Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Benarkah Medina Baik-baik Saja?


__ADS_3

Setelah mengantarkan Mariam dan Oktavia ke rumah ibunya, aku bergegas menuju ke rumahku. Meskipun sempat dilanda perasaan tidak enak hati pada keluarga mertuaku karena ketidak sopananku, tapi Mariam terus meyakinkanku bahwa semua baik-baik saja.


Hari hampir subuh ketika mobil memasuki halaman rumah, jantungku berdetak tidak karuan karena menebak-nebak apa yang telah terjadi. Apa yang sudah Medina katakan pada ibuku?


Kuhempaskan tubuhku pada kursi yang berjejer di teras, sungkan rasanya membangunkan isi rumah pada jam segini. Kupijit-pijit tengkuk dan keningku, rasa kantuk hebat telah melanda tubuhku.


Tiba-tiba, terdengar suara pintu terbuka, sontak aku menoleh ke arahnya.


"Zan?" Panggil Ibu.


"Ibu, assalamualaikum." Ibu menyambutku dengan hangat, beliau masih mengenakan mukenanya dengan lengkap.


"Kenapa nggak masuk? Untung ibu denger suara mobilmu, tapi di tunggu kok nggak ketok-ketok."


"Baru sampai Bu, tadi mampir sebentar ke rumah Mariam. Ehm ...."


"Udah-udah, masuk dulu dingin di luar."


"Medina dimana Bu?"


"Ada di kamarmu, tadi juga udah bangun paling sedang sholat."


"Bu--"


"Udah masuk dulu."


Aku pun hanya menurut dan mengekor di belakang Ibu masuk ke dalam. Ibu langsung memberiku kode agar langsung masuk ke kamar dan menemui Medina.


Aku berdiri cukup lama, termenung di depan kamarku sejak kecil, banyak kenangan dari masa remajaku yang bersemayam di sana. Kamar tempatku berjuang untuk hafalan, belajar, merenung, bahkan tentang Mariam ada di sana. Mariam memang benar, setiap sudut kota ini telah terukir dengan kenangan kami. Aku berusaha menghindar dengan mencoba hidup di kota lain, sama dengan Mariam yang bahkan membenci kampung ini.


Tok tok tok ....


"Assalamualaikum." Kubuka pintunya tanpa menunggu jawaban Medina.


Medina tampak tersentak dengan kehadiranku, sebelumnya dia tampak sedang bersimpuh mengadukan perasaannya tentangku di tempat aku dulu terbiasa mengadukan perasaanku tentang Mariam. Aku tersenyum melihatnya, seluruh perjuangannya untuk bisa membuka hatiku sungguh menyentuh.


Kini bahkan dengan alasan yang tidak kumengerti dia memaksaku kembali pada tempat yang memang kuhindari. Apakah dia pergi tanpa alasan? Aku masih saja tidak mengerti dirinya.


"Mas Musa? Sudah datang?" sambut Medina seolah dia memang sudah menunggu kedatanganku, dia mendekat, meraih tanganku dan menciumnya tanpa beban.


"Iya," jawabku datar.


"Sendiri?" tanya Medina lagi, aku hanya menggeleng.


"Mariam pulang ke rumahnya."


"Ooh, Medina siapkan minuman dulu yah." Medina berjalan melewatiku begitu saja, aku hanya bisa menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu.


Rasa letih dan kantuk tidak bisa lagi kutahan namun pertanyaan tentang apa dan mengapa masih menganggu pikiranku. Kurebahkan badan di kasur, mataku mengamati suasana kamar, tidak ada yang berubah, Ibu menjaganya tetap seperti apa adanya. Rumahku besar dengan banyak kamar, meskipun aku dan Mas Harun tidak ada yang tinggal di sini, tapi suasana rumah tetap ramai karena beberapa karyawan Ibu ikut tinggal di sini.


Tidak berselang lama Medina datang dengan secangkir teh hangat di tangannya. Aku menerima dan meneguknya sampai tandas tidak bersisa, Medina sampai terheran melihatnya.


"Mas Musa udah makan?" tanya Medina, aku hanya mengangguk.

__ADS_1


"Tidurlah Mas, Mas Musa keliatan capek banget. Nanti subuh Medina bangunkan."


