
"Assalamualaikum." Kuucapkan salam ketika sampai di rumah.
"Waalaikumsalam, Mba Medina dari mana sih? Ibu khawatir," ucap Melisa menyambutku, sepertinya dia telah lama menunggu.
"Mba nyari oleh-oleh, katanya kalian mau pulang besok, sekalian booking travel jadi besok kamu sama Ibu naik travel aja," jawabku sambil menurunkan dua kardus dan satu plastik besar oleh-oleh yang kubeli.
"Mba ini apa? Banyak banget kaya mau dijual lagi," komentar Melisa melihat bawaanku, dia sigap membantuku menurunkannya dari sepeda motor.
"Iya biar nanti di bagi-bagi ke tetangga, tolong bantu masukin ke dalam Mel, oh iya mana Ibu?"
"Di dalam, Ibu nggak mau makan kepikiran Mba, katanya takut Mba sama suami Mba berantem," kata Melisa memberi tahu, aku segera masuk ke dalam untuk mencari Ibu.
"Assalamualaikum, Bu." Kuhampiri Ibu yang sedang mengaji di dalam kamar.
"Waalaikumsalam, kamu dari mana Din?" jawab Ibu, tampak kelegaan di raut wajahnya saat melihatku pulang.
"Beli buah tangan buat dibawa Ibu besok, sekalian booking travel biar Ibu nyaman di perjalanan naik travel aja," jawabku sambil meraih tangan Ibu dan menciumnya.
"Kamu marah sama Ibu, Din? Apa kamu berantem sama suami kamu gara-gara ucapan Ibu?" tanya Ibu khawatir, dia tampak menyesali ucapannya tadi pagi.
"Enggak Bu, justru Medina yang mau minta maaf sama Ibu, Ibu hanya pengen Medina bahagia, apapun yang Ibu lakukan. Jadi, maafin Medina ya Bu, udah menelan mentah-mentah ucapan Ibu tanpa paham niat baik Ibu yang sebenarnya. Doakan Medina biar tetap kuat dan segera mendapat momongan." Aku juga menyesal karena telah membuat Ibu sedih.
"Alhamdulillah kalau kamu ngerti, jangan sampai madumu duluan yang hamil," lanjut Ibu.
"Insha Alloh, ya udah Ibu makan dulu, Medina mau sholat Dzuhur dulu ya Bu," pamitku.
"Sholat aja dulu, Ibu makan nunggu kamu aja biar bareng."
"Ya udah, Medina sholat dulu."
Jangan sampai keduluan Mba Mariam hamilnya. Awalnya aku nggak mengkhawatirkan hal itu, karena aku tahu Mas Musa tidak akan menyentuh Mba Mariam sebelum Mba Mariam mengizinkannya, dan Mba Mariam hanya akan mengizinkannya setelah dia bisa membuka hatinya kembali.
Sekarang, Mba Mariam sudah mulai bangkit. Bisa saja izin itu akan diberikan dalam waktu dekat ini. Mba Mariam bilang dia sedang berusaha menerima kenyataan, bisa saja maksudnya adalah menerima kenyataan bahwa dia adalah istri Mas Musa, menerima kewajibannya sebagai seorang istri yang harus melayani suami sebagaimana adanya.
Hatiku was-was, bukan berarti aku tidak bahagia dengan kebangkitan Mba Mariam. Aku malu pada diriku sendiri ketika menganggapnya sebagai ancaman dalam hidupku. Bukankah aku yang menjadikan Mba Mariam halal untuk Mas Musa? Kenapa kini hatiku justru sedih? Apakah keikhlasanku palsu?
"Ya Alloh, titipkanlah amanahmu padaku, izinkan aku merasakan kenikmatan menjadi wanita sempurna dengan kehamilan dan menjadi seorang ibu, kuatkahlah pondasi rumah tanggaku, jangan biarkan aku merana setelah menerima semua takdirmu, ampuni aku Ya Alloh atas segala dosa yang menghalangi nikmat kehamilanku. Aamiin."
__ADS_1
🍀🍀🍀
Malam ini Mas Musa kembali pulang ke rumah, aku menyambutnya seperti biasa, Mas Musa pun bersikap seperti biasa. Tapi, entahlah perasaan Mas Musa yang sebenarnya.
"Dek, barang-barang siapa itu?" tanya Mas Musa selepas mandi.
"Oleh-oleh buat Ibu sama Melisa, Medina beliin banyak biar bisa dibagiin ke tetangga. Maaf, Medina nggak izin dulu sama Mas Musa, pesan Medina yang tadi juga Mas Musa balas sekedarnya, takutnya Mas lagi sibuk."
"Ibu mau pulang?" tanya Mas Musa lagi sambil mengibas-ngibaskan handuk untuk mengeringkan rambutnya.
"Iya Mas, Insha Alloh besok Medina juga udah bookingin travel buat mereka," ucapku menjelaskan.
"Ohh, kenapa cepat sekali?"
"Melisa banyak tugas kuliah katanya, sama Ibu juga udah kengen sama Bapak," jawabku.
"Eehmm ... Mas marah sama Ibu?" tanyaku sudah tidak sabar lagi, Mas Musa tidak langsung menjawabnya, dia berjalan memutar ranjang untuk menghampiriku dan duduk di sampingku.
"Enggak, wajar seorang Ibu mengkhawatirkan kebahagiaan anaknya, hanya saja Mas sedikit kecewa. Maaf ya Dek!" jawab Mas Musa jujur, matanya masih tidak menatapku.
"Maafin Ibu ya Mas," pintaku memelas berharap Mas Musa mau menatapku.
