariam tajam.


"Aku, janda yang suaminya belum lama meninggal, tapi sudah menikah lagi dan menjadi istri kedua!"


"Kamu tahu Din, bagaimana rasanya menyandang predikat itu di masyarakat?"


Medina hanya terdiam mendengar ucapan Mariam. Satu hal yang menjadi keluputanku adalah beban moral yang harus Mariam tanggung karena pernikahan ini.


"Assalamualaikum!" Mariam langsung mengegas sepeda motornya pergi tanpa peduli rengekan Oktavia yang masih ingin main disini.


"Kejar Mba Mariam, Mas!" pinta Medina.


Tanpa Medina suruh pun aku hendak mengejar Mariam.


"Mas pergi dulu, nanti Mas datang lagi, jangan lupa makan, Dek!" pamitku pada Medina.


Kupacu sepeda motor milik Medina untuk mengejar Mariam. Aku masih belum membagi jumlah hariku, kapan aku harus bersama Medina dan kapan aku harus bersama Mariam dan Oktavia.


"Assalamualaikum!" ucapku dengan nafas terburu, padahal aku tidak berlari.


"Waalaikumsalam ...."


"Mariam, kenapa kamu begitu?"


"Nggak papa Zan, aku hanya belum terbiasa."


Mariam duduk menghadap Okta yang sedang bermain dengan boneka-bonekanya. Wajahnya terlihat sedih, bukan karena kecemburuan terhadap Medina, tapi karena predikat baru yang dia sandang.


Aku berjalan pelan mendekatinya, kemudian duduk tepat di sisinya. Mariam menggeser duduknya ketika aku berusaha untuk duduk dekat dengannya.


"Ada Oktavia, dia belum ngerti, harus pelan-pelan memberitahu dia keadaan kita sekarang."


Kubuang nafas dengan berat, Mariam mencoba menghindariku, namun alasan yang dia gunakan juga ada benarnya.

__ADS_1


"Setidaknya panggil aku suami atau mas."


.....


__ADS_2