"Berhenti menghindar Dek! Kenapa? Apa alasan semua ini? Ada masalah apa? Mas berpikir keras tapi sama sekali nggak ketemu jawabannya."


"Kita bahas besok aja Mas, istirahatlah dulu!" tolak Medina halus.


"Jawab sekarang Dek, apa karena obrolan dengan Mas Arifin kemarin? Jawab Dek!" desakku.


"Maaf Mas, Medina khilaf. Pikiran Medina sedang kacau jadi nggak bisa berpikir positif."


"Jadi benar karena itu? Kenapa Dek? Mas udah mengatakan kalau mas nggak akan mungkin menikah lagi, memimpikannya pun enggak pernah."


"Iya Mas, maaf. Medina sepenuhnya paham Mas nggak akan menikah lagi, tapi ... saat itu pikiran Medina kacau dan entah mengapa perasaan Medina sangat sedih dan kecewa," jawabnya penuh penyesalan.


"Astaghfirullohaladzim, istighfar kamu Dek, jangan berprasangka buruk."


"Medina paham kalau Medina salah, makanya Medina memilih untuk pergi kemari. Medina beralasan mengunjungi Ibu, Medina hanya ingin pergi sebentar kok, entah mengapa dorongan untuk pergi sangat besar kemarin. Mas musa boleh marah dan menghukum Medina karena tidak patuh dan membuat Mas Musa khawatir seperti ini."


Jawaban Medina terdengar sangat apa adanya, meskipun rasanya masih janggal untuk mempercayainya. Bahkan dia memilih untuk pergi ke orang tuaku untuk tetap menjaga kehormatanku sebagai suaminya. Aku hanya memeluknya penuh kelegaan, kuciumi keningnya untuk menghilangkan ketegangan hari ini. Betapa paniknya aku saat Medina pergi.


"Tidurlah, Mas!"


🍀🍀🍀


Sulit percaya rasanya, Medina Bersikap sangat biasa dan wajar. Bahkan pengejaran dirinya lebih terasa seperti liburan, kepanikan dan ketegangan kemarin seolah sia-sia. Tapi aku bersyukur bila memang Medina baik-baik saja.


Medina kembali ceria, senyumnya mekar seperti biasa, pagi ini kuajak dia berjalan-jalan menikmati pemandangan di kebun jeruk kami yang kebetulan akan panen sebentar lagi. Medina cukup gembira, baginya pemandangan ini langka.


"Dek ...," seruku sambil berusaha mengimbangi langkahnya.


"Kamu beneran baik-baik aja?"


"Baik Mas," jawab Medina sambil terus mengamati sekitar dan sesekali memetik beberapa jeruk yang sudah matang, dan meletakannya di keranjang yang kubawa.


"Emangnya Mas Musa berharap jawaban apa dari Medina?" tanya Medina.


"Mas penasaran apa yang membuat kamu pergi dari rumah, Dek? Enggak mungkin masalah sesepele itu membuat kamu pergi." Aku berusaha mendesaknya, jika memang dia berpura-pura, dia harus berhenti.


"Bagi Medina itu bukan sepele Mas, Medina benar-benar takut Mas akan menikah lagi," jawab Medina, dja menghentikan langkahnya dan menatap kearahku yang sedari tadi hanya berani mengimbangi di belakang langkahnya.


"Tapi itu hanya salah paham, Dek," ucapku tegas.


"Tapi ketakutan Medina nyata Mas, menerima Mba Mariam yang setatusnya adalah cinta pertama Mas Musa rasanya sudah seperti menerima 100 wanita yang tidak ada hubungan apapun dengan Mas Musa," ungkap Medina.


"Dek, kamu membuat Mas merasa menjadi suami yang dzolim," ucapku sambil menatap mata Medina.


"Maaf Mas, tapi beginilah keadaan hati Medina yang sebenarnya," jawab Medina membuatku kecewa, seolah-olah dia lupa siapa sutradara dibalik pernikahan itu.


"Lalu kenapa kamu meminta mas untuk menikahi Mariam, bahkan terkesan kamulah yang memaksa?"


"Karena Medina merasa Medinalah yang menjadi penghalang untuk cinta kalian, Medina membagi tubuh Mas Musa dan Mba Mariam membagi hati Mas Musa padaku," ungkap Medina.