"Dulu sebelum melamar Mariam, mas memang mengatakan akan memilihmu kalau saja Mariam meminta untuk menentukan pilihan dan tidak bersedia dimadu. Tapi, sekarang kalian berdua sudah sah menjadi istri mas, bagaimanapun mas harus adil," ucap Mas Musa dengan pelan dan lemah lembut, pandangannya tepat ke mataku, mungkin Mas Musa berharap aku bisa benar-benar mengerti apa yang dia maksudkan.
"Seandainya Mariam yang mengatakan akan menyingkirkanmu demi menjadi isteri satu-satunya, mas pun sama akan menasehatinya sehingga dia tahu yang dia lakukan itu salah," lanjut Mas Musa dengan bersungguh-sungguh.
"Sekarang mas harus menasehati kamu Dek, bahwa niat Ibumu yang hendak menyingkirkan Mariam itu tidak baik, mas hanya bisa memaklumi tapi tidak bisa membenarkan. Mas harap kamu tidak terpengaruh dan tetap menjadi Medina yang seperti biasanya, yang mas suka dan mas cintai tanpa harus menyingkirkan dan menyakiti yang lain." Aku seperti tersentil oleh kata-kata Mas Musa.
"Bukankah mas sudah berjanji akan adil terhadap kalian? Baik lahir maupun batin. Apa kamu meragukan janjiku, Dek?" tanya Mas Musa sambil menatap dalam, pada mataku, lebih tepatnya Mas Musa mempertanyakan keyakinanku.
"Maaf Mas, Medina sama sekali nggak ragu. Hanya saja boleh Medina bertanya sesuatu?" tanyaku memberanikan diri.
"Apa itu?"
"Apa mungkin Mas bisa mencintai Medina sedalam cinta Mas Musa kepada Mba Mariam? Maksud Medina, Mba Mariam mempunyai nilai lebih karena dia adalah cinta pertama Mas Musa, cinta kalian telah menyatu sejak lama. Apa kelebihan Medina Mas? Apa yang bisa membuat Mas Musa mencintai Medina sebesar itu?" tanyaku.
"Keikhlasanmu Dek, pengorbananmu." Mas Musa memengang kedua pundakku dan semakin dalam menatap ke mataku, seolah tidak ingin aku berpaling.
__ADS_1
"Mas kagum dengan hatimu yang begitu tulus mencintai tidak hanya dengan kelebihanku saja, tapi juga kekuranganku, kamu menghargai cinta yang tidak bisa mas lupakan yang bahkan mas anggap hal itu sebagai aib, tapi kamu menjadikan cinta itu halal dan nyata dengan cara yang mengagumkan. Caramu mencintaiku Dek, tanpa kamu minta mas akan membalasnya dengan cinta yang berkali-kali lipat." Jawaban Mas Musa mengalir lewat indra pendengaranku dan membuat hatiku berbunga-bunga.
Airmata kebahagiaan menghiasi wajahku, aku terharu dengan penjelasan Mas Musa. keraguanku menghilang, dan aku percaya. Aku tidak bisa menahan untuk tidak memeluknya, kutenggelamkan kepalaku dalam dada bidangnya. Mas Musa pun membalas pelukanku dengan penuh kasih sayang. Aroma wangi sabun dari tubuhnya semakin menenangkanku. Aku rela berbagi asalkan tidak kehilangan kenyamanan seperti ini.
"Terimakasih Mas, kamu membuat Medina merasa luar biasa," ucapku sesenggukan.
"Sudah jangan menangis nanti Ibu melihat bisa salah paham," ucap Mas Musa.
"Biarin Mas, Medina bahagia, sangat bahagia. Maafkan Medina Mas, sudah memikirkan hal yang bukan-bukan. Medina merasa Mas hanya mencintai Mba Mariam."
"Apa sekarang sudah paham? Jangan insecure lagi, kamu istriku yang luar biasa. Bagaimana bisa mas nggak cinta."
Dimadu. Poligami. Mungkin terkesan menakutkan. Tapi tidak dengan yang kujalani dengan Mas Musa dan Mba Mariam. Aku beruntung, bila akhirnya Mas Musa bisa mencintaiku. Mas Musa menikahi Mba Mariam bukan semata-mata karena nafsu, semua terlihat dari bagaimana dia bersabar menghadapi Mba Mariam yang masih menutup hati.
Mungkin aku cemburu dengan manisnya cinta mereka, kesanggupan Mas Musa untuk menunggu adalah bentuk cinta yang sangat manis. Terlebih Mba Mariam adalah janda yang ditinggal meninggal suaminya, Mas Musa memperoleh pahala karena menikahinya dan aku berpahala karena ikhlas berbagi hati dan cinta.
Tapi bukankah kisah cintaku dengan Mas Musa juga manis? Bukankah Rosullulloh SAW sangat mencintai Aisyah RA meskipun dia tidak berputra? Dan siapa yang meragukan keromantisan Rosul terhadap Aisyah? Aku harap seperti itulah kisahku.
"Terimakasih Mas, telah mencintai Medina," ucapku sambil melepas pelukannya, walaupun sebenarnya aku masih ingin berlama-lama. Tapi suara kruyuk-kruyuk dari perut Mas Musa menyadarkanku, kalau suamiku itu lapar.
"Ayo Mas, kita makan dulu, sekalian menghabiskan waktu sama Ibu. Besok kan mereka pulang," ajakku.
"Ayo, tapi hapus dulu airmatamu Dek, tidak enak dilihat Ibu." Tangan Mas Musa menyapu bersih pipiku, aku semakin tersipu, aku yakin pipiku merah saat ini.
"Hari ini yang masak Ibu, katanya pengen masakin yang sepesial untuk mantunya," ucapku mengalihkan grogiku.
Dengan bergandengan tangan kami keluar dari kamar. Sementara Ibu dan Melisa tampak sedang menonton televisi.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.