"Jujurlah Dek? Apa kamu menyesal?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Enggak Mas, Demi Alloh Medina ikhlas. Medina sudah merasa sangat beruntung dengan apa yang Medina miliki saat ini, Medina belajar untuk tidak rakus dan tamak, dan seperti yang Mba Mariam pernah ucapkan, kalau pernikahan tidak selalu manis seperti impian-impian setiap gadis, tapi pernikahan yang indah harus diperjuangkan dengan penuh airmata dan pengorbanan."


Kupeluk lagi tubuh Medina, kurasakan harum dirinya menenangkan kegundahanku.


"Mas mencintaimu, Dek," ungkapku seiring kegundahan yang menguap dan hilang.


"Seperti Medina yang dulu pernah bertekad untuk menghapus paksa nama Mariam dari hati suaminya, namun nyatanya hati tidak bisa direkayasa apalagi dipaksa. Medina hanya melakukan apa yang Medina bisa untuk mencintaimu Mas, menunjukan baktiku sebagai isteri. Terimakasih bila akhirnya Mas Musa bisa mencintaiku tanpa paksaan dan rekayasa."


Meskipun hatiku mencintai Mariam dan Medina, tapi masing-masing dari mereka menerima satu bulatan utuh yang sempurna. Nama mereka selalu kusebut dalam doa setiap sholat malamku. Alloh memberiku tanggung jawab yang lebih karena kemampuanku juga lebih. Mereka adalah bidadari yang menjadi sayap di kedua sisi tanganku.


"Katakanlah kalau kamu tersakiti oleh ucapan atau perbuatan mas yang salah Dek, mas akan menghukum diri mas sendiri dengan 3 hari berpuasa untuk setiap satu kesalahan."


"Iya Mas," jawab Medina seraya tersenyum.


Kami melanjutkan berjalan pagi melewati tempat yang sebenarnya adalah tempat kenanganku dengan Mariam, sebuah jembatan gantung diatas sungai besar dengan pemandangan indah nan sejuk. Suara gemuruh airnya terkadang membuatku dan Mariam muda harus sedikit berteriak untuk bercakap-cakap.


Angin yang bertiup kencang memainkan ujung jilbab Mariam kala itu, membuat tangan Mariam harus terus memeganginya agar tidak tersingkap. Medina memakai hijab yang besar sehingga angin tidak bisa memainkan hijabnya. Sudah berbeda jaman dan juga berbeda model, hanya saja kenangan itu masih ada. Senyum hangat Mariam yang selalu kurindukan, kini berpadu dengan senyum manis Medina yang selalu kunikmati bersaaman.


"Tempatnya indah ya, Mas," ucap Medina sambil menikmati hembusan angin yang segar dan sejuk.


"Iya, dulu ini adalah tempat favorit mas dan kawan-kawan mas yang lain."


"Apa Mba Mariam dulu juga suka di sini?"


"Iya, Dek, hampir semua anak di kampung ini menyukai tempat ini," jawabku.


"Medina juga dulu sering membayangkan tempat-tempat romantis yang bisa dikunjungi berdua dengan orang yang Medina suka," tutur Medina.


"Benarkah?"


"Iya, tapi Medina sama sekali belum pernah menyukai seseorang sampai akhirnya Medina menyukai Mas Musa. Pertama kali Medina terbayang-bayang sosok lelaki sampai mengganggu pikiran Medina setiap saat, adalah ketika Medina melihat sosok Mas Musa di rumah Kiyai Sholeh waktu itu."


"Artinya mas benar-benar cinta pertama kamu, Dek?"


"Iya," dia mengangguk malu,"kata orang cinta pertama itu kebanyakan nggak bisa berakhir indah, bahkan kisah Mas Musa dan Mba Mariam pun sempat diakhiri dengan perpisahan, Medina membuktikan dengan menyatukan kalian cinta pertama Medina juga menyatu."


"Terimakasih, Dek. Biar Alloh yang menyiapkan rumah terindah nanti di surga dan bidadari-bidadari bahkan akan cemburu dengan isteri sholehah seperti kamu."


"Berjanjilah Mas akan mencintai Medina, sampai kapanpun. Walaupun akhirnya Medina nggak bisa memberi keturunan untuk Mas Musa, berjanjilah Mas!"


"Mas berjanji, Dek! Yang kamu berikan sudah lebih dari cukup."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2